Di Panggung Puisi Radhar Terus Hidup

Putu Fajar Arcana
kompas.com

SEJAK setahun tiga bulan yang lalu, penyair Radhar Panca Dahana (38) harus terbaring minimal sepuluh jam dalam seminggu untuk melakukan hemodialisis. Pada hari-hari Selasa dan Sabtu, ditemani istri dan anaknya, Radhar menghabiskan waktunya di sebuah bilik rumah sakit. Terbayang selang-selang, bau obat, aliran darah, deru mesin, serta cairan yang menetes ke bak penampung. Continue reading “Di Panggung Puisi Radhar Terus Hidup”

Gelombang Puisi Hasan Aspahani

Abdul Kadir Ibrahim
batampos.co.id

Membaca puisi-puisi Hasan Aspahani seperti kita tengah membaca lekuk-lekuk, turun-naik, cekung, beralun-alun lautan yang bergelombang hebat. Terbayang dan dirasakan gelombang dahsyat tengah menuju pantai-gigi pasir pantai atau gelombang kecil di tepi pantai dan semakin ke tengah lautan yang semakin membumbung. Gelombang puisi Hasan Aspahani membuat kita menjadi “mantra”. Continue reading “Gelombang Puisi Hasan Aspahani”

Gus Mus, Puisi, dan Politik

M Thobroni*
http://www.republika.co.id/

KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, selain kiai, adalah seniman, pengarang, dan aktif di berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Juga, pernah menjadi anggota dewan. Beragam kegiatan ini memberi implikasi unik dalam ziarah kreatifnya. Ia bertegur sapa dengan realitas sosiologis dan psikologis tertentu. Maka, menarik menilik bagaimana warna puisi Gus Mus terkait momentum Pemilu 2009 kini. Dibandingkan Taufik Ismail, puisi politik Gus Mus memiliki corak khas berlatar pesantren dan tradisi pesisir. Continue reading “Gus Mus, Puisi, dan Politik”

Tjiptaning, Melakukan Perlawanan dengan Puisi

Yurnaldi
kompas.co.id

Seharusnya ku mampu menegakkan wajah di hadapan orang-orang ini,/tapi moral ku tak cukup kuat bertopeng, bahwa wajah-wajah ini/tidak sedang mengemis. Mereka sedang menggugat haknya.//Antri panjang di tengah terik yang menyengat, menjadi tugas tambahan/dari para perempuan yang tak lagi muda ini. Saatku berada dalam nyaman/gedung ber-ac, mungkin aku tak selalu ingat bahwa kini para perempuan/miskin ini, bertambah satu kewajibannya; antri!//Tak hanya minyak, beras dan mie instan, kini singkong pun mereka rebut. Continue reading “Tjiptaning, Melakukan Perlawanan dengan Puisi”

Bahasa »