Puisi-Puisi Goenawan Mohamad

korantempo.com
HOLOGRAM

Dari berkas cahaya
yang mungkin tak ada,
kulihat kau:
sebuah hologram,

srimpi tak berjejak,
dari laser yang lelah
dan lantai
separuh ilusi.

Di lorong itu dinding-dinding
kuning gading,
kebun basah hijau,
dan kautaburkan biru

dari kainmu. Bangsal kraton memelukmu.
Waktu itu sore jadi sedikit dingin
karena tak putih lagi
matahari.

Aku tahu kau tak akan
menatapku. Mimpi tiga dimensi
akan cepat hilang,
juga sebaris kalimat yang kulihat

di almari yang gelap:
“Aku tari terakhir yang diberikan,
aku d’j’ vu
sebelum malam dari Selatan.”

Aku tahu kau tak akan
menyentuhku.
Seperti pakis purba di taman itu
kau tawarkan teduh,

juga sedih. Tapi aku merasa
kaupegang tanganku,
seperti dalam kehidupan kita dahulu,
sebelum kau ingatkan

bahwa aku juga
mungkin pergi.
“Bukankah itu yang selamanya terjadi.
Aku seperti waktu, karunia itu.”

2009

DI MEJA ITU

Jangan-jangan hijau teh
telah meyakinkan aku: aku melihatmu
di sebuah adegan remeh
di kafe kosong itu.

Rambutmu hitam terlepas,
dan karet gelang itu kaupasangkan
untuk kacamataku.
Dan aku pun baca huruf itu,

“Lihat, hari bisa juga jadi.
di kota yang mustahil ini.”
Mungkin aku telah lama menunggumu
dan tak percaya diri. Karena

pada tiap jeda hujan,
ketika kamar dan kakilangit segaris,
yang mencinta bersembunyi
dan Maut seperti Saat: tak pernah ingin kembali.

2009

SEBENARNYA

Sebenarnya apa yang terjadi:
telah kautuliskan
sajakku dalam sajakmu
sajakmu dalam sajakku?

Atau kata-kata kita
saling selingkuh,
sejak zaman
yang tak kita tahu?

Mungkin Ritme itu pernah satu
melahirkan aku melahirkan kamu
melahirkan nasib, melahirkan apa
yang tak pernah tentu.

2008

PADA LAPTOP ITU

Di sebuah kamar yang hambar
mereka tatap laptop
yang nyaris kosong
dengan hanya satu gambar:

Sebuah desain hari
dengan sudut terpotong.
Sebatang mistar
dengan sentimeter yang samar.

Dan ketika kulit mereka
bersentuhan,
mereka arahkan kursor
ke angka jam.

Tapi yang terhapus hanya malam.
Dan mereka pun tetap diam
di kamar yang hambar
layar yang hanya sebentar.

2008

DI SETASIUN SENTRAL

Sekian ratus gram remah roti pikan
terbang dari gerbong kereta
Amsterdam. Rel lurus
dan lapar. Tak ada waktu.

Hanya 12 sinyal.
Seseorang pun pergi dengan hitam kopi
yang tumpah. Seseorang pun lekas,
seseorang lelah:

ini hari putih terakhir,
hari seorang migran,
ketika dingin jadi pelan
dan salju mungkin palsu.

2009

PADA SEBUAH PANGGUNG

Mukjizat adalah air kanal
yang bangkit
mengusung sajak yang terjebak,
tak terbaca.

Sebab sore ini, teater tak menerima kata lagi.
Tak menerima kita lagi. Hanya ada sebuah mimbar,
sepasang kursi hitam, lampu-lampu
yang ingin menjelaskan,

tapi kau tolak, “Terima kasih, terima kasih.
Sajak adalah lorong yang rentan.”
Dan tiap fonem adalah liang
di mana harap tak jadi ada

Aku ingin memelukmu. Persis di pentas itu
–tapi ragu. Sajakmu pun lepas
lewat tingkap. Di luar pintu
tampak jembatan,

palang-palang logam yang memanggilnya
menyeberang, ke utara kanal…
Kubayangkan
trotoar itu kekal.

2008

15 TAHUN LAGI

15 tahun lagi ia tak akan di kamar ini.
Seperti warna biru pada gordin
yang dihisap
matahari

Tapi ia mungkin akan bisa menyisakan
merah meja
dengan bekas nikotin
pada amplop terakhir

jam yang bersembunyi
dari Tuhan
yang tak membuat
ia yakin.

Salahkah ia,
yang tak begitu percaya
pada salam, atau sekedar suara
di atap kamar itu,

kalimat pelan-pelan
yang akhirnya
hanya hujan?
Mungkin hujan?

Apa yang diharapkannya?
Tentu bukan hujan!
Ia hanya tak ingin terpisah
dari nyanyi murung

sebuah lagu Brazil,
pada cello
yang setengah serak
yang terapung-apung, sentimentil,

di luar, pada pucuk pohon
dan gerak awal
sejumlah mendung:
Sem voce, sem voce.

Mungkin ia kangen, sebenarnya,
tapi “Aku malu,” katanya, pesimistis
pada telegram
yang mungkin mengetuk

dari luar itu, dari gerimis
yang berkata: 15 tahun lagi
akan ada seseorang
di kamar ini.

2008-9

One Reply to “Puisi-Puisi Goenawan Mohamad”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *