Negeri Batu

Indrian Koto
http://www.jawapos.com/

Melewati tempat ini, aku kembali dibangkitkan pada ingatan ganjil tentangmu. Aku merasa, nyaris seluruh peristiwa kita tertinggal di selingkaran candi-candi hitam nan sunyi. Barangkali, kerinduan memang memberikan tempat terbanyak untuk peristiwa dan kenangan. Seperti aku kini merasakan semuanya serupa batu hitam yang terukir di antara candi-candi retak.

Aku mengenangmu, Sri. Kembali. Di sini. Aku tak tahu, saat ini sedang menyesal atau justru sedang bahagia. Menyesal karena diburu masa lalu yang berakhir buruk, bahagia karena merasa memiliki sedikit peristiwa manis.

Rasanya semua berjalan sangat cepat. Kita pernah di sini, dua tahun yang lalu, atau mungkin lebih. Waktu itu, batu-batu masih tersusun dengan rapi membentuk gugusan candi yang tak henti kita kagumi. Dua ratus dua puluh empat Candi Perwira mengapit enam belas candi lainnya. Lima puluh enam dalam satu sudut yang terbagi dalam empat bagian, katamu, ketika itu. Dan aku merasa diriku tetaplah satu dari sekian ratus candi yang mengelilingi dirimu yang berdiri menjulang di antara semua. Kau Candi Siwa yang kokoh dan besar.

Kita tak pernah meyakini segala hal yang dihembuskan banyak orang di sini. Mereka mengatakan, siapa pun yang berkunjung ke Prambanan dengan pasangannya, niscaya hubungan mereka tak akan bertahan lama. Kita meyakini cerita itu serupa Candi Sewu yang mustahil diciptakan dalam semalam, meskipun sesungguhnya kisah kita tak kalah ganjil dengan itu semua.

Percintaan memang gila dan membuat kita lupa. Mereka, orang-orang dengan bisikan-bisikan yang tak logis itu, bersikukuh dengan kehendak mereka. Dan kita bersitegang dengan keyakinan sendiri. Kelak, mungkin kita akan disatukan sebagaimana Tarup dan Nawang Wulan, Joko Kendil dan Dewi Melati.

Aih, mengapa dalam dongeng perempuan selalu muncul dari langit?

”Tapi aku bukan perempuan langit yang cengeng, setiap habis bertengkar akan meminta selendang untuk pulang,” bisikmu pelan. ”Kita, kalaupun kelak dianggap dongeng, tetaplah dongeng yang manis. Yang tak berakhir dengan pedih sebagaimana Kamajaya dan Kamaratih.”

”Aku bukan lelaki langit sebagaimana Kamajaya. Hampir tak ada kisah semacam itu di sini. Tak ada lelaki langit yang jatuh cinta pada perempuan bumi. Hanya perempuan yang diciptakan Sang Langit, tidak lelaki. Di bumi hanya ada lelaki tolol yang diperdaya oleh kekuatan cinta yang datang dari dirinya sendiri. Lelaki dengan upaya yang sungguh-sungguh dan kadang begitu konyol.”

”Dan, Ratu Pembayun? Apakah ia dari langit? Bukankah dia perempuan yang mengorbankan dirinya untuk cinta dan terjerat dengan apa yang dicintainya. Apakah ia tidak mengingatkan dirimu akan kisah kita?”

”Ia tetap langit, sebagaimana dirimu. Perempuan dengan darah biru. Kau tahu akhir kisah itu bukan? Aku akan dikenang sebagaimana Mangir, seorang kerabat yang dipandang sebagai penjahat. Menantu sekaligus musuh.”

”Apakah kau pikir hanya dirimu yang menjadi tumbal dari peristiwa ini?”

”Kau ingat bagaimana Joko Seger tak bisa memenuhi janjinya pada Roro Anteng? Sangkuriang dengan sampannya? Dan, di sini, Bandung Bondowoso yang digagalkan rencananya?”

”Tetapi aku tak hendak memintamu membikin candi dalam semalam dan diam-diam menggagalkannya. Apa hubungannya mereka dengan percintaan kita?”

”Dalam dongeng mereka suka menipu.”

”Kau tidak mengecualikan aku di dalamnya? Kau menganggapku seperti Jonggrang?” Katamu setengah marah.

”Entahlah, aku ragu.”

Aku tak habis pikir. Siapa sesungguhnya di antara kita yang membutuhkan. Tidak sebagaimana dongeng, di mana aku, sebagai seorang lelaki harus menuntut cinta pada sang putri. Kau yang terlalu banyak meyakinkanku. Semakin kau yakinkan, semakin aku ragu akan kemampuanku. Di kepalaku, seribu candi mesti kusiapkan dalam semalam. Diam-diam, kubayangkan kau memiliki persekongkolan gaib di dalamnya. Memukul lesung dan alu, menyalakan obor dan membutakan pikiran seekor jago.

”Tinggalkan aku jika kau berpikir demikian,” katamu. Aku tak pernah berniat untuk itu. Dan kita, tak bosan-bosan berada di sini, dan selalu di sini, menatap Candi Siwa yang tinggi, hingga matahari lenyap di sebaliknya. Lalu kita bergegas sebelum matahari jatuh di hamparan panggung terbuka yang tersembunyi di antara pohon-pohon dan padang hijau.

Kau selalu menyeretku ke tempat yang sama, di mana bayang matahari memantul di antara candi, sejauh mata memandang batu-batu hitam berukir diterpa lembayung petang. Kau tak bosan membawaku ke tempat yang ini-ini juga. Setelah sentuhan-sentuhan lembut, setelah tetesan keringat, kita akan kembali ke sini, pada ketinggian batu-batu candi Loro Jonggrang, mengagumi gugusan gunung yang menghampar di utara. Jika beruntung, kita bisa menyaksikan Merapi dari sini, serupa garis-garis tipis di antara putih kabut.

”Kenapa kau begitu menyukai tempat ini?” tanyaku suatu waktu.

”Di sini lebih tersembunyi. Tak banyak orang mengenali kita.”

”Kau yakin? Di tempat wisata macam ini?”

”Apakah seorang yang berselingkuh memilih tempat bercinta yang terbuka?” Kau balik bertanya. ”Kupikir tak ada yang menyangsikan kita.”

”Entahlah. Kita berada di antara sekian mitos yang mengepung. Aku candi kecil yang berkeliling menjagamu agar tak runtuh. Meski aku tahu, goncangan kecil akan membuat diriku menjadi kepingan halus yang tak berarti. Musnah lebih dulu dari dirimu. Kalaupun masih bersisa, betapa sepi akan ziarah.”

”Aku tak mengerti arah pikirmu.”

”Dan aku tak bisa merumuskan hubungan kita.”

Kau meradang, ”Katakan, kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku.”

”Dan mengapa kita mesti melakukan hubungan sembunyi-sembunyi semacam ini?”

Kau diam. Matamu yang sengit berubah senyap. Duhai, Gusti. Percintaan macam apa gerangan yang kau titipkan pada kami, sepasang manusia yang hidup dalam kepungan dunia yang asing? Sebagaimana candi dan para pelancong ini. Bagiku percintaan ini bukanlah semacam wisata. Meski demikian awal mulanya.

”Kau tak mengerti,” desismu parau.

”Apalagi yang tidak aku mengerti darimu? Apalagi yang tidak aku pahami dari percintaan yang sembunyi-sembunyi ini?”

”Kau… Kau tak mengerti apa yang aku rasakan.”

”Semengerti apa lagi yang kau harapkan? Menunggu pukulan pentungan sebelum subuh menjelang?”

”Sedari awal kisah kita sudah begitu rumit. Aku tak memintamu membikin seribu candi, tidak menolakmu dengan berbagai alasan yang tak masuk akal. Kita menjalaninya sebagaimana Rara Kasihan dengan Ki Ageng Mangir jatuh cinta. Aku tak ingin menyelesaikan kisah ini begitu saja. Aku tak ingin berakhir sampai di sini. Jika kau meminta lebih, kita tak ubahnya legenda Mataram itu. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku tak siap…” Dan butiran hujan menggenangi lubuk matamu yang curam. Aku tak bisa melihat embun itu tersapu emosi yang ringkas ini.

”Hapus air matamu dan kita pulang.”

Tetapi waktu tak pernah pulang. Ia mengembalikan kita pada kisah yang itu-itu juga. Pertemuan-pertemuan yang tak begitu rutin, perjalanan yang diulang-ulang melewati gugusan batu yang sama, mempercakapkan hal-hal kecil dan sederhana dan berakhir dengan pertengkaran kecil yang membuat diri kita basah.
***

Bukan lantaran kutukan kita memiliki kisah yang sungsang.

Di sini berkembang perihal-perihal tak terduga. Kisah-kisah buruk dan celaka. Dunia sepertinya dipenuhi kisah-kisah murung dan sentimental, di mana sejarah mencatatnya dalam sekeping batu. Ahai, negeri batu, negeri batu, siapa yang berkehendak mengekalkan riwayat di tanah ini?

”Kita tak perlu mencatat apa-apa di sini. Biarlah riwayat kita berhamburan menjadi puing,” kataku padamu sore itu. Petang yang manis yang harus diisi dengan tangis.

”Kau tak berniat mempertahankan kisah kita.”

”Sri, aku capek dengan kisah-kisah pedih. Terlalu banyak riwayat buruk yang aku baca di sini, di seluruh negeri ini. Aku tak ingin menambah-nambah itu semua. Kalaupun aku bisa menyunting denok ayu, tidak ada hubungannya dengan niatan awal aku ke sini.”

”Kau datang padaku dengan cerita baru dan berniat menyelesaikannya tanpa ujung?”

”Aku tak ingin melanjutkan ihwal batu. Sepertimu, aku lahir dari negeri batu. Bukan percintaan yang gagal, bukan kisah cinta yang malang, tetapi kutukan dari seorang ibu. Di sini, batu pengekal segala kisah pahit dan sungsang. Ini negeri batu. Negeri yang penuh kutuk dan pengekalan. Aku tak ingin kisah kita diselesaikan orang lain dan dikenang sebagai percintaan liar dan tak bermoral.”

”Apa ada yang salah dengan kisah kita?”

”Tak ada yang salah,” kataku. Kita mesti bicara sepelan mungkin agar orang-orang tak terganggu dan menatap kita dengan asing.

”Tak ada yang salah aku rasa. Hanya saja, kita sedang mengulang dongeng. Kau perempuan langit yang dikungkung aturan lama. Dan, satu hal yang perlu kita sadari, ini hanyalah masalah waktu. Kenapa kita bertemu justru di saat-saat yang tidak tepat? Kau bukan lagi seorang Rara Kasihan yang bebas mengibaskan jari, menari dengan iringan gending, membiarkan semua mata memandang ayunan lekuk pinggangmu dan membiarkan Mangir masuk dalam jeratmu. Kau adalah Nyonya Tepasana, istri sah Ki Ageng Karang Lo.”

Aku pedih, kau tahu? Entah bagaimana cinta bisa tumbuh di antara hubungan liar semacam ini.

”Dan, kau manusia bumi yang berpikir cenderung modern? Manusia yang berhitung dosa dan pahala, menyadari hakikat seorang manusia. Kita pun tak sadar ada cinta yang menyela dari hubungan ganjil ini. Kau butuh makan dan aku butuh teman.”

”Bukan itu maksudku.”

Kau nyaris meratap ketika aku berkata, ”Kita mesti menyelesaikannya. Atau memulai kisah sebagaimana Arok mencuri kerajaan dan menyunting Dedes.”

”Jika memang harus demikian, mengapa tidak sejak dulu kau lakukan?”

”Aku tahu. Dan aku pun tak pernah benar-benar siap.”

”Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya? Cinta, harta atau sekadar ingin mempermalukan?”

”Jangan katakan aku tak mencintaimu. Lantaran cinta, Sri, segalanya harus diakhiri. Tersebab kau milik langit.”

”Aku selalu memberikan kesuburan untukmu.”

”Dan hanya akan sebatas itu. Mungkin kita menang pada peristiwa besar, tapi tak akan kuat menyingkirkan tikus dari sawah.”

Kau memandangku dengan tajam.

”Kita tak akan bisa beranjak dari peristiwa yang ini-ini juga.”

Dan kita berpisah. Bukankah pertemuan yang diakhiri dengan tangis akan membuat kita saling merindukan?
***

Aku tak tahu, untuk apa aku melewati tempat ini lagi. Menyaksikan candi-candi tanggal yang terpisah dari reliefnya. Candi-candi Perwira yang kecil-gagah kini tak lebih bongkahan batu tak berbentuk. Kupikir, kalaupun kelak ia berdiri lagi, masihkah ia mencatat peristiwa yang dulu juga?

Seperti candi-candi di sini yang sedang dipugar, peristiwa pun mesti berguguran. Kita dipisahkan tak hanya oleh hal-hal remeh dan sederhana, tetapi oleh takdir.

Dari tanah, kembali ke tanah.

Dan bumi merampas kau dari diriku. Menghabiskan seluruh riwayat tentang kita. Aku pulang, kembali ke tanah asal, di pulau-pulau kecil di Barat Sumatera. Pulau yang kadang dikenang orang dengan sangat menyakitkan; sebagai tempat tinggal sekelompok makhluk liar dan bar-bar.

”Orang Jawa perlu banyak belajar geografi,” kataku padamu dulu, menyoal perihal demikian. Kau tak senang dengan leluconku yang kasar itu. Tetapi menyetujui maksud perkataanku.

Kepulangan yang kuharap penyembuh luka pun tak lagi menyediakan tempat untukku. Inikah kutukan? Apakah segala gumam yang dilontarkan benar adanya? Prambanan dan kita. Inikah makna tidak dipertemukan? Dan aku tak juga kunjung menyusulmu, meski pasang merambah kampung dan rumah kami. Peristiwa yang melanda kotamu, yang menyembunyikan dirimu ke dalam tanah, kini telah pula diciptakan di sini. Tanah kami retak dan maut mengancam setiap saat. Uh, negeri batu, akankah pulau kami berhenti pada karang dan laut luas?

Tak ada tempat yang aman untuk sembunyi. Di sini, lebih menakutkan dari maut. Akan ada gelombang besar, akan ada gelombang besar yang meratakan daratan dengan lautan. Entah dari mana dongeng itu berasal. Sodom-Gomoroh. Dan orang-orang kampung berebut keluar dari pulau dan menjual tanah mereka pada orang-orang tak dikenal.
***

Mengingatmu, Sri, adalah mengenang riwayat lampau yang memang tak pernah usang. Dan, aku merasa, sampai kini tak akan sanggup mengekalkan kisah kita dengan membangun seribu candi meski kuundang seluruh cenayang, hantu, lelembut, jin laut, dan penguasa Pantai Selatan. Sebab, candi-candi yang tanggal ini akan pasti serupa diriku, teramat susah direkatkan oleh apa pun. Kalaupun kelak candi-candi kecil itu dibangun, candi-candi besar selesai dipugar, rasanya segala peristiwa akan menjadi amat berbeda.

Mungkin kita lekat di antara batu-batu hitam tanpa ukiran. Tersembunyi di belahan yang lain riwayat Candi Prambanan yang kini terus dipugar. ***

Juni 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *