Main-Main, tapi kok Serius

Arif Zulkifli
http://majalah.tempointeraktif.com/

Renny merayakan ulang tahunnya dengan mementaskan Tumirah Sang Mucikari. Sebuah naskah kritik sosial dalam teater yang digarap dengan kurang bermain-main.
Tumirah Sang Mucikari
Sutradara : Renny Djajoesman
Skenario : Seno Gumira Ajidarma
Penata Musik: Fariz R.M.
Pemain : Renny Djajoesman, Budi Setiono, Ria Probo, Andi Bersama
Produksi : Teater Yuka

“Tumirah namaku. Germo pekerjaanku. Sudah tua aku sebenarnya. Empat puluh tahun…. Dan aku sudah pensiun sejak beberapa tahun lalu…. Tidak ada lagi yang bisa kukerjakan sekarang selain jadi germo…. Yeah. Dunia selalu membutuhkan pelacur. Profesi yang tertua, kata orang. Aku bukan ahli sejarah, tapi aku setuju, selama manusia lahir masih dengan alat kelamin, pelacuran akan tetap ada.”

PANGGUNG gelap. Cahaya masuk remang-remang. Tumirah, sang muncikari, berkumpul dengan pelacur-pelacur anak asuhnya di sebuah rumah bordil di pinggir hutan. Ornamen panggung yang warna-warni tapi suram menunjukkan sebuah dunia hitam.

Lakon Tumirah Sang Mucikari garapan sutradara Renny Djajoesman di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat pekan lalu, memang bercerita tentang perjalanan hidup seorang germo. Sehari-hari ia mengasuh pelacur-pelacur yang melayani nafsu tentara pemerintah dan gerilyawan yang bertempur di sebuah hutan. Nasib malang datang, serombongan ninja mengobrak-abrik rumah bordilnya. Para pelacur diperkosa. Suasana jadi kacau karena para ninja tak pernah bisa dikenali. Suasana jadi saling curiga. Dan ketika seseorang berpakaian hitam ditemukan, masyarakat yang sedang marah semakin mendidih. Mereka mengeksekusi para ninja. Belakangan, setelah ninja itu remuk, mereka baru sadar bahwa mereka salah pukul. Mayat itu ternyata adalah Sukab, pelanggan tetap rumah bordil dan pacar Tumirah. Para ninja tertawa. Politik adu domba telah mengalahkan akal sehat. Kemarahan telah menafikan cinta.

Sebagai sebuah cerita, lakon Tumirah Sang Mucikari tidak istimewa. Seno Gumira Ajidarma, penulis skenario, dipesan Renny untuk membuat naskah yang akan dipentaskan untuk merayakan ulang tahun ke-40 penyanyi itu. Seno mencicil naskahnya. Pertama-tama sebulan lalu. Sisanya baru ia rampungkan saat libur Lebaran. Walhasil, ini memang proyek kebut-kebutan.

Tapi bukan cuma karena soal itu kalau pementasan ini terkesan kurang marem. Seno dalam naskahnya ingin mengetengahkan persoalan serius dengan cara main-main. Ada pemerkosaan massal, ada pembunuhan misterius, ada ninja, ada politik adu domba. Ini memang ciri Seno yang terutama tampil dalam cerpen-cerpennya dalam beberapa tahun terakhir. Wakil Pemimpin Redaksi majalah Jakarta-Jakarta itu ingin menjadikan cerpen, juga sastra secara keseluruhan, sebagai bentuk lain dari penyampaian fakta. Ketika berita tidak bisa bicara, sastra yang harus menggantikannya, itu yang juga pernah disampaikannya melalui kumpulan eseinya, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.

Namun Renny mengolah guyonan Seno ini dengan main-main yang serba tanggung. Ia tidak serius bermain-main. Akibatnya, pengadeganan jadi kagok. Ada celetukan pelacur yang sarkastis dan menggelitik, tapi tiba-tiba Tumirah bangkit dengan pidato-pidato filosofis. Potongan adegan Tumirah diinterogasi intel, yang lucu dan ringan, yang dalam naskah digunakan Seno sebagai penutup pementasan, justru dipindah Renny ke bagian tengah. Seno ingin menutup pementasan dengan ringan, lucu. Tapi, di tangan Renny, penutupan jadi terlalu serius.

Tentu saja ”kesalahan” tidak bisa hanya dilimpahkan pada interpretasi Renny terhadap naskah. Di lain pihak, Seno sendiri tampak tidak mulus mengaduk ”keseriusan fakta” dan ”ketidakseriusan fiksi” dalam naskah teater, seperti yang?dengan apik?dilakukannya pada medium cerpen. Bagaimanapun, medium cerpen dan teater punya karakter yang berbeda. Dan Seno gagal menyiasati perbedaan ini.

Dalam hal kualitas pemain, pementasan ini tidak menunjukkan adanya aktor yang menonjol. Renny menjadi pusat pertunjukan, selain karena ia pemain utama, juga karena ia seolah memainkan dirinya sendiri. Vokal Renny yang kita temukan di panggung adalah vokal dirinya sehari-hari: cempreng, keras, dan menusuk. Ria Purbo, yang bermain sebagai pelacur bernama Lastri, berhasil membawakan peran dengan ringan. Yongki Dracula, yang memerankan intel, bisa dengan enteng mengocok perut penonton seperti dalam pentas Srimulat. Musik garapan Fariz R.M. mampu memberi aksentuasi adegan. Panggung garapan Roedjito, meski sederhana, bisa menunjang elemen estetis, terutama setelah digabung dengan permainan lampu dari depan dan belakang panggung.

Sebagai sebuah usaha berkesenian, apa yang dilakukan Renny dan kawan-kawan memang sudah lumayan. Tetapi akan lebih bagus lagi jika mereka bersedia untuk lebih serius bermain-main.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *