“serial polemik sastra pornografi di dunia maya” – ketujuh

Tentang Imperia

M. Irfan Hidayatullah
http://hudanhidayat.multiply.com/

Pagi tadi saya jalan-jalan ke Gramedia Depok. Rencananya mau beli Imperia, tapi urung karena uang saya pas-pasan. Akhirnya saya hanya beli dua buku “Bibir dalam Pispot” nya Hamsad Rangkuti dan Lubang Hitam Agama karya Sumanto Al-Qurtubi. Selain itu juga karena saya punya niat mau minjem saja Imperia pada yang sudah punya.

Saya sudah sering baca cerpen Hamsad Rangkuti di Kompas, tapi saya penasaran juga membeli BdP karena kumcer tsb memenangkan Khatulistiwa Award 2003. Pertanyaan saya, ada apa dengan karya tsb sebagai karya utuh sehingga menang? Ada pun LUbang Hitam Agama (LHA) saya beli karena sedang membandingkan pemikiran Islam Liberal, Postradisional, Islam Pergerakan, dengan pemikiran Kuntowijoyo yang tengah saya garap di Tesis.

Ternyata Hamsad memang berkualitas dalam bercerpen, makanya dia menang Khatulistiwa Award. Ia pandai bermetafor. Ia tidak terjebak pada vulgarisme. Ia pandai menjadikan hal kecil menjadi mendalam bagi pembacanya. Jelasnya, BdP adalah karya yang punya sisi inovatif dan moral sekaligus, walau pun ada sikap nyeleneh dari sisi kesastrawanan Hamsad Rangkuti, tapi dia buktikan dalam aspek stylistika kebahasaan. Bukan dalam spirit kenyelenehannya. Beda setelah saya baca Sumanto Al-Qurtubi yang dalam LHA nya itu seperti tidak bisa menahan diri untuk mencaci maki kemapanan agama dan keunggulan plurasisme yang dijunjung Islib dan para intelektual. Bahasa Sumanto adalah bahasa kemarahan. Bahasa yang vulgar (tidak bisa menahan diri) untuk menunjukkan bahwa dialah yang paling intelek. Saat menyimpulkan itu saya teringat mainstrem kesusastraan metropolis sekarang, yang diwakili oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat, Eka Kurniawan, dan sebangsanya. Bahasa mereka adalah bahasa kemarahan terhadap wacana konstitusiaonal, semacam agama, tabu, adat, dan sebagainya yang menurut mereka adalah produk klasikisme dan modernisme yang pro status quo. Lalu mereka mendeklarasikan diri sebagai pengikut Sadomasokisme, Feminisme, yang menggugat setiap ketidakbebasan yang muncul dari aturan (manapun). Lewat mengolah bahasa yang vulgar. Mereka melanjutkan pendapat helen cixous tentang saatnya wanita berunjuk diri dengan tubuh mereka. Woman Writing the Body. Anehnya itu pun diikuti oleh laki-laki dengan kelelakiannya seperti dalam Keluarga Gilanya Hudan Hidayat dan Cantik Itu Lukanya Eka Kurniawan. Perlu diketahui bahwa mainstream tersebut di Barat sono muncul sejak posmodernisme muncul sekitar akhir 60-an. Dan kita tidak merasa tertinggal, malah merasa modern dengan fenomena tersebut.

Lalu di kamar saya di Asrama UI di C1 02, di lantai bawah yang sinyal hp saja sering tidak ada, saya membuka kembali pemikiran Kuntowijoyo. Saya merasa ada sesuatu yang begitu jauh berbeda. Ibarat perbedaan antara seorang anak kecil yang bandel dengan seorang ayah yang bijaksana menghadapi kehidupan. Kuntowijoyo adalah ayah dalam pemikiran dan kematangan observasi keilmuannya sedangkan Sumanto Al-Qurtubi adalah seorang anak kecil yang marah-marah ingin dibelikan permen. Lalu saya bandingkan dengan Hamsad. Hamsad adalah seorang Ayah yang bijaksana dan Ayu c.s. adalah seorang anak kecil yang selalu uring-uringan ketika diarahkan oleh orang tua. Tapi sayangnya Sumanto, Ayu, dan c.s. selalu berlaga sebagai para intelektual yang dewasa dan berwawsan global yang dengan bahasanya menantang kemapanan dan kesederhanaan masyarakat.Saya melihat kesangattidakdewasaan justru pada sikap-sikap tersebut. Tentu saja ini melihat dari kayanya bukan dari individu.

Lalu apa hubungannya dengan Imperia? Saya pernah menghadiri launching buku SEnja di Melbournenya Remy Silado yang juga ada esek-eseknya. Remy saat itu bilang, bahwa Novelnya kali ini penuh pembaharuan, yaitu dengan kebebasan berbahasa yang sesuai dengan seting metropolitan bahkan megapolitan Australia. Lalu saya maju menanggapi dengan beberapa kalimat: “Menurut saya Anda tidak berinovasi karena Anda mengikuti mainsteam yang sudah ada yang diwakili oleh generasi Ayu. Di mana letak kebaruan karya Anda?” Remy hanya tersenyum dan tidak menjawab dengan jelas. Begitu juga dengan Imperia. Bila masih mengandalkan vulgarisme sebagai jalan ekspresi, menurut hemat saya, tidak ada kebaruan sama sekali. Kebaruan (dalam kaa sastra) akan ada dari sebuah usaha menyiasati sebuah fenomena realita kehidupan lewat metafora dan stilistika kebahasaan seperti Hamsad Rangkuti atau seperti Kuntowijoyo (lagi-lagi) dalam kumpulan cerpen terbaik KOmpas 2005 (Jalan Asmaradana) atau seperti NOvel Cala IBinya Nukila Amal. Saya yakin Mas Akmal sudah baca itu semua.

Wallahu’alam
*) Ketua Umum FLP Pusat 2005-2009.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply