Puisi-Puisi Yurnaldi

http://www.kompas.com/
Sedekah Air Susu

Tuhan, dengar Tuhan
Dengar, dengar, dengar lagi Tuhan
Tangis pilu bayi Palestina itu
Berharap sedekah air susu

Betapa tidak tega Tuhan
Ia menjilati darah beku bundanya yang terkapar kaku
Tuhan, desingan peluru zionis Israel kapan berlalu
Lihatlah, bibir bayi itu telah membiru
Meregang nyawa, menunggu waktu

Tuhan, air matanya tak lagi meleleh
Kering dalam tangisan nyaring
Berharap sedekah air susu
Walau setetes, nyawa baginya

Tuhan, lihatlah Tuhan
Mukanya luka, melepuh
Darah bercampur cairan senjata kimia
Meleleh membutakan matanya

Peluklah bayi Palestina itu, Tuhan

Padang-Jakarta, 2006-2009

Aku Kehilangan Matahari

Aku hidup dalam dunia tanpa biosfir
Dalam dunia iklan nan galir
Nenekku bilang, bumiku dulu alang kepalang
Hutan menghijau ditebang sayang
Florafauna hidup seimbang

Kini, ketika peradaban bergulir
Aku hidup bagai di bumi partikelir
Duniaku adalah hutanhutan tanggul
Dibaluti asapasap mengepul
Oho, penguasaku keasyikan bersiulsiul

Aku kehilangan matahari di bumiku
Hutanhutan beton tumbuh subur tak pernah layu
Bertanyalah anak cucu, ke mana perginya banyu
Dimakan siapa itu kayukayu
Oho, kelak akankah aku hidup tanpa paruparu

Bumiku menyanggah
Tanah airku rengkahrengkah
Kudengar hati nurani penguasaku berkata
Nikmatilah musibah laknat Allah.

Jakarta, 2008

Mentawai Mau Kau Apakan

Kau katakan mentawai terasing
Tentulah ya, karena kau sengaja asingkan
Lewat rekayasa sejarah yang kau susun
Lewat pembangunan yang kau koarkan
Mentawai kau obyekan

Mentawai mau kau apakan
Kau katakan bangga mentawai kaya
Tapi kau seenaknya rampas apa yang dia punya
Kebudayaannya kau punahkan dengan cara paksa
Mengingat peristiwa itu dia trauma

Mentawai mau kau apakan
Kau katakan mentawai paruparu dunia
Hapeha kau izinkan menerabas hutannya
Sementara masyarakatnya kau larang tanpa alasan apa
Terjajahlah dia, apa kau tak iba

Mentawai mau kau apakan
Kau katakan mentawai banyak primata
Kau larang panah beracun masuki hutan rimba
Padahal dia punya kearifan budaya, bukan semaunya
Seperti letusan bedil milik penguasa

Mentawai mau kau apakan
Kau buat proyekproyek besar dengan alasan milik dunia
Nyatanya kau pentingkan lingkungan binatangnya
Dari pembangunan manusianya
Setelah 63 tahun Indonesia merdeka
Mentawai tetap dalam keprimitifannya
Oya oyayai…betapa malangnya

Padang-Jakarta, 2002-2008

Resettlement Mentawai

Coba kita mau berkata apa
Kalau kenyataan yang kutemui benar adanya
Resettlement adalah peti mati katanya
Seolah tak berdosa
Pemerintah, celetuknya
Tlah lakukan penjajahan budaya
Dengan peti mati dia jauh dari segala
Tak seperti uma untuk tampung semua
Tak bisa muturuk bila punen tiba
Tak ada ritual sebagaimana biasa
Tak hidup mengelompok menurut spesifikasi kesukuannya

Kita mau berkata apa coba
Kalau nilainilai yang berada di luar dirinya
Resettlement mentawai adalah peti mati katanya
Peti mati siapa
Dia atau kita

Padang-Jakarta, 2002- 2008

Catatan: uma = rumah tradisional suku mentawai
muturuk = menari
punen = pesta suku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *