KERINDUAN PENGANTAR ANTOLOGI PUISI MODEL RAGIL;

Genderang Kurukasetra, Editor dan Kreator
Abdul Azis Sukarno*
kr.co.id

TAHUN 1986, atas nama Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Muhammadiyah Yogyakarta (kini Universitas Ahmad Dahlan) terbit sebuah buku antologi puisi berjudul “Genderang Kurukasetra” yang dipinjam dari salah satu judul puisi di dalamnya karya Suminto A Sayuti.

Antologi yang memuat karya 22 penyair ini melibatkan sebagian kreator dari kampusnya dan ditambah sebagiannya dari luar atau para penyair Yogya saat itu, yang sudah lumayan bermutu karya-karyanya. Sebut saja misalnya Emha Ainun Najib, Alm Linus Suryadi AG, Fauzi Absal, Munawar Syamsuddin, Teguh Ranusastra Asmara, Ahmadun Yosi Herfanda, Ragil Suwarno Pragolapati, Suminto A Sayuti, Bambang Widiatmoko dan Sri Harjanto Sahid.

Yang menarik dari antologi tersebut adalah kehadiran ?catatan pengantar? ditulis Ragil Suwarno Pragolapati selaku editornya. Dengan bahasa yang segar dan renyah meski kadang bergaya menggurui terutama saat ia mulai mengupas satu per satu karya-karya penyairnya. Mengingatkan saya pada apa yang dulu dilakukan almarhum HB Jassin jika melakukan kritik terhadap karya-karya kreatornya, yakni ia tidak hanya bersikap sebagai hakim semata yang bisanya cuma memvonis apakah karya ini layak atau tidak? Bermutu atau tidak?

Dengan merasa cukup berbekal seperangkat teori dan pemahaman terhadap peta dunia kesusastraan yang dimilikinya. Namun, ada satu lagi yang lebih penting, yakni bisa menjadi penyala bagi obor kreativitas si kreator itu sendiri untuk terus dan terus memacu semangat berkaryanya. Bukan malah men-down-kannya alias menjatuhkannya. Terlebih ditulis guna semacam kata pengantar. Di sini, tentu modal yang paling berharga adalah masalah interaksi untuk tidak menjaga jarak apakah saya senior dan dia yunior atau saya lebih punya nama dan dia tidak? Atau karena saya kritikus andal saya akan bersikap seobjektif mungkin, atau biarlah karya mereka saja yang berbicara dan sebagainya.

Di samping itu, kelebihan lainnya bagi para pembaca yang tidak mengalami masa tersebut, lewat pengantar Ragil kita dapat minimalnya membayangkan seperti apa sih peta kesusastraan Yogya tahun 1986-an. Itulah kesan saya terhadap catatan pengantar dalam antologi ?Genderang Kurukasetra? (selanjutnya baca GK saja).

Setelah itu, hingga tahun-tahun kini, ketika puluhan buku antologi puisi baik secara perseorangan maupun bersama-sama telah berlahiran –khususnya yang di Yogyakarta– jika di dalamnya disisipi catatan pengantar dari orang yang cukup berkompeten memberinya pengantar, maka isinya kadang sebatas mengantari semata. Dalam arti, bukannya memberi catatan pengantarnya kurang serius lho, melainkan saya seperti melihat ada jarak tercipta di sana, yakni antara para kreatornya, karya dan dengan si pemberi kata pengantar sendiri. Lebih-lebih buat antologi puisi bersama yang melibatkan lebih dari satu generasi. Sedang kalau kita berkaca pada GK, di situ tampak sekali bagaimana Ragil demikian kentalnya menjalin komunikasi dengan semua pengisi tersebut. Terutama ketelatenannya memperhatikan perkembangan proses kreatif masing-masing penyair dari yang masih pemula (bibit) hingga yang telah menjadi. Dari nama-nama yang masih asing dalam jagad kepenyairan Yogya waktu itu hingga ke yang sudah ngetop macam Linus dan Emha.

Sudah Jadi
Kelangkaan semacam ini, tentu saja memberikan indikasi kesadaran pengamat sastra –bahasa gagahnya para kritikus, karena biasanya merekalah yang selalu diminta untuk memberi catatan pengantar– kita sekarang untuk bergaul intens dengan sesama para kreator kayaknya ?kurang? atau sepertinya terjadi ?disharmoni?. Kelemahan ini mengakibatkan mereka kehilangan salah satu citra yang lumayan penting, yakni sebagai pembina atau pendidik yang baik bagi tunas-tunas penyair yang masih butuh bimbingan untuk terus berproses kreatif.

Bahkan dari atmosfer ini ada kesan pengamat sastra sekarang maunya hanya melihat penyair yang sudah ?jadi? saja. Atau yang sudah dianggap cukup publikatif. Ada kesan mereka tidak mau capek-capek berperan ganda selaku penilai karya juga pemberi motivasi.

Memang, sebenarnya kita tak perlu terlalu berharap banyak pada apa yang namanya catatan pengantar dalam sebuah buku. Karena memang bukan sebuah perangkat yang utama. Di mana kehadirannya tidak memiliki hukum: wajib ada. Namun, kiranya dengan catatan pengantar, pembaca akan lumayan terbantukan ketika memasuki teks pokok yang ditawarkannya. Sebab, kadang tidak setiap teks bisa ?enak saja? didekati pembaca. Di mana untuk kasus ini tentu keberadaan catatan pengantar amat diperlukan. Karena diperlukan itulah, tentu dalam menulis catatan pengantar tersebut pasti tidak asal-asalan. Artinya butuh orang yang pantas atau layak dalam menanganinya atau lumayan ahli.

Nah, catatan pengantar yang baik, sudah pasti memiliki banyak nilai lebihnya, baik bagi pembaca maupun bagi kreatornya sendiri. Kalau hal ini dialamatkan untuk buku semacam antologi puisi bersama, tentu salah satunya pembaca jadi tahu siapa saja tokoh-tokoh antologi puisi bersama, tentu salah satunya pembaca jadi tahu siapa saja tokoh-tokoh penyumbang tersebut, kenapa antologi demikian diterbitkan, sejauh mana pentingnya bagi dunia kesusastraan, bahkan sebagaimana yang telah saya jelaskan jika dihubungkan dengan GK, betapa catatan pengantar di situ juga sanggup memberikan motivator para penulisnya. Bahkan, karena Ragil begitu intens masuk secara langsung dalam kancah pergaulan mereka, ia pun mampu menjelaskan secara runut satu per satu seberapa jauh dan lama proses kreatif yang telah dijalani masing-masing penyair tersebut.

Sebagai contoh kecil, lewat paparannya, saya jadi tahu konon ketika Cak Nun mulai tampil sebagai penyair, jagad sastra Indonesia tengah dicengkeram wabah puisi gelap atau sajak sukar-sukar sepanjang kurun 1962-1975. Dengan gembongnya –meminjam istilahnya– adalah Goenawan Mohamad, pendekarnya Sapardi Djoko Damono, dan pembaharunya Abdul Hadi WM. Era ini banyak mempengaruhi karya-karya penyair sesudahnya hingga ke Yogyakarta yang tak terkecuali juga hadir dalam GK, lewat karya-karya awal Cak Nun, beberapa puisi Linus Suryadi AG seperti Kadisobo, Bukit Menoreh Suatu Senja, dan seluruh karya Teguh Ranusastra Asmara. Hal ini juga bisa dibuktikan dengan membaca langsung karya-karya mereka.

Walau sebetulnya tidak bisa dipungkiri juga ada beberapa statemennya yang bersifat kritik namun terasa ngambang dan kurang memuaskan secara argumentatif, kurang berbau akademis, dan kadang terlalu berlebihan dalam memvonis, bisa kita maklumi sebagai cara khas dia dalam menilai sebuah karya. Semisal di sini saya kutipkan satu pernyataan tersebut. ?… Daya-kreasi Minta-Juddin-Emha-Harjanto-Madun-Bambang tidak diragukan lagi: memiliki kecanggihan yang baik dan unik. Pada Munawar-Brohim-Fauzi-Teguh taraf kreasi dalam bersajak masih merupakan proses dan suatu pergumulan yang berat. Mereka kurang keras melecut diri sendiri dalam oleh kreativitas agar maksimal. Sajak mereka terhenti di ujung, belum tuntas atau optimal kualitas. Belum menemukan pola identitas. Daya-kreasi wadyabala Rina-Joko-Tata-Susi dan kawan-kawan masih penuh kerepotan. Soal-soal teknik masih agak rawan. Dst….?
***

Akhirnya, dengan bercermin dari sini, agaknya menarik sekali jika ?arwah? catatan pengantar Ragil tersebut, kita bangkitkan kembali untuk buku-buku antologi puisi ke depan, terutama yang melibatkan banyak penyair dari berbagai generasi. Untuk membuktikan bahwa mereka, baik yang berasal dari angkatan tua, setengah tua, muda dan masih bau kencur, bisa berucap: ?Kami –baik secara karya maupun proses kreatif– tetap selalu rukun!?

Terlebih Yogyakarta masih tetap potensial untuk melahirkan karya-karya dokumenter sastra semacam itu. Dari komunitas-komunitas sastra dalam dan luar kampus, peran dewan kesenian daerahnya, dan masih banyak lagi. Lantas, bagaimana dengan penulis catatan pengantarnya? Semoga tidak seburuk dengan apa yang saya bayangkan. Salam sastra!

*) Penyuka jagad puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *