Kartini dari Negeri Kanguru

Fabiola D. Kurnia*
http://www.jawapos.com/

Kita tidak pernah membayangkan bahwa dari Negeri Kanguru telah lahir seorang Kartini. Itulah Molly Werner Bondan, wanita Australia yang hijrah ke Indonesia mengikuti sang suami, Mohammad Bondan. Dia rela meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih menetap di Indonesia. Molly terbang dari Darwin pada 12 November 1947 menuju Surabaya untuk membuktikan seluruh bakti dan nasionalitas keindonesiaannya.

Kisah itulah yang disuguhkan buku In Love with A Nation (dituturkan dalam kata-kata Molly sendiri). Buku ini diterbitkan Yayasan Obor Indonesia pada akhir 2008 bekerja sama dengan Australia-Indonesia Institute, diedit oleh Joan Hardjono-Charles Warner dan diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.

Sebagian orang Indonesia mengenal Multatuli alias Douwes Dekker sebagai orang asing yang berjuang untuk tanah yang bukan tanah airnya. Nah, seperti itu jugalah Molly Bondan. Di buku ini, Molly menyebut dirinya bukan orang asing di Indonesia. Dia adalah orang ”kecil” yang memainkan peran kecil, yang bersama orang-orang kecil lainnya berusaha membantu perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan hingga pasca-kemerdekaan.

Molly Bondan, ketika masih tinggal di negaranya bergerak aktif di bagian penerangan Asosiasi Indonesia-Australia. Lembaga itu beranggotakan orang-orang Indonesia eks-tawanan perang Belanda yang dibuang ke Boven Digul. Mohammad Bondan adalah salah seorang tawanan politik Belanda kala itu. Bondan dipenjara dan diasingkan ke Boven Digul karena kegiatannya di bidang pendidikan. Dia menjadi anggota Asosiasi Pendidikan Nasionalis Indonesia yang dipimpin Mohammad Hatta dan Syahrir. Dari Digul, Bondan dibawa Belanda ke Australia bersama warga Indonesia lainnya sebagai ”barang” rampasan Belanda ketika Jepang menduduki Indonesia.

Di Asosiasi Indonesia-Australia, tugas Molly me-relay berita-berita pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia dari The Voice of Indonesia, stasiun RRI Jogjakarta, yang disebarluaskan ke banyak Negara agar memperoleh perhatian dunia mengingat tindak kekejaman penjajah Belanda. Buku ini juga mengisahkan bagaimana Molly melihat di balik senyum dan tawa orang-orang Indonesia di pengasingan tersirat penderitaan dan kegelisahan yang mereka sembunyikan.

Hasil nyata dari relay Molly adalah pelarangan kapal-kapal Belanda bersandar di semua pelabuhan Australia, yang kemudian menyebar hampir di seluruh pelabuhan dunia.

Ketika sudah di Indonesia, Molly membantu siaran bahasa Inggris The Voice of Free Indonesia, di RRI Jogjakarta. Saat itu RRI Jogjakarta menyiarkan berita-berita ke luar negeri dalam tujuh bahasa asing: Inggris, Prancis, Belanda, Arab, Mandarain, Urdu, dan Jerman.

Molly juga pernah bergabung di RRI Jakarta. Dia mendapat tugas membawakan program mingguan Open Letters atau Surat Terbuka yang menyiarkan gambaran kondisi dalam negeri Indonesia kepada orang-orang di luar Indonesia. RRI juga meminta Molly untuk menangani program pendidikan Indonesian by Radio, pelajaran bahasa Indonesia bagi orang-orang asing di Jakarta selama 20 menit dua kali seminggu.

Molly sangat bangga dan hormat kepada para pemimpin Indonesia yang bijak dan beruntung karena mendapat dukungan rakyat, sehingga negeri ini tetap utuh. Bagaimana hebatnya rasa takut dan rasa etnosentris yang ditanamkan penjajah kepada rakyat jelata dan para pemimpinnya dengan maksud untuk memecah-belah kesatuan dapat ditepis dengan kesadaran dan kecintaan mereka pada bumi pertiwi.

Totalitas pengabdian Molly pada Indonesia tecermin langsung dari posisinya sebagai pegawai negeri di Kantor Kementerian Penerangan dan Departemen Luar Negeri dalam kurun waktu yang cukup lama (1951-1968). Perasaan pas di bidang pekerjaan dan sambutan teman-teman sejawat membuat Molly semakin betah tinggal di Indonesia. Molly seperti menemukan jati dirinya di Indonesia.

Bahkan, kehebatan Molly mampu menyedot perhatian Presiden Soekarno. Akhirnya, Molly pun dipanggil dan diminta ikut mengedit dan menyiapkan pidato kenegaraan presiden. Molly juga menerjemahkan materi kuliah Bung Karno tentang Marhaenisme ke bahasa Inggris untuk peringatan ulang tahun ke-13 Partai Nasionalis Indonesia di Bandung pada 3 Juli 1957.

Molly juga diminta penerbit PT Gunung Agung untuk mengedit biografi setengah resmi Presiden Soeharto: The Smiling General. Tahun 1983, dia juga membantu Mendagri Supardjo Rustam untuk menerbitkan buku-buku kebudayaan Indonesia dalam bahasa Inggris. Di antaranya Candi-Candi di Jawa Tengah, Borobudur, Wayang Purwa, Lordly Shades, dan banyak lagi.

Saat Indonesia mengadakan pemilu pertama pada September 1955, Molly merekam sejarah penting bagi bangsa ini. Jakarta kala itu mempunyai penduduk 1,8 juta jiwa dengan enam kursi di parlemen. Kurang satu suara saja dapat menggagalkan partai peserta pemilu, yang jumlahnya lebih dari seratus, mendapatkan kursi. Hasilnya memang banyak partai kecil yang sama sekali tidak memperoleh kursi di parlemen.

Setelah pensiun dari pekerjaan rutin di pemerintah, Molly memilih menjadi penulis. Dia secara teratur menulis untuk Koran Kami dengan topik Pancasila dan masalah kebangsaan lainnya.

Banyak hal penting dalam buku In Love with A Nation yang sayang apabila dilewatkan begitu saja. Molly Bondan menarasikan tuturannya baik dari sudut pandangnya sebagai orang kecil maupun dari sudut pandang lawan-lawannya.

Meski tidak sedikit yang memandang keputusan Molly pindah ke Indonesia dengan caci-maki, banyak pula yang memuji. Dia telah membuktikan diri sebagai nasionalis sejati hingga akhir hayatnya pada 1990. (*)

*) Guru Besar Sastra FBS Universitas Negeri Surabaya

Judul Buku : Molly Bondan: In Love with A Nation
Penulis : Joan Hardjono-Charles Warner
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal: XVII dan 297 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *