Jalan Setapak Berduri

Nirwan Dewanto
majalah.tempointeraktif.com

LUKISAN pemandangan gaya Hindia Molek telah memukau saya di masa kecil, tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa keindahan semacam itu hanya menjadikan saya seorang penggirang palsu, pemuja buta negeri sendiri. Perihal sastra (berbahasa) Indonesia sepanjang 2003, saya tak mampu membentangkan lukisan jelita. Menelusuri lanskap penulisan itu niscayalah mengungkai royan dan cedera pada diri sendiri. Kenapa gerangan kita masih mencipta bila khazanah dunia adalah lautan tak berhingga karya gemilang? Untuk sekadar mempertebal polusi-ataukah menambahkan kecemerlangan pada wajah dunia? Continue reading “Jalan Setapak Berduri”

Gincu Merah Sastra Pesantren

Binhad Nurrohmat
http://www.suarakarya-online.com/

Banyak pihak yang “ringan kata” menyebut istilah “Sastra Pesantren” tanpa menjelaskannya – seperti menyebut istilah baku. Bahkan ada yang cerewet mengabarkan adanya genre sastra pesantren, kanon sastra pesantren, ledakan sastra pesantren, maupun industri sastra pesantren seakan-akan sastra pesantren sudah menjadi tradisi yang kukuh dan dahsyat kiprahnya. Padahal istilah sastra pesantren pun belum pernah jelas pengertiannya secara kesusastraan, tapi kadung dirayakan sebagai istilah eksotis yang seolah sudah beres secara terminologis. Continue reading “Gincu Merah Sastra Pesantren”

Sastra Indonesia dalam Dunia

Radhar Panca Dahana *
kompas-cetak

Wafatnya sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer tentu saja meninggalkan kesedihan, kehilangan, dan keprihatinan; terutama soal atensi pemerintah terhadap seseorang yang telah demikian rupa turut menegakkan dan menjelaskan keberadaan Indonesia di mata dunia. Dalam sastra pun, seakan kita kehilangan rantai terkuat yang selama ini menghubungkan dunia literer kita dengan dunia. Continue reading “Sastra Indonesia dalam Dunia”

Berguru Pada Franz Magnis Suseno

Sutejo
Ponorogo Pos

Pada sebuah harian nasional, Franz Magnis Suseno pernah mengungkapkan begini, “Bodoh kalau Menulis Buku.” Ungkapan demikian barangkali sebuah ungkapan yang menarik untuk direnungkan. Di satu sisi, hal ini mencerminkan bagaimana tidak berharganya dunia perbukuan di Indonesia, dan di sisi lain, bagaimana sesungguhnya menulis buku membutuhkan riset dan waktu yang sangat panjang. Continue reading “Berguru Pada Franz Magnis Suseno”

Bahasa ยป