MELEBURKAN RUANG WAKTU DUNIA PUITIK*

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Inilah gagasan peleburan, demi mencapai keuniversalan makna.
Berbincang mengenai ruang, mau tidak mau menyoal ukuran, bentuk, warna dalam tampakan. Lantas ditariknya sebagai saksi. Menjadi saksi bisu jika tak memiliki waktu.

Ketika membahas waktu, pelaku dihadapkan panjang-pendeknya masa, menggebu-terlena, kejumudan atau hal biasa. Dan ruang itu semacam kata, angka, lebar, lonjong pula bulatan. Sedangkan waktu ialah ruh daripada ruangan.

Jika berbicara waktu tanpa menyoal tempat, seolah membahas hantu, atau waktu-waktu gentayangan tanpa aktivitas kaki-kaki kesadaran. Dan jika membahas ruangan tanpa waktu, bisa dimasukkan sebagai pemberhentian, rumah tidak berpenghuni, kawasan kering yang hanya mementingkan logika. Jikalau ruang-waktu terkumpul, itulah yang dinamakan realitas kesadaran.

Andai dipetakan, ruang semacam pandangan logika, sedangkan waktu membicarakan esensinya. Ketika digabungkan menjelmalah karya bernilai universal, persekutuan materialistis-filosofis, strukturalis yang natural.

Untuk mendedah serpihan di atas, marilah mencoba melancarkan jawab;
?kata? saya masukkan dalam kelompok ruangan, sebab kata-kata bukan kesadaran itu sendiri, meski membentuk susunan. Atau saya berpandangan akan kekuasaan pasar, pembaca itulah yang menentukan logikanya. Kefahaman ialah prodak atas jalinan waktu menyuntuki kata. Persetubuhan ingin mengerti esensi daripada kata atau ruang tersebut.

Dan ?angka? saya tempatkan juga di bagian ruang, sebab betapa pun angka berjejer, tidak memiliki makna khusus sebelum menemukan tanda baca atau maksud. Maksud itu sebagaimana perkalian, penambahan, pengurangan, penjumlahan dsb. Di sini, maksud menempati jembatan ruang-waktu. Jalannya nalar waktu sebagai kegiatan perhitungan akan esensi bahasa angka.

Panjang, lebar pun bulatan, merupakan tubuh dari ruangan. Dan itu takkan berarti, jika tidak berada dalam masa-masa bermanfaat, berangkat dari kegunaan waktu-waktu yang dibutuhkan. Ini sedikit membingungkan, namun ketika telah menguasai keberadaan ruang-waktu atas kesadaran mandiri. Maka ketepatannya akan muncul semacam tercerahkan.

Sebelum menginjak keinginan judul. Seyogyanya mengetahui secara detail makna ruang dan waktu. Kita sering terkungkung persoalan yang tidak tepat waktu. Atau ternyata kerja kita diperintahkan ruang dan waktu. Seolah dalam tahanan keduanya, terjebak di salah satunya, juga keinginan diri semata.

Dalam bahasa teater, kita mengenal istilah -tidak menguasai ruangan. Orang semacam ini tidak menyadari kepentingan ruangan. Misalkan, kita tidak dapat berlalu-lalang di tengah jalan terus-menerus, kalau menginginkan keselamatan.

Kalau hanya mengetahui ruang-waktu serta manfaatnya dengan terikat, tidak ubahnya orang gila yang masih menggembol rasa ketakutan, yang berjalan di trotoar. Di pihak lain, kenekatan tidak bisa dihakimi sebagai hal tidak sadarnya pada ruang dan waktu. Jikalau ruang membutuhkan revolusi, atas waktu berkepentingan mendesak lebih bermanfaat.

Kita seharusnya di atas orang-orang gila yang sadar ruang-waktu. Meleburkan keduanya dengan mengambil manfaat sebagai jawaban inti. Yakni hakikat hayat terlaksana, yang tidak terbentur kedua-duanya.

Jangan mandek datangnya senja turunnya malam. Namun ukuran senja dan malam merasuk dalam diri yang terkendalikan semangat, endapan renungan dalam istirah. Dan ruang-waktu dianggap bumbu perjalanan hayat, sejenis iklim atau musim yang berada di luar. Kalau tak ingin terpenjara datangnya musim cuaca terang, dinginnya gelap malam, demi mencapai pribadi yang berkualitas.

Ketika ruang-waktu lebur dalam pribadi. Keduanya bukan yang membentuk kualitas diri, tetapi kitalah yang menciptakan bobot ruang-waktu tersebut. Dan mendapati manfaat, nilai-nilai tidak terpenjara wacana musim gagasan sepihak.

*) Pengelana asal Lamongan. Pengantar diskusi di Universitas Tujuhbelas Agustus Surabaya, 1 Desember 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *