Yang Telanjang Dalam Sastra

Tjahjono Widijanto
suarakarya-online.com

Kesenian (baca: kesusastraan) yang berkualitas pasti menyiratkan kebenaran dan senatiasa memperluas cakrawala pengetahuan peminatnya. Karena itu ada cerita bahwa Sigmund Freud tokoh psikoanalisa merasa berhutang hudi kepada Fydor Dostolovsky dan Herman Melvile sebab melalui novel-novel mereka Freud banyak belajar mengenal jiwa manusia. Kebenaran yang diciptakan manusia dalam teks sastra selalu berada pada titik yang paradoksal. Satu sisi karena sangat rentan terhadap ruang dan waktu kebenaran dalam karya sastra bersifat nisbi, tetapi di sisi lain juga mengusung kebenaran yang bersifat universal. Karena itu tema karya sastra senantiasa berbicara mengenai hal yang lebih kurang sama dengan yang dialami dalam kehidupan manusia sehari-hari, misalnya cinta, penderitaan, harapan, eksistensi dan kematian.

Dalam satra era kapujanggan,penciptaan dan proses kreatif karya sastra selalu berorientasi pada alam semesta. Tolok ukur masa itu memandang sastra sebagai karya yang mampu manunggal, nyawiji, akrab dan membuka diri dengan semesta. Karena itu di Jawa pada era sastra kapujanggan dikenal proses mahas ingasepi, di Cina dikenal dengan proses kai Ho atau Can, yang merupakan proses pemekaraan dan penataan , lalu muncul istilah creatio ex nihilo, yang kemudian disebut Freud sebagai ekspresi pengalaman total manusia dari komplek jiwa yang terdesak untuk kemudian lega lalu bebas dari kecemasan.

“To be or not tobe,” itulah kalimat yang diucapkan tokoh Hamlet pada puncak krisis batinnya. Hamlet karya legendaries Shakespeare telah memunculkan sosok manusia yang lengkap dengan segala konflik batinnya, proses dan perubahan struktur kejiwaannya. Shakespeare berhasil mengangkat dirinya sebagai pengarang yang mampu memahami jiwa manusia lebih dari seorang ahli psikolog. Hamlet dan Shakespeare muncul menjadi ikon sekaligus citra Inggris sebagai sebuah bangsa, karena itu seorang anggota parlemen Inggris bernama John Ruskin jauh-jauh hari sebelum India lepas dari koloni Inggris dengan lantang berkata, “Shakespeare bagi Inggris jauh lebih penting dari India. Inggris tanpa India tetap Inggris, tapi Inggris tanpa Shakespeare Inggris akan kehilangan citranya!”.

Di lain waktu, Sopochles tidak hanya mahsyur karena menciptakan tragedy Oedipus, tapi juga karena ia menulis bahwa ‘banyak keajaiban terjadi di dunia, tapi tak ada sesuatu yang lebih ajaib kecuali manusia sendiri’. Oedipus kareana nasibnya telah membunuh bapaknya dan mengawini ibunya lalu bencana demi bencana menyergap negerinya dan akhirnya Oedipus memilih mencucuk kedua matanya sendiri. Hancurlah ia sebagai manusia tapi sekaligus betapa mulianya ia sang manusia — sebuah paradoksal nyata tentang yang namanya tragedy manusia.

Lain lagi sosok manusia yang digambarkan Samuel Backet dalam Waiting for Godot. Diperlihatkan sosok-sosok manusia yang tidak pernah mengenal status final, manusia yang selalu terombang-ambing dan gelisah sebagai tanggungjawab atas aktualisasi dirinya sendiri. Senada dengan Waiting for Godot, Arifin C Noer menampilkan sosok Sandek yang terombang-ambing dan terjerat oleh eksistensinya sendiri. Itulah Sandek, tokoh dalam drama Dalam Bayangan Tuhan yang sepanjang hidupnya menyanyikan sebuah puisi yang abadi menyertai perjalanan manusia:font size=2> beratus-ratus tahun sudah kita tak pernah beristirah betapa panjang ini perjalanan betapa panjang bayangan Tuhan betapa menyilaukan cahaya Tuhan kadang membutakan kadang membutakan Dalam membaca Dalam Bayangan Tuhan, Hamlet, Oedipus atau Waiting for Godot, pembaca akan terus menerus dihempas dengan pertanyaan ‘siapakah saya?’, siapakah dia?’, ‘apakah saya sama dengan dia?’ dan ‘siapakah manusia?’. Demikian pula setelah seorang pembaca menelaah habis-habisan Bhagawad Gita, Bumi manusia, Saman, Sri Sumarah, Burung-burung Manyar,dan sebaris nama-nama lain, ia pun diteror untuk mengidentifikasi diri atau paling tidak ingin lebih menemukan makna hidupnya. Apakah ia seperti Arjuna dalam Mahabarata, Minke dalam Bumi Manusia, Yasmin dan Laila dalam Saman, Setadewa dalam Burung-burung Manyar, atau barangkali pula termasuk binatang jalangnya Chairil. Pada titik itu sastra yang berkualitas dapat menggantikan posisi para psikolog dalam kehidupan kita.

Dengan sastra yang serius seseorang dapat bertemu dengan sosok manusia yang hadir tanpa ditutupi apapun. Dengannya kita dapat saling memahami, instropeksi bahkan dapat membenahi diri. Sikap pengarang terhadap realita merupakan salah satu faktor yang menyebabkan apakah sosok manusia yang diungkapkan mudah ditangkap atau tidak.

Untuk menghadirkan sosok manusia yang ‘utuh’ sastra hari ini berbeda dengan yang akan datang , juga berbeda dengan yang lalu. Tapi selalu sastra yang berkualitas akan setia menghadirkan manusia beserta segala problematikanya dengan jujur dan ‘telanjang’ sesuai dengan situasi zamannya. ***

*) Penulis adalah penyair. Lahir di Ngawi, 18 April 1969.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *