Penyair dan Puisi Sufi

H. Usep Romli H.M.
http://www.pikiran-rakyat.com/

Penyair sufi dan puisi sufistik, merupakan bagian tak terpisahkan dari khasanah kekayaan literatur Islam, sejak abad pertama Hijrah, hingga masa sekarang ini. Walaupun sufisme (paham sufi), masih tetap merupakan kontradiksi dan khilaf (pertentangan) di kalangan para pemikir Islam itu sendiri. Nama-nama ulama besar seperti Abdurahman al Jauzi (abad ke-9 M), Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim al Jauziyah (abad ke-13 M), dan banyak lagi pengikutnya, berada di garis terdepan dalam menentang sufisme, yang mereka anggap pantheistik yang merusak sendi-sendi tauhid. Serta pengabaian tata cara ibadah ritual (hablum minallahi), baik waktu maupun cara.

Banyak ulama memadukan hasil karya para tokoh sufi dalam pendidikan akhlak dan muamalah, dengan akidah tauhid dan ibadah ritual yang baik dan benar menurut aturan syariah (ketetapan Islam). Hujjatul Islam Al Ghazali (abad 11), sukses menjembatani pertentangan faham sufistik yang radikal-liberal dalam penafsiran iman dan Islam, dengan paham kalangan Islam konservatif- puritanistik yang ketat dalam memahami dan menerapkan kedua hal tersebut. Karya utama dan termashur Al Gazhali, Ihya Ulumuddin yang merupakan magnum opus literatur Islam Abad Pertengahan, secara umum dapat diterima kedua belah pihak.

Tradisi para pemikir sufi, menyusun gagasan-gagasan mereka dalam bentuk puisi, juga berpengaruh luas di kalangan umat Islam. Kebiasaan membuat nadzam (puitisasi) untuk mempermudah mempelajari ilmu-ilmu fiqh, sharaf-nahwu (tata bahasa Arab), dan ilmu-ilmu lain yang terwariskan hingga kini di lingkungan pesantren-pesantren Salafiyah (konvensional-tradisional), merupakan contoh nyata. Termasuk juga penggunaan-penggunaan aforisma (kata-kata mutiara) dari kitab-kitab susunan para ulama sufi klasik. Sebab titik-tolak dari karya sastra sufi, adalah Alquran, terutama ayat 224-227:

“Para penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat. Tidakkah kalian melihat mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak kerjakan. Kecuali (para penyair) yang beriman, beramal soleh, banyak mengingat Allah, serta mendapat kemenangan setelah menderita kedzaliman. Dan orang-orang yang dzalim itu, kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

Para mufasir mejelaskan arti kalimat fi kulli wadi yahimun (mengembara di tiap lembah), bahwa para penyair yang diikuti orang-orang sesat itu, suka mempermainkan kata-kata yang mereka sendiri tak tahu makna dan tujuannya, hanya ekspresi angan-angan dan tidak didasari keyakinan apa pun, kecuali mengobral kata-kata hampa itu.

Oleh karena itu, penyair dan puisi sufi, selalu punya visi dan misi yang jelas. Puisi-puisi mereka bertujuan mendorong kemuliaan akhlak dan semangat pembenahan masyarakat.

Di luar ekstrimitas temporer, beberapa penyair sufi dalam menafsirkan kaidah dan aplikasi iman dan ibadah ritual, seperti Ibnu Arabi ( abad 13), Jalaluddin Rumi (abad 14), dll., beberapa penyair sufi malah cenderung konvensionalis-puritanis. Seperti karya-karya Hafidz, Saadi, Firdausi, Fariduddin Attar, Al Junaid, Bisyr Harits, dan sebagainya.

Bahkan Ibnu Arabi yang dianggap menyebarkan faham pantheistik Wihdatul Wujud (penyatuan Dzat mahluk dengan al Khaliq), dalam karya masterpiece-nya berjudul Futuhatul Makkiyah, dan beberapa aforisma puitis yang tersebar di kalangan masyarakat, sangat membela kedudukan Nabi Muhammad saw., sebagai nabi terakhir (khattamun nabiyyin). Nabi Muhammad adalah segel kenabian pembawa syariat, sehingga tidak ada lagi nabi sesudah Muhammad (Futuhatul Makkiyah, jilid II, hal. 49-50). Atau Jalaluddin Rummi, yang dianggap pluralis-liberalis pengusung paham lintas agama, dalam sebuah puisinya yang terhimpun dalam Masnawi menyarankan, agar dalam mengobati penyakit diri sendiri, adalah dengan penyesalan (taubat), dan rendah hati, serta menumbuhkan sikap belas kasihan, sebagaimana disunnahkan Nabi Muhammad saw.

Baik Ibnu Arabi, maupun Jalaluddi Rumi, pada zaman dan tempat masing-masing, melakukan aktivitas langsung di masyarakat. Mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di bidang moral serta material yang diderita masyarakat. Banyak sekali literatur pada masa abad-abad kejayaan Muslim Andalusia (750-1429 M), mengisahkan anekdot-anekdot Ibnu Arabi, sang sufi, penyair, dan guru besar yang seketika berada di istana, seketika berada di pasar dan panti asuhan kaum duafa. Demikian pula Rumi. Sehari ia berada di Konstantinopel, memberi uang dan pengharapan kepada seorang pengemis Nasrani yang terlantar di jalan raya Kerajaan Byzantium itu, dan sehari itu pula berada di tengah-tengah muridnya, mengajarkan perbaikan moral dan memperbanyak amal kebajikan, di Kota Konya, Anatolia (Turki Timur).***

*) Penikmat sastra sufi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *