Bahasa Jawa Suriname dan Belanda

Endang Suryadinata*

http://www.radarsampit.com/

KISAH Ramadan dan Lebaran di Kampung Orang-Orang Jawa di Suriname, yang saya ikuti dari situs Jawa Pos (Grup Radar Sampit) pada 20-23 Oktober 2006 lalu sungguh menjadi sajian menarik, seperti ?kacang renyah? di waktu Lebaran. Bagi warga Surabaya yang tinggal di Belanda seperti saya, sajian itu seolah-olah membangkitkan nostalgia betapa unik, asyik sekaligus eksotik berlebaran di desa-desa di Magelang, Jogjakarta atau Kediri di dekade 70-an atau 80-an dulu.

Selain itu, sebagai peminat sejarah sekaligus pemakai bahasa Jawa di negeri asing, saya merasa mendapatkan air sejuk lewat tulisan wartawan Jawa Pos Arief Santosa itu. Betapa bahasa Jawa masih eksis justru di sebuah negeri asing seperti Suriname. Seperti kita tahu saat ini penutur atau pemakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar sehari-hari tinggal sekitar 80 juta orang di seluruh dunia.

Meski jumlahnya tampak cukup banyak, belakangan sering muncul kekhawatiran bahasa satu ini akan musnah. Menurut Soetadi, ketua panitia Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang, 11-14 September 2006, setiap tahun selalu ada bahasa etnis yang hilang karena berhadapan dengan arus globalisasi. Pada 2001, ada 10 bahasa etnis di dunia yang hilang. Sedangkan pada 2004 setidaknya 24 bahasa etnis yang juga raib.

Kemungkinan musnahnya bahasa Jawa itu layak dicemaskan, pasalnya banyak generasi muda Jawa sendiri justru ?ora Jowo? (tidak mau mengerti) dengan bahasa warisan nenek moyangnya. Ini, misalnya, terlihat dari sebuah tulisan berjudul Bahasa Jawa? Ih, ?Boring? Banget (Kompas, 25/9/2006), yang kemudian menjadi bahan diskusi cukup lama di sebuah milis.

Cerita tentang orang-orang Jawa di Suriname itu sungguh memberi harapan bahwa meskipun di sebuah tempat yang sangat jauh dari Pulau Jawa (Indonesia), ternyata generasi ketiga atau keempat dari orang-orang Jawa di Suriname tidak pernah melupakan bahasa leluhurnya.

Itu tentu beda dengan banyak generasi muda Jawa di tanah Jawa sendiri yang justru lebih suka melirik bahasa asing. Suka bahasa asing demi keilmuan atau agar bisa berkomunikasi dan berkompetisi di era globalisasi boleh-boleh saja. Tapi jika hanya sekadar untuk bergaya seperti bahasa ?Indonenglish?, gado-gado bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yang makin marak di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, kita layak bertanya atau menggugat. Maka, di tengah kian lakunya semua hal berbau asing seperti sekarang, kita perlu menimba keteladanan dari orang-orang Jawa di Suriname itu.

Di Belanda
Yang unik dalam kasus bahasa Jawa ini adalah minat orang asing terhadap bahasa atau sastra Jawa. Dan, Belanda sebagai negeri bekas penjajah Jawa ternyata menjadi gudang dari orang atau pakar yang punya minat khusus terhadap keberadaan bahasa Jawa. Universiteit Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan 1575 merupakan salah satu gudangnya. Di universitas yang didirikan Pangeran Willem van Oranje, tempat dari sekitar 17 ribu mahasiswa menimba ilmu, kita bisa melihat naskah-naskah kuno berhuruf Jawa atau sastra Jawa kontemporer yang masih terawat.

Dalam hal ini, mudah-mudahan kita tidak terjebak pada pemikiran karena Belanda pernah menjajah kita, maka semua hal terkait Belanda adalah jahat atau buruk. Padahal tidak selalu demikian. Di Leiden, kita bisa melihat masih ada warga Belanda yang justru menjadi penyelamat bahasa Jawa. Apresiasi, perhatian, bahkan kecintaan mereka pada bahasa Jawa ada baiknya diketahui. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi generasi kita yang mulai kehilangan daya apresiasinya pada bahasa Jawa.

Salah satu nama yang mungkin kini terdengar asing di tengah generasi muda Jawa adalah nama Dr Theodoor Gautier Thomas Pigeaud. Dia adalah ahli sastra Jawa dari Belanda lahir di Leipzig, 20 Februari 1899 dan meninggal di Gouda, 6 Maret 1988. Ayah Theo adalah dokter yang pernah praktik di Mojokerto, Jawa Timur pada 1887-1898. Pada 1916 ia masuk Universitas Leiden dan kuliah ?Taal- en Letterkunde van den Oostindischen archipel? (Bahasa dan Sastra Kepulauan Hindia-Timur). Mata kuliahnya waktu S1 terdiri atas bahasa Arab, Sansekerta, Islam, dan ilmu bumi Kepulauan Hindia-Timur. Kemudian Pigeaud melanjutkan studi S2 dan mempelajari bahasa Melayu, bahasa Jawa, dan bahasa Persia. Disertasi S3-nya adalah suntingan teks sebuah karya sastra Jawa Pertengahan berjudul Tantu Panggelaran yang isinya adalah mitologi Jawa Kuno.

Lulus dari Leiden, Pegeaud menjadi seorang taalambtenaar (pegawai bahasa) di Jawa. Salah satu karya monumentalnya adalah kamus Jawa-Belanda yang dia buat pada 1925 dan baru diterbitkan pada 1938. Setelah Perang Dunia II, Pigeaud pulang ke Belanda. Pada 1948 Pigeaud menerima tugas untuk menyunting ulang dan menerjemahkan kembali kakawin Nagarakretagama. Puncak dari karya monumentalnya adalah Java in the 14th Century (1960-1963), dan terdiri atas 1.500 halaman. Karya-karya Pegeaud terkait bahasa Jawa masih terdokumentasi di Perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkundei) yang merupakan pusat dokumentasi terbesar di dunia (www.kitlv.knaw.nl).

Orang Belanda lain yang peduli bahasa Jawa adalah Hans Ras (lahir di Rotterdam, 1 April 1926 dan wafat di Warmond, 22 Oktober 2003). Dia merupakan pakar bahasa dan sastra Jawa di Universitas Leiden. Ia bukan hanya jatuh cinta pada bahasa Jawa tapi menikahi gadis Jawa pula bernama Widjiati. Pada 1985 ia diangkat menjadi guru besar sastra dan budaya Jawa. Studi-studinya tentang budaya dan sastra Jawa sangat diakui. Secara khusus Ras sangat mencintai wayang dan sejarah perkembangannya. Ia juga pernah menerjemahkan sebuah lakon wayang ke bahasa Belanda: De schending van Soebadra (Subadra Larung atau Sembadra Larung). Lalu yang tidak kalah penting ialah studi-studinya mengenai karya penulisan, struktur, fungsi, dan kebenaran teks-teks sejarah dari Jawa, terutama Babad Tanah Jawi. Ras juga menyebarkan perasaan cinta terhadap budaya, bahasa dan orang Jawa, pada bidang ilmu pengetahuan dan bidang lainnya. Saya mengenalnya sebagai sosok yang tidak rela jika budaya Jawa, termasuk bahasa Jawa, dilecehkan.

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal sosok penyelamat bahasa Jawa Kuno (Kawi), Prof Dr Petrus Josephus Zoetmulder SJ. Sosok kelahiran Utrecht, 29 Januari 1906 dan wafat di Jogjakarta, 8 Juli 1995 itu adalah pakar sastra Jawa dan budayawan Indonesia. Pastor Katolik ini terkenal dengan aspek agama kejawen-nya yakni Manunggaling Kawula Gusti. Selain itu, nama Zoetmulder tidak dapat dilepaskan dari telaah sastra Jawa Kuna Kalangwan dan kamus Jawa Kuna-nya yang terbit dalam dua edisi: bahasa Inggris (1982) dan Indonesia (1995).

Secara fisik Zoetmoeldar memang orang Belanda, tetapi jiwa dan hatinya lebih Jawa dari orang Jawa manapun. Misalnya, jika banyak generasi muda Jawa tidak bisa berbahasa Jawa kromo inggil, maka mendiang justru luar biasa lancarnya. Para muridnya antara lain Prof Dr Koentjaraningrat, Dr Sukmono dan Dr S. Supomo.

Kita juga tak bisa melupakan peran sosok Tionghoa muslim bernama Prof Dr Tjan Tjoe Siem yang lahir di Surakarta pada 1909 dan wafat di Jakarta, 1978 yang dikenal sebagai pakar sastra Jawa dan guru besar Universitas Indonesia. Sosok yang punya perhatian pada hukum Islam ini promosi di Universitas Leiden, pada 1938. Judul disertasinya Hoe Koeroepati zich zijn vrouw verwerft berkisah tentang lakon wayang pernikahan Suyodana atau Duryudana, raja para Kurawa yang diambil dari Mahabharata.

Tjan Tjoe Siem mengingatkan saya pada banyak warga Tionghoa di Belanda, termasuk mereka yang datang dari Surabaya, Jogjakarta atau Semarang yang lebih suka menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi dengan sesama Tionghoa atau orang-orang Jawa di Belanda.

Jadi, sebenarnya masih banyak nama lain yang peduli pada bahasa Jawa, tapi terlalu banyak jika disebutkan semua.

Nah, dari sosok-sosok asing itulah diharapkan mudah-mudahan kita bisa tergugah dan menjadi sadar bahwa bahasa Jawa bukanlah bahasa yang remeh, tetapi bahasa yang eksotik, karena lahir dari sebuah tradisi tua yang sangat bernilai, sampai memesona orang asing. Langkah-langkah untuk menjaga dan melestarikan bahasa ini, yang dilakukan berbagai pihak layak dihargai dan perlu ditindaklanjuti. Siapa lagi yang mau peduli kepada bahasa Jawa kalau bukan kita sendiri? ***

*) Peminat sejarah dan bahasa Jawa, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam.

Leave a reply