Ketika Cinta Didefinisikan dengan Jenis Kelamin

Judul : Garis Tepi Seorang Lesbian
Penulis : Herlinatiens
Penerbit : Galang Perss, Yogyakarta, Cetakan Pertama, April 2003
Tebal : xxiii + 323 halaman
Peresensi: Islah Gusmian
http://www2.kompas.com/

ORIENTASI seksual pada sesama jenis, baik itu gay maupun lesbian, bukanlah fenomena baru di masyarakat kita. Sejak zaman dulu, dunia seksual semacam ini telah ada. Di Aceh, sebagaimana dilaporkan Snouck Hurgronje dalam The Achehnese, ada kesenian rateb sadati yang merepresentasikan dunia homoseksual. Serat Centhini, naskah sastra Jawa klasik awal abad ke-19, juga menggambarkan tentang adanya persetubuhan dan percintaan antarlaki-laki.

Namun, karena dunia masyarakat kita didominasi sistem sosial dan budaya heteroseksual, yang muncul kemudian adalah sikap sebelah mata terhadap dunia homoseksual, gay atau lesbian. Muncullah klaim-klaim sinis terhadapnya: menyimpang, sakit, tidak bermoral, tidak normal, dan seterusnya.

Buku Garis Tepi Seorang Lesbian ini adalah sebuah novel yang menampilkan dunia lesbian dalam sebuah karya fiksi: dunia yang sejauh ini dimarjinalkan, dianggap tak bermoral dan tidak normal tersebut. Seperti dijelaskan Herlinatiens, penulis novel ini, dalam Kata Pengantar-nya, kisah yang ada di dalamnya fiksi belaka.

Akan tetapi, struktur gagasan dan kasusnya bukanlah semata-mata fiksi, tetapi memang ada, dan oleh dia lalu diracik dengan kekuatan imajinasi. Dalam menemukan dan mendokumentasikan gagasan itu, Herlinatiens melakukan “ziarah” ke dalam dan menelusuri dunia lesbian.

KISAHNYA dimulai dengan tokoh bernama Asmora Paria, sebagai tokoh protagonis. Paria ini mencintai sesama jenis, Rie Shiva Ashvagosha. Meskipun banyak laki-laki dan perempuan yang mengajukan cinta kepadanya, kecintaan Paria tetap hanya untuk Rie.

Pada akhirnya, kisah percintaan Paria dengan Rie ini diketahui keluarganya. Semua anggota keluarganya tidak setuju, marah, bahkan melaknat, terutama ibu Paria. Sebagai keluarga Muslim yang taat dan terhormat di masyarakat, ibu Paria jelas tak ingin tercoreng nama keluarga besarnya karena perilaku anaknya yang nyempal. Ayah Paria pun sakit-sakitan, bukan karena usia yang menggerogotinya, tapi karena anaknya terus dimusuhi anggota keluarganya.

Paria di garis tepi eksistensinya telah kehilangan pilihan dan otonomi kecintaannya. Ia lalu mengambil pilihan pahit: menikah dengan laki-laki, Mahendra. Mahendra, bagi Paria, cukup sesuai dengan idaman keluarganya. Ia laki-laki kantoran, ganteng, kaya, dan terhormat.

Mengapa Paria nekat mengambil jalan ini? Bertahun-tahun ia tak bertemu dengan Rie, perempuan yang dicintainya itu. Kabar terakhir yang ia terima, Rie ternyata juga dipaksa oleh keluarganya untuk menikah dengan Renne, seorang laki-laki tambun.

Hari perkawinan sudah ditentukan. Kedua keluarga juga sudah setuju. Di detik-detik penghujung perkawinan itu, Paria menerima surat dari Rie yang ada di Perancis. Mereka ternyata masih saling merindu dan mencintai. Paria akhirnya berbalik arah: bukan pergi ke Surabaya melangsungkan pernikahan dengan Mahendra, tetapi ke Perancis menemui Rie untuk menyatukan kembali cintanya.

TEMA yang diangkat Herlinatiens dalam novel ini sebenarnya hal biasa. Namun, di tengah hegemoni masyarakat heteroseksual, tema ini menjadi rawan dan eksklusif. Menjadi lesbian adalah suatu keputusan seksual yang di masyarakat kita, sejauh ini, dipandang sebagai hal yang menjijikkan, tidak normal, dan menyimpang, yang atas nama moral mereka itu dipandang sebagai subyek yang harus diselamatkan, diluruskan, dan disembuhkan.

Dengan mengangkat tema ini, Herlinatiens hendak menunjukkan kepada kita, terutama masyarakat heteroseksual, bahwa cinta dan orientasi seksual kepada sesama jenis merupakan suatu realita, gay maupun lesbian. Lewat tokoh Paria, ia ingin menepis suatu anggapan umum di atas.

Dunia lesbian itu bukan dunia kelainan dan bukan tak normal. Ia adalah bagian dari keragaman orientasi seksual yang ada di masyarakat, bukan sebagai ketidaknormalan yang harus diobati, tetapi sebagai keragaman yang harus dihargai dan dihormati.

Lewat novel ini, Herlinatiens juga menegaskan bahwa cinta tidak harus didefinisikan dengan jenis kelamin. Dunia ini adalah tempat menebar kasih sayang, mempersembahkan cinta untuk seseorang. Mempersiapkan diri untuk dicintai orang lain dan mempersiapkan diri untuk mencintai orang lain.

Tokoh Paria ini oleh Herlinatiens juga dikonstruksikan sebagai sosok yang taat beragama. Ia menjalani setiap detik-detik kehidupannya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan dan melafalkan ayat-ayat suci dengan penuh cinta (hal 249). Selain itu, ia juga bukan sosok pemuja seks bebas. Sensualitas yang dia bangun dalam dirinya tergapai karena cinta, bukan nafsu belaka (hal 50).

Dengan citra-citra semacam itu, novel ini ingin bicara bahwa tekanan psikologis pada diri seorang lesbian semata-mata bukan datang dari dalam diri mereka, tetapi dari sikap masyarakat yang jijik terhadap mereka. Sikap Paria untuk memutuskan menikah dengan Mahendra adalah salah satu akibat dari tekanan yang didesakkan masyarakat heteroseksual itu.

Pada sisi lain, lewat novel ini, Herlinatiens juga menyobek topeng-topeng kemunafikan yang selama ini dipakai orang heteroseksual. Ada agamawan yang bicara atas nama moral, tetapi mereka sendiri tak bermoral. Misalnya, sosok Rafael yang dikonstruksikan sebagai seorang Romo Katolik yang mencintai perempuan secara sembunyi-sembunyi, padahal Romo itu tidak boleh menikah.

Juga, tak sedikit orang hetero yang suka ganti-ganti pasangan, hilir mudik masuk penginapan dengan tanpa beban dosa, dan mereka yang suka “jajan” di tempat pelacuran. Di mana dan bagaimana mereka sebetulnya memaknai cinta yang mereka agung- agungkan?

Dengan struktur pengisahan yang tidak linier dan tidak mempertimbangkan logika struktur historis, novel ini tampil unik dan khas. Logika perenungan, yang dikemas dalam dialog sang aku utama dengan tiga tokoh: Rafael, Rie Shiva Ashvagosha, dan Gita Bayuratri, secara bergantian, menjadikan novel ini menempati genre tersendiri. Juga, gaya bahasanya yang puitik dan ritmik dengan pemilihan diksi-diksi yang penuh makna, mampu mengasah daya imajinasi pembaca.

*) Pencinta buku, tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *