Catatan Puisi Indonesia 2008

Tiga Penguak Sajak

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

Akhir tahun adalah waktu yang tepat menakar prestasi. Di bidang puisi, tentu saja ada kemajuan kendati sulit sekali dinarasikan. Mengingat ratusan–mungkin juga ribuan–sajak lahir dalam setahun, yang berjuang keras memberi harga pada kata dan bahasa Indonesia sebagai cermin “budaya bangsa”.–lit

Setelah dimitoskan sebagai presiden penyair Indonesia, dan dinobatkan sebagai sang raja mantra nusantara, setelah 27 tahun tidak lagi menerbitkan buku puisi dengan alasan yang tak jelas, dan beberapa tahun lalu malah menerbitkan buku himpunan cerpen Hujan Menulis Ayam dan buku esai Isyarat, dengan judul yang sensasional, pada Juni 2008 Yayasan Panggung Melayu menerbitkan buku puisi baru Sutardji Calzoum Bachri dengan judul Atau Ngit Cari Agar.

Setelah lebih dari seperempat abad menulis puisi tapi belum satu buku pun terbit, akhirnya Gramedia memecah kebekuan puisi Indonesia dengan menerbitkan himpunan puisi perdana Nirwan Dewanto, Jantung Lebah Ratu. Walau telah menulis puisi sejak awal 1990-an dengan gaya lirik yang khas, dan setelah malang-melintang di dunia teater, Iswadi Pratama baru tergerak membukukan sajaknya dengan lema Gema Secuil Batu.

Apakah yang bisa kita petik dari tiga buku sajak yang terbit tahun lalu itu? Apakah yang bisa kita kenang dan catat dari tiga buku puisi di awal tahun ini?

Mula-mula saya akan menjawab: Judulnya. Kemudian bahasa. Lebih tepatnya: Bahasa Indonesia.

Sutardji dengan ringan dan tanpa beban membuat sensasi dengan menggabungkan judul empat sajak menjadi judul buku Atau, Ngit, Cari, dan Agar. Apakah yang dimau si penyair memilih judul semacam itu?

Barangkali si penyair hanya main-main, atau ingin tampil beda lagi. Tapi setelah O Amuk Kapak, Tardji berhasil menelurkan satu gaya pengucapan lagi lewat sajak yang mengandung maksud dan kata-kata yang bebas dan sungsang: “bahkan terbalik huruf/nyungsang halaman/menjungkir kata/merintang tanda/menungging sampiran/menghalang paham/masih/rindu/mengjaKu” (sajak Nyungsang).

Sejumlah sajak dalam Atau Ngit Cari Agar bisa disebut sebagai estafet, atau bagian utuh dari kelanjutan tiga kumpulan sajak sebelumnya. Bedanya, sajak-sajak mutakhir Tardji mulai membuka maksud yang mudah dikenal, tidak sebagaimana dalam O Amuk Kapak yang membetot perasaan dan pikiran pembaca saking gelapnya.

Menuduh Tardji tak konsisten menerapkan kredo lamanya yang (hendak) membebaskan kata dari penggada pengertian, tidaklah relevan di sini. Menyimpulkan sajak-sajak baru Tardji sebagai sajak “saksi” juga tak beralasan mengingat “aksi” masih begitu kuat dalam Ngit, Sarang, Para Penyair, Nyungsang, dan Kami Tahu Asal Jadi Kau. Di sini Tardji merenda kata ke dalam perkawinan mantra dan doa.

Sutardji sudah tobat karena apa yang selama ini dicarinya hanya “sampai sebatas kami”, hanya “sampai ke puncak nurani”, hanya “sampai aku pada perpanjangan sajak-sajakku”.

Tak ada lagi bahana tanpa makna, karena dalam sajak–seperti diakui oleh Octavio Paz–bunyi tidak lain dari gema pengertian itu sendiri. Maka biarkan saja Tardji menggertak dengan histeria bercampur perih: “Cepat temukan kata! sebelum cuaca makin memburuk sebelum datang lagi El Nino sebelum datang La Nina agar tak kembali muncul El Dictator”.

“Yang tak menemukan kata tak disebut penyair” dalam kredo puisi 1973, atau “yang bukan penyair tidak ambil bagian” (Chairil), bergaung lagi. Gaung yang ditujukan pada penyair sendiri untuk segera menemukan kata dan ucapan, karena selain yang tak menemukan kata tak bakal dianggap penyair, ada kemungkinan bahaya baru akan muncul; realitas politik yang bisa membuat para penyair tak lagi bisa mencari kedalaman kata kecuali hanya memungut kata dari kamus-kehancuran.

Mengapa penyair mesti mencari kata dan menemukan ucapan? Karena profesi para penyair cenderung tidak mengerjakan apa yang dikatakannya, maka ada ruang bagi penyair untuk bisa tergoda untuk bebas tidak mempedulikan pertangungjawaban terhadap karya-karyanya, kata Sutardji dalam orasi budaya dalam rangka Pekan Presiden Penyair di Jakarta dua tahun lalu.

Sebagai seorang munsyi, Tardji sudah tentu pandai beranalogi, sekalipun terhadap sesuatu yang sering riskan untuk dianalogikan. Mirip seperti sikap para linguis aliran Bashrah di Semenanjung Arabia sana, yang menggunakan kias melalui bentuk-bentuk, makna-makna dan struktur-struktur bahasa yang baru–seperti yang dilakukan Abu Ali Al-Farisi yang dikenal sebagai bapak silogisme abad IV H dan dilanjutkan Adonis (penyair Suriah yang kini bermukim di Prancis).

Pencarian Tardji atas kata dan ucapan yang segar dan “baru” mengingatkan pencarian Adonis yang hendak memutus tali-rantai persajakan Arab-muslim. Namun ada yang berubah dalam sikap kepenyairan Tardji. Selama ini tak pernah terbayang jika Sutardji merayakan kelahiran kembali tragedi dengan sebuah keberpihakan: “aku telah melihat/bibit api dalam buah airmata/pada lahan yang digusur/dari pemiliknya” (Cari). Sebab “asal haus itu air, keringkan dahagamu/asal demam itu obat, karibkan sakitmu” (Asal).
***

Bila sajak puitik Sutardji bias disebut anak panah psikologis kemabukan, maka lawannya adalah sajak prosaik dengan anak panah kediamdirian yang diwakili Iswadi dan Nirwan. Kedua penyair ini tak kalah gawatnya dalam membuat sensasi.

Lewat proses penggabungan dua sajak menjadi satu judul, Jantung dan Lebah Ratu, Nirwan telah menegaskan kembali kebebasan seorang penyair. Apakah arti jantung dan apa hubungannya dengan lebah ratu dan bagaimana wujudnya, begitu samar.

Sementara Iswadi enggan mencipta sensasi, kendati judul Gema Secuil Batu yang diambil dari salah satu sajaknya, tak kalah nyentrik dan membingungkan para pengkhotbah “bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Kita tak tahu apa makna gema secuil batu, apa memang secuil batu bisa bergema, macam mana gemanya.

Mungkinkah ketiga penyair ini telah memetik buah psikoanalisis seperti yang pernah diramalkan Hasif Amini beberapa tahun lalu, bahwa kaum surealis akan terus ada dan senantiasa berambisi menggali khazanah terpendam di alam bawah sadar, melalui penulisan otomatis; “suatu cara penulisan yang membiarkan pelbagai imaji dari bawah sadar muncul bebas tanpa kendali nalar dan tata bahasa”.

Maka seturut dengan ini, Iswadi mesti saya keluarkan di sini, sementara Nirwan dan Sutardji tengah mencari pertemuan-pertemuan tak terduga antarkata yang membentuk kiasan baru yang segar, juga mencengangkan. Seperti Breton yang meminjam teori imaji Pierre Reverdy, penyair Prancis yang percaya bahwa “semakin jauh dan jitu hubungan antara dua ranah kenyataan yang dijajarkan, semakin kuatlah imaji”, kata Hasif Amini.

Tatkala berhadapan dengan puisi Nirwan dan Sutardji, saya selalu mawas diri karena kedua penyair ini justru berkarya di bawah petuah licentia poetica yang keras kepala. Bahwa ada hak mutlak penyair untuk menggunakan bahasa sebebas-bebasnya, ya. Termasuk hak menyimpang-nyungsang dari tata pembentukan kata/kalimat yang sudah lazim.

Keduanya bukan mualaf, tapi mungkin munsyi. Keduanya sengaja melakukan
penyimpangan dengan maksud tertentu, yang kita sendiri tahu sejak dulu.

Sementara Iswadi mengajak kita masuk ke dalam kesunyian diri sebagai kelahiran kembali. Mungkin karena “kita berasal dari sunyi, dan kepada sunyi kita kembali” (seperti kata Octavio Paz), maka Iswadi menerima apa saja yang wajar di dekat ambangnya. Mungkin karena selama ini ia lupa, atau tak pernah terkesima akan hal yang sesungguhnya dahsyat tapi tersapih; seperti warna kabut, sepasang mata burung hantu yang seperti merjan jernih, sayap-sayap yang serbasanggup. “Kini aku takjub pada bangkai kupu, sengat batu pada tuba, jelaga, atau serpih duri yang merumpun di halaman itu”, tulisnya dalam Fragmen-fragmen di Beranda.

Daun kaktus, pohon camar, hujan dan debu yang beradu, sunyi yang ratusan kali persiran di halaman buku, adalah sebuah percakapan yang sah untuk puisi sejak Goenawan sampai Iswadi.

Walau sebagian besar puisi Iswadi buat yang remeh-temeh itu, namun Iswadi masih saja merasa tak pernah ambil bagian dalam hal-ikhwal yang kecil itu. Ada yang salah, agaknya. Tapi kau benar ketika mengatakan: “betapa nikmat hati yang tak bisa pasti”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *