Batas

Andika Destika Khagen
http://www.lampungpost.com/

TELAH lama kutunggu Hasim di ruang tamu. Ia akan datang hari ini. Mungkin sebuah pertemuan yang tak terkendali. Aku menunggunya tak ramah, juga tak akan tersenyum. “Percayalah. Aku mesti tegas.” Pintu pagar sengaja tak dikunci dan dibiarkan terbuka lebar. Aku ingin ia melihatku gelisah sebelum duduk di sampingku. Atau ciut sebelum nalarnya jalan dan amarahnya meletup. Aku harus benar-benar siap. Continue reading “Batas”

Kanal

Ratna Indraswari Ibrahim
http://www.jawapos.com/

Menelusuri jalan-jalan di Universitas Amsterdam, Nunung merasa sangat tidak nyaman (dia baru tiga bulan di sini untuk mengambil S2 atas biaya dari negeri ini).

Nunung sibuk menutupi rambutnya dengan penutup kepala jaketnya, agar bisa mengurangi hawa dingin. Tiba-tiba Bryan berkata, ”Rambut orang Asia itu bagus ya.”

Nunung menatap wajah Bryan. Negeri ini mungkin penuh basa-basi. Dia tak mau jauh berpikir. Melihat ke arah lain, beberapa mahasiswa berseliweran dengan tas ransel di pundak. Bryan mengulangi ucapannya, ”Rambut orang Asia memang bagus. Aku kepingin melukis rambutmu, Nyonya.” Continue reading “Kanal”

Dendangan di Bawah Bambu yang Rindang

Uswatun Hasanah*
http://www.lampungpost.com/

KULUAPKAN segalanya di tempat ini. Sebuah tempat yang pernah menjadi saksi perilaku kejamku. Aroma tanah yang bersemilir, rumpun bambu yang rindang, daun, dan batang bambu yang bergemerisik ngilu. Gemerisik air sungai penambah haru, desau angin yang menerbangkan aku ke masa lalu.

Bagaimana kurasa semua itu terngiang kembali, permohonan Erika yang tak kukabulkan itu.

“Kumohon, John. Jangan lakukan ini, jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup.” Continue reading “Dendangan di Bawah Bambu yang Rindang”

Bahasa ยป