EKSPERIMENTASI DALAM SYUMUL KARYA AZMAH NORDIN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra berurusan dengan imajinasi. Fakta dalam realitas pun menjadi fiksi dalam sastra. Oleh karena itu, kenyataan faktual dalam sastra menjadi fiksional, lantaran dunia sastra adalah dunia imajinatif. Bagaimana imajinasi membangun dan mengolah kenyataan faktual ke dalam sebuah dunia imajiner yang sesungguhnya lahir dari pengalaman, penafsiran, dan pemahaman pengarangnya atas realitas sosio-kultural. Realitas sosio-kultural inilah yang menjadi sumber segala karya sastra. Mengingat karya sastra begitu khas dan unik, lantaran adanya permainan imajinasi, maka usaha untuk memahaminya mesti berangkat dari karya sastra itu sendiri seba-gai sebuah teks yang mandiri dan otonom. Mandiri karena ia sesungguhnya dapat melepaskan dirinya dari teks-teks lain dan otonom karena ia mestinya didekati berdasarkan kaidah kesastraan yang berlaku sebagai sebuah konvensi.

Meski begitu, konvensi kesastraan bukanlah sebuah ikatan yang membe-lenggu. Ia hanya sekadar alat bagi sastrawan untuk patuh dan mengikut dengan setia pada konvensi itu atau mengembangkannya sendiri dengan cara berbeda, atau bahkan memberontakinya secara radikal. Semua boleh dilakukan dan sah. Dengan cara demikian, dunia sastra boleh berkembang dengan berbagai kemungkinannya.

Bagi kaum strukturalis, apapun yang terjadi dalam dunia sastra, ia tetap di-anggap dan diperlakukan sebagai sebuah teks yang tak ada kaitannya dengan kon-teksnya. Mereka atau kritikus, hanya diizinkan berkomunikasi dengan teks, karena teks itu sudah mempunyai kelengkapannya sendiri. Begitu karya sastra terlepas dari tangan pengarang dan kemudian dipublikasikan menjadi milik publik, ia tidak lagi mempunyai ikatan dengan pengarangnya. Ia mesti diperlakukan sebagai teks yang telah lengkap sebagai sebuah struktur. Teks menjadi segala-galanya. Tidak ada lagi kontekstualitasnya. Puncak dari pandangan kaum strukturalis ini sampailah pada diri Roland Barthes lewat gagasannya: ?the death of the author.?

Ekor masalah dari keterlepasan teks dengan diri pengarang, salah satunya, adalah hilangnya nulari kultural yang menjiwai teks itu sendiri. Struktur hanya ber-bicara soal keterkaitan antar-unsur dan fungsionalisasinya dalam membangun wa-cana teks. Ia tidak menyentuh ruh dan naluri kulturalnya. Sebab, bagaimanapun ju-ga, sastra adalah produk imajinasi yang lahir dan mengada lantaran munculnya ke-gelisahan kultural. Bahasa yang digunakan sebagai media teks itu sendiri tidak lain adalah produk budaya sebuah komunitas. Keberadaan masyarakat secara hakiki dilengkapi oleh bahasa, dan masyarakat pula yang lalu melengkapi bahasa. Jadi, ketika teks hadir dengan memanfaatkan bahasa sebagai medianya, bagaimana mungkin ia dilepaskan begitu saja dari masyarakatnya. Padahal, masyarakat itu pula yang secara sadar dan terus-menerus memberi berbagai kelengkapan bahasa. Mana-kala bahasa diejawantahkan dalam bentuk wacana sastra, ia sesungguhnya meng-angkat sebuah realitas sosio-kultural. Dalam hal ini, bahasa telah bertindak sebagai penghubung seseorang dengan fakta, dengan realitas yang hadir di sekelilingnya. Inilah landasan berpikir kaum pascastrukturalis.
***

Karya-karya agung selalu dapat didekati melalui berbagai macam saluran. Ia boleh dipandang sebagai sebuah struktur yang mandiri dan otonom. Ia juga boleh diperlakukan sebagai teks yang mengangkat realitas sosio-kultural. Persoalannya tinggal bergantung pada pilihan. Apakah kita hendak menempatkan teks itu sebagai sebuah struktur atau sebagai refleksi dan pantulan realitas sosio-kultural. Meski begitu, itu semua hanyalah sebagai salah satu alat memperlakukan teks sastra. Yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana kritikus membongkar dan sekaligus mengangkat kekayaan makna yang tersurat dan tersirat dalam teks itu sendiri. Pembongkaran kekayaan makna teks itulah yang seyogianya menjadi titik perhatian kritikus, dan bukan jatuh pada perdebatan konseptual.
***

Novel Syumul karya Azmah Nordin, juga patut diperlakukan sebagai sebu-ah teks yang boleh ditempatkan dalam wacana strukturalisme atau pascastruktural-isme, bergantung pada pilihan. Hanya, daerah mana yang patut mendapat perhatian khusus, dan daerah mana yang mungkin dapat kita kesampingkan dahulu. Dengan begitu, kita dapat lebih leluasa memperlakukan teks secara proporsional dan sesuai dengan kesanggupan interpretasi masing-masing pembaca. Inilah salah satu cara kearifan kita dalam mendekati sebuah teks.

Dalam konteks peta novel Malaysia, misalnya, Syumul tentu saja dapat pula kita perlakukan sebagai teks yang independen, terlepas dari sosio-kultural dan teks lain yang mendahuluinya. Meskipun demikian, cara ini akan menyulitkan kita ketika melihat dan menempatkannya dalam peta novel dan sejarah panjang yang terjadi dalam kesusastraan Malaysia modern. Keterkaitan Syumul dengan teks-teks yang mendahuluinya justru menjadi penting lantaran Syumul yang lahir kemudian (1999) hanya mungkin dapat kita tempatkan dalam kotaknya sendiri, jika kita men-coba menelusuri teks-teks lain sebelumnya yang dihasilkan novelis Malaysia lainnya.

Kehadiran Syumul memang memperlihatkan kesungguhan dan keseriusan pengarangnya untuk ?berbeda? dengan novel yang pernah terbit sebelumnya. Tam-pak bahwa pengarang sengaja mengolah fakta sosio-kultural dengan memanfaatkan berbagai potensi bahasa. Selain itu, pengarang juga berusaha mengangkat realitas faktual dan membalurinya dengan realitas imajinatif. Akibatnya, hampir semua peristiwa yang diangkat dalam novel ini terkesan melompat-lompat ke sana ke mari, bertumpang-tindih, bahkan seolah saling menyergap; peristiwa yang satu disergap peristiwa lain, demikian juga sebaliknya. Jadi, novel ini secara keseluruhan dibangun oleh berbagai peristiwa yang terus bertumpang tindih dan sergap-menyergap, meski peristiwa itu sebenarnya hanya kegelisahan dan kekacauan pikiran tokoh-tokohnya.

Dalam hal yang menyangkut usaha pengarang memanfaatkan keliaran ima-jinasi, Syumul kiranya dapat ditempatkan dalam kotak yang sealiran dengan Othman Puteh. Jika Puteh memperalat segala benda apapun; embun, pasir, ombak, batu, dan semacamnya, atau naluri baik-buruk, untuk kepentingan pengembaraan imajinasinya, maka Nordin menggunakannya untuk membebaskan imajinasinya dari keterbatasan ruang dan waktu. Kekarutan pikiran, kegelisahan batin atau bayangan yang kadang kala menerjang tidak terduga yang dihadapi tokoh-tokoh yang digambarkan Nordin, boleh menembusi segala ruang dan segala waktu.

Sementara itu, jika kita menempatkan Syumul di dalam kotak yang sealiran dengan karya-karya Shahnon Ahmad, maka itu terletak pada usaha Nordin untuk mengangkat realitas psikologis ?kegelisahan, kecauan pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya. Meski demikian, realitas psikologis yang dimanfaatkan Nordin, tidaklah mendominasi keseluruhan wacana teksnya. Nordin tak memusatkan perhatian pada realitas psikologis, tetapi justru mengembalikannya pada realitas imajinatif. Dalam pada itu, tampak pula adanya style A. Samad Said, khasnya sebagaimana yang terdapat dalam Hujan Pagi, untuk membaluri beberapa pikiran tokoh-tokohnya dalam kerangka halusinasi.

Dalam konteks peta novel Malaysia, jelas, Syumul telah ikut memperkaya style yang pernah diperlihatkan novelis sebelumnya. Meskipun demikian, mesti di-camkan, Nordin bukanlah pengekor, bukan epigonis. Ia hadir dengan keberanian-nya memanfaatkan keliaran imajinasi dan keserbamungkinan penggalian kekayaan bahasa. Jadi, penguasaan realitas sosio-kultural, ia salurkan melalui usahanya meng-gali berbagai kemungkinan sintaksis.
***

Novel Syumul bercerita tentang persaingan bisnis telekomunikasi yang dihadapi perusahaan Hytech Communication (HC) dan Syumul Teknologi Tinggi (STT). Persaingan itu kemudian bermuara pada acara Seminar Commonwealth Te-lecommunication Council (CTC), sampai menjelang peluncuran satelit Malsat A-1. Sesungguhnya, persaingan itu muncul lebih disebabkan oleh urusan pribadi elite pe-gawai-pegawai di perusahan itu. Terjadinya pemecatan pegawai, perebutan jabatan, dan sikut-menyikut di antara mereka, telah menyebabkan komunikasi (:manajemen) di lingkungan perusahaan berjalan secara tidak sehat. Bahkan, usaha penyingkiran pegawai yang dipandang dapat menjadi ancaman dan membahayakan kedudukan pribadi, dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan menyebarkan fitnah, sa-botase dan usaha pembunuhan. Masalah inilah yang menjadi tema sentral novel ini.

Tema persaingan itu ternyata hanyalah sebagai alat bagi pengarang untuk mengungkapkan berbagai karakter, sebagaimana yang ditampilkan pada watak tokoh-tokohnya. Keserakahan, ambisi, arogansi, kelicikan, kemunafikan, percaya diri, rendah diri, egoistik, kearifan, kedewasaan, solidaritas, dan sifat-sifat manusia lainnya, muncul dengan latar belakang dan latar depan kepentingan masing-masing. Akibat terjadinya persaingan yang tidak wajar itu, maka perusahaan telekomunikasi yang harusnya menciptakan jalinan komunikasi yang baik, justru malah menghadir-kan keterputusan komunikasi. Perusahaan telekomunikasi itu ternyata tidak lagi mampu menjalin komunikasi. Hubungan setiap pegawai hampir selalu dihadapkan pada tulalit (miskomunikasi). Di antara persoalan itu, terjadi pula perselingkuhan di antara mereka. Dalam konteks ini, masalah perselingkuhan yang lazimnya menjadi wacana kaum lelaki, kini malah menjadi wacana kaum wanita. Dalam masalah ini, yang menjadi objek perselingkuhan justru kaum laki-laki, dan bukan kaum wanita.

Masalahnya kemudian semakin rumit ketika berbagai masalah psikologis, trauma masa lalu, dan serangkaian bayangan ketakutan, kecemasan, dan kekarutan pikiran melanda masing-masing tokohnya. Mengingat soalan itu semua tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka pikiran mengenai hal tersebut bisa saja muncul secara serempak, tiba-tiba atau terpenggal-penggal. Akibatnya, peristiwa demi peristiwa yang membangun jalinan cerita novel ini, terkesan fragmentaris, terpecah-pecah dan seolah-olah sergap-menyergap. Penggambaran pikiran dan kekacauan batin seorang tokoh tertentu, misalnya, bisa saja berkaitan dengan apapun yang dilihatnya pada saat itu, dan pada saat yang bersamaan, sangat mungkin pula melompat ke masa lalu atau ke masa depan. Lompatan-lompatan pikiran dan kekacauan emosi para tokohnya inilah yang mendominasi rangkaian peristiwa dalam novel Syumul.

Puncak segala kekacauan itu kemudian berakhir manakala terjadi usaha pembunuhan yang hendak dilakukan dua orang pegawai perusahaan HC. Akibat peristiwa itu, elite pegawai perusahaan itu kemudian menyadari bahwa ada sesuatu yang salah yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, masing-masing pihak perlu memperbaiki diri dan menjaga komunikasi yang harmonis, baik dengan sesama ang-gota keluarga, maupun dengan sesama rekan sekerja. Happy ending!
***

Mencermati novel Syumul secara saksama, sesungguhnya banyak hal yang dapat kita angkat sebagai salah satu bentuk apresiasi kita terhadapnya. Bahwa novel ini memenangi hadiah khas Hadiah Novel Esso-Gapena I (1993), tidaklah berarti kita berhenti mempertanyakannya secara kritis. Lalu, dalam hal apa saja kelebihan novel ini, sehingga ia mendapat penghargaan seperti itu? Dalam hal apa pula yang menempatkan novel ini menjadi penting dan (mungkin) menjadi salah satu tonggak yang perlu dicatat dalam perjalanan novel Malaysia modern?

Secara intrinsik, novel ini memperlihatkan sejumlah eksperimen yang dilaku-kan pengarang. Berdasarkan tokoh-tokoh yang ditampilkan, misalnya, pengarang secara konsisten tidak memfokuskan pada diri tokoh tertentu. Dari bagian satu sampai bagian 14, kita masih agak sulit untuk menentukan, siapakah tokoh utama novel ini. Fokus penceritaan (focus of narration) sama sekali tidak diarahkan pada satu tokoh tertentu. Meskipun tokoh-tokoh penting yang ditampilkan berkisar pada diri tokoh Aku-Leonei-Juwairiah, Erika Bacia, Sovisir, Wardah, Faezah, Hadzim, Ahim, atau Syed Hakim, dan beberapa tokoh lainnya, masing-masing mendapat porsi yang cukup berimbang dalam mengungkapkan kegelisahan dan berbagai konflik batin yang dialami tokoh-tokoh tersebut. Akibatnya, sampai bagian ke-14, kita (pembaca) masih belum dapat menentukan, siapa tokoh utamanya.

Kemampuan pengarang dalam menyembunyikan tokoh utama novel ini, ten-tu saja dimungkinkan oleh hadirnya setiap tokoh dengan problem psikologisnya dan kekacauan pikiran mereka sendiri. Kondisi demikian itu kemudian dibaluri pula oleh lompatan-lompatan pikiran masing-masingnya yang terkesan tumpang-tindih dan berlari di antara masa lalu, masa kini, dan kekalutannya dalam menghadapi masa depan. Dengan begitu, pengarang tampaknya sengaja mengumbar pikiran tokoh-tokohnya untuk menerobos dan tidak lagi terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Mengingat pikiran dan perasaan masing-masing tokoh itu dibebaskan dari ikatan ruang dan waktu, maka sesungguhnya novel ini dibangun oleh serangkaian peristi-wa yang mungkin benar-benar terjadi atau sebenarnya hanya ada dalam pikiran dan perasaan tokoh-tokoh itu. Tambahan pula, di antara lompatan-lompatan pikiran, kegelisahan dan konflik batin mereka itu, muncul pula monolog-monolog panjang yang berfungsi mendukung peristiwa batin tokoh bersangkutan. Belum lagi dengan adanya komentar atau keterangan-keterangan tambahan yang sengaja diselipkan di sana-sini yang kadang kala dimaksudkan untuk memperkuat gambaran kegelisahan yang sedang dialami tokoh-tokoh yang bersangkutan.

Perhatikan, misalnya, kutipan berikut:
?Mujur juga, waktu menghadapi pelbagai tohmahan yang terdahulu, Juwairiah datang,? fikir Leonei. Dan Juwairiah telah ?.

? Aduh! Siapa Juwairiah kepada Leonei? Siapa, siapa, siapa?
? mengajar dan mendorong Leonei agar lebih berhati-hati dan matang. Lebih berhati-hati apabila menjalin hubungan dengan Juwairiah. Lebih matang dalam mengukuhkan ?jambatan kepercayaan? yang terbina antara dirinya dan Juwairiah. Dan, gamitan teknologi tinggi sekali gus menumbuhmekarkan harapan Juwairiah kepada dirinya. Semakin tabah Leonei menghadapi pelbagai masalah yang mendatang, dengan kehadiran Juwairiah.
?Contohilah orang yang dinamik yang berminat mengubah keadaan dan berazam untuk mengurangkan kerugian, sebaik mungkin ? dalam masa kecemas-an,? itulah yang Juwairiah pernah tegaskan kepadanya. (hlm. 2-3)

Ada empat tanda baca yang digunakan untuk mengawali kalimat-kalimat da-lam kutipan di atas, yaitu tanda petik tunggal (?), tanda petik (?), tanda elipsis (?), dan tanda pisah (?). Secara konsisten dalam keseluruhan novel ini, pengarang memanfaatkan tanda-tanda baca itu untuk menggambarkan, betapa dalam saat dan peristiwa tertentu, pikiran dan perasaan seorang tokoh dapat berlari melewati ruang dan waktu. Tanda petik tunggal (?), misalnya, digunakan pengarang sebagai ujaran atau pernyataan yang muncul dalam pikiran atau perasaan tokoh bersangkutan. Hal tersebut menjadi lebih jelas dengan adanya keterangan: ?fikirnya, desis hatinya atau jerit batinnya. Jadi, tanda petik tunggal dimaksudkan sebagai sebuah monolog atau lompatan pikiran tokoh yang bersangkutan.

Sementara itu, tanda petik (?), sebagaimana lazimnya, dipakai untuk menun-jukkan adanya dialog atau perkataan tokoh lain. Hanya, dialog itu sendiri bisa saja terjadi di masa lalu atau di masa sekarang. Sedangkan pemakaian tanda pisah (?), dimaksudkan sebagai sisipan atau keterangan tambahan. Pertanyaan ? Aduh! Siapa Juwairiah kepada Leonei? Siapa, siapa, siapa? atau keterangan ? dalam masa kecemasan, dalam kutipan di atas jelas dimaksudkan sebagai keterangan tambahan atau keterangan yang sengaja disisipkan dalam kalimat tersebut. Adapun tanda baca elipsis (?) yang ditempatkan di akhir dan awal kalimat, dimaksudkan sebagai tanda atau sinyal bahwa bagian tersebut sesungguhnya masih bersambungan. Perhatikan kembali kutipan di atas berikut ini:

?Mujur juga, waktu menghadapi pelbagai tohmahan yang terdahulu, Juwairiah datang,? fikir Leonei. Dan Juwairiah telah ?.
? Aduh! Siapa Juwairiah kepada Leonei? Siapa, siapa, siapa?
? mengajar dan mendorong Leonei agar lebih berhati-hati dan matang.

Dan Juwairiah telah ? sebenarnya berlanjut pada kalimat ? mengajar dan mendo-rong Leonei agar lebih berhati-hati dan matang. Jadi, lengkapnya kalimat tersebut harusnya sebagai berikut: Dan Juwairiah telah mengajar dan mendorong Leonei agar lebih berhati-hati dan matang. Dengan demikian, kalimat ? Aduh! Siapa Ju-wairiah kepada Leonei? Siapa, siapa, siapa? berfungsi sebagai sisipan untuk memperkuat lompatan pikiran atau imajinasi tokoh bersangkutan, yang memang bisa muncul dan menyeruak kapan dan di mana saja. Tampak pula di sini, bahwa pengarang mencoba membuat semacam eksperimen dengan penggalian-penggalian imajinasi ?yang bisa berupa monolog, dialog, atau apapun? serta usahanya meman-faatkan berbagai kemungkinan kegunaan tanda-tanda baca. Dalam hampir setiap halaman novel itu, kita akan menjumpai style yang demikian.

Cara tersebut tentu saja membawa konsekuensi tersendiri. Rangkaian cerita tidak hanya kehilangan urutan logis dan hubungan sebab-akibat, tetapi juga terkesan seperti tempelan-tempelan peristiwa yang menuntut kecermatan pembaca untuk menghubungkaitkannya sendiri dengan peristiwa lain yang sudah dipaparkan atau dengan peristiwa lain yang berikutnya. Di dalam konteks itulah, novel ini laksana penggalan-penggalan peristiwa yang sengaja disusun secara fragmentaris, sepotong-sepotong seolah-olah antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lainnya, berdiri sendiri, tanpa ada hubungan kausal (sebab-akibat) yang lazimnya menjadi salah satu ciri novel konvensional. Meski demikian, interaksi di antara tokoh-tokoh itu terjadi pada satu titik dan latar yang sama, yaitu perusahaan telekomunikasi HC dan STT dan pegunungan Kinibalu. Dengan begitu, yang menjadi pusat penceritaan novel ini adalah kedua perusahaan telekomunikasi itu dengan latar tempat pegu-nungan Kinibalu.

Pada bagian akhir (ke-15, hlm. 373), barulah kita mengetahui bahwa tokoh Leonei sesungguhnya bayangan masa lalu tokoh Juwairiah yang merupakan cucu tokoh Ahim. Dalam beberapa peristiwa, tampak pula bahwa beberapa pegawai (la-ki-laki) di perusahaan HC seperti Marius Taipun, Jeremy Kay Kay Kiew, Hadzim, dan Syed Hakim, dan beberapa pegawai wanita lain, seperti Erika, Wardah, Sovisir, dan Leonei, dapat memainkan peranannya justru dalam hubungannya dengan tokoh Juwairiah. Tokoh inilah yang dalam pandangan tokoh-tokoh lain menjadi pusat konflik. Dari sanalah kita dapat menyimpulkan bahwa tokoh utama novel ini adalah Juwairiah. Dan kesimpulan itu baru dapat kita tentukan pada bagian akhir novel itu.

Dari sudut penokohan dengan berbagai interaksinya, pengarang tampaknya sengaja lebih mementingkan tema cerita daripada karakterisasi tokohnya. Terjadi-nya kegagalan Microwave Communication Network yang dihadapi perusahaan tele-komunikasi itu, sesungguhnya merupakan paradoks dari keberhasilan manusia di bi-dang komunikasi di satu pihak, tetapi di lain pihak, gagal dalam menjalin hubungan komunikasi sebagai sesama manusia. Paradoksal yang seperti itu juga diperlihatkan oleh para pegawai telekomunikasi itu sendiri yang tidak mampu menjalin kerja sama dan hubungan yang harmonis sesama mereka. Jadi, keberhasilan manusia di bidang komunikasi ternyata malah menimbulkan masalah bagi umat manusia dalam membi-na hubungan kemanusiaan. Dalam hal inilah, perusahaan HC dan STT yang menjadi pusat penceritaan, sengaja ditempatkan sebagai tema sentral untuk menghadirkan problem kemanusiaan yang diakibatkannya dan Kinibalu sebagai simbol kemajuan yang mestinya mempersatukan persaudaraan tokoh-tokoh itu.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Di lingkungan para pegawai perusaha-an telekomunikasi, mereka mengalami problem komunikasi. Di dalam lingkungan keluarga masing-masing, mereka juga menghadapi masalah yang sama. Juwairiah, misalnya, ketika harus menerima kenyataan atas kelumpuhan suaminya, Farid, aki-bat tabrakan, ia tetap saja asyik-masyuk dengan pekerjaannya, sehingga hubungan-nya dengan suami dan anaknya, Fatini, terabaikan. Perhatikan beberapa kutipan ber-ikut: ?? sikap Fatini yang pemurung dan suka mengurung diri dan amat anti so-sial?? (hlm. 64). ?Farid juga suka mengurung diri dalam gelap ?? (hlm. 64) ?Se-perti Fatini, Farid terus tenggelam dalam dunianya sendiri; juga memutuspeng-galkan perhubungan dengan masyarakat luar termasuk Leonei sendiri.? (hlm. 65).

Selain problem komunikasi yang dihadapi tokoh-tokoh tersebut, mereka juga dihadapkan pada masalahnya sendiri. Juwairiah?Leonie acap kali mengalami kepribadian ganda: menjadi pribadi Juwairiah ketika ia berada dalam wilayah peker-jaannya di firma STT dan menjadi Leonei ketika ia dihantui masa lalu, kegelisahan, mimpi-mimpi buruk, dan gagasan untuk maju. Perhatikan kutipan berikut:

??Juwairiah ? bagi Leonei ? bagaikan kuasa elektrik, dan dirinya adalah peti televisyen. Tanpa kuasa elektrik Juwairiah ? biar bagaimana canggih sekali-pun komponen elektronik yang digunakan dalam jasad peti televisyen itu, sema-ngatnya tidak akan hidup; tanpa Juwairiah. Hanya Juwairiah yang berupaya menanam kesabaran yang bukan ?.
? Luar biasa.
? sedikit dan amat kukuh dalam dirinya. Sokongan moral, mental dan fizikal daripada Juwairiah, mampu memberikan kekuatan kepada Leonei untuk terus menghadapi hari depannya.? (hlm. 159?160).

Kepribadian ganda Juwairiah?Leonei, dianalogikan seperti aliran listrik dan televisi. Leonei (tv) tak dapat melepaskan diri dari visualisasi masa lalu, sedangkan Juwairiah (aliran listrik), senantiasa memberi semangat bagi Leonei.

Sementara itu, Erika Bacia Bahrin mengalami problem psikologisnya sendi-ri. Ia makin agresif dan paranoid (hlm. 191), dan dalam keadaan yang demikian, ia tak mau melepaskan dirinya dari kehidupan perselingkuhan (hlm. 145). Demikian juga, Wardah dan Faezah, sering kali dihantui oleh trauma pasikologis. Sedangkan Sovisir tidak dapat melepaskan dirinya dari sejarah masa lalunya yang menakutkan di tanah leluhurnya, Cekoslowakia. Di antara problem komunikasi dan problem psi-kologis itu, tokoh lain, Ahim, sibuk sendiri mengurusi surau dan jamaahnya.

Demikianlah, hampir semua tokoh wanita yang ditampilkan dalam novel ini mengalami semacam gangguan psikologis. Jika kemudian kekacauan pikiran dan gangguan psikologis itu, diungkapkan serempak dalam saat dan peristiwa tertentu, maka yang muncul kemudian adalah monolog dan dialog menjadi tidak beraturan; realitas yang dihadapi dan realitas yang terjadi dalam pikiran dan perasaan, hadir se-cara tumpang-tindih. Dalam beberapa bagian, tokoh Leonei tampil sebagai penceri-ta yang mengungkapkan hubungannya dengan ayahnya atau dengan masa lalunya.

Di akhir cerita, Leonei bertemu ayahnya yang ternyata Pak Ahim, pengurus surau di kaki Kinibalu. Leonei juga pada akhirnya menyadari kepribadian gandanya yang memunculkan sosok pribadi Juwairiah yang tegar. Tokoh inilah yang menjadi simbol wanita yang sukses dalam karier pekerjaannya, tanpa harus melupakan kewajibannya sebagai ibu seorang anak, Fatini, dan istri seorang suami, Farid.
***

Dari sudut penceritaan, Syumul berjaya mengangkat problem sosial yang di-timbulkan sebagai dampak kemajuan komunikasi melalui permainan imajinasi yang dihadapi tokoh-tokohnya. Masalah psikologis yang membaluri kepribadian tokoh-tokohnya itu, juga sesungguhnya sebagai dampak terjadinya miskomunikasi. Sebuah paradoks yang banyak menghinggapi manusia-manusia modern.

Meskipun begitu, tema cerita yang sebenarnya begitu rumit dan problematik itu, diselesaikan pengarang secara baik-baik dan setia pada tradisi. Kecenderungan akhir cerita sebagai akhir masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya, harus diakui me-rupakan salah satu ciri umum novel-novel Malaysia.

Yang mungkin merupakan ?gebrakan? dan sekaligus juga keberanian dari pengarang novel Syumul adalah masuknya masalah gender yang sangat mungkin merupakan pesan yang hendak disampaikan pengarangnya. Sejauh pengamatan, inilah novel Malaysia pertama yang mengangkat masalah gender secara transparan. Hal tersebut tampak jelas dari ketidakberdayaan tokoh-tokoh laki-laki dalam berha-dapan dengan tokoh-tokoh wanita. Tokoh Marius Taipun, Jeremy Kay Kay Kiew, Syed Hakim, Hadzim, dalam perusahaan HC, misalnya, berada di bawah kekuasaan Juwairiah. Perselingkuhan Erika Bacia Bahrin yang menempatkan kehidupan laki-laki sebagai objek permainannya memperlihatkan bahwa wacana perselingkuhan, kini tidak lagi milik dan didominasi kaum laki-laki. Jadi, dalam hal ini, wanita yang lazimnya selalu menjadi objek perselingkuhan laki-laki, kini justru ditempatkan secara sebaliknya; laki-laki yang menjadi objek perselingkuhan wanita. Kaum wanita dalam novel ini menjadi subjek dunia laki-laki.
Perhatikan kutipan berikut:

Erika Bacia Bahrin yang telah enam kali berkahwin dan bercerai dengan lelaki-lelaki tempatan juga lelaki-lelaki dari negara Eropah, sebelum menjadi janda sekarang. Cuma perkahwinan-perkahwinannya itu agak sukar berkekalan; tempoh satu-satu perkahwinan antara dua minggu hingga enam bulan, sebelum Erika kembali ke minat asalnya, Hadzim. Ternyata, tidak satu pun perkahwinan-nya menghasilkan anak, dan Leonei akui, barangkali inilah yang merupakan suatu hakikat sejarah yang memilukan bagi setiap wanita. Dan Kemudian, sudah ?.

? Bagaimana dengan perhubungan antaramu dan anakmu dan Farid? Apakah cukup membahagiakan? ?Kebahagiaan hidup bagi seorang wanita, tidak semestinya terletak kepada orang lelaki ataupun anak yang lahir dari rahimnya saja ? sebaliknya dari dalam diri sendiri. Percayalah, kebahagiaan, keberanian, semangat, ketabahan ? sebenarnya tidak membezakan jenis jantina.? Dia teringat Juwairiah pernah berkata begitu.

? beberapa kali pula Erika ditahan sama ada di tanah air mahupun di Eropah ? akibat memandu ketika mabuk, sebelum ini. Memandu ketika bersama- sama salah seorang kekasih-kekasih sambilannya yang disewanya secara tunai itu. (hlm. 145?146).

Kutipan di atas memperlihatkan, betapa tokoh Erika Bacia boleh sesuka hatinya ?mempermainkan? lelaki. Bahwa Erika kembali ke minat asalnya, Hazdim, atau ia dapat menyewa kekasihnya secara tunai, makin mengukuhkan peranan yang dimainkan Erika sebagai subjek perselingkuhan, dan kaum lelaki sebagai objeknya.

Peran superioritas kaum wanita dan inferioritas kaum lelaki, diperlihatkan pula pada ketokohan Juwairiah yang menggantikan kedudukan Farid, suaminya, di dalam keluarga. Juwairiah juga berjaya memainkan peranannya sebagai wanita di dalam kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan keluarga. Dengan demikian, keto-kohan Juwairiah menunjukkan peranan kaum wanita yang sesungguhnya tidak kalah dengan kaum lelaki. Perhatikan dialog Juwairiah dengan Wardah yang membin-cangkan Farid, suami Juwairiah, berikut ini:

?Wardah, bagiku, masalah seperti itu ? jika ia benar-benar suatu kenyata-an ? hanya masalah remeh-temeh ? barangkali,? ujar Juwairiah, lembut. Air mu-kanya sayu pilu. ?Lagipun, aku tak punya kekuatan untuk memulakan hidup baru. Kerana seluruh kekuatan yang ada padaku, aku curahkan untuk menaikkan taraf-ku di matanya ? dengan membina kerjaya yang lebih meyakinkan.?
?Biarpun lelaki itu memandang rendah terhadap kerjayamu??
?Hah, bukankah itu namanya ?lelaki?? Ah, aku tak hairan lagi. Aku tak kisah pun. Kebanyakan lelaki sama saja.?
?Kecuali Syed Hakim?? soal Wardah, mengusik.
?Ya, kecuali dia. Tapi sebahagian besar lelaki yang lain ? ego melebih segala-galanya; tak mahu mengaku kalah, biarpun sudah kecundang,? tingkah Juwairiah, penuh emosi. (hlm. 43?44).

Pada halaman-halaman lain dalam novel itu, persoalan dominasi laki-laki sering kali digugat dan dibalikkan. Inferioritas wanita diganti dengan superioritas. Peranan laki-laki dalam kehidupan bisnis perusahaan, dalam kehidupan sosial, dan dalam kehidupan keluarga, dipinggirkan, dan digantikan oleh peranan wanita. Per-hatikan juga kutipan di bawah ini:

?Aku bebas, bebas ? bebaaas ?!? jeritku, tanpa sedar. Entah mengapa, tiba-tiba terasa tubuhku meruap panas, dadaku dikobarkan oleh nafsur berahi, seolah-olah emosiku sedang dilanda badai asmara yang membara berpanjangan; emosi yang terpenjara akibat sikap ketidakadilan ?dia? dan mereka yang sejenis dengan ?dia?; emosi yang kini bangkit kembali dengan kematian?dia?. (hlm. 125)

Meski pengarang, lewat tokoh-tokoh wanitanya, bermaksud menyampaikan pesan yang menyangkut masalah gender, seperti yang diperjuangkan kaum feminis, ia tidaklah seekstrem pesan gerakan feminisme radikal. Tokoh Juwairiah masih mau bertolak ansur, melakukan kompromi dan kadangkala mengalah pada suaminya, menunjukkan bahwa pengarang masih toleran menempatkan kedudukan wanita se-cara proporsional. Gambaran tokoh Juwairiah yang akhirnya kembali lebih memen-tingkan keluarga daripada profesi, dan menghargai suaminya sebagai ?suami?, boleh jadi merupakan representasi sikap pengarangnya mengenai masalah tersebut.
***

Demikianlah, pemaparan di atas sekadar menunjukkan, betapa novel Syumul menyimpan begitu banyak masalah. Sebuah novel yang sangat kaya dengan makna dan simbol-simbol. Sosok tokoh abstrak, ?Pengait Canggih? misalnya, dapat saja ditafsirkan sebagai tokoh biangkerok, tetapi bisa juga dimaknai sebagai simbolisasi munculnya kemungkinan terjadinya tulalit (miskomunikasi) atau keterputusan komunikasi. Tetapi di bagian lain, ?Pengait Canggih? dikatakan sebagai bank yang mencekik, bahkan memenggal seseorang yang terlibat utang-piutang (hlm. 132). Demikian juga, istilah Singkowoton dikatakan sebagai mahkota kegadisan bagi se-orang wanita, tetapi di bagian lain, dikatakan pula bahwa Singkowoton adalah tengkorak antik yang diperlakukan sebagai azimat atau benda sejenis itu. Bagi Sovi-sir, ingatannya pada Singkowoton justru sangat mengganggu dan menggelisahkan. Begitulah, beberapa istilah atau ungkapan tertentu dalam novel ini, sering kali digu-nakan sebagai simbol-simbol tertentu yang erat kaitannya dengan kegelisahan dan konflik batin tokoh-tokohnya.

Pembicaraan ini tentu saja sama sekali tidak dapat mengungkapkan keselu-ruhan problematik yang terdapat dalam novel Syumul. Berbagai usaha eksperimen-tasi tampak secara sungguh-sungguh dilakukan pengarang, mulai dari pemanfaatan tanda baca, penciptaan kata-kata baru, ungkapan dan kata-kata bersayap, analogi, dan berbagai majas lainnya, serta unsur-unsur intrinsiknya, yang menjadikan novel ini begitu banyak menyimpan kekayaan.

Jika ada catatan kritis terhadap novel itu, barangkali masalahnya terletak pa-da penggambaran karakter tokoh Juwairiah?Leonei yang kadang kala memuncul-kan dua tokoh yang berbeda dengan karakter yang juga berbeda. Tujuan menggam-barkan kepribadian ganda Juwairiah?Leonei, menjadi kurang meyakinkan ketika di akhir cerita Leonei tiba-tiba menjadi Juwairiah tanpa ada proses psikologis yang melatarbelakanginya. Demikian juga penggambaran kepribadian Erika?Sovisir ma-lah menimbulkan soalan, apakah Erika juga menghadapi masalah kepribadian ganda atau Erika-Sovisir memang dua tokoh yang berbeda.

Di luar persoalan tersebut, Syumul tidak bisa tidak, niscaya menempati ke-dudukan penting dalam peta novel Malaysia modern. Sebuah prestasi yang memang pantas mendapat penghargaan. Tahniah!

*) msm, 21/8/2000. Pensyarah FSUI, Depok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *