Syair Aceh

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Pendekatan konflik dan bencana tsunami di Aceh yang kaya akan unsur kemanusiaan dan kegelisahan personal
Membicarakan Aceh seperti tak ada habisnya. Saking panjangnya, sampai-sampai penulis Sunardian Wirodono menjuduli novelnya Syair Panjang Aceh (Syahie Panjang Aceh). Dalam pengantarnya, Sunardian mengungkapkan bahwa novelnya semula adalah skenario Syahie Panjang Aceh yang disertakan dalam lomba penulisan skenario film cerita Departemen Seni Budaya dan Pariwisata pada 2005.

Sunardian lalu memutuskan menuliskannya juga dalam bentuk novel, meski harus melakukan perombakan besar. Tak sia-sia, Syair Panjang Aceh menjadi novel cerdas yang sangat menyentuh. Pengalaman emosional sekaligus pengetahuan sejarah merupakan dua manfaat yang didapat pembacanya.

Sunardian bukanlah putra Aceh, namun baginya, tak jadi masalah seorang pria asal Yogyakarta menghasilkan karya mengenai bumi Aceh. Dalam dunia kreatif, katanya, hal itu bukanlah masalah.

Entah didasari atas sentimen yang sama atau tidak, tokoh utama dalam Syair Panjang Aceh, Fikri, ternyata juga bukanlah seorang anak Aceh, akan tetapi, kegelisahan, dendam, dan derita yang berkecamuk di dalam batin Fikri toh jelas-jelas menggambarkan betapa acehnya anak petinggi GAM ini.

Syair Panjang Aceh sangat kaya emosi. Pembaca diajak melihat ke sudut hati terdalam tiap tokoh yang posisinya berbeda, bahkan berseberangan. Fikri, mewakili pribadi-pribadi GAM yang “mementahkan” tipikal pemberontak yang selama ini mungkin disangkakan orang. Melalui Fikri dan interaksinya dengan pimpinan GAM lainnya, penulis memetakan GAM yang merupakan organisasi dengan berbagai karakter dan kepentingan masing-masing.

Hati Fikri yang gundah semakin berantakan setelah tsunami melanda Aceh. Ia sering melamun dan mudah marah. Pernah suatu kali, seorang GAM muda dibentaknya, tapi segera ia sesali sambil merenung; Apakah ia sedang putus asa, dan pada akhirnya menyalahkan Sang Pencipta Seru Sekalian Alam yang telah menghancurleburkan Aceh seperti itu? Adakah Tuhan tengah menghukum semua orang untuk menghentikan semuanya ini? Salahkah manusia memimpikan, memperjuangkan, dan mendapatkan kemerdekannya? Salahkan kita menuntut keadilan ketika Allah juga yang mengajarkan pada manusia untuk berlaku adil kepada semua makhluk di muka bumi ini?

Ketidaktenangan Fikri menjadi potret apa yang sesungguhnya “diderita” anggota GAM sendiri. Meski ada juga anak-anak muda di dalamnya yang tak pernah mengerti maksud perjuangannya kecuali hanya jadi korban orang tua mereka yang telah menyeret para pemuda itu dalam mimpi besar mereka.

“Mereka mendorong kita masuk ke kubangan. Sementara, para orang tua itu menikmati lezatnya konsesi-konsesi politik, kita tetap saja menjadi bangsa terjajah di tanah kelahiran kita sendiri…,” Kata Fikri yang masih memegang komando, meski sebagian besar GAM sudah turun gunung dan menerima hasil perundingan damai Helsinki antara RI-GAM.

Dalam Syair Panjang Aceh, penulis dengan sangat cermat menyentuh hati pembaca dengan menghadirkan semua sisi. Keberadaan tokoh Dr Guritno, dokter senior yang sebatang kara setelah anaknya diculik dan istrinya meninggal, mewakili suara hati relawan yang tulus mengabdikan hidupnya menolong sesama. Lewat kisahnya bersama doktor psikologi Dara Arivia dan Ustadz muda Tengku Bulaqaini dari Dayah Markaz Al-Ishlah Al-Aziziyahdi, pembaca diingatkan akan pentingnya kepedulian terhadap sesama.

Lewat interaksi dan obrolan ketiga tokoh ini pulalah diantarkan sudut pandang “intelektual” dalam membaca persoalan Aceh yang sebenarnya adalah persoalan bangsa Indonesia. Misalnya ketika Guritno berdiskusi soal kejahatan Orde Baru yang lebih sadis dan kejam.

“Dibandingkan kejahatan ekonomi, kejahatan kemanusiaan, maka kejahatan kebudayaan yang diciptakan oleh Orde Baru secara sistematis dan masif jauh lebih jahat dan memakan korban hingga beberapa keturunan kita ke depan. Bayangkan, sistem pendidikan kita, baik di sekolah formal, di masyarakat, di rumah tangga, lebih mengedepankan asas formalisme.

“Berpikir secara formal membuat bangsa ini macet. Segala yang formal, seolah membuat kita menjadi bangsa yang maju dan pintar. Padahal berpikir formal membuat bangsa kita stagnan, mendek, dan tidak kreatif. Hingga akhirnya, beragama pun formalitasnya jauh lebih penting daripada substansinya. Berdemokrasi pun lebih penting formalitasnya daripada substansinya. Bermasyarakat pun, kita lebih banyak dipenuhi oleh jargon-jargon formal daripada pengertian sejatinya.”

Jelas dalam karyanya ini Sunardian menumpahkan segala pandangannya mengenai Aceh sebagai simbol permasalahan bangsa. Dengan pendekatan budaya, Sunardian menjadikan ketiga tokoh yang bisa dibilang berada di luar pihak yang berkonflik tersebut untuk menjelaskan hubungan kausalitas yang dicakupi permasalahan Aceh.

Dr Guritno, Dara, dan Tengku Bulqaini tak cuma jual omongan. Mereka memeras pikiran dan tenaga untuk membantu meringankan dampak konflik dan tsunami, khususnya pada anak-anak Aceh. Menurut Tengku Bulqaini, nasib anak-anak korban konflik Aceh tidak bisa dibiarkan. Ia bergerak merehabilitasi anak agar dendam mereka bisa hilang. Jika tidak, Aceh akan penuh dendam di masa depan, baik dari anak yang membenci TNI karena orang tua atau saudaranya dibunuh militer Indonesia, juga sebaliknya.

Di tengah kenyataan yang terjadi di Tanah Rencong dan kesibukan berbagai pihak yang turut terlibat di dalamnya, penulis menghadirkan juga emosi personal. Mulai dari pencarian makna hidup, ikatan ayah dan anak, relasi laki-laki dan perempuan, hingga kehilangan orang-orang tercinta yang telah menjelma sebagai sumber harapan baru setelah berbagai kehancuran dan penderitaan.

Sunardian menghadirkan sosok perempuan Aceh yang terjebak kondisi di tanah kelahirannya. Suka duka perempuan bernama Cut Meuthia begitu menggugah perasaan hingga menyesakkan dada. Ketika GAM dan TNI menjadi makhluk asing bagi korban tsunami, Cut Meuthia dan anggota TNI Prada Susilo saling mengenal tanpa menghakimi identitas masing-masing. Cut Meuthia, yang merupakan adik seorang petinggi GAM, adalah relawan yang membantu korban tsunami di kamp pengungsi. Prada Susilo adalah TNI yang bertugas menjaga keamanan di wilayah kamp pengungsi. Dengan sangat lentur, bab yang dijuduli Berkah Tsunami: Gencatan Senjata mengisahkan pula bagaimana benih-benih asmara mulai memadati ruang hati keduanya.

Mampukah perundingan Helsinki menyatukan juga Cut Meuthia dan Prada Susilo? Bagaimana pula nasib para tokoh, yang atas berbagai alasan, berada di Aceh dengan persoalannya masing-masing? Apakah mereka bisa mencapai tujuannya, yaitu mengecap apa yang mereka anggap membahagiakan?

Meski terkesan terlalu penuh karena alur yang maju-mundur dan terlalu padatnya fakta sejarah dan politik yang ingin diungkap, Syair Panjang Aceh cukup bisa menggambarkan rumitnya permasalahan Aceh. Meski tidak linier dan meloncat-loncat (mungkin karena awalnya skenario film), Sunardian berhasil menyampaikan dan menegaskan kembali bahwa dalam sebuah konflik dan bencana, tidak cuma ada kehancuran fisik, tapi juga melibatkan manusia di dalamnya. Manusia-manusia yang ingin dimanusiakan. Begitulah, syair yang panjang ini juga menimbulkan rasa cinta dan simpati saudara sebangsa akan Serambi Makkah yang selalu menginginkan kejayaan bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *