Sajak-Sajak Zelfeni Wimra

http://cetak.kompas.com/

minyak tanah surga
sudahi saja rengekmu
mari menyala puisi
di umbut pelepah kelapa kering
tanah kita tak berminyak lagi
sia-sia mengidam api
bergurulah pada anai-anai
yang bergelimpangan dilena lampu
sudah. tutuplah kitab sejarah itu
lendir minyak kelapa di piring loyang
dan bunga alang-alang sebagai sumbu
pelita bagi malam lengang
hanya derap sepatu penjajah di laman
cukup puisi ini saja yang malang
izinkan aku merebut lenganmu
berjingkrak lagi ke ladang pisang
bukankah penghuni surga
hanya orang berhati riang?

2008

datanglah, meski bukan sebagai hujan
kerak bendul di beranda mengelupas
kemarau belum mau berhenti
datanglah, meski bukan sebagai hujan
jadi teman bercerita saja sudah cukup bagi letih
karena waktu yang terus susut
tak henti menabur kenangan
sedang kita sering tak sempat memungutnya

2007

kabar nyinyir tentang tangis terbengkalai
selalu ada yang berdenging di pintu
seakan kau kembali
memeriksa garis pedih di lutut anak-anak
yang jatuh berkejaran
berikutnya gema riang melinang bunga-bunga
berseteru dengan detik nyinyir
yang melulu berkabar tentang tangis
terbengkalai
di mata ibu-ibu tinggal
sesisa umur saja
biarkan aku menumpasnya
seperti meneguk rahasia
yang larut dalam secangkir kopi
sisa cerita yang kau tinggalkan
di meja taman
tapi desing angin
mengapa pula meniup bau kerudungmu?
menggeleparkan doa kekasih yang tersungkur
berkirim salam dari pengasingan
dirajam pecahan takdir
pembangkangan
harusnya kubalikkan badan
memunggungi tikungan yang menelanmu
tiada menoleh lagi
tiada risau lagi
karena kitalah pejalan yang telanjur
digerus sepi
tidak begitu adanya
bahkan aku telah berlari
tapi ke halaman licin itu lagi
mematri ragi tapak sepatu
entah tali apa yang telah memautku di sana

2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *