Perempuan Senja

Indrian Koto
http://www.suarakarya-online.com/

Perempuan itu selalu muncul saat siang merasa kalah. Tepat ketika matahari mulai tenggelam dan segalanya berwarna hitam. Dia hadir begitu saja dari ujung cakrawala. Sesekali dia muncul di antara barisan burung camar dan gumpalan awan. Tak jarang dia hadir ketika sampan-sampan nelayan bersandar di bawah pohon ketapang. Barangkali juga dia tercipta dari butiran pasir dan buih-buih.

Perempuan senja, begitulah aku menyebutnya. Awalnya, dia muncul ketika senja sedikit mendung. Aku kira hanya bagian dari permainan malam yang sering mencelakakan.

Tapi tidak. Dia benar-benar tercipta begitu saja dan berdiri di hadapanku dengan wajah penuh harapan. Aku tak sepenuhnya mengerti hingga dia membuka sapa. Aku tidak mau ditipu senja dan terpedaya bayangan-bayangan setan yang berkeliaran di pangkal malam hingga dengan setengah memaksa dia mengajakku berkenalan.

“Aku ingin mengenal siang yang selalu kau teriakkan dengan bahasa kasar.”

Maka, seperti sepasang kekasih, kami menghabiskan waktu malam-malam dengan segala kerinduan yang terasa binal. Aku tidak terlalu peduli apakah dia manusia sungguhan atau roh-roh jahat yang berniat mencelakakan. Aku mulai mengacuhkan. Yang pasti, aku telah menyukainya. Begitu saja!

Itulah awal semua. Dia muncul dari balik kabut saat malam baru membuka diri – itulah seburuk-buruk waktu yang ada. Setelahnya kami bergumul bagai sepasang kekasih di musim kawin. Kami telah kehilangan kalimat untuk sebuah percakapan. Meski sepenggal kalimat konyol, “Apa kabar?!”

Ketika subuh menjelang dia akan pergi begitu saja sebagaimana datangnya. Tak jarang, aku sering kehilangan.

Aku memang tak biasa dengan hal aneh dan sedikit ganjil, tetapi percayalah, aku bukanlah orang yang suka bertanya. Seperti datang dan perginya, bukankah menjadi haknya untuk tidak diketahui siapa pun juga? Aku tak sungguh-sungguh pernah bertanya dan tak terlalu peduli jawabannya. Bibir itu lebih menggairahkan untuk dikulum ketimbang mendengar sebuah penjelasan.

“Kau boleh menyebutku apa saja, bahkan pelacur jika kau sudi,” katanya suatu kali ketika kami menikmati kacang rebus di alun-alun kota.

“Tetapi, aku tak memberi serupiah pun padamu setiap kali kita habis bercinta.”

“Paling tidak, ini tak membuatmu pusing dan kehilangan selera untuk melanjutkan tidur sehabis bercinta.”

“Persetubuhan tak harus dimulai dengan sebuah tanya kamu siapa, melainkan dengan saling melorotkan apa saja,” balasku tak mau kalah.

Dia tertawa. Kemudian wajahnya berubah tenang. Setenang malam tanpa awan.

“Satu hal,” katanya kemudian. “Kau tak boleh bertanya tentang aku. Apalagi asalku dan bicara leluhurku.”

“Seperti dongeng saja,” gumamku sambil tertawa. Tetapi aku tetap setuju. Lalu kami menghabiskan sisa malam dengan persetubuhan yang paling liar.

Seperti biasa – ketika aku jaga – aku kembali kehilangan dia.
* * *

Senja adalah waktu yang paling nikmat untuk mengutuk apa saja. Aku akan menyumpah sampai mulutku terasa kering dan bergetah. Aku tak begitu mengerti mengapa aku begitu membenci senja dan terbiasa mengutuknya. Setelah puas dengan segala caci maki aku akan meninggalkan pantai dengan penuh rasa bangga sebelum kemudian pantai dipenuhi pasangan yang dimabuk dosa. Mereka berjejer sepanjang batang kelapa dan berlomba untuk saling mendesah.

Begitulah kebiasaanku sebelum kemudian bersekutu dengan malam tanpa harus karam di balik selimut. Malam adalah kutukan. Kota tak pernah memberi ruang untuk sebuah basa-basi dan keakraban. Tak ada yang lebih nikmat selain berjalan sepanjang lorong yang temaram – dengan tubuh sempoyongan, atau sekedar duduk di sembarang taman. Jika punya uang berlebih, tentu tak lupa kuhabiskan di tempat pelacuran.

Aku tinggal sendiri di kota ini dengan menghabiskan sebagian malam. Aku tak punya kebiasaan lain selain menikmati rokok di bawah cahaya sambil memperhatikan asapnya mengepul di udara, atau mengoceh sendirian dengan botol minuman sebelum akhirnya tersungkur di sepanjang jalan. Biasanya, sebelum matahari mencipta cahaya, aku sudah lelap di kamar kontrakan.

Betapa nikmat hidupku, melewati sepanjang pagi dan siang dengan dengkur sempurna. Terbangun ketika sore menyapa. Sejenak aku memaki mimpi yang kabur entah ke mana sebelum kemudian berlabuh di pinggir pantai. Seperti biasa, aku mengutuk senja sepuas-puasnya sebelum lebur dalam bingar kota, sejuta cahaya, taman, lampu jalan, botol minuman, pelacur murahan dan pisau di tangan. Rutinitas diakhiri dengan menyambar mimpi yang sempat tertunda.
* * *

Aku tak pernah menduga akan mengalami kejadian yang tak sekalipun aku mimpikan. Sore itu – seperti sore-sore sebelumnya -, aku tengah bercakap-cakap dengan gemuruh ombak dan buih-buih disambung dengan mengutuk laut, malam dan segala yang kelam.

Mendung menggantung di langit musim kemarau. Barangkali kabut atau sisa asap apa saja. Tapi tidak! Sebelum matahari benar-benar karam, gerimis tiba-tiba jatuh. Hujan senja di musim kemarau. Matahari masih menyembul dan cahayanya memantul pada bebatuan dan karang-karang. Hujan panas. Ada pelangi yang terbentuk bagai sebuah jembatan dari ujung langit. Dan, aku terus mengutuk.

Ketika kelam menyempurnakan diri, kulihat sebentuk kabut di antara butiran awan. Lamat membentuk wujud berwarna hitam. Melayang di antara sisa cahaya. Makin lama makin nyata. Ketakutan tiba-tiba menghujaniku. Adakah karena aku terlalu banyak mengutuk? Atau, mungkinkah pelangi pada sebuah sore bergerimis membuat apa saja menjadi nyata?

Aku tak cukup mampu menerjemahkannya ketika bayangan itu benar-benar menjelma sesosok manusia. Melayang di antara gelombang dan air pasang. Di balik ombak dia menjelma sosok perempuan. Sialan, hantu-hantu bisa saja bergentayangan di waktu-waktu begini, tapi kenapa mesti berwujud seorang perempuan – dan cantik pula? Aku menyumpah – sambil menelan ludah – dalam hati. Terlambat untuk menarik pujian yang telanjur kulontarkan. Biarlah apa yang akan ditimpakan padaku. Sakit, sekarat lalu mati. Apa yang kutakutkan sesungguhnya. Bukankah hidup dan mati selalu kumainkan di ujung belati?

Sialan, dia mendekat. Tubuh ramping itu terbalut gaun kuning panjang menutupi hingga mata kakinya. Tak salah lagi, ini pasti sisa-sisa hantu zaman kolonial. Rambutnya kuning panjang dan sedikit keriting, hidungnya mancung dan tubuhnya begitu semampai. Dari beberapa depa, tercium aroma kembang yang menusuk. Kenapa dari wanita cantik melulu kelihatan kesempurnaan?

Dia kian dekat dan sialnya, aku tidak bisa bergerak. Mataku terpaku pada sosok yang kini berdiri di hadapanku. Sumpah, aku tak bisa menyebutkan apa-apa tentang dia. Kali ini aku melihat perempuan yang luar biasa dan aku tak cukup mampu menyebutkan kesempurnaannya. Kau pasti mengira aku telah jatuh cinta. Boleh saja! Bukankah ketika cinta kita melihat segalanya begitu sempurna dan tampak indah?

Dia tersenyum padaku tetapi tak cukup mampu membuatku bisa membalasnya.

“Jumbalang, jin laut, hantu air, hantu blau sekalipun, kau salah jika mengganggu orang seperti aku.” Gumamku dengan kecemasan yang masih tersisa.

Tak kusangka dia malah tertawa memperlihatkan barisan giginya yang putih rapi.

“Aku ingin mengenalmu, apakah berlebihan?” katanya kemudian. “Aku sering melihat dan mendengarmu mengutuk malam. sepertinya kau begitu menyukai siang sehingga tak ingin melepaskan. Aku cemburu. Kau begitu benci pada malam?”

“Bedebah. Tapi kau cantik juga,” desisku tanpa perlu menjawab pertanyaannya.

“Ajarkan aku mengenal siang,” pintanya.
Suaranya mengingatkan aku pada sebuah negeri yang jauh.
* * *

“Aku lahir di sebuah tempat di mana matahari selalu tenggelam.” Katanya suatu kali. “Aku ingin melihat pagi saat di mana matahari naik dan kemudian karam.”

Kulihat matanya berbinar.
“Apakah kau ingin mengenal negeri yang punya matahari?” tanyaku mencoba menebak keinginannya. “Aku bukanlah manusia yang terjaga ketika matahari menyala.”

Dia tampak kecewa. “Tidak inginkah kau mengenalkan padaku?”
“Tidak! Aku tidak pernah menyukai siang. Ia tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku menghabiskan sepanjang siang dengan tidur panjang. Itu lebih baik dari pada bertemu matahari.” Aku mencoba menjelaskan.

Tangannya mencengkeram bahuku, ketakutan.
“Apakah siang begitu menakutkan?”
“Amat sangat. Bahkan menjijikkan.”
“Apa bedanya dengan malam?”
Aku menatapnya tajam. “Bukankah kita sama-sama tercipta dari malam? Malam membuat kita hidup dan berdenyut. Malam membuat kita terus tumbuh. Sedang siang?”

“Ah udahlah,” ujarnya terlihat jengah. “Aku kira, pagi adalah saat keriangan segera dibuka. Tetapi ternyata kengerian yang baru menyala.”

“Segala keburukan baru tercipta,” tambahku.
Aha, lihatlah wajahnya yang tegang itu. Aku tak pernah membiarkan wajah itu larut dalam kesedihan. Sekejab saja dia telah lupa dengan segala kebingungan dan kehilangan selera untuk kembali bertanya. Segera kegalauan ini digantikan adegan yang lain. Dan, pagi ini aku temukan sisa aroma dan bau keringatnya saja.

Selalu. Sebelum subuh dia berlalu.
* * *

Harusnya kebingungan ini berakhir jika dia mau menceritakan dari mana dia berasal. Aku selalu lupa untuk bertanya sesuatu tentang dirinya. Tak ada yang kuketahui tentang dia kecuali kebersamaan yang tercipta di malam buta dan dia tercipta dari senja. Aku tak berani kemdati sekedar untuk bertanya. Apakah segalanya akan menjadi terbuka ketika aku bisa bertanya kampung halaman dan dari mana dia berasal? Adakah dia sungguh-sungguh tidak berahasia?

“Aku hanya ingin melihat sinar matahari muncul pertama kali. Tetapi kau selalu bilang siang begitu kejam.” Katanya dalam kesedihan yang paling dalam sebelum menghilang di balik kelam. Meninggalkan sisa wanginya dan kusut ranjang.

Kali ini dia telah membuatku benar-benar marah dengan mengatakan aku sebagai ‘pembohong’. Dan lihatlah, dia melolong. Aku paling tidak suka lihat air mata. Terlalu cengeng.

“Lonte sialan. Tidak adakah yang lebih indah kau pertanyakan selain siang dan melulu siang? Tahu apa aku tentang itu semua? Aku tak cukup tahu, kataku. Aku tak sungguh-sungguh peduli pada itu semua karena siang dan segala yang membayang juga tampak begitu sombong. Aku tak pernah tahu apa-apa tentang siang seperti aku tidak tahu siapa dan dari mana kamu berasal,” teriakku penuh emosi.

Ia sesegukan di sudut kamar.
“Kau tak lebih seorang pelacur murahan yang kesepian. Kau perlu uang, bukan siang. Setelah itu kembalilah pulang, jalang.” Ia masih terisak di sudut ruang.

“Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahuku, biarlah aku belajar mencarinya sendiri.”

Aku merasa kian marah saja. Darah naik ke ubun-ubunku. Kepalaku terasa mau pecah akibat amarah yang luar biasa. Harga diriku seperti sudah tidak ada.

“Pergi saja perempuan senja. Kau telah menyakitiku dengan pertanyaan pahit ini. Kau menyudutkanku dengan pertanyaan itu. Kau ingin melihat kelemahanku yang tidak mengetahui sebagian waktu. Kau menghina kelemahanku. Kau mengejek ketidak-berdayaanku. Kau tahu, matahari hanya milik sebagian orang. Bukan aku, bukan kamu,” kemarahanku mencapai puncaknya.

“.. dan kau, siapa kau sebenarnya penyihir binal?”
Kubanting pintu dengan kemarahan yang luar biasa. Perempuan itu telah membuat aku tak bisa tidur sepanjang siang tiap kali pertanyaannya menghantuiku.

Aku menghabiskan sisa malam di jalan lengang. Malam sedikit terang. Seonggok bulan bertengger di langit yang tampak cemas. Tiba-tiba aku teringat akan dongeng perempuan langit yang pulang kampung dengan selendang. Aku berlari pulang, berharap perempuan senja masih bergulung di atas ranjang.

Pagi datang seperti sepercik sesal yang terus menggulung. Senyap. Sesenyap petang-petangku yang datang kemudian. Perempuan senja pergi. Ia tak pernah lagi datang. Tak pernah datang.

Mungkinkah ia kembali ke langit dengan sekeping selendang atau menyusup ke dasar lautan? Aku tak punya jawaban.

Senja mengeras, seperti hatiku yang serupa cadas. ***

Rumahlebah, Yogyakarta 2004-2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *