Puisi-Puisi Indrian Koto

http://www.suarakarya-online.com/
Jika

Jika hidup hanya melayari
kesakitan demi kesakitan
adakah sungguhsungguh
apa yang dijanjikan kitabkitab
tentang indah dan bahagia?

Jika tak ada
tempat buat lari dari ketakutan
lalu kau dimana tuhan?

Kupu-kupu di Kamarku

Kupu-kupu istirah di kamarku
tidakkkah ia bertanda
suka dan dukacita
tentang kedatangan dan keberangkatan
sedang diantara keduannya
betapa jarak begitu tipisnya

poetika, 29 juni 2006

Dian

sekali saja, nyalalah di sudut pengapku
bakarlah risau, usir segala galau

tak ada yang tersembunyi dari hidup dan kematian
bersamamu melulu kutemukan siang yang panjang
dan malam tanpa bintang

tubuh ini serupa mayat
yang diusung diam-diam
tersampir di sudut paling sembunyi
dan kau yang menuntunku
belajar rindu dan ketakutan

dari mana harus kumulai
jika hidup melulu kecurangan kekalahan

tinggal sedikit lagi
kau akan padam oleh desah nafasku
di sisa kantuk

besok, tak ada nyala
maka, bakarlah risau, usir segala galau

Bagi Kita yang
Senantiasa Ditinggal

bagi kita yang senantiasa ditinggal
bahwa kepulangan adalah juga keberangkatan
dan keberangkatan adalah kepulangan bagi yang lain
sedang kita hanya dermaga yang bersetia menjadi tempat bersinggah
sebelum banyak kapal dan perahu membentang layar
menuju selat dan teluk yang lain

kau percaya,
ada banyak persinggahan lain di tempat yang lain bukan?
Sedang kita yang senantiasa ditinggal
adalah balutan besi berkarat
yang lesi dijilati amis pantai
dan laut menjalin kisah sendiri
bagi kapal-kapal yang diberangkatkan

kita tak pernah tahu kapan yang pergi akan kembali
mereka seperti juga waktu
tak bisa ditunggu
ia datang begitu saja dan mengepakkan sayap tibatiba
mereka menggunting karcis sendiri bagi banyak
perjalanan lain
sedang kita adalah batas antara
keberangkatan dan kepulangan
ditasbihkah
maka lepaslah kapal dengan riang
meski kita tak sungguh-sungguh bisa
karena sepert kataku, keberangkatan adalah
kepulangan bagi yang lain
bagi pelabuhan lain

kau ingin menjadi bulan saja
yang dekat dnegan siapa pun
tapi hanya dimiliki malam
tapi kita pelabuhan kataku, tempat segala yang datang
dan pulang melempar sauh
seperti hujan yang tidak milik siapa-siapa

kita yang senantiasa ditinggal,
kelak pada waktunya, sehabis tubuh ini rapuh sendiri
kita pun akan belajar meninggalkan
meski -barangkali- tak seorang pun yang kehilangan.

Poetika, 2006

Pelabuhan pada Stasiun
-kepada wida

kita adalah stasiun
di mana keberangkatan
dan kepulangan
begitu saja mengatur
jadwal lewat
sakit dan ngilu
diri

sepertimu,
aku ingin melepas pintu
agar tubuh ini
menjadi tempat paling aman
keluar masuk siapa saja
yang biasa dengan
luka

Poetika, 260706

Menanam Mawar

aku menanam mawar
di dadaku
agar sesuatu di lehermu
menggeliat dan hinggap
pada tangkainya

aku hanya lupa
dulu ia hanya sseekor
ulat kecil yang kini
menjelma kupukupu
bersayap indah

masihkah mawarku
tempat bersinggah yang nyaman
bagi kepak kupukupumu?

Elegi buat

aku tak akan menghapus sebiji kenangan pun
yang pernah kau tinggalkan di belukar tubuh
aku ingin menjadi batu, yang kelak dibaca
anak cucu – kelak, kau ia sempat dilahirkan

jejakmu menikam jantungku
kusimpan rapat sebagai ziarah kelam
pulang ke laut sendiri
di mana garam tak lagi asin
-di curi nelayan yang rindu pulau
tempat segala yang baru mengintai
di setiap subuh; tidur yang tak lelap
mimpi yang tak selesai

serupa kau yang meninggalkan

sebiji kenangan di tubuhku
tak akan kuhapus sampai seluruh
gigiku tanggal, sisanya kujadikan
tasbih bagi seluruh nama-nama

poetika, juli 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *