Poligami ala Emha

Judul Buku : Istriku Seribu
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress, Jogjakarta
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : iv + 64 Halaman
Peresensi: Em Syuhada’
http://arsip.pontianakpost.com/

KETIKA KH Abdullah Gymnastiar membeberkan pernikahan keduanya di media massa beberapa waktu lalu, wacana poligami kembali menjadi menu perbincangan hangat di negeri ini. Apa yang dilakukan Aa? Gym seperti memantik reaksi sejumlah kalangan untuk buka suara. Bahkan, DPP Partai Bintang Reformasi yang notabene partai berasaskan Islam memutuskan mencopot kadernya dari kursi wakil ketua DPR, gara-gara yang bersangkutan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Aa? Gym. Ada apa sebenarnya dengan poligami. Sebegitu menakutkankah ia, sehingga para pelakunya ?meminjam bahasanya Zaenal Ma?arif dikejar-kejar layaknya seorang teroris.

Poligami memang tak henti menyulutkan kontroverasi. Di tengah maraknya isu yang berkembang di negeri yang sedang panen bencana ini, ia tampil di depan publik melengkapi seabrek permasalahan yang sedang terjadi. Tak tanggung-tanggung, pemerintah tak mau kalah dalam pertarungan wacana itu dengan berencana merevisi Undang-Undang Perkawinan No.1/1974 dan PP. No. 10 Tahun 1983. Pertanyaannya, betulkah poligami adalah sesuatu yang penting sehingga kehadirannya mampu menyedot sebagian opini publik? Apakah perbincangan mengenai poligami betul-betul telah menyentuh hal yang substansial? Hal-hal semacam itulah yang tampaknya mengilhami Cak Nun ?panggilan akrab Emha Ainun Nadjib? untuk menulis buku ini.

Menurut Cak Nun, perdebatan mengenai poligami yang selama ini terjadi hanya berputar-putar pada wilayah kulit. Tak ada keseriusan dari berbagai pihak dengan berusaha mencari landasan hukumnya pada khasanah agama, ideologi, atau filsafat (hlm. 11).

Dengan memakai pendekatan sastra, Cak Nun menciptakan situasi di mana ia sedang terlibat pembicaraan dengan Yai Sudrun. Dengan sangat piawai, ia menyusun serangkaian dialog mengenai soal-soal kehidupan yang sarat dengan muatan makna. Yang menarik, kesengajaan Cak Nun mengemukakan sejumlah pengalamannya dalam hal keberagamaan, baik ia sebagai pribadi atau tatkala berkelana ke berbagai belahan dunia bersama komunitasnya Kyai Kanjeng, adalah upayanya mengemukakan sikap hidup sebagai seorang Emha yang sunyi, yang pemikirannya cenderung melawan mainstream. Cak Nun memang unik, meski gagasan awal buku ini adalah mengusung tema poligami, sebagaimana tersurat dalam judulnya, kenyataannya ia mampu menyeret pembaca untuk menjelajah setiap kemungkinan dalam ruang kehidupan.

Mungkin kita bertanya, siapa sebenarnya Yai Sudrun? Kenapa dalam banyak karyanya Cak Nun sering menghadirkan sosok itu? Apakah ia hanya tokoh fiktif yang semata-mata hasil imajinasi Emha? Ataukah benar-benar ada dalam alam kasunyatan? Hanya Cak Nun yang tahu. Yang jelas, Yai Sudrun bagi Cak Nun adalah sosok nyentrik yang memiliki sangat banyak keajaiban (hlm. 18?20).**

*) Alumnus PP Roudlotun Nasyiin, Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *