(4) angkatan sesudah 2000 – dunia tanda yang membelah diri

Hudan Hidayat

http://tl-ph.facebook.com/pages/Hudan-Hidayat/19019269970

Permainan Tafsir

Kita kembali kepada topik esai ini, yakni soal pengarang perempuan mutakhir: relijiusitas atau profan, yang saya coba luaskan dengan bandingan kepada pengarang lelaki juga.
Dalam pandangan taufiq ismail, pengarang yang tergabung dalam forum lingkar pena, rumah dunia atau bahkan organisasi nir laba yang menamakan dirinya sebagai boemiputera (wowok hesty prabowo, dan saut situmorang sebagai eksponen penting), berbekal ayat ayat suci formal, terutama taufiq ismail, pengarang forum lingkar pena atau rumah dunia (golagong), jelas akan mengatakan bahwa karya tentang perempuan yang mengungkapkan hatinya melalui jalan tubuhnya seperti yang telah saya uraikan, masuk ke dalam label karya ?sastra pornografi?.

Dalam sastra buku (serta media maya juga), buku sastra yang dihasilkan oleh pengarang perempuan Indonesia mutakhir, maka karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang pengarang seperti asma nadia, afifah afra, mila duchlun, ines dikara, inggit putria marga, wa adoe wulan, kirana kejora, labibah zain, ratih eliza v handayani, aqidah gauzillah, abidah el khaliqie dan dianing widya yudistira, ratih kumala, dewi sartika – sekedar menyebut beberapa – jelas akan dimasukkan ke dalam label ?sastra agama?. Sementara itu nama nama seperti djenar mahesa ayu, herlinatiens, mariana amiruddin, lanfang, dinar rahayu, dewi lestari, ayu utami, dorothea rosa herliany, erna hernandith, atisatya arifin, weni suryandari, novieta tourisia, heni purnamasari, linda christanty, maya wulan, nova ryanti yusuf, Miranda Harlan, stevani hid. akan diberi label ?sastra pornografi?.

Novel De Winst, karya novelis Afifah Afra, yang disebut redaktur budaya Koran republika sebagai novel yang dibanggakan oleh anggota forum lingkar pena, memang membuat sebuah keterangan di bawah judul, dengan kalimat: novel pembangkit idealisme. Kata kata yang seolah berseberangan dengan buku cerpen djenar mahesa ayu jangan main main dengan kelaminmu, yang di pojok atas buku pembaca dipalang dengan ?bacaan khusus dewasa?. Terbitan forum lingkar pena sendiri pun, yang mengambil judul catatan hati di setiap sujudku, dari cover sudah memperlihatkan betapa kehendak untuk meletakkan sastra sebagai medium agama sudah tergerai. Di atas judul itu terbaca:

Allah. Bersama-Mu tak ada jalan buntu. Lalu dua keeping jendela terbuka, dan dari balik kaca mengintip dua buah mesjid.

Sedang di bawah judul tertulis kata kata:

Buku yang membangkitkan harapan, menuntun keluar dari keputusasaan, inspiratif dan menyentuh.

Dan kalau kita membaca sebuah pengantar yang diberikan taufiq ismail di dalam novel eliza handayani, area x, ada dua hal yang menarik dalam kata pengantar penyair yang begitu dahsyat membombarir ?sastra pornografi? ini. Yakni kutipannya tentang pendapat seorang guru yang menceritakan pengalaman membaca yang dialami siswanya.

?ibu guru ini bercerita, ada dari siswanya mengatakan bahwa, ?saya bukannya tak suka membaca, tapi kalau bacaan yang begitu begitu saja temanya, bagi saya membosankan. Saya ingin membaca sastra yang ada sainsnya, yang ada ilmu eksaktanya, ada tehnologinya. Pokoknya, sastra yang pinter. Jangan yang abstrak abstrak, yang cinta cinta saja, seks seks melulu. Membosankan?.?

Lalu masih dalam catatan yang sama, penyair taufiq ismail menulis:

?Suatu kesegaran baru yang bertiup dalam penulisan cerpen dan novel Indonesia tahun tahun belakangan ini, adalah gelombang bermunculannya pengarang pengarang perempuan kita. taufiq ismail menyebut nyebut dua novel yakni garis tepi seorang lesbi karya herlinatiens dan ode untuk Leopold van masoch karya dinar rahayu ? dua karya yang jelas jelas menjadikan novelnya sebagai sebuah tema dari pola hubungan yang menyimpang di dunia lelaki dan dunia perempuan.

Bagi saya catatan semacam itu mengherankan. Sebab di tahun 2007, adalah taufiq ismail juga yang telah menembakkan peluru peluru tajam dengan stigma gerakan syahwat merdeka atau fiksi alat kelamin. Maka apakah taufiq ismail telah bergeser dari pandangannya dalam catatan bertahun 2003 itu, saat di tahun 2007 dia menyerang dengan stigma fiksi alat kelamin (fak) dalam esainya yang terbit di harian jawa pos dengan judul provokatif:

?Hudan Hidayat dan gerakan syahwat merdeka??

Adalah maksud saya memaparkan persoalan seperti ini dengan agak terinci, untuk membuat sebuah pembedaan yang tegas tentang pandangan kesusastraan yang dimiliki oleh sastrawan Indonesia dewasa ini.

Seperti pilihan dan pemihakan yang tegas yang dilakukan oleh taufiq ismail, forum lingkar pena, rumah dunia dan bumiputera. Yang jelas jelas dengan amat tegas, bahkan mengutuk, akan eksistensi fiksi alat kelamin sebagai perusak moral bangsa (yang dioposisikan dengan cover dan subjudul fiksi yang telah saya sebut di atas, sebagai fiksi pembangkit jiwa bangsa).

Bahkan kelompok ini pun mengutuk bahwa gerakan syahwat merdeka itu adalah bagian dari gelombang ?gerakan syahwat dunia? bernama neo imperialisme yang menerjang negeri negeri dunia ketiga. Kutukan yang membawa fatal dari taufiq ismail yang menyerbu para pembuat fiksi yang menurutnya adalah fiksi alat kelamin semata atau hh dengan gerakan syahwat merdeka itu. Atau serbuan bumiputera yang terasa brutal dan tak masuk akal kepada kelompok budaya bernama tuk, yang diindikasikan sebagai markas dari neo imperialis di negeri ini.

Tetapi seorang kritikus sastra faruk ht, dalam tanggapannya atas note asep samboja di facebook tentang peperangan bumiputera vs tuk malah berkata, moralitas seperti taufiq ismail lebih banyak mudaratnya, katanya. Faruk tidak menjelaskan lebih jauh soal ?lebih banyak mudaratnya? itu.

Tetapi bagaimana dengan substansi sastra itu sendiri, dari kedua aliran sastra yang disebut bertentangan secara diametral?

Terbaca di dalam novel, misalnya, mahadewa mahadewi nova riyanti yusuf:

?kedua anak manusia itu terhempas di ranjang yang beralaskan sprei berwarna ungu. Warna itu pilihan mereka berdua. Kedua anak manusia itu saling melemparkan senyum, senyum kepuasan, senyum kenikmatan. Salah satu dari anak manusia itu meraih tangan partner tidurnya malam itu.

?did I make you happy???

?kamu membahagiakan saya malam ini. Kamu hebat sekali bisa membuat saya berkali kali orgasme. Tetapi, ? apakah kamu akan menemui saya lagi? Atau seperti biasa, ini akan menjadi one night stand??

?kalau memang tuhan mengijinkan kita bertemu lagi, kenapa tidak???

?Tuhan??

?iya. Kamu dan aku ada di dunia karena tuhan. Dan jika kita bertemu lagi, itu juga atas kehendak tuhan.?

?What? Kamu bicara tuhan? We?re sinners. We don?t mention god in this lifetime.?

?kamu ateis??

?Bukan. Saya? manusia. Manusia biasa. Pendosa. Tidak berhak menyebut tuhan.?

Atau sebuah puisi Miranda Harlan yang bisa kita baca di facebook-nya: dabir dan kisah tentang lelaki. Saya turunkan penuh puisi yang bernuansa relijiusitas dengan benda benda alam ini, tetapi memuat unsur unsur pornografi karena tidak jelas status tokoh tokoh dalam puisi kalau diletakkan pada nilai nilai formal sebuah agama. Ada relasi yang galau di sana, hubungan yang resah dari sebuah relasional yang dimainkan aku lirik, yang membuat asosiasi dengan semesta dan karena itu terasa begitu relijius.

?Masih tak bisa kulupakan malam, yang mengigau dan risau di tepi telingaku.?

Begitu bunyi lariknya. Apakah malam itu? Dan apa pula matahari di sana? Mengapa sang aku di sana berkata,

?Lihatlah matahari, sebab kamu akan merindukannya.?

Nasib manusia seperti malam yang tak terduga dan mengharapkan benderang seperti terang matahari, terasa membayangi hubungan perempuan dan lelaki dalam puisi.

?lihat?, kata sang perempuan kepada lelakinya, ?Padamu telah kujahitkan kemeja bulan, supaya jika kamu rindu kamu bisa menatapnya dan menemukanku di padang bintang. Jika rindumu tak menghabis, pakai saja kemejamu dan kita menjadi dekat: aku bintang kamu bulan di langit yang infinit?.

Begitulah kehendak sang manusia untuk sebuah harapan, yang begitu menemukan keindahan sebuah bahasa puisi dari puisi miranda harlan ini: kemeja bulan yang dijahitkan ke badan lelaki. Begitu simbolik dan begitu syahdu. Begitu relijius. Tapi ketidakjelasan nasib mengambang juga di sana. Nasib yang sudah diceritakan dengan getir dalam puisi. Tapi terasa indah.

?Jika kau takut hangus, tanggalkan saja kemeja bulanmu dan lipat yang rapi dalam lemari. Paling tidak, sekuku janji sudah kusematkan di lipatan saku, dan kamu tak perlu berpura-pura jadi pijar atau aku bersandiwara mencuri cahaya. Paling tidak.?

Miranda harlan:

?dabir dan kisah tentang lelaki?
: lelaki 1
Bukankah kita pernah mengenal malam? Ketika pagi bening datang, kamu duduk di tepi ranjang dan menepuk bahu telanjangku. ?Lihatlah matahari, sebab kamu akan merindukannya,? kata kamu sambil berjaga, kalau-kalau seekor serigala lapar menyerbu daging tubuhku. Aku yang tak peduli mengenang dalu lewat jelaga di tubir jendela. Menghalau jarak dan matahari, sebab keduanya terkadang membuatku lupa pada berada dan kegelapan. Kamu beranjak demi secangkir kopi pahit. Kita berjeda. Masih tak bisa kulupakan malam, yang mengigau dan risau di tepi telingaku. Tetapi kamu bersiul tentang siang garang; lagu gembira yang didendangkan para pemburu. ?Dor!? mulutmu melecut bunyi senapan; satu, tiga, tujuh kali berturut-turut. Di tepi ranjang, aku duduk dan tersentak. Berdada telanjang, terbius tanya ragu-ragu: siapa kelak merindukan matahari?

: lelaki 2
Lihat. Padamu telah kujahitkan kemeja bulan, supaya jika kamu rindu kamu bisa menatapnya dan menemukanku di padang bintang. Jika rindumu tak menghabis, pakai saja kemejamu dan kita menjadi dekat: aku bintang kamu bulan di langit yang infinit. Maka kamu tahu pula kalau kita dua yang tak sama: aku pijar kamu pencuri cahaya pada orbit tak bersinggungan. Barangkali kamu dan aku akan saling memandang dalam jarak. Tetapi sudah kuabaikan sisa parut di wajahmu, dan kamu tak perlu lagi berpaling karena malu. Dan sudah kusimpan spirit dalam tubuhku bagi sebuah supernova. Jika kau takut hangus, tanggalkan saja kemeja bulanmu dan lipat yang rapi dalam lemari. Paling tidak, sekuku janji sudah kusematkan di lipatan saku, dan kamu tak perlu berpura-pura jadi pijar atau aku bersandiwara mencuri cahaya. Paling tidak.

: lelaki 3
sebab kamu adalah gunung berapi. Dan aku sebutir pasir yang merindukan asal-usulku.

Bagaimana dengan sebuah cerpen linda christanty berjudul makan malam dalam bukunya kuda terbang maria pinto, sebuah cerita ibu dan anak yang beribu pelacur, di mana kerap mereka makan pagi bersama sambil mengisap ganja. Benar tidak ada penggambaran adegan hot di sana. Tapi moral cerita yang datang dari narasi linda jelas adalah sebuah fiksi pornografi dalam kaca mata taufiq, forum lingkar pena atau komunitas bumiputera.

?Rumah kami juga pernah kedatangan lelaki, dua kali. Tapi itu bukan ayah. Dua kali untuk dua pria. Itu kunjungan yang kuketahui. Teman temanku malah berkata, ibu sering pergi ke hotel dengan sepuluh pria, berganti ganti.?

Tapi pembaca yang jeli akan melihat sebuah konteks di sana, konteks yang dalam cerpen diceritakan menjadi kilasan tentang sebuah keributan besar dan sang ayah terbuang sampai ke negeri orang. Ada kesedihan mengendap di situ, ketika sang aku prosais menceritakan riwayat keluarganya yang malang, dalam sebuah cerita dewasa yang matang dalam cerpen.

?dulu ayahmu suka menembang, kata ibu. Suaranya merdu. Di malam hari ketika ibu mengandung aku, ayah suka menembang. Suaranya jernih. Aku pernah dinina bobokkan ayah dan itu membuat perasaanku tenteram. Seperti apa wajah ayah, ibu??

Sudah jelas mahadewa mahadewi, puisi Miranda Harlan atau fiksi linda christanty, adalah sastra pornografi dari pandangan taufiq ismail. Tapi taufiq ismail bukan satu satunya sumbu penilaian, penilaian moral sastra atau penilaian moral bangsa secara umum. Sebab kalau kita melihat di cover belakang buku, terbaca juga di sana pembelaan orang sekaliber almarhum nurcholish madjid:

?tantangan terbesar manusia?, tulis tokoh yang akrab disapa ca nur ini, ?adalah mengakui kekurangan dan jujur pada diri sendiri. Lewat karya yang gemilang, novelis muda nova mengajak kita untuk menjadi pemberani memenangkan tantangan itu. Rangkaian kata yang lugas dan berisi dari novel itu telah memperkaya khasanah kesusastraan Indonesia? teruslah berkarya??

Bagaimana sosok yang sangat dihormati di Indonesia ini bisa berkata demikian terhadap novel yang dihujat sebagai sastra bagian dari gerakan syahwat merdeka ala taufiq ismail?
Karena novel ini, seperti di dalam prolognya, adalah sebuah novel yang ?akan menyelami alam pikiran manusia, merasuki alam perasaan manusia?, sekalipun menurut saya, kehendak itu, tidaklah setajam novel olenka budi darma yang jelas jelas mengandung adegan kelamin yang hot dalam bagian bagian novel.

Atau misalnya kalau kita melakukan perbandingan langsung dengan novel yang dibanggakan sebagai novel pembangun jiwa itu, novel de winst afifah afra, yang masuk jauh ke dalam alam kolonial dengan membangun cerita seorang sarjana ekonomi lulusan belanda dan pribumi, maka kita menemukan spirit kebebasan, atau pencarian individual pada mahadewa mahadewi, s