Sastra Indonesia dalam Dunia

Radhar Panca Dahana*
http://kompas-cetak/

Wafatnya sastrawan ternama Pramoedya Ananta Toer tentu saja meninggalkan kesedihan, kehilangan, dan keprihatinan; terutama soal atensi pemerintah terhadap seseorang yang telah demikian rupa turut menegakkan dan menjelaskan keberadaan Indonesia di mata dunia. Dalam sastra pun, seakan kita kehilangan rantai terkuat yang selama ini menghubungkan dunia literer kita dengan dunia.

Mungkin tak banyak yang dapat memungkiri, ambisi bahkan obsesi sebagian dari kita untuk melihat sastra Indonesia pun memiliki tempat, bahkan peran, yang cukup signifikan dalam perkembangan sastra mutakhir. Baik di kawasan maupun di tingkat global. Gejolak ini sejak dulu sesungguhnya telah terasa. Sejak mula apa yang disebut “sastra modern” Indonesia dianggap muncul dan tumbuh.

Gelegak kebangsaan yang mencari kebebasannya, sejak paruh pertama abad ini, mendapat ekspresi literernya dalam berbagai bentuk. Mulai dari Sanusi Pane hingga Sutan Takdir Alisjahbana. Disusul oleh semangat “Gelanggang” yang dimotori Chairil Anwar yang mencoba memosisikan diri sebagai “bagian dari kesusastraan dunia”. Hingga akhirnya di masa pos-kolonial, segolongan literati menabalkan barisannya sebagai pengusung “humanisme universal”.

Sampai masa awal Orde Baru, gelegak ini sesungguhnya masih berlanjut. Kecenderungan beberapa sastrawan “eksperimentalis” mencoba masuk dalam mainstream kesusastraan global dengan mengadopsi gaya maupun bentuk ekspresi literernya. Dari naskah drama, puisi, cerpen, hingga novel. Sebut saja beberapa nama seperti Budi Darma, Danarto, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, bahkan Sutardji Calzoum Bachri.

Namun, setelah itu, ketika Soeharto menancapkan dengan keras kuku kekuasaannya, kecenderungan atau ambisi itu seperti luluh dan memendam. Selama tiga dekade setelah itu, sastra Indonesia seperti sibuk dengan dirinya sendiri, dengan tempurung yang tak juga membesar. Terjadi pembesaran-pembesaran artifisial, yang membuat sebagian dari kalangan sastra mabuk oleh kopi yang ia racik sendiri. Kondisi itu ditandai oleh banyak hal, seperti pergaulan sastra yang tidak mengambil ruang yang membesar kecuali sibuk dan bergaung sebatas kamar internalnya sendiri. Akses pengarang dan penikmat sastra yang rendah pada sastra dunia. Penulisan yang terjebak pada gaya dan bentuk tertentu (sastra koran, misalnya), dan sebagainya.

Dunia informasi
Namun, belakangan, di dekade terakhir ini, setelah reformasi dan dunia informasi memberi kita kemudahan mengakses dunia lain dan kebebasan berkomunikasi dengan dunia lain, tumbuh selapisan kecil anak muda yang tekun dan cerdas melahap kekayaan sastra dunia. Seperti batu “gua ali baba” terbuka, sebagian bahkan mengira katup kotak pandora mulai menganga. Muncul pengamat, pemikir sastra dan penulis-penulis kreatif yang mulai meninggalkan kebekuan dekade sebelumnya. Kajian wilayah dan penguasaan mereka pada genre atau perkembangan mutakhir sastra wilayah tampak sangat menjanjikan.

Apakah ini sebuah awal yang baik bagi keterlibatan kita yang lebih positif pada lingkungan global?yang kian tak terhindar belakangan ini? Sebuah jawaban harus ditemukan. Satu usaha identifikasi masalah, penemuan relasi kultural dan literer, dan posisi atau peran apa yang dimungkinkan oleh sastra Indonesia di tengah keluarga besarnya, tampaknya perlu dilakukan. Dengan begitu, Indonesia?yang terjungkal-jungkal mengikuti percepatan pertumbuhan dunia?dapat dilihat bukan hanya sebagai satu koordinat geografis atau demografis saja dalam peta dunia. Tapi juga sebuah ruang di mana dunia pun bermain di dalamnya. Begitupun sebaliknya.

*) Sastrawan, Tinggal di Tangerang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *