Membaca Tubuhmu

Candra Malik
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

ANGIN malam membangunkan bulu-bulu jagungmu, menyelinap ke balik rambut ikalku, memaksa kita bersidekap. Setelah asap terakhir menguap ke angkasa, tak ada lagi sigaret tersisa.

Tapi, kau tak kehabisan tawa. Masih ada senyum di bibirmu yang retak. Kau menghalau galau dengan sendau-gurau. Mulutmu nganga meniupkan sisa napas ke udara, menantang hawa dingin dengan suhu tubuhmu yang diserang demam.

?Kau lihat asap keluar dari mulutku??

?Ah, aku hanya melihat gelap,? jawabku.

?Tapi, pasti ada asap yang keluar,? kejarmu.

?Bukan. Kata orang, itu serupa kabut tipis.?

Kau lalu terdiam. Aku meraba punggungmu yang lembab keringat. Kau tepis jaket dariku. Buat apa mengadang angin, begitu kau bilang. Padahal, sepoi yang membawa aroma tanah basah terasa begitu menusuk tulang.

Hujan tak pernah mau pergi dari kota ini. Tiap hari selalu ada kiriman dari langit, entah rintik entah deras. Bagiku, yang lahir dan mekar di kota ini, dingin tak ubahnya kawan lama. Tapi, bagimu, ini sambutan selamat datang yang tak baik untuk kesehatan.

?Lebih baik kau merebah dulu,? saranku.

?Apa salah duduk di jendela??

?Dingin. Suhu tubuhmu masih tinggi.?

?Kau saja yang istirahat,? tangkismu.

Ah, kau masih saja Irene yang dulu ?keras kepala dan sukar ditebak. Tapi, dari nada bicaramu, terasa ada keganjilan. Sedari tadi kau melarangku menyentuh pipimu. Aku curiga ada air mata di situ. Gelak tawamu pun terasa terlalu dibuat-buat.

Apalagi, kau datang dalam kondisi tak wajar. Petang tadi kau jatuh terkulai di pelukanku. Tubuh liatmu basah peluh, napasmu terengah-engah, dan bobotmu memberat bagaikan mayat. Spontan kubanting pintu, dan kuseret tubuhmu ke kamar.

Irene, kau selalu datang membawa persoalan. Sekarang tentang apa lagi? Semula aku berharap kau mau bicara setelah siuman. Paling tidak, aku ingin tahu mengapa kau datang tanpa tongkat. Padahal, tongkat itu kubikin dengan cinta khusus untukmu.

?Kau melamun??

?Aku merindukan orang lewat,? jawabmu.

?Pada malam sedingin ini??

?Aku masih asing dengan gelap,? ungkapmu,? Sebelum di sini, aku selalu berharap ada orang lewat yang mau menghampiri. Aku butuh teman.?

Aku menyesal telah bertanya padamu. Kau masih orang baru, masih merasa tenggelam dalam kelam. Disekap gelap yang pengap kau tergagap-gagap, lelah mencari celah, hingga akhirnya kau sadar bahwa percuma berharap sisa cahaya di pias mata.

Apalagi setelah Taksaka meninggalkanmu, kau kurus tak terurus. Dia tak bisa menerima kenyataan bahwa tatapannya tak mungkin lagi kau balas. Kau lara sebatang kara, sedih tersisih dari kekasih.

Sudah seharusnya aku minta maaf kepadamu karena tak bisa menengok ?apalagi menemani. Aku tak jauh berbeda darimu: sendiri menyisir sepi. Jika akhirnya gelap mempertemukan kembali kita di sini, aku tak berharap banyak selain membaca tubuhmu.

Kasihan benar kau mengeja jejakku berpijak pijar matahati semata. Perjalanan ke sini pasti menguras tumpas paras mudamu sampai pasi. Sendi-sendi kakimu pasti ngilu, biar kurendam air hangat kuku. Bolehlah menjerit, tapi tahan sedikit, ini tumit perlu kupijit.

?Lepaskan lelah kakimu,? ucapku.

?Kau selalu lebih tahu dari Taksaka,? sahutmu.

?Jangan begitu. Dia toh tetap suamimu.?

?Tidak lagi. Tadi pagi dia pulang sebentar untuk pergi lagi selamanya. Taksaka datang dengan sepucuk surat cerai dan semerbak sisa parfum perempuan.?

Pasti perempuan itu yang membuatmu terpuruk. Pantas saja kau kacau-balau. Setelah sanggup belajar hidup sendiri, kau justru kembali diganggu kehadiran Taksaka yang menggandeng perempuan lain.

?Sekarang aku bahkan membenci laki-laki dan perempuan,? ucapmu.

?Termasuk aku??

Tak kuduga kau menjawabnya dengan isak tertahan. Ah, aku salah lagi telah bertanya. Segera kudekap dadamu yang menyimpan luka. Degupmu tak teratur. Engkau bergetar hebat. Apakah ini karena tubuhmu akhirnya tenggelam dalam pelukku?

Oh, kekuatan apa ini yang membimbingmu menyelinapkan tanganku ke balik bajumu. Kecupan kecilmu di ujung garis bibirku menggugah gelora purba kita. Mendongak ke langit-langit, kini kau bebaskan jenjang lehermu untukku.

?Tidak. Ini salah!? sergahku.

Entah mengapa aku justru tiba-tiba menjauhkan bibirku dari bibirmu.

?Ya Tuhanku! Kau ini,? keluhmu.

?Jangan, Irene.?

?Laksmi…? dengusmu mengajakku sekali lagi.

?Tapi, bukan begini caranya.?

?Tak ada yang melihat kita,? sergahmu.

?Termasuk aku?? seruku.

Irene, meski hidup dalam gelap, aku tak mau gelap mata. Lagipula, aku yakin selalu ada mata yang memata-matai mata kita.

Mendengar dalihku, kau langsung mengambil jarak. Jarimu menepis gamitku. Tapi, aku sempat menyentuhmu. Telapak tanganku mengatakan, ada gurat kecewa dari senyummu yang menyembulkan pipi. Aku tahu garis bibir itu kau tarik paksa.

?Oke. Ternyata selama ini aku salah sangka,? akhirnya kau bicara.

?Tentang apa?? aku penasaran.

?Tentang kita.?
***

BODOH aku menganggap kita berjodoh. Kau menyodorkan potret seorang lelaki. Dia tampan, katamu. Sayangnya, telapak tanganku tak mampu membaca kertas foto yang sedemikian halus. Aku juga tak mau menyakiti hatimu yang lembut.

Begitu kau simpan potret itu ke lipatan surat cinta kalian, kulipat pula suratan cintaku kepadamu dan kusimpan dalam lembaran hatiku. Lalu, kuberi segaris senyum agar kau tak menagih komentarku tentang lelakimu, lelaki yang melukai hatiku.

Tapi, kau ternyata seorang gadis yang butuh penegasan. ?Tampan kan?? serumu dengan gemas seraya menarik tangan kananku dan kau remas di atas paha kirimu. Kau mengharap aku menjawab apa selain anggukan berat dan senyum palsu? Yang kupahami, kau sekadar ingin berbagi rasa padaku.

?Namanya Taksaka, anak seni rupa,? katamu.

?Nama yang keren,? jawabku datar.

?Kau harus melihatnya langsung. Kau tak akan kecewa! Mau ya menemani aku menemuinya??

Gadis jelitaku, mana bisa aku menolakmu. Meski kecewa tak akan pernah bisa melihat wajah Taksaka, aku tak keberatan menemanimu. Aku juga akan jadi patung ketika kau duduk mematung dilukis Taksaka.

Sepulang kuliah, kau langsung menarik lenganku, mengajakku jalan kaki menuju studio lukis Taksaka. Untuk menyingkat waktu tempuh, kita memotong kompas melalui gang-gang kelinci yang gelap.

Tapi, perjalanan justru tersendat. Sebab, cahaya bulan ternyata tak cukup untuk mengenali belokan-belokan. Padahal, kau masih harus membimbingku. Karena baru sekali lewat, tongkatku samasekali tak bisa membantu. Dia belum mengenal daerah ini.

Tapi syukurlah, akhirnya kita sampai juga. Sudah lama Taksaka menunggu, tampaknya.

?Kok baru datang?? sambut Taksaka dingin.

?Maaf. Ini temanku, perkenalkan,? jawabmu.

?Laksmi…,? ujarku sambil mengulurkan tangan ke arah hembusan napasnya.

?Ayo, langsung saja. Sudah telat,? Taksaka memilih menarik tanganmu.

?Ayo, Laks,? ajakmu, seperti hendak menarik tanganku. Tapi, aku merasakan gerakan angin dari arah Taksaka. Ya, dia menahanmu dengan pelukan satu lengan. Kalian pergi dan aku sendiri lagi.

Cukup sampai di sini. Tak perlu dijelas-jelaskan. Aku perempuan yang tahu diri. Aku paham Taksaka tidak menyukaiku. Dan, dia lebih tidak suka lagi pada kedekatan kita. Tapi aku tak akan menjauh darimu. Aku sudah berjanji menemanimu.

?Wah, pasti capek ya mematung begitu?? kucoba membuka obrolan.

?Ssstt, objek jangan diajak bicara!? seru Taksaka.

?Ups, maaf.?

?Tapi, apa sih yang membuatmu tertarik untuk melukis aku?? sahut Irene menyelamatkan aku.

?Matamu. Sepasang mata yang indah. Apalagi setelah kau buka kacamatamu,? jawab Taksaka.

?Bukankah begitu, Laks… Siapa tadi namamu?? sambungnya, kini terarah padaku.

?Laksmi. Ya, mata yang indah,? sahutku.

Bibirku tersungging meski hatiku tersinggung. Kupingku menangkap gelagat, Taksaka memuji mata Irene untuk mengejek mataku. Tapi, jangan sampai aku gusar di depanmu. Sebab, aku sendiri yang meminta padamu agar jangan mengasihani mataku.

Aku juga yang memintamu untuk sekali lagi mempertimbangkan keputusan mengganti kacamata dengan lensa kontak. Jangan hanya karena Taksaka, kau lantas tak mengasihani matamu sendiri. Memakai lensa kontak perlu ketelatenan. Mata dan lensa harus rutin dibersihkan. Tapi, kau ternyata pilih Taksaka.
***

?Tentang kita?? aku tak yakin apakah kau yang salah ucap atau aku yang salah dengar.

?Ya, kita,? ujarmu seraya mendekatiku, meraih jemariku, membawa telapakku menyentuh matamu, sepasang mata indah yang pernah dipuja Taksaka itu.

Sudah enam bulan ini matamu hanya melihat gelap. Takdir itu bermula dari suatu pagi yang dikejar waktu. Setelah menghabiskan malam dengan suami, kau bangun kesiangan sehingga terlambat berangkat ke rektorat. Dan, Taksaka sudah hilang melanglang.

Akhirnya, kau pergi ujian skripsi tanpa mandi. Lalu, menyisir rambut sambil jalan, mengucek mata sembarangan, dan memasang lensa kontak dengan mendongak sejenak. Di luar dugaan, lensa kontak melukai selaput matamu sebelum akhirnya terjatuh.

Bukan hanya sobek, tapi selaput matamu juga terkena serangan virus. Dokter tak bisa menolong penglihatanmu yang semakin buram hingga akhirnya hampa cahaya. Sore itu, kala gelap menghampirimu, aku berdiri di samping pembaringan.

?Lalu kau membohongiku. Kau bilang, hari sudah malam,? ucapmu lirih.

?Itu karena aku mencintaimu.?

?Tapi, itulah yang kubenci darimu, Laks.?

?Kita bukan orang kalah. Salah jika kubiarkan kau melemah. Meski susah payah mengasah arah, jangan pernah menyerah,? sahutku.

?Bukan itu maksudku.?

?Lalu??

Kau jambak aku, lalu kau dekatkan kupingku ke bibirmu. Ngilu aku mendengar tangismu yang pilu bagai disayat sembilu. ?Kenapa baru kau katakan sekarang? Kenapa tidak dari dulu kau bilang cinta padaku? Kau melukai cintaku padamu!? teriakmu.

Seketika tubuhku bergetar hebat hingga jatuh terkulai memeluk kakimu. Irene, kau benar-benar perempuan yang butuh penegasan. Tak kusangka sangkaanku belaka kau suka Taksaka. ?Dia hanya pelarianku darimu, ? ungkapmu. Irene, ternyata aku selama ini salah membaca bahasa tubuhmu.

Keprabon, 16 Februari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *