Kritik Sastra -Menjawab Saut Situmorang

Hudan Hidayat
hudanhidayat.multiply.com

majelis yang terhormat, izinkan saya menurunkan tulisan ini tanpa diedit lagi, sebagai cermin dari selang seling kehidupan itu sendiri: kadang benar dan kadang salah. sebagaimana tercermin dengan kuat di dalam spirit tulisan ini. perkenankan pula saya meminta pengertiannya, terhadap mereka yang bergerak di ranah akademik, kalau bahasa dan pemikiran di dalam tulisan ini sudah berjungkir sedemikian rupa. ini pun untuk menunjukkan bahwa hidup tidak sempurna, dan berjungkir pula di antar selang seling fiksi dan fakta.

sebab kesalahan sangat gampang bagi saya: saya tinggal membetulkannya. lagi pula saya menganggap sastra sungguh adalah dunia permainanan, tempat di mana kita harus berbahagia di dalamnya. seperti kata sebuah kitab: hidup ini hanya senda gurau. meski senda gurau yang saya bawakan membawa juga sikap hidup yang positip: kesungguhan hati dalam menggali makna hidup.

semoga tulisan ini membawa manfaat terhadap kehidupan kesusastraan Indonesia yang kita sama-sama kita cintai ini.
(HH)

Ilmu Sastra dan i ma ji nasi sas t ra
Sebuah kritik sastra kepada saut situmorang

pikiran situmorang yang obsesif dengan ?para perasa?, ?ke los kiding?, dalam membaca dunia tidak hanya puisi tapi prosa, dalam kaitan dengan statemennya yang sepintas seolah menggugat, lalu dalam gugatan itu seolah menawarkan sesuatu yang baru dalam membaca Sastra Indonesai Kontemporer, sebenarnya adalah kawasan pertukarang pikiran yang mengasyikkan.

Tapi soalnya, sa ut tidak memahami implikasi dari pernyataan-pernyata an yang diteriakkan dengan gaya sarkaseme itu (tai kucing, misalnya), tentang ?parafrase? dan ?close-reading? dalam dunia sastra Indonesia.

Dari jalan pikirannya yang terlihat dari esai-esai serta komentar-komentarny a di milis ini, nyata dengan benderang ketidakpahaman Sau t tentang yang dia sendiri katakan: para frasa dan klose riding (sa ut, klose riding, Situmorang, ini bukan kesalahan tehnis dalam berbahasa, saut, ini bagian dari permainan teks, dari jiwa merdeka yang tak hendak dikungkung ilmu, dari penghayatan betapa hidup bergerak selang seling antara fakta dan fiksi, dari betapa naifnya mengagungkan ilmu sebagai dunia ilmiah yang dipandang seolah bisa membuat hidup lebih tertib, lebih bahagia, dari kenyataan hidup yang tak tertib dan tak bahagia).

Bahkan sebenarnya, seperti yang kelak akan saya tunjukkan di bagian akhir esai saya ini, justru saut situmoranglah yang telah melakukan parafrasa terhadap sastra Indonesia dengan hanya mengeluarkan (mengulang – mengulang-ulang – kembali) pernyataan-pernyata annya tentang sastra Indonesia kontemporer. Sebuah komentar tanpa adanya penerapan close reading. Bahkan terhadap penyair Chairil anwar yang dia kagumi, sungguh saut telah memparafrasakan kembali pencapaian-pencapai an yang telah diraih oleh penyair yang mati muda itu. Tidak saya lihat adanya pembacaan dari jarak yang dekat. Pada esai saut tentang chairil, saut hanya memandangi saja chairil dari kejauhan.

Tetapi seseorang di milis Apresiasi sastra ini, memparodikan angan-angan saut itu tentang close reading. Katanya: klose riding itu perosalan rabun mata. Ada mereka yang mempunyai penyakit mata tak bisa memandang jauh. Ada pula tak bisa memandang dekat. Jauh dan dekat yang paling bisa memandang dan kamu sehat. Begitulah parodi kawan kita itu, yang saya kutip melalui ingatan dan mungkin saya tambah dengan angan-angan.

apa yang salah dengan angan-angan, bukankah teks adalah merdeka untuk dimainkan siapa saja pembacanya teks. Bersetia dengan teks, dalam dunia fiksi dan fakta yang saya yakini, dan yang berjalan bolak-balik ini, adalah bersetia dengan bayanganmu sendiri. Setengah mati kamu menangkap bayanganmu, bayanganmu itu akan bergerak terus sesuai dengan gerakanmu.

Berhentilah menangkap bayangan, saut. Karena bayangan bukanlah ?benda? tapi citra benda yang harus kau tangkap maknanya. Filsafat, begitu yang saut keluhkan, terhadap penambahan makna sebuah teks oleh seseorang. Parafrasa!
Karena itu melalui esai ini, saya akan mengelaborasi semua klaim-klaim yang tidak hanya sekarang ini disuarakan S aut, tetapi hampir sepanjang kariernya sebagia penyair ? terutama mengeras dan mengharu-biru dunia sastra Indonesia sepanjang tahun 2007.

Di dalam elaborasi itu, akan saya lampaui pengertian yang jamak dikenal tentang parafrasa dan close reading. saya akan menunjukkan betapa produk dari keilmuan yang dibangga-banggakan sau t ke taraf yang bahkan, bukan lagi pada tingkat arogansi, tetapi sudah menjadi atau masuk ke dalam fase diktator nilai dengan menindas mereka yang tidak memahami sastra secara terdidik umpamnya.

Saya akan memulai esai ini dengan sebuah pernyataan, bahwa apa yang disebutkannya sebagai parafrase, close reading, tidak harus mutlak diletakkan dalam bingkai keilmuan ? i (l) mu sastra atau ilmu bahasa, tapi bisa langsung diambil dari alam dan hidup manusia di mana dia tinggal.
Pemikiran saya ini datang dari dua pandangan.

Pertama, arti ilmu sastra dalam penciptaan sastra kreatif tidak berkaitan langsung dengan kualitas dari hasil sastra seseorang.
Ibarat seseorang ketemu batu di tengah jalan, orang tersebut bisa langsung saja mengamati batu itu dan mengagumi batu itu. menguraikan kembali pemandangannya (prafrase) terhadap batu itu. tentang warnanya yang hitam. Tentang tubuhnya yang dingin. Ten tang arti sebuah batu bila dilekatkan kepada pasir dan semen.

Seseorang bisa saja langsung membayangkan benda-benda alam yang saling mengikatkan diri itu menjadi sebuah rumah yang mungil dengan keluarga bahagia atau tak bahagia di dalamnya (parafrasa). Bahkan melalui batu itu dia boleh ikut menyuarakan suara hatinya sendiri, sesuatu yang disesali oleh saut dalam pembicaraa sastra indonesia. filsafat, katanya, semenena-mena menarik teks ke arah kemauan tafsirnya sendiri, kata saut, tidak melakukan kerja teks tentang apa sih maunya teks itu dalam pengelihatan pada tiap-tiap anasir pembentuk teks misalnya gramatika dalam bahasa, katanya (ini tidak dikatakannya secara eksplisit, tapi yang menjadi keluhannya dengan parafrasa dan close riding itu disinilah letaknya).

Bahkan seseorang benar-benar telah menarik batu itu ke dalam kerja kreatifnya, dimana ia tidak hanya memprafrasakan batu dengan mendeskripsikan batu itu, yang dalam kerja sastra itu adalah daerah sang sastrawannya sendiri yakni riau, tetapi telah pula menerapkan kerja close readingnya terhadap batu dengan mengamati penderitaan rakyat riau terhadap kekuasaan asing yang merampok harta dari bumi tempat kelahirannya.

Itulah cerpen taufik Ikram jamil yang memenenangkan lomba penulisan cerpen hori son, menjadi batu. Lihatlah Saut, saya telah mengatasi dunia keilmuan yang tuan banggakan itu, dengan melompatinya bahwa parafrasa dan close reading-mu itu tidak hanya sekedar cara melihat kenyataan sastra, cara membaca sastra, tapi bisa bergerak bolak balik dari cara melihat dan cara kerja sebuah sastra kreatif dengan menerapkannya langsung ke dalam bentuk cipta sastra itu sendiri.

Jadi inilah yang saya maksudkan ?jiwa depan? itu, saut, sebuah kesukaran yang akan kau alami dalam bergulat dengan dunia pemikiran, yang kau tak pernah bisa lakukan karena selalu bersandar dengan keilmuan yang ketat, menempuh prosedur, harus menemukan bukunya dulu sebagai titik tolak perbincangan, dan tanpa buku seolah tak sahih semua, atau seolah-olah dunia sastra kita sudah kiamat, karena tidak ada lampu penerangan lagi yakni buku-buku.

Astaga!: kapan kau akan keluar dari selubung mitos itu? Kapan akan keluar dan mulai keluar dari teks atau menjadikan teks itu sebagai peralatanmu sekedarnya saja untuk melihat kehidupan tanpa teks ini. Kehidupan yang bergerak cepat dan bisa berlangsung bolak-balik tanpa henti. Bukan sebuah gerak spiral yang seolah bisa diramalkan, tetapi sebuah gerak yang berjungkir-jungkir di mana pengertian dan definisi dari dunia keilmuan pastilah tak akan sanggup mengikuti kecepatannya. (Keluar mark timbullah frud. Keluar fr ud timballah saut). Seperti yang baru saja saya tunjukkan dengan pengertian parafrasa dan close reading, yang saya putar bukan hanya sekedar cara memandang sastra tapi juga sebuah metode yang bisa mencipta sastra. Atau di dunia sejarah sana, seorang gorbachev berdahi lebar dengan sorot mata inosen menjungkir-jungkirk an soviet yang komunis, memporak-porandakan nya menjadi keping-keping negara kecil kini. siapa yang mengiranya, tuan saut yang
?malang?.

Maka, seseorang bisa saja langsung mencipta sastra tanpa harus membaca te(r-o)ri (s) sastra, tapi langsung masuk mengalami kehidupan apa adanya. Kalaulah dia ingin masuk ke dalam teks sastra, maka dia akan mengambil suatu hasil sastra, untuk dibacanya dan ditimbangnya, sebagaimana dia membaca alam dan menimbang alam seperti yang telah saya tunjukkan.

Kedua, saya mempercayai bahwa esai adalah bagian dari karya sastra kreatif yang tidak harus setia kepada sebuah disiplin ilmu sastra yang amat ketat prosedur bekerjanya itu.

Mengapakah saya berpendapat demikian? Karena saya memandang sastra adalah bagian dari kehidupan, yang tidak pernah bisa dipastikan secara mutlak pasti.. Ada hukum alam di sana, tetapi kita tidak pernah bisa memastikan kepastian berlakunya. Sejarah keajaiban nabi-nabi, dan pada banyak kasus kemanusian juga, telah menunjukkan betapa ?hukum alam? sering patah oleh sebuah kekuatan yang kita tidak tahu pasti darimana datangnya.

Kalau sebuah hasil karya sastra kreatif bergulat dengan serimbun hidup yang tidak pasti, dan lalu ia menukilkannya dalam sebuah novel, cerpen atau puisi, maka pastilah pula hasil karya sastra tersebut memiliki suatu ciri-ciri alam yang sedang dan telah ?ditirunya? itu: tidak pasti ? termasuk tidak pastinya sebuah esai yang sudah saya pandang sebagai sebuah produk sastra kreatif.

Tentu saja peniruan ini telah (bagi mereka yang kreatif) menyimpang dari model alam pertamanya. Sebab dengan imajinasi dan aspirasinya, seorang sastrawan bisa membelokkan segala sesuatu yang nampak nyata, dimana di dalam dunia keilmuan telah dikonvensikan sedemikian rupa menjadi kode bahasa bagi kaum ilmuwan untuk mendekati gejala kehidupan ? hasil sastra itu sendiri – adalah sebuah kesalahan yang fatal karena dianggap telah melanggar kode yang telah menjadi kesepakatan ilmu itu sendiri. Sebagai bagian dari warga suatu ilmu ? dalam hal ini ilmu sastra, maka pendekatannya bisa dianggap tidak ilmiah dan karena itu akan diragukan kesahihannya.

Di sinilah saya berkata, bahwa esai sebagai bagian dari karya kreatif dapat menerobos ?kebuntuan? dari cara bekerjanya ilmu sastra. Terutama kebuntuan ketika harus dioperasionalkan ke dalam hasil sebuah karya sastra. Ilmu sastra menjadi mampet, karena kelambanannya mengikuti sebuah kecepatan ciptaan sastra kreatif. Tapi kemampatan ini bisa diterobos oleh sebuah hasil kerja sastra yang lain yakni esai.

Maka, sampailah kita kepada esai sebagian dari rumpun kritik sastra yang menjadi bagian dari kritik sastra, yang telah disepakati menjadi sebuah ilmu sastra. Tapi sampai di tangan saya arti esai itu sudah saya putar lagi ? lebih mendekati kepada karya seni kreatif? seni membuat esai kreatif. Dengan demikian esai, bisa lebih berjaya daripada kritik sastra yang mengandalkan sebuah ilmu sastra dengan pendekatan yang ketat, lebih kuat mengungkap sisi kehidupan yang memantul di hasil karya sastra.

Mari kita lihat apa yang dimaksudkan parafrase, close reading, oleh saut situmorang yang membayangkan dirinya sebagai the real rebel of sastra indonesia.

***

Parafrase adalah sebuah kenyataan tekstual yang diangkat dari kenyataan faktual ? alam raya itu sendiri. Ia serimbun teks yang hanya bisa ditangkap dengan mata, telinga atau tangan kita (misalnya orang buta yang membaca teks dengan telinga atau jemarinya). Di sini saja istilah atau konsep ini sudah akan rontok dengan kenyataan yang berkembang. Mengapa? Karena konsep ini mengabaikan imajinasi dalam proses bekerjanya.

Sekarang marilah kita bayangkan ada seorang yang tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar dan bahkan tidak bisa menggerakkan jemarinya untuk menyentuh sesuatu ? huruf. Orang itu terbaring di ranjangnya. Tidak mati. Tapi tidak pula bisa merespon dengan indera-inderanya. Satu-satunya yang dimilikinya hanyalah kesadarannya saja.

bayangkanlah orang itu pernah membaca sebuah teks lalu ingin mengungkapkan kembali isi teks itu. Baik mengungkapkan kembali melalui konsep lain atau mengungkapkannya dengan jalan ?membuang? aspek-aspek puisi dari karya itu, lalu menuliskannya kembali dengan memakaikan hukum-hukum di dunia prosa.
Tetapi apa yang akan diparafraskannya dalam perspektif tanda? Bukankah semua isi cerita itu hanya ada dalam kepalanya dan isi kepalanya tidak bisa diungkapkannya ke dalam medan tanda.

Dan pastilah saut tidak bisa atau akan kesukaran menghadapi parafrasa dalam konteks imajinasi seperti ini. Frasa yang terbenam dalam diri. Parafrasa tanpa bahasa.

Tapi inilah antara lain yang saya sebutkan dengan fiksi dalam tubuh manusia (yang dalam hal ini manusia cacat). Tapi di sini pun tuan akan kelawahan menghadapi kenyataan fiksi seperti ini, karena saut akan terbingung-bingung karena pendekatan semacam ini tidak ada di dalam literatur. Sementara tangannya gugup membalik-balik halaman literatur, orang seperti saya sudah maju lagi dan kini sampai ke definisi seni tanpa tema, tanpa tokoh dan tanpa gaya. Seni tanpa aksara yang kita kenal.

Dan seni seperti ini tidak bisa didekati dengan cara kerja konsep dalam ilmu sastra apalagi sekedar pengertian dalam bahasa yakni parafrasa. Sebab segala unsur-unsur pembentuk sastra telah mati dan hanya terbenam dan hidup di kepala seseorang. Tetapi saya melalui esai yang sudah saya jungkir balikkan artinya bisa mendekatinya. Bagaimana caranya?

Dengan memakai umpan awal bahwa sastra adalah dunia tanda. Tapi dalam pengertian saya, dunia tanda ini saya putar menjadi tanda yang bertingkat-tingkat sebagai tanda awal yakni Tuhan, tanda turunannya yakni manusia, dan tanda turunannya yang lain yakni dunia.

Begitulah tanda itu membelah diri sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Dimana institusi tertinggi tanda ini adalah tuhan sang maha, atau liyan, lalu manusia dalam perspektif kesadarannya, dan huruf, kata, atau kalimat sebagai tanda yang tingkatannya paling rendah.

Tanda yang membelah diri ke dalam lambang huruf itu, berproses oleh sebuah kesadaran yang ingin memancarkan dirinya. Ingin mengkonkretkan dirinya yang abstrak ke dalam yang konkret. Maka ia jatuh menjadi titik, tempat awal dari semua aksara sebagai sistim tanda dalam bahasa yang mewujudkan dirinya.

Dalam perspektif tanda semacam itu, yang sudah pasti akan sukar lahir dari dunia keilmuan dari sebuah sistem konvensi yang ketat, maka kehendak saut untuk menyempitkan sebuah close reading (saya ganti aja istilah ini menjadi cara membaca sebuah karya melalui unsur-unsur perembuk karya itu sendiri), ke dalam sistem tanda dalam bahasa, baik dari sudut gramatika, sintaktis, atau semantik, yang saling bermain untuk memunculkan sebuah makna, adalah sebuah gerak mundur bagi saya yang sudah menerobos sistem tanda. Saya sudah sampai kepada apa yang ada di balik tanda dalam bentuk permaian tanda, telah mendarat ke sebuah kenyataan, yakni nyawa tanda. Ini sama dengan sebuah ungkapan: saya sudah tidak mementingkan tubuh lagi, tapi apa yang dibalik tubuh.

Tetapi apakah yang ada di balik tubuh? Kita akan menemui tubuh dalam. Lalu apakah tubuh dalam dari sebuah bahasa? Atau adakah tubuh dalam dari sebuah bahasa? Aduh, alangkah jauh dari bayangan saut semula semua kenyataan ini! Saut yang baru belajar membaca buku-buku dari guru-gurunya di dunia sana itu, yang sampai ke tanganku semua teks-teks gurunya itu kumaiankan saja hanya dengan sedikit imajinasi, memutarnya sehingga pengertian-pengerti an mereka berjungkir-jungkir.

Tubuh dalam bahasa itulah nyawa kata-kata. kalau kata adalah penampangnya, maka tubuh dalam bahasa itu adalah isinya. Apakah isi tubuh dalam bahasa ini? tidak lain dari roh itu sendiri. jiwa yang sadar atau dalam bahasa gaul di sana adalah kesadaran. Kesadaran, sebuah insitusi yang bisa membelah diri ke dalam bahasa, ke dalam tanda, sementara maknanya sendiri, atau yang imanen darinya, tersimpan di dalam tubuh dalam bahasa yakni jiwa bahasa.

Maka orang sana mengatakan: jiwa yang menyadari inilah sebagai pembentuk dunia. Onto. Tapi saya menjawab: Ono itu juga membentuk dunia manusia. Membentuk juga dunia benda dan makna.

Dunia manusia yang dibentukkan oleh sang onto itu datang dari sebuah tanah yang retak, tanah di mana segenap anasir air dan udara ada di dalamnya ? syarat sebuah kehidupan agar dapat berlangsung. Karena itu kita mempunyai kecenderungan atau tarikan yang kuat kepada alam. Alam, alam, alamlah saut, yang menjadi pembentuk teks yang kau timang-timang itu (saya terkenang anak kecil yang baru mengenal permen lalu dengan sayang menimang-nimangnya) .

Maka sungguh meleset dan rancu kata yang gemar benar kau pakai: hudan hidayat adalah seniman dengan bakat alam yang par ekselen.

Tetapi karena sang ono ini retak atau lahir dari sang onto, maka ono ini rindu juga kepada Onto pembuat dirinya. Kerinduan yang ia tumpahkan juga ke dalam onto atau tanda yang lain yakni bahasa. Tapi serindu-rindunya onto ini dengan tubuhnya ia akan lebih rindu lagi dengan maknanya. Itulah Onto yang besar itu. yakni asal mula tempat segalamacam onto yang lain berasal.
tetapi saut dengan parafrasa dan terutama dengan close riding itu mau menyempitkannya dan mengembalikannya kepada sifat turunan tanda yakni sistem bahasa dengan permainannya itu.

Ini adalah gerak mundur bagi seorang yang sudah melompat tinggi, yang mengabaikan tanda-tanda demikian karena ia sadar gejala tanda seperti itu hanyalah permukaan. Yang dikejarnya adalah makna. Filsafat, kata saut. Tentu saja semua ini akan mengacaukan sistem berpikir yang saut ambil dari buku-buku. Dia akan berkata: bukunya mana. Tak ada dalam buku, saut. Saya mengambilnya langsung dari guru-guru pembuat bukumu itu: alam.

Tetapi agar saut tidak terlalu bertanya-tanya dengan akrobatik saya ini, saya akan mengambil sample (padahal orang bijak bilang: setengah saja cukuplah) dari sebuah gejala alam yang bisa kita sama-sama amati.
Saya ingin mengambil sebuah pohon yang rindang. Dimana parafrase dan close reading itu bekerja dalam mengamati gejala pohon yang rindang itu.

Pohon itu rindang dan diletakkan oleh alam dalam sebuah setting alam di mana sisinya ada bukit dan sungai. Ia menjadi sebentang teks dihadapan kita. Teks yang demokratis, menyediakan dirinya terbuka untuk dipandang dari sisi manapun.

Manakah prafrasanya? Manakah klose ridingnya?

Saat kita mengungkap kembali nuans atau detil dari pohon itu ? batangnya, rantingnya, akarnya, warnyanya, itulah parafrasa. Saat imajinasi (aha! saut, inilah yang harus tuan cari: imajinasi, bahwa ilmu itu imajinatif wataknya ? atau dalam bahasa yang kau gandrungi ? posmo, pasca – imajinasi ilmu ini mewujud ke dalam intuisi, dan, saya tak hendak latah mengatakan kearifan lokal, cukup mengatakan kearifan individu saja), itu bergerak menjangkau kehendak dari sang pemilik imaji, maka itulah watak dari parafrasa sejati ? sesuatu yang bukan lagi hanya menghadirkan kembali, tetapi telah dikelindankan dengan filsafat dalam diri seseorang dengan kehendaknya akan suatu teks awal, yang dikaitkannya dengan konteks pengelihatannya sendiri. Dan parafrase seperti ini tentulah hasil dari close reading orang itu saat melihat dan mencoba memahami pohon itu.

Sekarang saya akan memperlihatkan, bahwa sesungguhnya saut sendiri tidak memahami apa yang dikatakannya dengan parafrasa dan close reading itu, sebuah ketidakpahaman, dan karena itu saat ia mencoba melihat kenyataan sastra kita, maka apa yang dituliskannya adalah parafrasa juga sebagaimana parafrasa yang dikekeluhkanya kepada kondisi sastra indonesia.

Marilah kita menjejerkan pernyataannya yang diteriakkan dengan bahasa-bahasa yang rasanya jauh dari dunia komunitas ilmu (ilmiah, kata saut, dunia sastra itu dunia ilmiah), tetapi kita tidak usahlah membahas bagian ?sarkasme?nya, kita fokus saja pada apa yang hendak dikatakannya dengan berkata-kata melalui buntalan ungkapan kasarnya itu. Saya turunkan penuh agar pembaca sama-sama dapat menyimak konteks dan nuans yang diteriakkan saut situmorang dengan histeris.

hahaha…
nah inilah contoh parafrase par excellence!ciri- khas mayoritas penulis yang menyangka dirinya “kritikus”
sastra di Jakarta!

hudan, hudan…

sampai matipun kau aku gak akan pernah suka novel jelek kalian yang
juga berjudul jelek itu: tuan dan nona omong kosong. uups,
kepanjangan ya, dan! apa ini kebebasan pembaca taik kucing itu!
hahaha… kalok memang ada itu kebebasan pembaca seperti yang
kau maksudkan itu (yaitu dengan merubah judul puisiKu yang dahsyat itu) maka untuk apa ribut-ribut soal plagiarisme, hak cipta, dan taik
kucing lainnya! dalam kata lain, untuk apa ribut-ribut
promosikan karya dan diri! juga untuk apa membuat milis “apresiasi” ini dan menjadi anggota tetapnya!!! taik kucing kau, hudan! hahaha…tidak setiap orang berhak membicarakan karya seni, apalagi sastra!bahkan tiap setiap penulis sastra berhak membicarakan sastra!!!

membicarakan sastra sama dengan mencipta sastra: ada hukum-hukumnya, pakemnya, yang harus diketahui terlebih dulu, baik untuk menulis
sebuah karya konvensional apalagi yang eksperimental. begitu jugak
waktu membicarakannya. ada hukum-hukum dalam membicarakan

sastra gak bisa asal tembak kayak hudan hidayat taik kucing ini,

(hahaha…

ratusan tahun umur pembicaraan sastra sebagai karya seni jauh lebih
penting untuk dipelajari ketimbang congor seorang hudan hidayat taik kucing yang nulis novel porno aja masih gagok! sastra gak dihargai bahkan oleh mereka yang ngaku sebagai “sastrawan” di negeri taik kucing ini. liat aja betapa gampangnya, tanpa pernah memikirkan akibatnya, para “sastrawan” membicarakan sastra “Indonesia” walo sebenarnya tak ada pengetahuan teoritis mereka tentang sastra! modal mereka cuman bahwa mereka menulis karya sastra! padahal karya mereka itupun gak ada yang baca apalagi pernah dibahas secara benar-benar!

akibatnya sastra kita penuh dengan “verbal diarrhea” alias
mencret verbal alias parafrase. akibatnya orang kayak sapardi djoko
damono pun jadi “kritikus” sastra walo gak pernah nulis karya kritik
yang membahas karya-karya sastra! akibatnya orang kayak budi darma
pun jadi “kritikus” sastra walo gak pernah nulis karya kritik yang
membahas karya-karya sastra! padahal mereka memang gak sanggup kok
walo digelarin “profesor sastra”,

wuah!!! profesor taik kucing! gak
malu mereka ama kolega mereka di Barat sana!!! padahal keduanya
konon sangat Barat, baik pendidikan maupun pengetahuan/ selera sastranya! bikin malu!!!dan hudan hidayat taik kucing, yang konon kritis atas kedua laki-laki gaek gak tau diri dalam sastra kita di atas, ternyata juga
mengidap mencret verbal mereka! gawat mek!
hahaha…)

hahaha…

iya harus ngeri!sastra itu sebuah ilmu pengetahuan sama seperti kedokteran sama seperti hukum. makanya ada studi khusus sastra di fakultas sastra,
makanya ada sarjana sastra bahkan sampai tingkat post-doctoral di
seluruh dunia. inilah yang selama ini gak dipahami makanya gak
dihormati tentang sastra di negeri parafrase ini,

hahaha…

makanya tingkat kegagalan ujian nasional anak sekolah rata-rata tinggi di
mata pelajaran Bahasa/Sastra. kalok anda gak pernah belajar sastra sebagai sebuah ilmu pengetahuan, sebuah sains, lagak kali anda jual omongkosong
bicarain sastra! cuma kerna anda pernah nulis dua-tiga puisi dan dimuat
oleh Kompas Minggu! cuma kerna anda pernah nulis satu-dua cerpen dan
dimuat oleh Kompas Minggu! gile lu ah! kenapa anda gak berani ngomongin/bahas ekonomi? kedokteran? hukum? seperti anda seenaknya ngomongin sastra! hahaha…

ngeri memang! makanya tahu dirilah!!!
hahaha…

hahaha…

hudan, hudan…

iya, jawablah aku kalok kau memang bisa! aku tunggu dengan hati yang
berdebar-debar, sayang.

tapi ingat! jangan obral mencret-verbal seperti yang biasanya kau
lakukan di Media Indonesia dan Jawa Pos!!!

mari mulai diskusi yang intelektual!
tunjukkan itu dengan menulis esei dengan benar: jelas fokus
topiknya, dan dalam kalimat-kalimat yang baik dan benar. dalam hal
menulis esei ini aku setuju dengan musuhku orang-orang TUK keparat
itu bahwa lisensia puitika haram. ekspresikan pemikiranmu dengan
jelas dulu dalam bahasa esei yang bagus barulah sebuah diskusi
mungkin dilakukan. ok, man! hahaha…

dan untuk membuatmu lebih asooy lagi, aku akan kirimkan eseiku
tentang “politik kanonisasi sastra” yang dahsyat itu lagi ke milis
ini!

hahaha…

apakah yang kita dapati di sana, kecuali pernyataan yang diteriakkan dengan panas? Adakah kita menemukan argumentasi pendukungnya tentang setidaknya tiga hal:

1) apa yang menjadi landasan sebuah ilmu sastra melarang orang yang tidak terdidik secara sekolah berbicara tentang sastra? Untuk seorang yang berpikiran bijak dan matang, pernyataan seperti ini akan mendapatkan jawaban yang bijak dan matang pula. Yakni: tidakkah medan pembicaraan sastra itu bisa dibagi menjadi kritik akademis, apresiasi populer, atau bahkan tak satupun kategori yang bisa dikenakan padanya, tetapi seseorang itu boleh dan bahkan sah berbicara tentang sastra. Sederhana kok argumennya, tak memerlukan ilmu sastra.

Cukup dengan matahari. Mengikuti saut tadi, maka seseorang yang awam dengan matahari, haruslah belajar tentang astronomi, fisika, dan segala hal yang berkaitan dengan matahari, barulah orang itu boleh berbicara tentang matahari dan memandang matahari. Bahkan misalnya untuk sekedar mengatakan : mengapa ya, matahari itu di siang yang terik mata kita tak kuat menantapnya, tetapi saat terbenam malah indah di mata kita?

Dan lihatlah lagi argumen saut masih dalam soal ini: kalau begitu mengapa orang tidak berbicara ekonomi atau hukum seenaknya. Perhatikanlah kata-katanya : ? seenaknya ? sebuah kata yang memerlukan pembuktiaan pada latar sastra indonesia, kapan dan dimana pembicaraan seenaknya itu terjadi.

Tetapi sekarang mari kita ikuti saja logika saut soal perbandingan sastra dengan ekonomi atau hukum ini. Tentu saja orang boleh berbicara soal ekonomi dan hukum ini.

Kalaulah saut mau keluar dari studi di kamarnya yang penuh buku-buku itu (dia kan mengerti ilmu sastra sebagaimana yang nampak dari pembicaraannya, pastilah dalam bayangan saya banyak buku-buku di kamarnya kan ? dan pastilah pula dengan ilmu sastranya dia telah menuliskan produk-produk sastra kita, lebih khusus lagi produk dari sastra di milis ini), maka akan didapatinya orang kini dimana-mana bebas ngoming ekonomi dan ngoming hukum menurut tafsirannya sendiri-sendiri.

Di sini kelihatan nyata sekali (maaf) segala ilmu yang tuan pelajari di sekolah itu hanya kulitnya saja menempel, tetapi tidak bisa membentuk cara berpikir logis, mengapa ? karena kata-katamu itu pas kalau diucapkan pada sebuah konteks : dilarang bicara ekonomi dan hukum, kalau anda sebagai pejabat publik tapi buta ekonomi dan buta hukum.

Mengapa ? karena kamu akan menyengsarakan publik luas dengan keputusan-keputusan mu yang gak ngerti ekonomi dan gak ngerti hukum itu.
Sedangkan sastra ? publik luas mana yang akan menderita kalau seseorang salah ngoming tentang sebuah novel, puisi atau cerpen misalnya? Kalau pun lah dia salah misalnya menimbulkan kerugian pada seseorang, maka hanya orang yang dirugikan itu saja yang akan menderita olehnya, bukan publik luas sebagaimana yang dicontohkan saut tadi.

2) Metode yang dipakai saut dalam menghantam sastra indonesia tidak kokoh sandaran teoritisnya dipandang dari sudut ilmu sastra. Lihatlah statemennya yang sudah saya jejerkan itu : adakah kita dapati sebuah argumen yang utuh dan komprehensif terhadap sastra inidonesia yang dikatakannya penuh parafrasa dan tidak melakukan close riding.

Khususnya kepada goenawan mohamad, sapardi, atau budi darma, adakah saut meletakkan sebuah konteks pada tulisan mana sastrawan-sastrawan ini melakukan para perasa dan kelus ridung? Tidak ada bukan ? semua teriakan itu adalah semacam kemarahan yang diledakkan.

Dan tahukah anda, pembaca sekalian, apakah maknanya ? ha ha ha ? di setiap kehadiran seorang saut ? pembaca pasti tidak mengetahuinya, tetapi saya tahu dan seorang saut tidak bisa menyembunyikan motifnya di mata kata jiwa yang pera kelus riting ini. Itu adalah isyarat bagi kedatangan seorang pendekar di rimba persilatan. Seorang pendekar di rimba persilatan yangmengandalkan otot dari otak itu, datang dengan tertawa bergelak sambil jumawa menantang siapa saja dengan pedangnya.

Pertanyaan saya, apakah perdang saut cukup tajam dengan mengapungkan pera perasawan dan kuelus-elus bacaanmu itu? Jawabnya tidak. Mengapa ?
Mari kita cermati katanya. Agar sang pendekar di rimba persilatan sastra ini tidak bisa berkelit, saya akan kutipkan langsung saja, tanpa harus melalui ingatan meskipun saya mampu mengingatnya.

? hudan, hudan…dari dulu udah aku ingatin kau! judul puisiKu itu yang benar adalah: “saut kecil bicara dengan tuhan”. “bicara” dan “mencari” itu BEDA artinya, dan! kau memang masih MENCARI TUHAN dan semua orang di sastra Indonesia tahu itu tapi aku udah lewat level itu!!! hahaha…

kau kayak si goenawan mohamad itu: zaman gini masih ngomongin TUHAN secara transendental. padahal lebih enak pakek transjakarta, apalagi subuh! hahaha…kelemahanm u, hudan, sama seperti kelemahan si goenawan mohamad itu gak mampu melakukan “close reading” atas puisi! sehingga
kalian sibuk ber-parafrase, berfilsafat, tentang sesuatu yang sebenarnya gak ada dalam puisi yang kalian konon “bahas”!ya contohnya: judul puisiKu yang juga jadi judul bukuKu itu aja kau gak tahu yang sebenarnya. mulailah berhati-hati membaca, hudan. membaca itu berbahaya, dan subversif!!!?

?liat aja betapa gampangnya, tanpa pernah memikirkan akibatnya, para “sastrawan” membicarakan sastra “Indonesia” walo sebenarnya tak ada pengetahuan teoritis mereka tentang sastra! modal mereka cuman bahwa mereka menulis karya sastra! padahal karya mereka itupun gak ada yang baca apalagi pernah dibahas secara benar-benar!

akibatnya sastra kita penuh dengan “verbal diarrhea” alias
mencret verbal alias parafrase. akibatnya orang kayak sapardi djoko
damono pun jadi “kritikus” sastra walo gak pernah nulis karya kritik
yang membahas karya-karya sastra! akibatnya orang kayak budi darma
pun jadi “kritikus” sastra walo gak pernah nulis karya kritik yang
membahas karya-karya sastra! padahal mereka memang gak sanggup kok
walo digelarin “profesor sastra”,

wuah!!! profesor taik kucing! gak
malu mereka ama kolega mereka di Barat sana!!! padahal keduanya
konon sangat Barat, baik pendidikan maupun pengetahuan/ selera sastranya! bikin malu!!!dan hudan hidayat taik kucing, yang konon kritis atas kedua laki-laki gaek gak tau diri dalam sastra kita di atas, ternyata juga
mengidap mencret verbal mereka! gawat mek!
hahaha…?

dua pokok pikiran yang saya beri tanda petik di atas, memperlihatkan kontradiksi pikiran saut tentang parafrasa dan close riding. Lihatlah: di satu pihak ia mengatakan pembicaraan sastra indonesia penuh parafrasa, yang arti dan maknanya hanya mengulang-ngulang kembali saja isi dari sastra yang dibahasnya, tanpa mampu melakukan klos riding.

Parafrasa, atau mengulang kembali itu, tanda ketakmampuan berpikir selain mengulang saja apa sisi sebuah novel, mendiskripsikannya kembali melalui tulisan yang menganggap telah melakukan kritik sastra, dan tidak mampu melakukan penemuan atau menemukan mutiara yang terpendam dari sebuah hasil sastra dengan jalan metode mengklos reading hasil sastra itu, dua kelemahan yang hendak ditolak atau dialamatkan kepada pelaku kritik sastra indonesia semisal goenawam mohamad, budi darma, sapardi, dan hudan. Tetapi lihatlah kerancuan berpikir saut situmorang, di satu pihak dia mengatakan hanya mampu mengungkapkan kembali saja isi sebuah sastra, tapi saat bersamaan dia menuding mereka tadi telah membawa makna sastra kepada kemauan tafsirnya sendiri-sendiri.

Mengapa jalan berpikir seperti ini rancu? Pertama, di samping tidak ada data esai yang ditunjukkan (saut kecil hendak mencari hudan tak cukup kuat) kita bisa mengajukan pertanyaan : apakah benar mereka mengungkapkan kembali. Di sini kita memerlukan data tulisan dari mereka yang dikritiknya, tapi karena kelemahan metode logi ilmu sastra saau, data tersebut tidak tersedia.

Tapi kelak saya akan menjawab kelemahan metode saut itu dengan memperbandingan pernyataan saut dengan tulisan yang dikritiknya.

Pertanyaan kedua dari soal yang sama ini yang bisa diajukan kepada saut : apa salahnya kalau karena isi karya itu bertemu dengan pandangan atau sikap mereka yang telah disebutkannya, yang telah disebutkannya dengan mengungkapkan kembali saja itu ? apa hak seorang saut untuk melarang orang berpandangan yang sama tentang suatu soal dalam hidup ?

Esai dari pesudo ilmuwan sastra
Pentup dari tulisan ini saya akan mencoba membandingkan, untuk sebuah pembuktian bahwa seorang saut situmorang telah meleset dengan klaminya tentang kerja kritik sastra indonesia hanya memprasakan saja dan tidak melakukan klos reding, dengna mengambil langsung contoh tulisan saut sendiri dan lawan-lawan yang dikritiknya.

Simaklah esai saut yang berjudul dikutuk-kutuki dan disumpah-sumpahi mak erot ini.

Tulis saut :
Dalam buku klasiknya kritikus belanda atew menyatakan bahwa tidak mudah untuk menunjukkan satu karakter utama yang bisa dipakai untuk menyimpulkan puisi chairil anwur dan bahwa setiap pembaca selalu menemukan sesuatu yang disukainya pada chairul ? (moderen indonese literate, 1967)

Bandingkanlah dengan esai goenawan mohamad yang berjudul ?tentung keterpenculan kesusastraun ?.

Tulis goenawan:
Dengan kesusastraan kota ini pun, sebenarnya saya telah melebih-lebihkan luasnya jangkauan yang dicapai oleh pelbagai media sastra inonesia kini ? apa yang bisa disimpulkan dari berkala kesusastraan sejak pujangga baru ? ialah berulangnya ciri yang ini: khalayak pembacanya yang terbatas, serta sumber pemikirannya yang tak langsung berasal dari kehidupan kultural sekitarnya (cf heater sutherlund?modern indoesie pero yek ek, kolonel universitas itak a)

Perhatikanlah kesamaannya: sama-sama mengutip pendapat kritikus asing untuk mengatakan dirinya sendiri. Jadi rupanya ilmu sastra sa ut ut belum cukup kuat untuk melakukan penelitian sendiri terhadap hasil kekayaan sastra indonesia, meskipun di tangannya telah tersedia metode ilmu satra yang ilmiah itu.

Perhatikan lagi kata-kata saut dalam esai yang sama:
Memang intesnitas dan keseriusan chairil dalam menghadapi kehidupan dan kematian merupakan satu yang membuatnya jadi legenda dalam sastra indonesia modern? seorang bohemian yang muda yang marah, kotor dan gelisah yang disebutnya ?bintang jalang?

Perhatikan tulisan goenawan dalam esai yang berbeda, berjudul seks sastra dan kita.

Ia, (chairil) tak pelak lagi, merupakan satu tokoh yang paling penuh warna dari generasinya, tampil mengejutkan di depan puing-puing suram dunia kolonial dan pemandangan bersaha dari udik negerinya? Kurang dari tujuh tahun setelah chairil mati muda dengan penyakit yang hinggap dari jalanan, pemberontakannya berangsur-angsur dipertanyakan?

Membandingkan deskripsi selang seling ide tentang sastra indonesia dengan deskripsi biografis sang penyair, tidakkah kita menemukan sebuah semangat yang sama antara kedua penulis ini. Lalu di manakah parafrasa yang dialamatkan oleh saut kepada goenawan itu, kalau keduanya sama-sama melakukan hal yang sama saat melakukan tinjauan kepada chairil anwar?

Parafrasakah tulisan saut di esainya itu. tidak.
Parafrasakah tulisan goenawan di esainya itu ? tidak.

Lalu dimanakah parafrasa yang disebutkan saut itu ?

Bagaimana dengan close reading? apakah saut di esainya itu melakukan close reading. Apakah goenawan di esainya yang lain melakukan close reading?

Jawabnya ya.

Dan sesungguhnya apakah yang ditemukan oleh saut di dalam esainya itu, penghubungan antara cinta dan kematian di dalam perpuisian chairil anwar, sudah lama menjadi bahan skripsi arief budiman tentang chairil dan telah menjadi buku itu (pertemuan dengan chairil).

Dan saya masih ingin menjejerkan satu esai lagi dalam kritik sastra indonesia, yang kali ini tentang prosa ? kritik yang sudah diumumkan, tetapi nampaknya luput dari perhatian saut.

(sebenarnya saya masih juga ingin menjejerkan budi darma dan sapardi djoko damono untuk disandingkan dengan tulisan saut – mungkin lain kali)

Hudan menulis:
Olenka dan ?Dunia?
Novel Olenka Budi Darma yang lanturannya banyak dipuji, bagi saya adalah pikiran yang bukan dibingkai dalam ?wacana? yang dibalik. Tetapi wacana yang dijadikan sumber dan orientasi.

Tak ada upaya Budi Darma untuk mengatasi wacana: menjadikannya kawan bermain, menabraknya, atau bahkan merobohkannya. Olenka bukan hanya memetik ilhamnya dari ?dunia?, tetapi benar-benar menjadikan dunia sebagai titik tolak. Sehingga hampir mustahil membayangkan novel Olenka tanpa pikiran dunia. Olenka tentram dan tenggelam dalam pemikiran dunia.

Halaman-halaman novel Olenka dibangun dan bersandar dengan pikiran dunia. Sebuah bab dimulai dengan pikiran dunia dan ditutup dengan pikiran dunia.
Begitulah kita menyaksikan Budi Darma menghidupkan Olenka dengan mensitir ?kutu, burung phoenix, dewa Zeus? yang diambil dari penyair Donne, atau sepotong cerpen Nathaniel Hawthorne. Tentang sebuah perasaan berdosa, atau soal penyatuan jasmani dan rohani, yang akhirnya membias pada ?letaknya surga? ? sebuah imajinasi pada alam raya, saat
Tuhan digambarkan berada di langit.

Apa yang salah dengan persambungan karya semacam ini? Tidak ada. Tapi kalau kita letakkan pada tingkat imajinasi, orisinalitas, dan terutama soal dominasi wacana ?dunia? yang melanda dunia kontemporer, hemat saya, sikap yang diambil oleh Budi Darma menimbulkan masalah.

Sudah jelas sastra adalah dunia metafora, dunia simbol, dunia imajinasi, aspirasi dan obsesi ? dunia intuisi juga, yang diletakkan dalam suatu permainan. Sastrawan mencari padanan, perumpamaan, dengan kata-kata atau peristiwa di dalam kisahnya. Sastrawan mencari dunianya sendiri. Sebaliknya Budi Darma, seolah menelan mentah-mentah segala macam pencapaian masa lalu. Puisi Chairil misalnya, dikutip menjadi sebuah penyimpul pikiran novel. Atau seperti halaman ?kutu? itu: apa yang dialami oleh Fanton dan Olenka di situ, dicantelkan dalam sebuah deskripsi akan ?cerita orang lain?.

Di manakah letak surga? Budi Darma
mengutip dan menguraikan sebuah sajak Donne. Lalu menambahnya dengan deskripsi sebuah cerita pendek Natahlie Hawtrone (yang surealis), dan sang pemuda dalam cerpen itu, menengadah ke langit, mengira bahwa langit adalah letak surga, meski Copernicus yang dikutip Budi Darma sudah mengatakan bumi ini bulat, bahwa bersama planet lain mengelilingi matahari. Maka otomatis pikiran bahwa surga di langit adalah pemikiran yang keliru. Menghadapi semua itu, Budi Darma berkata melalui tokohnya (Olenka): ?Sebetulnya dia cukup menengok ke hati nuraninya sendiri, tanpa berusaha menengadahkan kepalanya ke langit?.

Apa yang dikatakan oleh Olenka adalah kesimpulan yang benar. Tetapi dari sudut permainan, Budi gagal membangun permainan sendiri. Sikapnya tak melakukan permainan dengan dunia. Padahal permainan pikiran akan membuka peluang bagi Budi untuk menjajari dunia atau bahkan melampauinya. Sebuah metafora bisa dibangun Budi Darma, untuk mengimbangi cerpen
The Young Good Man. Tetapi soalnya, Budi memang tentram dengan sikapnya. Lihatlah kutipan no 7, ia mengatakan bahwa salah satu titik tolak cerpennya, Bambang Subali Budiman, berasal dari cerpen The Young Good Man. Sebagai pencipta, Budi tak ?risih? mengatakan semua itu. Seolah orisinalitas, pencarian metafor, simbol, bukanlah menjadi obsesinya.

Demikian juga dengan salah satu sub dari novel Olenka, ?Marilah Kita Miliki Satu Dunia?. Sebuah bab tentang perasaan bersalah yang menghinggapi Fanton Drumond. Untuk kedua kalinya tokoh novel berbicara tentang langit. Langit, yang maha misteri itu, tak juga mampu mengundang imajinasi lain pada Budi Darma. Ia masih berputar pada pendapat Copernicus, bahwa bumi mengelilingi matahari. Aneh, Budi Darma yang sudah mengusung kutipan Kitab Suci dalam novelnya, sedikit pun tak pernah membayangkan betapa langit mempunyai lapisan-lapisan.

Dengan lapisan-lapisan langit, Budi Darma mempunyai peluang
untuk ?memainkan? Copernicus. Katakanlah soal letak alam semesta: di bawah langit pertama, atau masuk dalam lintasan langit yang tujuh? Juga nilai-nilai (peristiwa, benda dan makna) yang menggantung antara langit dan bumi, yang membuat Olenka bisa mengambil posisi ?mengatasi kehadiran?, keluar dari imajinasi dunia, demi meraih dan menduga sesuatu yang menggantung antara langit dan bumi.

Semua itu tidak dilakukan Budi Darma, karena ia terkunci, atau mengunci diri, dengan kemauannya bersandar pada dunia. Lalu bagian ini ditutupnya dengan mengutip penyair John Donne kembali: bahwa bersatunya tubuh suami-istri sebagai bola dunia, yang saat dua bola dunia itu disatukan, adalah merupakan perwujudan terhadap pemujaan mereka atas Tuhan.

?Untuk menyatukan mereka, mereka menumpang-tindihkan bola-dunia mereka, yang menurut John Donne merupakan pernyataan pemujaan mereka terhadap Tuhan. Dan John Donne mengucapkan terima kasih atas perkenan
Tuhan untuk mencapai persatuan melalui penumpang-tindihan kedua bola-dunia.? Dunia metafora dan dunia simbol Budi Darma ditelan ?bola dunia? penyair Donne.

Puncak ketakberdayaan Budi Darma pada dunia, terjadi dalam sub-bab ?Nausea?. Kembali Budi Darma menelan mentah-mentah sebuah pencapaian Sartre: Nausea. Yang terjadi pada ?Requanti? di belahan sana, memang bisa terjadi pada dunia Fanton saat ini. Tetapi soalnya: kenyamanan berada dalam naungan grand narative, telah membawanya menumpang pada ?perahu dunia?.
Padahal Budi Darma bisa mengayuh ?perahu sendiri?, misalnya dengan mengganti kata ?Nausea? menjadi ?Nausi?. Nausea dalam bahasa Sartre itu terdengar seperti dalam bahasa Inggris ?now see?, yang dalam bahasa Indonesia bisa diputar menjadi ?kini lihatlah kami?.

?Kini lihatlah kami?, adalah sikap permainan atau perlawanan pada Sartre. Bahwa yang kita ciptakan bukan Nausea bergaya Sartre tapi
Nausea yang lain. Nama tokoh dalam novel Sartre, ?Rekwanten?, bisa menjadi ?Rekuanti?. Dan Budi Darma bisa membelokkan gejala Nausea dalam peristiwa dan makna yang menimpa tokohnya, membalik atau mengubahnya. Fakta (psikologis) tokoh diubah ke dalam fiksi (psikologis) tokoh.

Inilah hakekat sastra sebagai dunia permainan itu: dunia yang bisa memutar “fiksi” menjadi “fakta”. Sehingga terbuka untuk membuat pengertian dan hakekat isi sastra baru. Dunia “novel fiksi” yang mewujud dalam aksara, bergerak menjadi dunia “novel fakta” yang mewujud dalam manusia. Sehingga pengertian novel tidak hanya aksara yang mewujud dalam bentuk buku, tapi aksara yang mengeram dalam tubuh manusia.

Novel bukan lagi buku yang diam. Tapi novel adalah manusia yang berjalan. Tokoh “novel fiksi” dalam buku, kini bergerak ke dalam tokoh “novel fakta” dalam manusia. Karenanya sang pengarang novel bukan lagi sang pengarang. Tapi telah menjadi novel itu sendiri
? “novel yang berjalan”. Tempat tubuh terbelah mendapatkan dua dunianya: dunia dirinya di dalam novel, dunia dirinya di dalam manusia konkret-fiktif sehari-hari.

Begitulah segala hal menjadi mungkin: sebuah karya sastra mencari logika untuk dirinya sendiri. Hukum untuk dirinya sendiri. Batas-batas dibenturkan dan dirobohkan, sastra melesat ke dalam logika “fakta-fiksi” nya sendiri. Dalam kasus Olenka, apa yang dialami Fanton tidak harus sebangun dengan apa yang dialami oleh tokoh dalam novel Sartre: ?Otak saya sadar bahwa taxi membelok ke kanan, tapi saya merasa seolah-olah taksi membelok ke kiri.? Sebuah peristiwa dan makna yang sama dengan ?Requantin? yang dikutip Budi Darma. Akan seseorang yang makan di kafe dengan tangan kiri, padahal sebetulnya orang itu makan dengan tangan kanannya.

Sebagai penutup esai ini, saya ingin mengatakan bahwa sastra itu terutama bukanlah kerja otak tapi kerja hati ? hati yang bening untuk berendah diri menangkap dan mengungkap kehidupan. Rasa-rasanya di sinilah letak keunggulan HB. Jassin yang karena kebeningan hati dan kerendahan sikapnya telah dianugerahi doktor sastra honoris causa oleh sebuah perguruan tinggi yang berwibawa di Indonesia.

Saya akan turunkan kutipannya saat doi mendapatkan gelar doktornya itu dari universitas indonesia.

?Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih banyak kepada pimpinan fakultas sastra dan senat universitas indonesia atas kehormatan yang dilimpahkan kepada saya hari ini, yaitu penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa kepada diri saya.

Suatu penghargaan yang tiada saya sangka semula dan tiada pula berani saya harapkan, karena saya merasa bahwa apa yang telah saya sumbangkan bagi pengembangan pengettahuan tentang kesusatraan indonesia masih sedikit sekali dan juga karena kesadaran bahwa apa yang telah saya berikan masih jauh dari apa yang disebut ilmiah.

Malahan dalam pekerjaan saya selama ini ada semacam kekuatiran bahwa saya akan menjadi ilmiah dalam arti hanya bekerja dengan otak, padahal kesusastraan adalah suara hati dan penyelidikan kesusastraan bukan hanya pekerjaan otak, tapi terutama pekerjaan hati yang ikut bergetar dengan objek penyelidikan dan sebagai penyelidikan harus mengandung serta memantulkan kembali getaran-getaran itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *