“serial polemik sastra pornografi di dunia maya” – keenam

mediacare : hudan hidayat : tuan taufiq ismail telah “main kayu”

Saya lihat Hudan Hidayat walaupun kalah umur, nyatanya jauh lebih
matang dan lebih dalam dibanding “penyair lingkaran surau” Taufik
Ismail yang ber-wawawasan sempit dan picik.

— In mediacare@yahoogroups.com, “mediacare” wrote:
Tuan Taufiq Ismail sedang membisikkan hatinya sendiri?

Oleh Hudan Hidayat

Sejak Pidato Kebudayaan, sampai dengan kirim e-mail kepada Salim
Said itu, Tuan Taufiq Ismail telah “main kayu” dalam berwacana
tentang sastra Indonesia.

Coba bayangkan, dia yang melancarkan stigma sastra SMS, sastra FAK.

Samar-samar, tersebut nama Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Tapi
tidak ada telaah, karya yang mana dan pada bagian mana sastra yang
disebutnya bersyahwat-syahwat itu. Masa iya sih, dari ratusan lembar
tulisan itu, syahwat semata seperti yang dituduhkannya? Karena itu
saya bilang, sastra mereka bukan fiksi selangkangan, tapi memakai
medium “seks” sebagai sampiran, untuk sesuatu yang lebih tinggi.
Jadi, ada transendensi. Ada kontemplasi.

Belakangan, setelah saya merespon Pidato Kebudayaan yang membuat
banyak orang geli itu, saya pun kena tuduhan serupa: Hudan Hidayat
dan Gerakan Syahwat Merdeka.

Saya berani taruhan, bahwa “Tuan Penyuara Gerakan Syahwat Merdeka”
kita ini, tak pernah membaca novel saya dan Mariana, “Tuan dan Nona
Kosong” (meski awal terbitnya sudah saya berikan pada orang-orang
HORISON untuknya), tetapi dengan sengit telah melancarkan tuduhan.

Coba saya tanya, Tuan Taufiq, apakah “seks” di dalam novel kami
itu semata dunia selangkangan? Bila iya, pada bagian mana? Tidakkah
ia adalah sebuah upaya yang luar biasa, dari seseorang untuk
menjangkau Tuhannya?

Tentu saja, sastra bisa didekati dengan “bahasa” apa pun, meski
pendekatan tetap harus ada batas-batasnya. Karena sastra adalah
dunia tersendiri, di samping dunia-dunia tersendiri lainnya, yang
memang diciptakan Tuhan seperti itu: mempunyai kekhasannya sendiri.
Seperti ada gunung ada ngarai. Ada malam ada siang. Dan semua dunia
ini mempunyai bahasanya sendiri dan hukum-hukumnya sendiri.

Jelas sekali Tuan Taufiq mendekati sastra dengan bahasa moral
agama (Islam). Tetapi dia mengatakan, saya yang mengutip Quran, dia
tidak. Baiklah. Tapi saya tanya, dari mana moralitas Tuan yang
(seperti saya juga yang menolak), sepenuh energi mengerahkan segala
daya untuk mengatakan telah terjadi syahwat-syahwatan semata dalam
sebagian sastra Indonesia ? Bukankah tindakan seseorang datang dari
keyakinannya? Kalau demikian, apakah gerangan keyakinan Tuan?

Menyadari ini, maka saya langsung mengajak Tuan untuk sama-sama
melihat, bagaimana sesungguhnya “maunya” Kitab Suci itu, terhadap
pokok yang sedang kita bincangkan. Tapi Tuan bungkam.

Kebungkaman Tuan Taufiq, ternyata datang dari dua hal:

1) berlogika dalam sastra tidak dikerjakannya lagi, sudah
dikerjakannya 30 tahun yang lalu. Dan ini kan lucu! Bagaimana
mungkin? Dia kan harus mempertanggung-jawabkan stigmanya itu! Ini
kan sama dengan tuduhan: hey, kamu kan penjahat! Lho, kok kamu
menuduh saya penjahat? Iya pokoknya kamu penjahat. 30 tahun yang
lalu saya juga menemukan penjahat kok.

2) bahwa Tuan Taufiq Ismail anti pada intelektualitas, dan kasar
dalam “berdialog”, serta yang lebih berat lagi, dalam hatinya telah
berkecambah tuduhan yang jauh sekali dari contoh-contoh yang
diperagakan Nabi: lemah-lembut sesama, bersangka baik dengan sesama.

Mengapa? Simaklah surat kepada Salim Said itu (halaman 2):
siapapun yang berbicara dengan aktivis 10 komponen gerakan ini
dengan memakai ukuran moral manusia waras dan normal, apalagi agama,
akan mereka tertawakan habis-habisan. Juga Tuan Taufiq suatu ketika
berkata kepada saya: percuma berbicara agama dengan mereka. (Maaf
Tuan, Nabi kita didustakan dan beliau tetap berbicara dengan musuh-
musuhnya, dengan santun dan kasih sayang pula).

Dan siapakah aktivis itu: adalah atheis, homoseks, lesbian,
feminis, dan anarkis – semua mahluk-mahluk Tuhan juga. Jadi di mata
Tuan Taufiq, semua orang sudah bersalah semua, kecuali, mungkin,
penulis-penulis sastra yang bergabung dalam Forum Lingkar Pena
(FLP), karena tidak menulis sastra dengan sampiran “pornografi”
dalam karya-karya mereka.

Lalu, ini apa? Bagaimana mungkin seorang Taufiq Ismail bisa
menggenggam kebenaran sendirian? Bagaimana mungkin di dalam hatinya
tidak sedikit pun terlintas untuk melihat kemungkinan kebenaran di
dalam diri orang lain, setidaknya “kebenaran” dalam sastra – yakni
kebermaknaan sebuah karya sastra untuk manusia.

Sudah jelas, saya bagian aktivis yang dituduh oleh Taufiq itu.
Tetapi toh saya malah yang mengajaknya memandang karya sastra dalam
perspektif agama. Saya tidak menertawakan. Malah Taufiq yang
bungkam, diam. Mengungkapkan dengan kalimat “moral manusia waras dan
normal” seperti itu, Taufiq hendak mengatakan mereka tidak waras dan
tidak normal. Bagaimana dengan feminis seperti Musdah Mulia, Maria
Ulfah, Sinta Nuriah Wahid, Farha Ciciek, dan Debra Yatim yang santun
serta sangat Aceh itu, juga tidak waras dan tidak normal?

Haraplah dicatat, feminis-feminis ini mempunyai keluarga baik-
baik, dengan suami dan anak- anak mereka yang baik-baik. (dengan
segala hormat, mohon beliau-beliau ini ikut menyumbangkan suaranya
dengan segenap tuduhan ini).

Saya melihat malah rekan se”ideologi” Taufiq lebih matang dalam
berwacana, lebih dewasa pula. Semisal Saut Situmorang dan Kuswaidi,
yang berani dan mau masuk ke substansi masalah yakni sastra
pornografi, meskipun hemat saya, kedua penulis ini tidak menggunakan
metodologi yang maksimal dalam argumen mereka.

Pada titik ini, akhirnya saya harus mengakui warning M. Faizi
dalam tulisannya di harian Jawa Pos, bahwa “petasan-petasan yang
disulut Taufiq Ismail dan Hudan Hidayat adalah berbahaya dan
menakutkannya.” Tapi saya memandang bahaya itu datang dari Taufiq
Ismail dengan kedua poin yang sudah saya kemukaan ini.

Saya disebut Taufiq tidak peduli dengan destruksi sosial. Siapa
bilang? Terasa bagi saya di sini Taufiq sangat sloganistik. Sangat
verbal dan sempit pikiran. Semua pengarang boleh saja menggarap
karyanya, tidak mesti seluruh kerusakan yang diterminologikan
sebagai Gerakan Syahwat Merdeka oleh Taufiq itu, yang boleh diangkut
ke dalam karya sastra.

Dalam kaitan dengan tuduhan a-sosial ini, terkait dan berkait
dengan tuduhannya yang lain, bahwa saya mengalihkan 10 isyu yang
dipeluk-ditimang oleh Taufiq Ismail yang, mohon maaf, tidak bisa
saya hindari kesan seolah “dagangannya” ke muka publik, seperti
sering dieejekkan kawan-kawan seniman.

Mengapa? Karena tidak pernah/atau belum pernah, saya mendengar
atau melihat seorang Taufiq Ismail mempunyai gerakan konkret
terhadap masyarakat kecil yang terkena seluruh destruksi yang
disebutkannya itu, kecuali kegiatannya menulis, membaca puisi, atau
ceramah. Tentu saja, kegiatan ini pun mulia.

Saya katakan, bahwa saya boleh memasuki dari bagian mana saja dari
poin pidatonya, tanpa harus terkena tuduhan mengalihkan isyu.
Apalagi poin yang saya masuki adalah hal yang langsung mengenai
dunia yang saya geluti. Yakni sastra. Melarang saya mengekplorasi
salah satu poin itu, sama dengan tindakan yang tidak demokrat dalam
sastra. Menuduh saya tidak peduli karena saya fokus kepada poin itu,
sama dengan tindakan/keinginan menyeragamkan pikiran manusia –
sesuatu yang dilarang Tuhan secara keras. Dan kalau boleh berkata,
saya menulis juga kok, akan imbas-imbas yang Tuan maksudkan itu,
tetapi tentu, dengan “gaya sastra” yang pastilah Tuan tentang. Baca
deh, buku-buku saya, Tuan Taufiq, sebagaimana saya membaca buku-buku
Tuan.

Dan lihatlah cara-cara kasar dan antiwacana seorang Taufiq Ismail,
dengan membuat metapora kebakaran yang seluruh keluarga sibuk
memadamkan api, tapi ada anak kecil umur 10 tahun yang merengek-
rengek minta jatah jajan belanjanya. Yakni, HH.

Inilah metapora yang sangat menghina pemikiran – khususnya
pemikiran sastra. Inilah kehendak seorang fasis yang ingin dan
memaksakan rakyatnya agar seragam dalam berpikir dan seragam dalam
bertindak.

Dan ini terasa sekali dengan metaporanya yang lain lagi, yang bagi
saya sangat berbahaya dan sangat menghina pendidikan di Indonesia .
Lihatlah kata-kata Taufiq: seorang guru mengajarkan alphabet “a”
sampai “k”, tapi ada seorang anak yang hanya mau menyebut “g” saja
meski sudah dipaksa.

Apakah artinya ini? Sang guru telah melampaui wewenangnya sebagai
manusia, yaitu seolah tidak mungkin luput dari kesalahan, dengan
memaksakan sesuatu yang tidak/belum sempat “disukai/disentuh” oleh
muridnya.

Dengan menindas dan mematikan kemandirian dan keberanian muridnya
untuk berpikir lain, berpikir sendirian dari arus massa yang nota
bene telah merusakkan segi-segi kita sebagai bangsa (ingatlah
korpri, pakaian seragam, yang telah menjadikan bangsa kita tidak
kreatif, takut dan tidak punya inisiatip kemandirian. Tidak punya
visi sendiri).

(Idiiihhh, Tuan Taufiq genit deh, dengan memetaporakan diri
sebagai guru, dan HH sebagai anak didiknya).

Ada satu lagi yang saya ingin tandaskan, Tuan Taufiq, Tuan Saut,
dan Tuan Kuswaidi, bahwa dunia sastra adalah dunia kreatif yang
kejam. Hanya orang bernapas panjang dan bersaraf baja saja yang
berhasil. Dan tentu saja berbakat, Tuan. Tidak ada katrol-katrolan
di dunia sastra. Setidaknya bagi saya. Sebagus apapun hubunganmu,
kalau karyamu jelek, maka kamu akan tenggelam bersama waktu.

Sudah sejak awal saya masuk dunia sastra, saya tanamkan pikiran
ini di hati. Hampir 15 tahun sejak saya pertama kali menulis, saya
memendam sendiri keinginan saya, melatih sendiri diri saya, tidak
pernah merengek, tidak pernah bergantung dengan siapapun. Saya
membatu dalam hati saya sendiri.

Dan hingga hari ini prinsip itu saya anut. Tak tergantung. Jadi
saya berjuang sendiri. Kalaupun saya berkawan, itu dalam kesetaraan.
Begitu juga saya berkawan dengan penyair Sutardji Calzoum Bachri.
Dan tak pernah sekalipun saya menunggangi kebesaran seorang
Sutardji! Jadi kalau Tuan-Tuan berpikir saya (dan Mariana) menyerap
tenaga-tenaga kalian, untuk sebuah popularitas, ini kelucuan dan
kebodohan macam apa lagi? Dan Mariana, adalah seorang intelektual,
seniman, aktivis dan Direktur di sebuah LSM perempuan. Jadi tak
perlu kalian katrol, dia sudah mampu mengkatrol dirinya sendiri.

Anak muda ini cerdik sekali mencari cara mempublikasikan dirinya
dan bisa jadi kasus contoh praktek di London School of Public
Relations, tulis Taufiq.

Ini pun penghinaan bagi seorang yang ingin melihat dunia sastra
maju, semarak dengan perdebatan, dan permainan yang membahagiakan.
Lepas dari kesunyian dan keterpencilannya dibanding bidang-bidang
lain. Dunia sastra yang bisa menjadi “oase” bagi dunia real di
Indonesia.

Apanya yang cerdik, Tuan, kalau semua tindakan saya, saya letakkan
dalam bingkai aksi-reaksi: ada pidato kebudayaan Tuan, saya
tertarik, saya membuat esai. Ada SMS Tuan yang nyasar ke kantor
saya, saya membela diri dengan menulis. (meskipun dalam surat Tuan
itu, Tuan menyanggah telah mengadukan saya, tapi faktanya ada SMS
tuan ke kantor saya).

Dengan kata-kata “cerdik” itu, malah saya jadi berpikir, jangan-
jangan Tuan sedang membisikkan hati Tuan sendiri. Dan Tuan Taufiq
minta ditunjukkan bagian mana dari Pidato Kebudayaan dan esai Tuan
di Jawa Pos itu (HH dan Gerakan Syahwat Merdeka), yang menindas
kebebasan kreatif. Saya akan jawab: stigma Tuan bahwa ada sastra
Indonesia yang berputar pada selangkangan itu, (mau) mengkerangkeng
pengarang Indonesia untuk memilih ekspresinya sendiri.

Padahal dia bukan berputar di selangkangan, tapi mengutarakan
tubuhnya (tanpa terjatuh pada pornografi), sebagai bagian yang
diberikan Tuhan padanya. Sebagai salah satu unsur cerita untuk
meraih maknanya yang lebih luas. Tetapi kalau VCD porno, pelacuran
anak dan sebagainya, kita pun menolak.

Saya akan menyudahi tulisan ini, dengan sekali lagi membuat sebuah
argumen yang hemat saya sederhana sekali: tentu saja saya “atheis”,
tidak percaya kepada Tuhan yang seperti dibayangkan oleh Taufiq
Ismail, Tuhan yang mengkerangkeng hambanya untuk mengembangkan
nikmat berupa bakat-bakat serta potensi yang sudah diberikan oleh-
Nya sendiri. Melalui penceritaan kehidupan dengan memakai imajinasi
dan aspirasinya. Bagi saya Tuhan tidak seperti itu.

Bagi saya Tuhan nyaman kok pada mahluk-Nya. Karena itu saya
berkata, “Kita semua cuma anak-anak nakal di mata Tuhan”.

Tetapi terima kasih untuk doanya. Saya pun ingin mendoakan Tuan:
semoga Tuan segera mendapat pencerahan, sehingga dapat lebih rendah
hati terhadap kehidupan.

Jakarta, 26/102007

(hudan hidayat)
mediacare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *