Yang Berputar Bersama Lorca

Qaris Tajudin
http://www.korantempo.com/

Oh Salvador Dali, pemilik suara berwarna zaitun!
Aku tidak memuji kehijauan kuasmu yang terputus-putus
atau warnamu yang bercumbu dengan warna hidupmu,
tapi aku menyanjung kekekalanmu yang terbatas.

Baris-baris puisi itu ditulis Frederico Garcia Lorca pada musim semi 1925 dan rampung pada 1926. Ode untuk Salvador Dali, demikian judulnya. Saat dalam proses penyelesaian yang memakan waktu lama, Dali berkali-kali meminta Lorca membacakan versi lengkapnya. Namun Lorca tak membocorkannya hingga termuat di Tevista de Occidente pada April 1926. Terbagi dalam 27 bait empat baris rubaiat. Puja-puji untuk seorang sahabat. Atau kekasih?

Keakraban kedua seniman besar ini bukan rahasia. Tapi kualitas kedekatan mereka adalah misteri. Juga tak pernah diketahui kapan dan bagaimana keduanya bertemu. Baik Dali maupun Lorca tak pernah membahasnya. Yang jelas mereka bertemu di awal 1923, ketika Dali yang enam tahun lebih muda dari Lorca menjadi mahasiswa di Akademi Seni Madrid, tempat Lorca berada.

Saat itu sang pelukis baru berusia 19 tahun. Dali remaja adalah seorang pemberontak. Ia melawan kenyamanan, kesentimentilan, dan agama. Namun ia juga amat terpengaruh oleh setiap orang yang memiliki pandangan kuat. Dan Lorca lah yang mampu mengisi tempat itu. Dalam biografinya, Secret Life, Dali mengakui pengaruh itu.

Bersama dengan seniman lainnya, keduanya membentuk kelompok bernama Ordo Bangsawan Toledo. Para pemuda penuh idealisme ini sebenarnya memiliki tujuan sederhana, yaitu mempromosikan keagungan kota Tagus yang penuh kejayaan Romawi, Yahudi, dan Arab. Anggota Ordo ini selalu tampil dengan pakaian bagus, berdandan, dan berpenampilan beda.

Tak heran jika orang menganggap mereka, setidaknya Lorca dan Dali, memiliki kecenderungan homoseksualitas. Lorca memang diyakini demikian. Andre Belamich, misalnya, menganggap puisi Lorca berjudul Arco de lunas (Busar Bulan) sebagai ekspresi mendalam penulisnya terhadap homoseksualitas. Tapi apakah Dali juga demikian? Apakah hubungan mereka tidak sekadar teman, tapi juga sepasang kekasih?

Saat ditanya hubungannya dengan Lorca, terkait dengan Ode itu, Dali dalam biografinya mengatakan, “Dia adalah pejantan (homoseks), setahuku, dan tergila-gila padaku. Dia dua kali mencoba untuk melakukan … padaku. Itu membuatku marah karena aku bukanlah pejantan, dan tak ingin menjadi seperti itu.”

Menurut Dali, akibat penolakan itu Lorca “patah hati” dan menumpahkannya dengan berhubungan badan untuk pertama kalinya dengan perempuan. Tapi dalam pandangan Lorca, sekali lagi ini pengakuan Dali, perempuan yang diaulinya tidak berpayudara. Lorca membenci payudara.

Tapi ada yang meragukan bantahan Dali. Pada 1927, saat Dali berada di Saint Sebastian untuk pameran, Dali mengirim kartu pos bergambar putri duyung kepada Lorca di Granada. Di bawahnya tercetak puisi:

Untuk Cintaku

Jika aku tak memberimu isyarat
cinta dan persahabatan,
dengan jujur, cintaku,

Aku terlihat tak perhatian.

Milikilah keinginan
untuk menerima yang aku tawarkan:
jiwa, hidup, dan hati.

Dengan cinta yang tak sepadan
cinta melebar tanpa batas,
Aku hanya merasa bahagia
saat berada di sisimu.

Dali menggarisbawahi kata “melebar” dan “tanpa”.
Tak hanya itu, Dali dalam berbagai suratnya juga mengingatkan Lorca akan cintanya.

“Aku amat menantikan surat panjang darimu, mon cher!… Di Saint Sebastian aku kerap teringat akan kamu, dan saat itu aku memikirkanmu…

Pelukku
dari
Saint Sebastianmu.”

Mereka juga sering meluangkan waktu bersama. Jika tidak berada di kota yang sama, keduanya saling bersurat. Mendiskusikan banyak hal, termasuk kesenian dan kehidupan sehari-hari. Tak heran jika keduanya saling mempengaruhi. Surealisme tidak hanya tampak di lukisan-lukisan Dali, tapi juga dalam puisi-puisi Lorca.

Pengaruh Lorca tidak hanya terlihat pada karya-karya Dali, tapi juga pada diri dan karya penyair Cili, Pablo Neruda. Mereka bertemu pada 1933 di Buenos Aires, Argentina. Saat itu Neruda adalah diplomat Cili untuk Argentina, setelah tugasnya di Jawa selesai.

Persahabatan keduanya kemudian berlanjut di Madrid, Spanyol, di mana Neruda membuat review sastra bernama Caballo verde para la poesia dengan penulis Spanyol Manuel Altolaguirre pada 1935. Lorca tidak hanya mempengaruhi Neruda dalam hal seni. Tapi juga ideologis. Lorcalah yang mengenalkan Komunisme kepada Neruda.

Itulah kenapa pada saat perang saudara di Spanyol pecah pada 1936, Neruda bersimpati pada para loyalis melawan Jenderal Franco. Perang itu kemudian mengubah hidup Neruda. Karena di perang itulah sahabatnya, Lorca, tewas dalam pembantaian yang brutal. Ia mendengar kabar itu saat akan menemui Lorca untuk menonton pertandingan tinju.

Ia kemudian menulis soal perang itu dan pembantaian Lorca dalam Espana en el corazon. Karena itulah ia kemudian ditarik dari Madrid pada 1937.

Kejadian itu juga membuat Neruda menjadi aktivis Republikan di Spanyol dan kemudian di Prancis. Kejadian itu mengentalkan kekirian Neruda. Ia mulai menulis puisi-puisi tentang dan untuk kemanusiaan.

Frederico, apakah kau ingat
dari bawah lantai
balkonku yang
cahaya Juni menenggelamkan bunga-bunga dalam mulutmu?
Saudara, saudaraku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *