Pantun, Keledai, dan Dajjal

Erwan Buntaro*

Berita

Memasang bubu di tengah badai
Dapat ketam kecik, panjang pula sepitnya
Orang dungu dijuluki keledai,
Orang picik, dijuluki apa?

SEBAIT pantun, rasanya sama dengan tempoyak, kue lapis, epok-epok, atau tepung gomak. Ini negeri Melayu. Jadi semuanya, mesti diawali dan diakhiri dengan pantun. Karena Melayu dan pantun, adalah dua hal yang serupa. Seperti kue carai dengan kuah gula merah. Pantun dan Melayu, selalu muncul bersamaan.

Ini negeri pantun, kata Walikota Suryatati A Manan. Walikota perempuan itu, adalah penggagas, dan peletak hubungan keduanya. Sebatinya kemelayuan perempuan itu begitu kuat, begitu kental, begitu seperti raja melayu itu sendiri. Pantun sudah dinobatkan, sebagai ciri dari melayu. Tak soal, melayu yang mana. Tapi seorang melayu, harus bisa pantun, bisa zapen, bisa dondang sayang, lenggang lenggok.

Di Jakarta, di Jawa, di Indonesia Timur sekalipun. Disana, pantun tak berguna. Telinga orang disana geli, kalau ada pejabatnya berpantun. Tapi disini. Di Kepri, pantun menjadi sebuah etika, sebuah tradisi, sebuah basabasi. Dia jadi seperti belacan , dalam campuran sambal, dalam campuran laksa, atau bubur lambok. Tak berpantun, sama halnya makan laksa, atau bubur lambok tanpa garam, hambar. Pantun berisi nasehat, petunjuk, petuah, ilmu, berisi petatahpetitih, menjadi pelipurlara, mengandung aura mistik.

Sebait pantun dengan empat baris tadi, adalah pertanyaan nakal yang konyol. Dia bagian dari permainan waktu kecil. Tiga bocah laki-laki bertelanjang dada, dan empat bocah perempuan berbaju kembang yang tak menarik. Mereka main patuklele, sambil berjingkrak-jingkrak, bernyanyi , berpantun sekenanya. Kadang-kadang merengek seperti keledai. Kadang-kadang tertawa terpingkal-pingkal, seperti tersodok patuklele. Tapi siapa yang mau peduli. Bocah perempuan dan patuklele, memang seperti itu, cerita diwaktu kecil yang menggelikan.

?Kalau si dungu dijuluki keledai. Lalu apa pula julukan bagi si hitam yang picik?? Dulu pantun ini tak bermakna apa-apa. Kecuali alasan lain bagi si bocah laki-laki, untuk memeluk perempuannya erat-erat, saat menjawab salah. Dia tak berarti apa-apa. Cuma sebatas sendagurau, tanpa ada perasaan apa-apa. Pantun itu jadi menarik, justru setelah saya bertemu dengan banyak orang penting di negeri ini. Dulu julukan orang hitam yang picik, adalah anjing, atau seekor babi hutan. Walau ayam, kucing dan burung gagak, warnanya hitam. Tapi dia tidak picik. Tak seperti babi, atau anjing. Kami memang begitu benci dengan anjing, atau babi. Ini adalah sebuah keyakinan. Sama antara cinta dan benci. Di perkebunan China, anjing hitam dan babi hutan, sering berkeliaran, dan kerab menggonggong.

Anjing, babi dan keledai, adalah binatang yang kerab disebut-sebut, untuk memuas nafsu amarah. Seorang yang darah tinggi, tak soal itu perempuan sekalipun, biasa mengumpat dengan nama itu. Seorang yang dungu, tak cuma seperti keledai, tapi kerab diumpat dengan nama anjing dan babi. Ini suatu keterlaluan. Seorang teman Singapura saya bilang, cuma seorang keledai saja, yang mau kerja dibawah tekanan. Sapi, anjing, bahkan kucing sekalipun, pasti mengeong, mencakar, menggigit. Tak soal siapa tuannya. Mau orang tua, mau anak-anak. Yang jelas, kalau sudah terdesak, kucing bisamemakan korban. Banyak orang yang sudah jadi korban kucing. Jadi korban anjing. Jadi korban sapi. Bahkan semut yang nyaris tak terlihat sekalipun, tetap mengigit, saat ditindih atau terinjak.

Tapi keledai? Lihatlah wajah dungunya. Telinga yang panjang. Muka yang cuek dan jelek, bisa membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Dua beban disisi kiri dan kanan, menjadikan keledai semakin tak sedap dipandang. Warna putih dan hitamnya, tak juga membuat keledai enak dipandang. Kalu mau dibilang kuda juga tidak, sapi juga tidak. Tapi sesungguhnya Keledai bisa ditunggangi, seperti kuda. Bisa juga untuk membawa macam-macam beban, seperti sapi, seperti gajah, seperti onta. Tapi menggabungkan kuda dan sapi untuk keledai, jelas tak mungkin. Sebab keledai memiliki suara paling buruk dibandingkan sapi dan kuda.

Si dungu, dan si keledai, adalah dua hal yang beda. Boleh jadi nenek moyang keledai, adalah bangsa yang tak suka macam-macam. Hidup ngalir seperti air. Makan rumput yang disediakan. Atau makan dari sisa orang. Tak suka bicara tidak. Asal papa senang, dia bisa lakukan yang orang lain tak bisa lakukan. Orang sekarang bilang; cari muka, cari selamat, cari lebih, seperti bunglon, tak punya pendirian. Tapi si dungu tadi, bukanlah keturunan seperti bangsa keledai. Nenek moyang si dungu ini, boleh jadi seorang yang militan, cerdas dan patriotik. Tapi si buyut ini, telah membuang jauh-jauh gens nenek moyangnya. Hidup senang bergelimpangan harta, dan kesenangan dunia. Ini adalah bagian penting, dari cara hidup hedonisme. Si buyut itu, melakukan banyak hal yang orang lain malu melakukan. Dia bukanlah yang diperhitungkan. Tapi selalu merasa yang paling utama.

Dulu, si dungu ini menjadi hidup, menjadi hebat, menjadi terkenal, karena dia makan darah dan daging saudaranya. Banyak yang bilang, badannya yang membawa tuah. Tapi saya lihat tidak begitu. Justru badannya, yang membawa padah. Seperti kanibal, dia lebih buruk dari semua itu. Alih-alih, dia sudah menjadi semuanya. Si dungu yang hipokrit, hedonistic, oppurtunistik, malah dapat membual seperti perkutut, dan tertawa seperti kuda. Walau tak ada isi, tapi siapa kira. Si dungu itu, sudah berlapis kekuasaan, dan kemewahan. Jadi dia sudah jadi segalanya. Cengkraman kekuasaan begitu kuat. Sehingga dia sudah tak sanggup lagi untuk melepaskannya. Mata orang jadi terpana, tapi hati siapa tahu.

Sapi, kuda dan keledai, adalah hewan sejenis. Walau dari ras yang sama, tapi keledai sangat gigih bermain dengan kekuasaan. Tak soal kerja dibawah tekanan. Seorang bocah sekalipun, kalau sudah bisa pegang cambuk, maka keledai pasti tak berkutik. Banyak yang bilang, kalau si dungu keledai itu, adalah bamper, boneka, antek-antek, tukang ampu, atau penghianat. Tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai dajjal. Orang itu tak punya pandangan yang kuat terhadap tuhannya, terhadap kadar baik dan buruk, terhadap hari kiamat. Dia memandang dunia seperti surga. Tidak ada hidup selepas itu. Tidak ada hari pembalasan. Seperti surga dan neraka, Dajjal melahap semuanya, dan merengek dengan suara yang jelek. ***

*) Pemerhati Masalah Sosial dan Politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *