Puisi-Puisi Asep Sambodja

http://kompas.co.id/
Puisi Buat Kang Bondet

kang, cerita malin kundang
yang kita dengar
berabad-abad lalu
harus ditafsir ulang
mulai detik ini
saat kau rayakan
ulang tahunmu

cerita itu
sarat dominasi perempuan
terhadap laki-laki

biarpun laki-laki merantau
biarpun laki-laki berburu
biarpun laki-laki berhasil
biarpun laki-laki maju
biarpun laki-laki sukses di rantau
toh ia jadi batu

Jadi batu!

oleh seorang perempuan tua…

Citayam, 2008

Kabar buat Aulia

kau memang kawan yang baik, aulia
kau selalu minta kabar baik dariku
jarang ada orang sepertimu

hampir setiap malam kau pun menyapaku
hanya kata-kata indah yang keluar dari hatimu
betapa senangnya aku padamu

kini aku bersaksi:
di malam jumat itu
ketika kau menyapa
aku tengah membaca
novel tebal
hingga ludes dalam semalam
ya, dalam semalam!

kini kau pun tahu
setelah kau cerita makan lasagna
kau dengar tawa
dua malaikat di sampingku, haha

?Terus… terus…
kalian bersenang-senang terus ya,? katamu
seperti suara gerutu
dari mulut penuh cerutu

tidak aulia,
kami tidak bersenang-senang
kami hanya ikuti titahmu
dari jazirah para nabi itu
kami berlatih sampai berdarah-darah
sampai tepar
sampai lapar?

sampai pada suatu malam
muncul seorang perempuan berdaster
dan nobra
dan berteriak:

?Woi, berisik, ganggu orang tidur saja!?

Citayam,
malam-malam menjelang pementasan Dhemit
yang penuh makna. 2008.

Tentang Teater UI

kita tak pernah tahu kenapa kita ada di sini
seperti adam yang turun ke bumi
karena salah membaca buah kuldi
tapi kenapa kita di sini?

aku pun tak tahu apa ini artinya
apakah wajah-wajah yang ada di sini
semuanya ingin mencari kembali surga yang hilang?
aku tak yakin, sama tak yakin akan pengetahuanku yang minim
kenapa di sini

tapi aku coba selami wajah-wajah yang setiap saat
kupakai sebagai topeng di panggung
dan topeng di panggung kehidupan
apa yang kudapati sungguh membuatku semakin tak percaya
wajah-wajah itu
topeng-topeng itu
ternyata hanya jelmaan hati
hanya gambaran hati
yang gebalau ini

aku bercermin pada topeng-topeng yang menggantung
di langit-langit panggung
kutemukan wajahku yang koyak-moyak di situ
kutemukan hatiku yang menangisi surga
yang lama ditinggal adam
menangisi kekasih
yang tiba-tiba lupa menari

aku teringat malam
yang selalu menemani panggung-panggung yang kosong
jiwa-jiwa yang kosong
hati yang cemas
puisi yang malang

aku teringat malam…

Depok, 21 Desember 2005

Sajak Kangen Tiba-tiba

aku tahu waktu akan terus berdetak
menuju penanggalan yang bertanda lingkaran merah
tapi kenapa kangen ini seperti tak sabar
ingin segera bertemu kawan lama: PISANG

adakah ia kangen padaku?
ah, aku tak peduli
duduk dekat dengannya saja aku sudah bahagia
meskipun kami sama-sama menyanyikan lagu luka
diiringi petikan gitarmu

?akule… lakitakmungkin mene… rimamubila
ternyata kaumendua membuatku terluka…?

aku merasa hidup semakin berwarna

Citayam, 2008

Tempo Menggambar Bakrie

pada mulanya adalah kata
lalu terbaca berita

ketika kau tulis wangi bunga
setiap bibir kan tersungging

ketika kau tulis luka
maka ada hati yang tersinggung

tapi kata harus dituliskan
agar keindahan bisa terbaca
agar luka tak sia-sia

dan selalu saja
tak ada kata akhir
dalam perjuangan

Citayam, 18 November 2008

Eros Djarot, Lastri, dan Indonesia

kita ternyata
harus berjuang mati-matian
untuk berkarya
di negeri sendiri

barangkali orang-orang takut
pada kebenaran
atau takut
pada kenyataan
hingga Lastri dibungkam
dan dikebiri lagi
dikebiri dari dulu hingga kini

terlalu banyak orang-orang bodoh
terlalu banyak yang buta
mata dan hatinya
dan pikirannya

aku tak peduli
pada semua itu
kuharap kau pun begitu, Eros

hanya ingin kukatakan: teruslah berkarya!

teruslah membangun
Indonesia

Citayam, 16 November 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *