Merayakan Pembacaan

Eka Kurniawan
Kompas, 1 Okt 2005

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek “Mak Ipah dan Bunga-Bunga”, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005).

Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir. Continue reading “Merayakan Pembacaan”

MODEL CERPEN PSIKOLOGIS-SIMBOLIK-SOSIO-KULTURAL

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Damhuri Muhammad, Laras, Tubuhku bukan Milikku, Jakarta: Dastan Books, 2005, 219 halaman.
Ketika berbagai saluran komunikasi tersumbat, aspirasi dan amanat rakyat masuk keranjang sampah, gugatan para demonstran dianggap angin lalu, sementara para penguasa tidur nyaman dengan segala kebisutuliannya, sastra dapat digunakan sebagai salah satu alternatif; pilihan paling aman untuk mengungkapkan kegelisahan, unek-unek atau apapun yang mengganjal hati nurani kita. Dengan caranya yang khas, sastra bisa masuk ke ruang-ruang publik, mendekam di pojokan kelas, ruang kuliah, atau terus bergentayangan, memprovokasi siapa pun pembacanya. Continue reading “MODEL CERPEN PSIKOLOGIS-SIMBOLIK-SOSIO-KULTURAL”

Nippon

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Pendiriankoe sekarang tetaplah soedah,
Berdjoeang sampai sa’at jang achir,
BERSAMA NIPPON, madjoe melangkah,
KEBESARAN ASIA MESTILAH LAHIR?

— Hamka, “Diatas Roentoehan Malaka-Lama”, dalam Pandji Poestaka, No. 25, 1943 Continue reading “Nippon”

“Janur Kuning” Membingkai “Djakarta 1966”

Pak Harto Dalam Film Nasional

Yoyo Dasriyo
pikiran-rakyat.com

WAJAH film nasional terkesan belum “dihalalkan” untuk melukiskan kisah seorang presiden seutuhnya. Belum pernah lahir film biografi alm. Pak Harto, atau mantan Presiden RI lainnya. Romantika kehidupan alm. Ir. H. Soekarno, mantan Presiden RI pertama pun, belum mulus untuk dikemas ke dalam film. Continue reading ““Janur Kuning” Membingkai “Djakarta 1966””

Keutuhan Film Dakwah Belum Kembali

Yoyo Dasriyo
http://pr.qiandra.net.id/

USTAZ Syaiful Bachri terjengkang ke tepian rumpunan bambu. Dalam keremangan malam, Harun berniat menghabisi ustaz baru yang menarik hati Halimah, janda muda dambaannya. Belum juga kecemburuannya terpuaskan, Sutan datang menghadang amarah lelaki berandal itu. Padahal, mereka sama-sama pemabuk dan berteman di meja judi. Rupanya, Sutan santri murtad yang pernah dijuluki murid terpandai di Pesantren Al-Mustafa itu mulai menginsafi langkah sesatnya. Seketika lelaki ini terpanggil berjihad. Continue reading “Keutuhan Film Dakwah Belum Kembali”

Bahasa »