NYANYIAN SUNYI SANG KEMBARA

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Tengah malam, ia berjalan menyusuri aliran air pegunungan yang menggemerincing, sambil membawa obor bagi penerang. Bebatuan pulas berselimutkan kabut, pepohonan jati, mahoni, trembesi dalam dekapan manunggal. Dan serangga-serangga melantunkan tembang kemuliaan alam.

Kakinya terus mengikuti lika-liku pinggiran air sungai, lalu bertemulah waktu menyingkap jubah fajar, kala sampai di bibir pantai. Pagi itu, pesisir membiru bagi ikan-ikan merindu, ia malangkah dalam diamnya bulan penghabisan.

Kebisuan nalar-perasaannya menjelajahi ayunan tertempuh. Di pasir putih, ia memandangi hamparan samudra berjumpa langit di pelupuk mata. Lama-kelamaan kulitnya tersengat matahari, menyadarkan jiwanya terlampau sepi.

Seekor burung membisu sebab takut kemerduan suaranya memikat para pemburu, yang bakal disangkarkan ego. Atau ia tak pandai berkicau serupa elang pun rajawali. Namun selalu terbang tinggi dengan kepakan sayap gesit menyabet mangsa, demi anak-anaknya pada sarang bukit, bagi cita-cita agung kehidupannya.

Ia bukan sang burung, tapi mungkin salah satu pengemis di pemakaman Imogiri, atau yang berkeliaran di perempatan kota-kota tua, dengan berbaju kumal membuat orang-orang jijik serta curiga. Kesehariannya berharap belas kasih, atas bibir kering memucat letih. Atau serupa biksu yang selalu memuji dan memuja. Ucapannya hanyalah doa-doa suci bagi kelestarian semesta.

Dalam diam, ia menemukan dirinya terselimuti benang sutra yang melingkupi kepompong kemauan, lama berhasrat menjadi kupu-kupu terindah dari kekupu yang telah ada, serupa kertas-kertas belum tersirat hitamnya makna tinta.

Pada bathin-raganya berlapis tujuh ke dalam, ia bertanya; Kenapa gunung-gemunung membisu? Apakah tumpahan lahar sebagai bahasanya? Apakah hujan kata-kata awan? Apakah banjir isyarat kemarahan? Serta kenapa orang-orang utama banyak terdiam? Dan lebah madu ketika membuat sarang begitu menghanyutkan.

Dengan diamlah, bahasa alam sampai. Atau siapa sebenarnya yang berucap? Dirinya atau alam raya? Di saat keramaian pasar, ia menemukan diam mencekam, lalu seolah puas memandangi perubahan.

Oh, apakah permulaannya digelar kehidupan? Suara gaduh atau melewati diam menusuk? Ketika bayi dilahirkan, ia menangis meminta perhatian. Dalam raungannya masih bersembunyi rahasia, isyarat diam ada percakapan yang melelahkan.

Jiwanya terus menjelajah, sedikit yang ia dapatkan dari suara-suara, namun begitu banyak kesadaran yang terperoleh dalam diam. Bagi yang pandai berbicara pun, di kedalaman bathinnya menemukan percakapan-percakapan.

Dalam percakapan menyimpan keheningan, lantas memperbaharui kabar kemenjadian atau reingkarnasi pemberitaan. Dan kegelisahan itu hakikat perubahan pengetahuan.

*) Pengelana asal Lamongan. Imogiri-Parangtritis-Kadipaten Kulon, Yogya 1995, 09.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *