Siapa Takut, Nirwan Dewanto?

Mengembangkan Sastra dengan Merebutnya dari Para Ahli Sastra
Richard Oh
www2.kompas.com

Ada beda yang sangat kentara antara penulis sastra dan ahli sastra. Seorang penulis sastra berusaha, dengan serampangan tanpa mengikuti suatu metode, memetik apa saja dari sumber sastra untuk tujuan seninya. Ia mengolahnya untuk mengisi kebutuhan seninya. Yang ia pelajari bukan sintaksis atau teori, tapi gerak “menuju pengungkapan baru, menghancurkan ekspektasi genre yang ada”. Seorang ahli sastra, anggaplah dia akademikus di fakultas sastra, berusaha terus mengolah dari sastra sumber-sumber yang bisa disatukan dalam suatu teori atau persepsi yang kemudian dibakukan menjadi metode. Untuk meyakinkan kolega, mereka menulis temuan mereka dalam bentuk makalah dengan bahasa formal sarat jargon akademis.

Bagi dunia sastra inilah soalnya. Bagaimana bisa kita kembangkan sastra dengan panduan yang begitu kaku dan teoretis? Berbagai makalah sudah ditulis tentang puisi TS Eliot, The Waste Land. Begitu hebat makalah-makalah tentang puisi ini, sampai-sampai mahasiswa takut mendekatinya. Takut, seperti akademisi yang pertama kali diperkenalkan dengan puisi ini tahun 1922. Pada waktu itu ahli sastra tak memahami makhluk baru yang mereka hadapi. Dalam kekalutan penafsiran mereka, diperkeruh lagi dengan catatan tambahan di akhir puisi itu, pengejaran pada makna The Waste Land makin dahsyat. Semakin kalut pencarian para akademisi, semakin salut mereka pada kehebatan puisi ini.

Namun, lihatlah nasib puisi ini sekarang, hampir seabad kemudian? Di Amerika banyak mahasiswa yang sama sekali tak mengenalnya. Pelacakan di Internet memperlihatkan The Waste Land jadi judul sitcom populer. Setelah memelajarinya sekian lama, baru pada sekitar 2002 saya menemukan pencerahan tentang puisi ini dalam pengantar kumpulan puisi TS Eliot oleh Mary Karr, penulis memoir, eseis, dan penyair. Di situ Karr mengatakan sebenarnya segala cara menemukan makna yang berarti dari puisi itu tak akan membuahkan hasil berarti. Mengapa? Karena Eliot, seperti juga para penyair simbolis zaman itu macam Rimbaud, memadukan berbagai elemen ke dalam puisinya: mitos, referensi, bahkan larik-larik esoteris tembang Australia hingga chant-chant Upanishad. Tujuannya, menciptakan efek menggugah suasana nostalgia, warna dan aksen yang mencerminkan kegersangan generasi Eliot setelah Perang Dunia Pertama. Jadi, yang diinginkan penyair bukan erudikasi, melainkan makna yang dibisa diserap dari esensi puisi itu sendiri.

Dampak puisi ini kemudian berlanjut dengan terwujudnya cara pembacaan ketat yang membuahkan satu aliran New School of Criticism. Oleh kelompok ini, kenikmatan sastra bukan lagi prioritas sebab mereka percaya hanya dengan memahami sepenuhnya latar dan referensi tiap bait syair, kita bisa menikmati sebuah karya sastra secara utuh. Saya kira ini pemikiran keliru yang memberi dampak negatif pada karya penyair modern. Karya puisi menjadi gersang, terlalu akademis, dan sama sekali tak lagi merefleksikan kedalaman jiwa, tapi tekanannya berat pada erudikasi.

Aliran yang diciptakan Eliot secara kebetulan ini menciptakan lebih banyak ahli sastra hebat daripada penyair hebat. Karr menyebutkan sebenarnya puisi Eliot menjerit supaya kita mendengarnya. Jangan menganalisisnya. Dengarkan irama setiap stanza. Nikmati imaji dan ambience yang dievokasikan oleh kata-kata yang begitu padat, begitu akurat, begitu berbeda dengan puisi-puisi zaman sebelumnya yang terkesan sangat didaktik serta padat muatan moral dan kotbah regilius.

Seni dan penafsiran seni

Dalam What is Literature?, Jean Paul Sartre mengatakan “sebuah karya seni tidak bisa direduksi menjadi sebuah pemikiran, pertama-tama karena seni adalah produksi atau reproduksi dari keberadaan, being, sesuatu yang tak akan membiarkan dirinya dipikirkan sebab keberadaan ini dipenetrasi sepenuhnya oleh sebuah eksistensi, yakni sebuah kebebasan yang menentukan nasib dan nilai dari pemikiran itu.”

Kalau pernyataan ini punya validitas, bagaimana seharusnya kita tanggapi buku-buku karya akademisi itu? Apa guna concordance tentang kebobrokan humanitas dalam novela Joseph Conrad, Heart of Darkness? Apa guna menulis makalah akademis? Menurut saya, tulisan akademisi hanya berguna bagi dan membantu pengembangan sastra bila mencerahkan dan memandu apresiasi atas karya sastra itu tanpa mencoba merangkumnya ke dalam suatu teori seperti yang terjadi pada Ulysses. Bayangkan, sejak buku itu tampil tahun 1920-an hampir bersamaan dengan puisi Eliot, ribuan bahkan jutaan buku akademisi telah diterbitkan mengupas makna terpendam Ulysses. Sampai hari ini ia masih diperdebatkan di bar-bar di Irlandia. Ada lelucon: kalau ada yang berani mengaku memahami sepenuhnya Ulysses, ia akan menjadi orang pertama yang dilempar keluar dari bar itu. James Joyce, sang penulis Ulysses, dalam pengakuannya menyatakan ingin menulis satu buku yang akan dibahas oleh para profesor selama seratus tahun. Keinginannya jadi kenyataan. Apakah karyanya punya makna yang dalam tentang humanitas? Apakah ia membantu pengembangan sastra?

Saya mengambil beberapa kutipan untuk membantu memperdalam pemahaman kita. Virginia Woolfe menulis dalam catatan hariannya, Rabu 6 September 1922, “Saya menyelesaikan Ulysses dan merasa bahwa karya ini meleset. Kejeniusan memang ia punyai, tapi bukan karya unggul. Buku ini kurang fokus. Terlalu keruh. Pretensius. Ia kurang kaya, bukan saja dalam arti yang sudah jelas, tetapi dalam arti literer sekalipun. Penulis kelas teratas, menurut hemat saya, terlalu menghargai penulisan untuk sengaja membuatnya menjadi berbelit-belit, sengaja mengagetkan, memamerkan kehebatan.”

Pada Selasa 26 September 1922 Virginia Woolfe mengutip komentar Eliot tentang buku Ulysses, “Buku ini akan jadi tonggak karena ia melumatkan seluruh abad ke-19. Ia bahkan tidak menyisakan apa-apa lagi bagi Joyce untuk menulis. Ia menunjukkan betapa sia-sianya semua gaya penulisan Inggris. Dia (Tom) merasa di beberapa bagian penulisannya sangat indah, tapi tidak ada suatu ?konsepsi mutakhir?. Itu memang bukan tujuan utama Joyce. Dia berpikir, Joyce melakukan sepenuhnya seperti apa yang dia inginkan. Namun, Tom merasa Joyce tidak memberikan gagasan baru apa pun bagi sifat manusia ?-tidak mengungkapkan sesuatu yang baru seperti Tolstoy. Bloom tidak menyampaikan apa pun kepada kita.”

Di zaman ini kita tentu paham yang dimaksudkan Eliot dengan ketiadaan konsep besar dalam karya ini adalah pendekatan Joyce melalui teknik Epiphany, yaitu pencerahan demi pencerahan dari momen-momen kecil. Yang mungkin bisa dikagumi dari prestasi buku ini adalah bahwa hingga hari ini ia masih jadi bahan bahasan di mana-mana. Apakah ia memajukan pengembangan sastra?

Karya ini-seperti juga The Waste Land-menciptakan satu generasi kritikus dan penulis yang, menurut saya, tidak memajukan sastra, melainkan membuat sastra jadi kompleks seperti yang disebut Siegel: membuat membaca sastra seperti memerlukan sertifikat mengendalikan mobil. Untung di zaman ini kita punya Jose Saramago, Gabriel Garcia Marquez, dan Julio Cortazar yang melepaskan kita dari belenggu sastra sarat referensi dan erudikasi ini.

Sastra: pendekatan alami

Saya kira pendekatan Robert Pinksky, yang pernah jadi poet laureat di Amerika dulu, terhadap sastra lebih menarik. Dia mengatakan, “Pengetahuan dari pendengaran kita untuk memahami satu larik puisi adalah pengetahuan pola bahasa yang sudah terbiasa pada kita sejak masih bayi.” Pada intinya puisi bisa kita nikmati, seperti kita menikmati percakapan, lagu, tanpa perlu pengetahuan khusus sebab puisi dan rima-rimanya mengetuk hati kita bagai detak jantung. Bila ingin mempelajari metrik tradisional, kita hanya perlu baca kumpulan puisi William Butler Yeats atau Ben Johnson. Untuk memahami free verse, baca dua volume kumpulan puisi William Carlos Williams dan Wallace Stevens. Untuk memahami linea pendek, baca kumpulan puisi Emily Dickinson. Tentang adaptasi metrik balada ke dalam puisi modern, baca kumpulan puisi Thomas Hardy. Menurut Robert Pinsky, tak ada manual instruksi yang bisa lebih membantu memahami puisi selain mendengar dengan cermat bunyi yang tebersit dalam setiap puisi yang dibaca.

Lee Siegel dalam pengantar novel DH Lawrence, The Lost Girl, yang diterbitkan kembali setelah ditelantari sekian tahun, mengatakan, “Sebagai akibat diakademikannya sastra, orang-orang literer ketika mengapresiasi fiksi menganggap perasaan dan persepsi merupakan ungkapan bagi seorang amatir. Bahkan di luar tembok universitas, dalam kritik sastra kita masih juga menemukan bahasan tentang alam sadar dan ironi, karakter dan karikatur, realisme sejarah dan realisme psikologis, dan lain sebagainya. Pembaca mulai merasa tak punya kualifikasi membaca, bagai mengendarai mobil tanpa SIM. Namun, sebenarnya tak ada sesuatu yang literer tentang sebuah novel yang efektif. Ia tak ubah laksana ekspresi kreatif sealami pernafasan kita.”

Kutipan ini sangat menarik untuk beberapa hal. Yang pertama, menyangkut beda persepsi seorang akademikus dengan seorang penulis. Bagi seorang penulis sastra, penulisan merupakan reaksinya pada tempat, mood, waktu, dan kenyataan di sekelilingnya. Mereka menulis tanpa memikirkan teori, tanpa mengikuti metode pemahaman sastra baik dari buku sastra maupun dari universitas, sebab reaksi tiap penulis pada suatu kenyataan berbeda-beda. Hal kedua adalah bila penulis sastra menulis dengan “ekspresi kreatif sealami pernafasan”, maka menikmati karya-karya penulis sastra seharusnya tak memerlukan analisis yang membuat kening berkerut.

Pemahaman keliru tentang lirisisme dalam prosa

Perkembangan sastra dalam negeri saat ini, menurut saya, cukup memprihatinkan karena penekanannya lebih pada sintaksis ketimbang integritas dan keunikan ekspresi. Maka, sering kita baca betapa dahsyat Cala Ibi karena pengungkapannya yang unik. Ia bahkan dianggap memperbarui bahasa dan lain-lain. Kenyataannya, setelah membaca beberapa halaman novel ini, pembaca akan menemukan paragraf demi paragraf sarat purple prose. Saya jadi ingat kata-kata Virginia Woolfe “mannered, self-conscious”. Kalimat yang seharusnya tak perlu kompleks dan bisa ditulis sangat sederhana dipuisikan, dinyanyikan, dibuat keruh serasa pembaca senantiasa dibombardir oleh aliterasi, rima haram bagi novelis di mana saja karena ia menjadi distraksi tersendiri dan mengganggu laju arus cerita. Metafor ataupun simbolisme yang dalam kamus seorang penulis seharusnya diungkapkan untuk memperkuat makna keseluruhan satu karya-seperti kejadian di awal bab novel Anna Karenina di mana seorang wanita mencampakkan diri ke dalam rel kereta meramal kematian Anna Karenina sendiri pada akhir novel- disalahpahami oleh penulis Cala Ibi sebagai kreativitas dalam berbahasa. Penggalan ini saya ambil secara acak dari novel itu.

Bapakku bening air kelapa muda. Ibuku sirup merah kental manis buatan sendiri. Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours, Jumat pagi robotik. Kadang aku minum jus tomat, dan merasa sehat. Kadang berseru alhamdulillah, ini hari Jumat-atau Ahad, Rabu, hari apa saja. Kor lepas dengan beberapa temanku di sore-sore hari, seraya aku membayangkan gelas berkaki tinggi dan hijau margarita dan kristal garam berkilau di bibir gelas, seperti sesosok perempuan, datang dari kejauhan.

Bayangkan ini hanya satu penggalan kalimat. Begitu padat dengan informasi, berputar-putar tidak menuju satu tujuan yang memberikan pencerahan makna. Apa artinya “Bapakku bening air kelapa muda”? “Ibuku sirup merah kental manis” saja sudah membingungkan, tetapi kemudian ditambah dengan “kental manis buatan sendiri”. Dan, apa pula artinya “Jumat pagi robotik”? Ada kesan, dalam menulis kalimat-kalimat ini penulis ingin memaksakan makna ke dalam tiap baris prosa, seperti seorang penyair karena keterbatasan ruang memadatkan larik dengan makna. Kalimat demi kalimat kalau dibaca bagaikan puisi sahut-menyahut, namun jadi sangat mengganggu kelancaran cerita novel ratusan halaman ini selain menambah kelelahan. Di sini terlihat jelas penulisnya tidak paham sama sekali penggunaan puisi dalam penulisan novel.

Sebelum meninggal, Italo Calvino menulis buku tipis Six Memos for the New Millenium. Ia menurunkan kepada penulis generasi penerus enam hal penting tentang penulisan, elemen-elemen pembangun sebuah karya sastra. Dia membicarakan tentang lightness, ringan yang membebaskan tapi berbobot, dengan mengutip Paul Valery, “One should be light like a bird, and not like a feather.” Dia juga bahas quickness, kegesitan prosa, dengan mengambil contoh keefektifan struktur sebuah dongeng rakyat. Kita bisa memahami makna sebuah dongeng rakyat dengan begitu mudah karena rentetan cerita bergerak maju cepat tanpa hambatan detail yang mengganggu. Dia membahas exactitude, presisi bahasa ungkapan, dan visibility, kekuatan visual dalam prosa. Dia kemudian mengupas multiplicity, yaitu suatu karya seni harus punya ambisi dan mencakup semua seperti pada novel ambisius Flaubert, Bouvard et Pecuchet, yang mencoba menuangkan semua pengetahuan dunia dalam satu buku. Untuk menulis buku ini, Flaubert membaca ribuan buku dalam pelbagai bidang disiplin.

Dengan tolok ukur Calvino ini, banyak aspek dari Cala Ibi yang perlu dipertimbangkan. Ia terlalu lamban, maka kurang quickness, seperti sebuah dongeng rakyat. Ia kurang lightness karena prosanya tak mengalir. Mungkin cukup kaya dengan visualisasi, tapi kurang exactitude sebab kreativitas dalam kata tak berarti presisi kata. Ia terlalu memikirkan permainan kata dan irama daripada ketepatan frase bagi suatu ungkapan. Untuk aspek multiplicity, di sini mungkin terlihat cakupan ambisinya, tapi tetap miskin karena kurang konsisten. Kritikus yang mencintai permainan kata dan kekayaan sintaksis memuji karya ini karena merasa novel ini telah memperbarui bahasa dengan padatnya metafora dalam kalimat-kalimat, tapi membutakan mata memeriksa integritas ungkapan yang memperkukuh makna utama novel itu.

Namun, tak satu pun kritikus yang dapat mengungkapkan secara konkret apa sebenarnya yang ingin disampaikan novel ini. Apakah lantas kita juga harus menyukainya dengan cara pembacaan yang dianjurkan oleh Karr terhadap puisi The Waste Land, yaitu menikmatinya segmen demi segmen tanpa terlalu memikirkan kesempurnaan struktur keseluruhan. Untuk bisa menikmati sepenuhnya, kita perlu menilai segi presisi bahasa, problema overwriting, dan kelancaran cerita yang terhambat oleh metafora yang berkelebat dan saling tubruk tanpa menciptakan makna, mengevokasi mood, atau aksen yang jelas. Sangat berbeda dengan The Waste Land atau Ulysses yang, walau sangat susah dipahami secara keseluruhan, bisa dinikmati dalam momen epiphany demi epiphany.

Bahasa vernakular dalam penulisan sastra

Di Indonesia kritikus dan sekelompok sastrawan masih saja berkutat dalam persoalan bahasa. Penekanan ini membuat banyak dari mereka menilai keberhasilan sebuah karya terutama pada kepiawaian berkalimat secara puitis. Padahal, dalam perkembangan penulisan sastra di seluruh penjuru dunia, perhatian sudah bergeser ke hal-hal yang lebih menarik, seperti bagaimana memadukan berbagai elemen yang berbeda, tetapi mengikat dalam satu karya sastra yang unik. Sejak Mark Twain, yang membawa bahasa vernakular dalam sastra Amerika, kemudian dilanjutkan oleh Hemingway, yang membebaskan bahasa berbelit-belit dari prosa, perkembangan sastra dunia sudah lama lepas dari penulisan purple prose dan mengarah ke pelbagai perkembangan menakjubkan, seperti belakangan ini bisa kita lihat dalam karya WG Sebald dan Gao Xinjian.

Begitu piawai mereka memadukan fakta dan fiksi sehingga terciptalah karya-karya yang begitu menghanyutkan. Karya-karya mereka bisa dibaca bagai sejarah atau karya sastra. Baca juga karya Michel Houllebecq yang menggegerkan Eropa sewaktu menerbitkan Atomised. Dalam buku ini kita lihat betapa sastra sudah berubah. Bab-bab tentang elemen partikel berdampingan dengan dan memperkaya bab-bab narasi tentang hubungan dua saudara yang wataknya sangat berbeda.

Sebuah metode alternatif mengapresiasi sastra

Setelah berkeliling mengitari berbagai pokok persoalan, sekarang saya ingin kembali ke topik pembahasan kita: cara terbaik mengembangkan sastra. Saran saya adalah merebutnya kembali dari para ahli sastra. Saya percaya pada kata-kata Sartre bahwa seni tidak bisa direduksi ke dalam sebuah pemikiran. Nah, kalau seni tak bisa direduksi ke dalam satu pemikiran, pendekatan akademisi yang cenderung ingin meneorikan semua hal sangat bertolak belakang dengan premis ini. Bagaimana bisa kita menghargai sebuah karya seni, yang merupakan produk atau reproduksi keberadaan, being, dengan bahasa yang kaku dan cara pembahasan yang rigid pula?

Karya seni sebaiknya tidak ditelaah hingga titik koma sebab itu menjadikannya kering kerontang. Saya setuju bahwa untuk menikmati suatu karya, sedikit pengetahuan sebagai prerequisite bisa membantu menghargai seni. Namun, seperti kata Robert Pinsky, manusia sebenarnya secara alami sudah dibekali menghargai seni dari rima bahasa sehari-hari, panca indra, dan nalar halus. Yang dibutuhkan bukan lebih banyak teori lagi, tapi cara mengupas dan menyerap esensi karya seni dengan cara sangat alami.

Penelaahan yang terlalu kritis pada sebuah karya seni akan menakutkan para pemula dan pencinta seni mendekati seni itu, seperti yang sudah terjadi di Amerika: banyak mahasiswa merasa tak punya kualifikasi menikmati puisi Ezra Pound atau TS Eliot. Tujuan utama suatu karya seni adalah ia bisa dinikmati lapisan permukaan dan dihargai lebih dalam sewaktu ia dikupas lapisan lain. Semua karya seni yang berhasil sukses karena semua elemen dalam karya itu hold true, bentuknya boleh tidak menyatu tapi konsisten dan mencerminkan visi individualisme sang pencipta.

Dengan membebaskan karya sastra dari akademisasi berlebihan, mungkin ia bisa berkembang lebih baik. Di masa yang didominasi oleh media elektronik dan mainan virtual ini, banyak distraksi kehidupan yang jadi penghalang bagi perkembangan sastra. Untuk bisa bersaing dengan media elektronik, sekelompok penulis muda yang terdiri dari Alex Garland, novelis The Beach, dan 14 rekannya dari Inggris memproklamasikan manifesto baru yang diterbitkan dalam buku All Hail the New Puritans. Berikut butir-butir manifesto itu:

1. Kepada pengrajin cerita, terutama, kami patuh pada bentuk narasi 2. Kami adalah penulis prosa dan tahu bahwa prosa adalah bentuk ungkapan dominan. Karena itu, kami menghindari puisi dan lisensi puitis dalam bentuk apa pun. 3. Walau mengakui nilai sebuah genre fiksi, dalam bentuk klasik atau modern, kami akan selalu bergerak menuju ungkapan-ungkapan baru, menghancurkan ekspektasi genre yang ada. 4. Kami percaya pada kesederhanaan teks dan berjanji akan menghindari segala alat pengungkapan: retorika maupun teknik pengomentaran serampangan pengarang. 5. Atas nama kejernihan, kami mengakui pentingnya prosa linier dan menghindari kilas balik, narasi tempo ganda, dan teknik foreshadowing, serta menanamkan simbol- simbol pada awal narasi. 6. Kami percaya akan kemurnian gramatika dan menghindari tanda-tanda baca rumit 7. Kami mengakui bahwa karya yang diterbitkan juga merupakan dokumen bersejarah. Sebagai fragmen dari masa kita, semua teks tercatat dalam waktu dan berpacu pada masa ini. Semua produk, lokasi, seniman, dan objek yang disebut adalah seperti yang sebenarnya. 8. Sebagai representasi setia pada zaman ini, semua teks akan menghindari spekulasi yang muskil atau yang tak dapat dipastikan tentang masa lampau atau masa depan. 9. Kami semua moralis, jadi semua teks merangkum suatu realitas etika yang mudah dikenal. 10. Walau demikian, tujuan utama kami adalah integritas ekspresi diletakkan di atas dan terlepas dari komitmen apa pun pada bentuk.

Ada beberapa butir dalam manifesto ini yang tak saya setujui. Butir 5 yang mengacu pada keberatan pada linear temporal satu arah tanpa kilas balik atau narasi ganda suara. Butir 8 yang menganjurkan agar penulis menghindar dari spekulasi fantastis masa lampau atau masa depan, yang sebenarnya lahan bagi penulis fiksi sains. Menurut saya, kedua butir ini mengekang kebebasan penulis dalam berkreasi. Saya sangat setuju dengan butir 2 yang menyatakan penulis sebaiknya menghindari prosa puitis dalam karya prosa karena bahasa puitis cenderung jadi distraksi dan menghambat kelancaran cerita. Yang paling saya suka adalah butir 10: tujuan utama penulis prosa adalah integritas ekspresi ketimbang komitmen pada bentuk. Jadi, penekanannya pada integritas ekspresi, bukan kreativitas kata atau permainan metafor.

Seperti juga Karr yang membebaskan rasa takut saya terhadap puisi The Waste Land, saya juga ingin pecinta sastra di negeri kita tidak ditakut-takuti oleh Nirwan Dewanto atau ahli sastra di universitas yang sering mengintelektualkan sastra. Mungkin ini reaksi berlebihan dari seorang penulis. Saya kadang suka terkagum-kagum mendengar analisis seorang kritikus. Begitu dahsyat analisisnya hingga penulis sastra tiba-tiba terheran sendiri, “Oh ya, saya benar menulisnya seperti itu?”

Saya juga mengerti paham yang mengatakan begitu sebuah karya lepas dari penulisnya, ia punya nyawa sendiri. Pramoedya Ananta Toer menggambarkan buku-buku yang ia tulis sebagai anak-anak spiritualnya. Dalam perjalanan hidup mereka, ada yang berhasil, makmur, dan tak berhasil. Biarkan anak-anak spiritual penulis ini mengembara terus dan mencari pembacanya masing-masing. Seperti juga Siddharta yang memilih mendapat pelajaran tentang hidup dengan mengarungi kehidupan itu sendiri, tak seperti temannya, Govinda, yang memilih belajar dari seorang guru bijak, namun hingga akhir hidupnya tak menemukan pencerahan, pembaca sastra sendiri yang menentukan nasib anak-anak spiritual penulis.

*) Tulisan ini disajikan pada sidang pleno Konferensi Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia di Manado, 25-27 Agustus 2004.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *