Cerpen Koran Digugat?

I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

Keberhasilan Kompas mentradisikan pembukuan cerita pendek (cerpen) selama satu dekade sejak 1992 telah mempengaruhi sejumlah koran lain untuk berpartisipasi. Bali Post pada Agustus 2002 menerbitkan kumpulan cerpen “Obituari bagi yang tak Mati”, Republika pada Agustus 2002 menerbitkan “Pembisik”. Ketiga media ini mempunyai cara berbeda dalam membukukan cerpen.

KORAN Kompas membukukan cerpen melalui tradisi menyortir karya yang pernah diterbitkan dalam setahun. Karya sortiran terpilih dibukukan. Karena itu, setiap kali terbit buku kumpulan cerpen itu diberi label “Cerpen Pilihan Kompas”. Berbeda dengan Bali Post, membukukan cerpen melalui sayembara penulisan (lomba). Itu pula sebabnya, “Obituari bagi yang tak Mati” dilengkapi dengan anak judul “10 Cerpen Terbaik Bali Post 2001”. Sementara itu, Republika tampil dengan kumpulan cerpen dalam waktu 10 tahun dengan 27 cerpen. Dengan lugas, Republika menulis anak judul “Kumpulan Cerpen Republika”.

Dari fenomena itu, jelas sekali peran media cetak khususnya koran telah berhasil memasyarakatkan cerpen. Secara implisit, juga berarti berhasil mendidik dan melahirkan cerpenis karena karyanya terwadahi. Agaknya, tanpa kepedulian koran, banyak cerpen yang tersimpan di laci meja penulisnya tanpa sentuhan kreatif penikmatnya. Ibarat bunga, ia akan layu sebelum berkembang.

Selain itu, kepedulian koran terhadap cerpen dapat menyentuh wilayah kritis pembaca untuk melancarkan kritik. Dari sini akan muncul kritikus cerpen. Kehadiran kritikus dapat dimaknai sebagai jembatan penghubung antara cerpenis dan pembaca awam. Dengan demikian apresiasi terhadapnya akan menjadi hidup dan bermakna.

Kehidupan cerpen sebagai sebuah genre sastra yang relatif muda dibandingkan roman/novel oleh sejumlah kalangan dinilai sebagai jalan menerabas. Alasannya, cerpenis cenderung bersifat ekonomis, praktis, dan gelis (meminjam jatilah Ida Pedanda Made Gunung). Dari sisi ekonomis, cerpenis dapat mengkomersialkan karyanya dengan merebut kapling budaya di koran saban Minggu. Di sini koran berfungsi menjual kekayaan intelektual yang lahir dari konvergensi rasio dan rasa setelah diberi sentuhan imajinasi. Dari sudut praktisnya, cerpen ia dengan mudah dan gampang serta senang berkarya karena jaminan cerpennya dimuat sangat tinggi sepanjang tidak mengabaikan mutu sesuai dengan misi dan visi koran yang mewadahi. Dari sisi gelis-nya, cerpenis tidak perlu berbulan-bulan merenung seperti menulis roman/novel. Ketiga pertimbangunan itu, memungkinkan cerpen kian subur dan diminati pembaca mengingat semakin terbatasnya waktu untuk membaca, selain karena malas membaca. Singkatnya waktu yang dimiliki pembaca diasumsikan akan mampu menyuburkan tumbuhnya cerpen lantaran membacanya tidak perlu waktu yang banyak. Cukup dengan sekali duduk. Apalagi koran yang memuatnya dapat diperoleh dengan mudah di perempatan jalan. Membacanya pun bisa dilakukan di perjalanan. Tidak eksklusif. Apakah lantaran itu Saut Situmorang menggugat kehadiran cerpen koran?

Sesungguhnya, saya tidak sepakat dengan pelabelan cerpen koran termasuk sastra koran hanya karena diterbitkan dan dibukukan oleh redaksi pengasuh koran. Hal ini sudah pernah saya usulkan di harian ini dalam tajuk, “Mencermati Fenomena Pembukuan Cerpen” (Bali Post, 15/12).

Pelabelan itu dapat dipastikan menimbulkan dikotomi cerpen koran dan nonkoran. Hal ini dapat menimbulkan polemik yang berkepanjangan tanpa memberikan bobot secara signifikan terhadap perkembangan cerpen. Polemik demikian tak ubahnya menegakkan benang basah. Karena itu tradisi yang secara mapan telah dirintis oleh koran untuk membukukan cerpennya tidak perlu digugat.

Dalam konteks ini, gugatan Saut Situmorang dalam esainnya berjudul “Cerpen(is) Pilihan Kompas, Siapa Takut!” (Horison edisi November 2002) pantas dicermati. Dalam tulisannya itu, Saut antara lain menulis, “Karena merupakan sebuah penerbitan tahunan selama hampir sepuluh tahun lamanya dengan kemasan apik dan market oriented lagi, bunga rampai cerpen pilihan Kompas diakui atau tidak telah membuat sebuah mitos atas dirinya sendiri. Mitos ini memang sengaja dibuat dan lalu sengaja dipaksakan resepsinya kepada publik pembaca sastra di Indonesia dan luar negeri”. Penilaian demikian terkesan mengada-ada karena dari kumpulan cerpen yang diterbitkan Kompas sejak 1992 sudah ada yang mengalami cetak ulang. Itu artinya Kompas tidak melakukan paksaan terhadap publik pembacanya. Sebagai barang dagangan yang dibukukan dan dijual, masyarakat pembaca berhak untuk memiliki lalu mengapresiasinya. Itu juga berarti Kompas tidak melakukan masturbasi dengan membuat sebuah mitos atas dirinya sendiri. Dalam konteks ini, Kompas dapat diibaratkan sebagai peternakan ayam jago yang melepas ayam-ayamnya kemudian dielus-elus oleh calon pembeli setelah cocok transaksi pun terjadilah. Dengan transaksi itu, mitos justru terlahir dari penikmat yang mengapresiasinya. Pada paragraf lain, Saut Situmorang mempertanyakan, “Perlukah penerbitan tahunan yang sudah terkesan menoton dan tidak serius ini yang bahkan sudah menimbulkan ‘krisis kreatif’ dalam sastra kontemporer Indonesia diteruskan?” Interogasi yang meragukan reputasi Kompas dalam membukukan cerpen sungguh amat disayangkan. Saya tidak melihat kinerja Kompas melakukan pembukuan cerpen secara monoton, tetapi saya melihat sebagai sebuah tradisi baru ketika dokumentasi terhadap sastra semakin terpinggir. Dengan pembukuan itu, Kompas menjaring cerpenis untuk membangun candi kreativitas. Cerpenis pastilah berlomba-lomba mempersembahkan karya terbarunya dan karya terbaiknya untuk dapat dibukukan. Di sini persaingan secara manusiawi terbangun dengan sendirinya. Apakah itu berarti “krisis kreativitas” dalam sastra?

Saya tidak melihat kepedulian koran membukukan cerpen sebagai wujud krisis kreatif. Justru kehadirannya di tengah-tengah publik menjadi ciri pemerlain bagi masyarakat sastra Indonesia. Dan itu adalah wujud kreativitas. Dengan begitu, produk cerpen sebagai bagian dari sastra tidak perlu dimonopoli oleh sejumlah kalangan semisal mereka yang menjadi redaktur majalah sastra. Harison sendiri amat demokratis menerima kenyataan pembukuaan cerpen yang dilakukan awak koran. Taufiq Ismail sebagai redaktur senior di Horison malah telah menggunting pelangi sastra Indonesia menjadi segi empat dalam kumpulan puisi, cerpen, nukilan novel, dan drama. Dalam “Horison Sastra Indonesia 2, Kitab Cerita Pendek” (2002) kita dapatkan sejumlah cerpen pilihan Kompas diadopsi oleh Taufiq Ismail untuk memberikan warna cerpen Indonesia. Secara ksatria Taufiq Ismail dkk. menempatkan delapan cerpen pilihan Kompas dalam buku “Horison Sastra Indonesia 2, Kitab Cerita Pendek”.

Tidak hanya itu, Horison juga telah memuat cerpen “Zikir Segenggam Gigi Buaya” pada edisi November 2002 bersamaan dengan gugatan Saut Situmorang. Cerpen yang ditulis Raudal Tanjung Bamua itu sebelumnya telah dimuat Bali Post Minggu (14/7/2002). Dalam tautan ini kita nilai sebagai wujud sinergisitas koran dan majalah sastra. Tidak perlu digugat sebab itu cermin kesamaan kepentingan dalam ikut membesarkan sastra Indonesia yang sampai saat ini masih marjinal. Untuk tidak berpolemik, serahkan saja sastra itu kepada penikmatnya. Pembaca punya hak prerogatif untuk menilai tanpa melihat asal usul kawitan yang mewadahinya. Tidak terlalu penting berpolemik tentang wadah dengan mengabaikan isi. Karena itu, masyarakat sastra Indonesia selayaknya berterimakasih kepada koran karena telah menyediakan kapling secara kontinyu setiap Minggu. Lebih-lebih majalah sastra sangat terbatas dan terbitnya pun sering kembang kempis. Horison yang digratiskan ke seluruh SMU di Indonesia, pengirimannya pun tidak lancar. Entah macet di mana. Di toko buku juga sulit didapat.

Karena itu, cerpen yang dimuat koran dapat diterima dengan lapang dada sebagai karya sastra. Dalam hal ini, komentar Taufiq Ismail dalam “Horison Sastra Indonesia 2, Kitab Cerita Pendek” (2002) pantas dicatat dengan tinta emas, “Maka di samping majalah, koran pada gilirannya menjadi media yang cukup penting kedudukannya dalam penyebaran cerpen”. Karena itu, gugatan terhadap cerpen koran tidak perlu ada. Eksistensinya kita terima dan disandingkan dengan cerpen yang dimuat media lain. Pada akhirnya diharapkan semuanya menjadi warna pelangi yang indah dalam taman cerpen sepanjang jalan Raya Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *