Puisi-Puisi Mutia Sukma

http://sastrakarta.multiply.com/
Di Borobudur

aku membaca jejak sidartha
di antara pekat hitam batu-batu
langit mengirim tangkaitangkainya
mengering di tubuh kami
yang basah
riuh perjalanan pun menjadi
relief baru yang memahat
cadas tua penangkas waktu
berlompatan mengirim kisahkisah lalu
yang diceritakan padaku
dikurung candi tanggal
kutemukan dirimu tetap di situ
;sidartha
memetik daundaun doa
yang tangkainya telah jatuh
di tubuhmu

untukku padamu
yang tetap di situ

Borobudur, 2007

Tentang Tubuh

Dan rambutku yang bergelombang
membuatmu berenang
menebus riuh asin dan amisnya lautan
mengganti manis juga bening warnawarna
Dan tubuhku yang telanjang
membuatmu berenang
menyerap segala bacin dari
sungai kecil punuk susuku
Dan mataku yang tenang
membuatmu berenang
meminum lubuk hingga mabuk
berdendang nafasmu di telingaku
Dan rambutku
Dan tubuhku
Dan mataku
yang membuatmu terus berenang
menghanyutkan pesan mama
di awal datang bulan
Dan ah?

2007

Di Kaki Merapi
bersama koto

Di kaki merapi
Aku tibatiba datang
Ke rumahmu; Gendhot
Jalan licin dan terjal batubatu
Menghantarku pada aroma air yang
Sedikit nakal
Menari di atas daun kelompong

Sawahsawah terasiring berkabut
Juga petani yang lalu
Lalang membawa tomat
Melebur seluruh jarak yang
Membikin kesemutan kakiku
Semua luruh menjadi gula
Di teh hangat bikinanmu

Kapankapan aku akan
Datang kembali
Bukakan lagi pintu rumahmu
Untuk kami, sepasang burung
Yang tak berumah

Dukun, maret 2007

Pada Percakapan
Kepada doing liwang

pada percakapan malam yang memanjang
nama yang sudah kukenal lama
suara serta debaran terjaga di sini

tak ada tanda
pada sebuah pertemuan yang riang
hanya kadang terbayang
seperti anak muda yang gagah
menggerakkan tangannya sendiri

“kita telah berkerumun bersama
di antara gulma yang gemuk
dan kudapati engkau tersenyum
di tepi telaga
setelah aku tak lamalama terpesona.”
godamu

tiap hari yang habis dilewati
kita akan menengadah tangan bersama
agar hari menjadi sepuluh
atau seratus kali lebih lama
dari biasanya

tak ada hari libur yang ditunggu
sebab rindu tak mengenal
tanggal merah dan minggu.

2007

Tentang Nafas

saat aku bernafas
aku ingin uap airnya
menjadi tinta
untukku menulis puisi

Ketep[*]

di ketep,
kota terlihat seperti rombongan
semut yang antri mengantri makan
dan aku raksasa
bagi segala semut itu.

ketep, maret 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *