Nirwan Dewanto
majalah.tempointeraktif.com
LUKISAN pemandangan gaya Hindia Molek telah memukau saya di masa kecil, tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa keindahan semacam itu hanya menjadikan saya seorang penggirang palsu, pemuja buta negeri sendiri. Perihal sastra (berbahasa) Indonesia sepanjang 2003, saya tak mampu membentangkan lukisan jelita. Menelusuri lanskap penulisan itu niscayalah mengungkai royan dan cedera pada diri sendiri. Kenapa gerangan kita masih mencipta bila khazanah dunia adalah lautan tak berhingga karya gemilang? Untuk sekadar mempertebal polusi-ataukah menambahkan kecemerlangan pada wajah dunia? Continue reading “Jalan Setapak Berduri”
