Pers dan Kesusastraan

I Nyoman Suaka*
http://www.balipost.com/

Masih dalam suasana memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2003, ada baiknya semua pihak diiingatkan pada tokoh-tokoh yang berjasa di bidang pers. Di antara tokoh pers itu terdapat golongan literary journalist — wartawan sastrawan. Golongan ini adalah mereka yang memang sastrawan dan juga bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar. Beberapa tokoh pers yang tergolong literary journalist adalah Adinegoro, Abdul Muis dan Rosihan Anwar. Deretan nama ini dapat diperpanjang lagi seperti Akhdiat Kartamiharja, Ramadhan KH., Putu Wijaya dan Gerson Poyk.

SASTRAWAN Adinegoro merupakan tokoh perintis pers Indonesia. Namanya itu kemudian diabadikan sebagai lambang tertinggi penghargaan Adinegoro di bidang jurnalistik di tanah air. Anugerah bergengsi yang ingin direbut insan pers ini untuk menghormati jasa-jasa jurnalis Adinegoro. Ternyata tokoh ini tidak saja terjun di bidang kewartawanan, namun juga berkiprah di dunia sastra. Beberapa buah karya Adinegoro berbentuk cerita roman seperti “Asmara Jaya” (1928), “Darah Muda” (1927), “Melawat ke Barat”, “Falsafah Ratu Dunia” dan berupa esei berjudul “Revolusi dan Kebudayaan” (1954). Wartawan dan sastrawan Adinegoro ini lahir pada 24 Agustus 1904 di Talawi, Sumatera Barat.

Pengarang Abdul Muis yang sangat terkenal dengan karya roman “Salah Asuhan” ternyata adalah seorang wartawan Kaum Muda di Bandung. Ia juga aktif sebagai pengurus Sariat Islam tahun 1915 – 1924 bersama Tjokroaminoto. Pemerintahan kolonial Belanda ditentangnya habis-habisan melalui tulisannya yang dimuat di surat kabar Preanger Bode dan De Express. Abdul Muis pernah juga mendirikan Utusan Melayu di kampung halamannya di Padang. Ia sangat gigih melawan penjajah yang sangat menyengsarakan masyarakat melalui pungutan pajak tanah dan pajak halaman rumah. Buah pena Abdul Muis sangat tajam mengritik pejabat-pejabat Belanda waktu itu. Ia memegang pimpinan redaksi harian Kaum Muda dengan ciri-ciri karangannya memakai nama sandi AM singkatan dari nama Abdul Muis. Reaksi kaum penjajah sangat besar dan segala daya upaya dilakukan Belanda untuk melumpuhkan harian Kaum Muda. Namun berkat dukungan masyarakat pribumi, koran ini akhirnya terus bertambah oplahnya, di samping tulisan-tulisannya yang berpihak kepada golongan pribumi.

Dalam buku “Jagat Wartawan Indonesia” (1981) karangan Soebagijo disebutkan, harian Kaum Muda memiliki rubrik “Iseng-iseng” yang dijaga oleh penulis dengan nama samaran Keok. Rubrik ini sangat pedas, menggelitik dan terkadang menghibur pembaca. Menurut pengarang buku ini, harian Kaum Muda merupakan harian pertama di Indonesia yang mulai mengenalkan rubrik “Pojok” pada tahun 1913-an. Dalam perkembangannya, rubrik “Iseng-iseng” tadi ditiru oleh berbagai surat kabar dan majalah dengan penamaan yang berlainan pula. Ada yang memakai nama “Pojok”, “Sudut”, “Serambi” dan nama lainnya. Disebutkan pula, yang mengasuh rubrik itu adalah Abdul Muis dan Wignyadisastra. Maka dari itu, Abdul Muis merupakan orang pertama yang memperkenalkan rubrik “Pojok” yang sampai saat sekarang tetap menghiasi halaman-halaman koran di Indonesia.

Selain itu, wartawan dan sastrawan Abdul Muis ini juga memelopori edisi Minggu. Banyak pembaca yang tidak mengetahui sejarah munculnya edisi Minggu, yang ternyata pengarang “Salah Asuhan” inilah pelopornya.

Mingguannya itu diberi nama “Momok” sebagai edisi Minggu harian Utusan Melayu. Sedangkan kiprahnya sebagai sastrawan, pengarang Abdul Muis juga menyusun roman sejarah “Surapati” dan “Robert Anak Surapati”. Abdul Muis memiliki bakat besar dalam bahasa yang berkembang semerbak. Kemampuannya ini dipergunakan pada saat yang tepat sebagai wartawan dan sastrawan untuk mendharmabaktikannya pada nusa dan bangsa.

Tokoh lainnya adalah Rosihan Anwar, lahir di Padang, 10 Mei 1922. Sebagai jurnalis, ia adalah kolumnis berkaliber ebsar. Tulisannya sangat lengkap meliputi bidang ekonomi, kebudayaan, sastra dan politik. Wartawan tiga zaman ini menulis cerpen dan sajak-sajak yang tersebar di berbagai majalah. Rosihan Anwar pernah membuat uraian tentang nama “Angkatan 45” dalam kesusastraan Indonesia untuk “angkatan Chairil Anwar”. Itulah sebabnya ia sering dijuluki dengan nama Bapak Angkatan 45. Aktivitasnya sebagai sastrawan sangat terkenal melalui karyanya — “Radio Masyarakat”, “Raja Kecil”, “Bajak Laut di Selat Malaka” dan “Sebelum Prahara”.

Sastrawan Gerson Poyk memiliki bakat besar di bidang jurnalistik. Ia pernah meraih penghargaan Adinegoro yang merupakan penghargaan bergengsi melalui tulisannya yang berjudul “Menyusuri Jalan Daendels dan sekitarnya”. Laporannya itu dimuat di majalah Sarinah, 16 September 1985 secara bersambung. Novel “Sang Guru” karya Gerson Poyk, lebih mencerminkan sebagai laporan jurnalistik dibandingkan sebuah karya sastra. Hal inipun diakui, mengingat pengarangnya adalah tamatan guru SGA di Surabaya kemudian mendapat tugas mengajar di Ternate Maluku.

Setiap cerita dalam “Sang Guru” persis sama seperti yang pernah dialami Gerson Poyk dalam pengalaman hidupnya. Gaya berceritanya seperti seorang wartawan melaporkan liku-liku kehidupan seorang guru dengan segala suka duka. Gerson Poyk dilahirkan di Rote, Nusa Tenggara Timur dan hobinya suka melancong. Sebagai sastrawan ia pernah menerima penghargaan “Sout East Asia Award”, sebuah hadiah bidang sastra yang paling tinggi di Asia.

Alur reportase kisah bergaya jurnalistik juga dijumpai pada novel “Keluarga Permana” karya Ramadhan KH. Dengan gaya jurnalistik, novel ini dinilai sangat berhasil karena mampu menyisakan airmata keharuan bagi pembaca. Keberhasilan ini karena pengarangnya tidak saja sebagai sastrawan tetapi juga seorang wartawan. Ramadhan pernah menjadi redaktur Kompas, Kisah Siasat dan wartawan pada Kantor Berita Nasional Antara.

Pengarang kelahiran Bandung, 16 Maret 1937 ini juga seorang penulis biografi. “Semakin banyak menulis biografi semakin banyak permintaan orang untuk dituliskan riwayat hidupnya,” ujar Ramadhan. Tokoh-tokoh nasional yang telah berhasil disusun biografinya adalah Presiden Soeharto, Ali Sadikin, Hugeng Imam Santosa, Jenderal Sumitro dan Kawilarang. Di bidang kesusastraan, Ramadhan sangat terkenal melalui karyanya “Priangan Si Jelita”, “Kemelut Hidup” dan “Domba Revolusi”. Berkat buah penanya itu, akhirnya Ramadhan terpilih sebagai sastrawan terbaik tahun 1993 bersama Emha Ainun Najib.

Profesi wartawan dan sastrawan tampaknya bisa seiring dan sejalan kalau melihat contoh-contoh di atas. Mereka bisa berhasil kedua-duanya. Dua profesi ini sangat berdekatan karena sama-sama didasari kemampuan berbahasa.

Perbedaannya sangat tipis namun prinsip. Wartawan mendasari atas fakta, sedangkan sastrawan menggunakan khayalan dan emosi yang kadangkala tidak mudah dipahami sembarang orang. Keduanya ini pun dapat dikombinasikan seperti halnya berita kisah atau karangan khas (feature) dengan model tulisan jurnalistik sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *