MENGUSUNG KECENDERUNGAN DAN MAINSTREAM ESTETIK

Tentang Tiga Antologi Cerpen Creative Writing Institute
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Siapakah gerangan penggerak di balik layar Creative Writing Institute (CWI), sebuah lembaga baru yang konon bergiat di bidang pelatihan penulisan kreatif. Barangkali CWI ini semacam sanggar yang membina kaum muda agar menekuni bidang penulisan kreatif. Pertanyaannya: apakah mungkin penulisan kreatif dapat dilatihkan macam kegiatan olahraga? Bukankah ?sebagaimana anggapan sebagian besar masyarakat? menjadi penulis ?sastrawan?memerlukan talenta dan bakat yang luar biasa? Jawabannya ada pada tiga buku antologi cerpen yang diterbitkan CWI, yaitu (1) Lantaiku Penuh Darah yang menghimpun tujuh cerpen karya Poniran Kalasnikov, Pangeran Gunadi, Sarno Sensiby, dan Muslim Adi Pamungkas, (2) Membaca Perempuanku yang memuat enam cerpen karya Maya Wulan, dan (3) Keluarga Gila yang memuat tujuh cerpen karya Hudan Hidayat.

Dari nama-nama itu, hanya Hudan Hidayat yang sudah kita kenal sebagai cerpenis. Dengan begitu, niscaya Hudanlah tokoh penggeraknya. Tetapi sangat mungkin pula Ahmadun Yosi Herfanda ?penyair dan salah seorang redaktur harian Republika?ikut bermain mengingat ia bertindak sebagai penyunting naskah. Kata Pengantar Irwan Kelana ?Redaktur Senior Harian Umum Republika? dalam Lantaiku Penuh Darah menjelaskan duduk perkaranya. ?Hudan Hidayat telah mengantarkan Poniran Kalasnikov, Pangeran Gunadi, Muslim Adi Pamungkas, Sarno Sensiby, Maya Wulan? ke pintu gerbang dunia kepengarangan, khususnya cerpen: (hlm. xii). Kecuali Maya Wulan, keempat nama itu adalah para pegawai honorer Diknas ?office boy dan satpam?yang ?disulap? menjadi cerpenis. Lalu, cukup pentingkah cerpen-cerpen mereka dibukukan dan diberi kata pengantar oleh seorang Irwan Kelana, redaktur senior Republika? Mari kita cermati!
***

Antologi Lantaiku Penuh Darah memuat tujuh cerpen karya Poniran Kalasnikov (dua cerpen), Pangeran Gunadi (dua cerpen), Sarno Sensiby (dua cerpen), dan satu cerpen Muslim Adi Pamungkas. Sebagai cerpenis pemula, keempatnya memperlihatkan keberanian yang sungguh. Barangkali, karena mereka berguru pada seorang Hudan Hidayat, maka gaya bertuturnya relatif mempunyai kecenderungan yang sama; mengangkat tema-tema yang mengandalkan keliaran imajinasi. Dari sanalah kita akan melihat, betapa gaya bertutur mereka begitu menjanjikan.

Bolehlah keempat cerpenis itu memperoleh sentuhan yang sama. Tetapi, tentu saja masing-masing memperlihatkan kekhasannya sendiri. Poniran Kalasnikov dalam cerpen ?Lantaiku Penuh Darah? dan ?Nenek Anjing? yang mengangkat latar di dunia entah-berantah dalam tataran surealisme cenderung memanfaatkan rangkaian penuturan yang berderap cepat. Kata-kata yang dirangkainya seperti berlompatan membangun sebuah dunia yang aneh. Jadilan realitas fiksional dalam cerpen itu seperti sengaja diselimuti oleh imajinasi liar yang berada di luar batas logika.

Pangeran Gunadi dalam cerpen ?Ibu Pacarku? dan ?Kucongkel Mata Ayah? juga berada dalam tataran antara realisme dan surealisme. Meskipun demikian, Gunadi seperti lebih menekankan pada detail deskriptif. Dengan cara itu, ia terkesan menggiring pembaca ke dunia realis. Belakangan, cara itu ternyata digunakan sebagai siasat untuk mengecoh.

Hal yang juga dilakukan Sarno Sensiby (?Sampan Kayu? dan ?Titian Kayu di Tengah Rawa?). Gaya realis yang dirangkaikannya secara perlahan. Dan itu kemudian dimanfaatkan justru untuk mengulur-ulur tegangan (suspence). Dengan begitu, cerita yang dibangunnya seperti dibawa ke serangkaian teror yang menjerumuskan tokohnya ke dalam peristiwa tragis: masuk lumpur sungai (?Sampan Kayu?) dan dilahap buaya (?Titian??). Sementara itu, Muslim Adi Pamungkas (?Kuburan?), mengawalinya dengan ledakan kuburan. Dari sanalah, tokoh aku digiring ke dunia mistik dengan cara mengaduk-aduk dunia mimpi, hayal, dan mistik dalam satu kesatuan peristiwa.

Secara keseluruhan, gaya bercerita keempat cerpenis itu masih senapas. Demikian juga tema-tema yang diangkatnya seperti sengaja mencampuradukkan realitas dengan mimpi dan hayalan yang justru malah mendatangkan serangkaian teror. Cara bertutur seperti itu tentu saja bukanlah hal yang baru. Demikian juga caranya menghadirkan rangkaian teror. Justru dalam hal itulah, keberanian keempat cerpenis itu mengangkat tema-tema inkonvensional, nyeleneh, dan tak lazim, menjadikan cerpen-cerpen mereka seperti hendak memotret fenomena dunia gaib yang kini banyak ditayangkan berbagai stasiun tv. Jika mereka lebih berhati-hati dan melakukan pendalaman yang intens, niscaya karya-karya mereka akan berhasil mengangkat peristiwa-peristiwa yang lebih mengerikan.
***

Antologi Membaca Perempuanku karya Maya Wulan memperlihatkan potensi seorang cerpenis pemula yang sungguh dahsyat. Cara memanfaatkan pencerita yang secara enteng ganti-berganti antara tokoh aku sebagai subjek dan tokoh aku sebagai objek, atau sebaliknya, tidak hanya menampilkan model penceritaan yang aneh, tetapi juga secara licik, menyelimuti pesan yang hendak disampaikan pengarangnya. Ideologisasi jender yang diperankan tokoh aku dalam berhadapan dengan tokoh ayah (?Membaca Perempuanku?) menjadi sesuatu yang wajar ketika duduk perkaranya ditampilkan dalam bentuk menolog-monolog reflektif. Kebencian tokoh aku kepada ayah tiri yang telah memperkosanya, diselimuti oleh protes tokoh aku kepada dirinya sendiri. Demikian juga perpindahan pencerita tokoh aku ?subjek?pacar si perempuan? dan pencerita tokoh aku ?objek?tokoh aku yang diperkosa ayah tirinya?seperti terus-menerus berhadapan dengan problem psikologis dunia perempuan yang tersisih dan tak berdaya. Sebuah cerpen yang menurut hemat saya berhasil mengangkat pelecehan jender secara ironis dan paradoksal.

Cerpen-cerpen lainnya dalam antologi itu (?Pisau?, ?Matinya Seorang penulis Muda?, ?Catatan Hati Seorang WIL?, ?Tidur? dan ?Permainan Tempat Tidur?) mengangkat realitas hayalan, mimpi, dan ilusi menjadi semacam peristiwa-peristiwa yang seolah-olah menerjang setiap tokohnya begitu saja. Imajinasi yang diselusupkan dalam setiap peristiwa, memang tidak liar. Tetapi, ketika ia menjelma menjadi tokoh cerita, ia bisa menjadi begitu liar. Bahkan begitu beringas dalam rentetan berbagai adegan yang aneh dan mendebarkan.

Mencermati tema-temanya, sadar atau tidak sadar, Maya Wulan terkesan seperti tidak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang Hudan Hidayat ?Sang Guru dan sekaligus inspirator. Di sana ada semacam perselingkuhan kreatif (psikis dan fisik?) yang lalu melahirkan sejumlah karya. Dalam beberapa hal, model keterpengaruhan seperti itu sangat mungkin dapat melahirkan style dan kecenderungan yang relatif paralel. Di situlah ancaman bahaya bagi Maya Wulan seperti menunggu waktu. Jika ia terus menikmati keterjebakan dan keterpukauannya pada bayang-bayang itu, ia akan mati muda seperti tokoh dalam cerpennya ?Matinya Seorang penulis Muda? itu. Sebaliknya, jika ia mampu melepaskan diri dan bahkan berhasil membunuh bayang-bayang itu, niscaya ia akan tampil menjadi sosok cerpenis yang kokoh dan berpribadi.

Dalam deretan cerpenis perempuan, Maya Wulan sungguh patut mendapat tempat tersendiri. Gaya berceritanya penuh imaji, dan kadangkala sangat simbolik.Dalam hal ini, Wulan tampil dengan sangat meyakinkan mengusung problem perempuan dalam berhadapan dengan dirinya sendiri atau dengan kaum lelaki yang terus-menerus mengalahkannya. Sebuah cara yang licik dalam memprotes superioritas kaum lelaki.
***

Antologi Keluarga Gila karya Hudan Hidayat memang benar-benar menampilkan dunia gila. Berbagai peristiwa tentang kematian, seksualitas, dan naluri-naluri purba mendominasi keseluruhan cerpen-cerpen yang terhimpun dalam antologi ini. Apa yang dikatakan Karl Jaspers mengenai penolakan terhadap kematian yang disebutnya sebagai ?situasi marjinal? seperti sengaja diledek dan diaduk-aduk menjadi alat permainan setiap tokoh yang dihadirnya. Penolakan terhadap kematian yang bagi masyarakat modern sebagai sesuatu yang penting ?meskipun tak terelakkan?justru dicemooh melalui tokoh yang memburu kematian, bersetubuh dengan kematian, dan mencampakkan nyawa seperti barang tak berharga.

Berbeda dengan antologi sebelumnya, Orang Sakit (2000), kini Hudan Hidayat mengusung sebuah tema sejenis; naluri kepurbaan. Dalam konteks itu, tidak dapat lain, ia seperti sengaja menempatkan kematian sama berharganya atau sama tak berharganya dengan seksualitas. Di sinilah, Hudan Hidayat secara tersembunyi mengangkat problem manusia modern ?yang mendewakan kehidupan di atas segalanya? sebagai manusia yang tidak dapat melepaskan diri dari naluri-naluri purba. Ketakutan manusia modern atas kematian dijurkirbalikkan dengan tampilnya tokoh-tokoh yang justru mengejar kematian.

Demikianlah, kehadiran antologi Keluarga Gila, harus diakui, tidak hanya telah berhasil menyemarakkan tema cerpen Indonesia kontemporer, tetapi juga telah berhasil menunjukkan sebuah style, bagaimana memotret dunia modern secara paradoksal. Di samping itu, sebuah estetika psikologis yang menjadi salah satu kekuatan antologi cerpen ini, telah ditanamkan Hudan Hidayat secara meyakinkan. Persoalannya tinggal, bagaimana pembaca menyikapinya dalam perspektif yang sama.
***

Bagi saya, ketiga antologi cerpen yang dibicarakan tadi, patutlah mendapat apresiasi yang proporsional. Ada potensi yang luar biasa di sana. Maka, jika para cerpenis itu menghasilkan karya-karya berikutnya, bolehlah kita menganggap: sebuah mainstream, sebuah kecenderungan estetik, telah dibangun Hudan Hidayat beserta murid-muridnya secara meyakinkan.. Jika ternyata mereka sudah cukup puas dengan antologinya masing-masing, itu artinya, sinyal kematian bakal menggilas mereka. Sebaliknya, jika mereka berkehendak menampilkan sejumlah monumen, maka kita tunggu saja karya berikutnya.

*) Pensyarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *