SELAMAT JALAN, MANG!

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Suatu siang di sebuah gudang di kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) Rawamangun. Seseorang telentang di antara serakan dan tumpukan buku. Asyik-masyuk. Tak peduli pada hiruk-pikuk mahasiswa, karyawan, dan sejumlah dosen. Orang itu bagai tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya. Buku ukuran kecil yang digenggamnya itu kemudian dilemparkan begitu saja. Segera, tangannya meraih buku jilid berikutnya; sebuah serial silat SH Mintarja, Api di Bukit Menorah. Ia tenggelam lagi. Pastilah serial silat Khoo Ping Ho yang bertumpuk dalam ikatan karet gelang, masih sabar menunggu giliran. Tak ada yang berani mengganggu.

Itulah satu sisi keunikan Prof. Dr. Ayatrohaedi. Kegemarannya membaca buku apa saja, termasuk buku-buku serial silat, membawanya menjadi orang yang bisa diajak bicara dengan topik apa saja sejauh menyangkut masalah kebudayaan. Ia tak punya waktu khusus untuk membaca. Kapan pun, jika ada kesempatan, itulah waktu untuk membaca. Maka, di kampus, sosok Ayatrohaedi dikenal juga sebagai dosen yang unik dan penuh kejutan.

Di kampus, jika ia tidak mengajar dan tiba-tiba menghilang, pasti ia sedang ngumpet. Jika begitu, hanya ada dua kemungkinan yang dilakukannya: membaca atau menulis. Beberapa hari kemudian, tulisannya nongol di sebuah suratkabar ibukota. Di luar kegemarannya membaca dan menulis itu, ia gentayangan keluar?masuk jurusan-jurusan atau ikut nibrung dalam kerumunan dosen. Di situlah ia akan mengeluarkan joke-joke atau cerita-cerita lisannya yang mengundang tawa. Jika pembicaraannya menyangkut istilah, konsep, atau makna kata, Mang Ayat serius mengeluarkan kosa kata dan asal-usulnya. Ia akan menjadi kamus etimologi.

Topik pembicaraannya akan berbeda jika ia ikut berkerumun dengan para karyawan. Sepakbola atau nomor undian togel adalah topik pembicaraan yang digemari. Dan Mang Ayat akan membuat para karyawan itu tersihir takjub. Seolah-olah ia pengamat sepakbola yang piawai atau dukun sakti yang tebakannya tentang nomor undian, jarang meleset. Begitu dekatnya Mang Ayat dengan sivitas akademika, maka pernah seorang mahasiswa menyuruhnya membeli rokok. Enteng saja, Mang Ayat pun pergi menjalankan suruhan mahasiswa itu. Belakangan, ketika mahasiswa itu tahu bahwa Mang Ayat adalah salah seorang guru besarnya, kontan ia minta maaf berulang-ulang. Mang Ayat dikiranya karyawan yang bisa disuruh-suruh seenaknya.

Itulah sisi lain dari seorang Ayatrohaedi. Di kampus, ia bisa menyatu dengan siapa saja. Egaliterian, sederhana, gudang cerita lisan, dan kamus etimologi berjalan.
***

Kini, sastrawan yang arkeolog dan pakar bahasa itu, pergi sudah. Prof. Dr. Ayatrohaedi, menghembuskan nafas terakhir, Sabtu, 18 Februari 2006, Pukul 11.30 dalam perawatan di Sukabumi, setelah beberapa lama dirawat di Rumah Sakit Cikini, Jakarta. Guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) yang akrab disapa Mang Ayat itu adalah salah seorang penggagas perubahan nama Fakultas Sastra UI (FSUI) menjadi FIB-UI. Ia tergolong ilmuwan unik: egaliter, easy going, dan terkesan santai. Meski begitu, dalam soal disiplin ilmu, tak ada kompromi dan teguh pada kebenaran yang diyakininya.

Sejumlah sastrawan dan rekan sejawatnya mengantar jasad almarhum ke peristirahatannya di kawasan Depok. Ketua RW yang mewakili keluarga almarhum menyampaikan selintas pergaulan Mang Ayat di lingkungannya. ?Kita telah kehilangan orang baik. Prof. Dr. Ayatrohaedi. Sesungguhnya, ia orang hebat, terkenal di mancanegara. Tetapi, di lingkungan warga kami, ia lebih dikenal sebagai orang baik. Tidak sombong dan begitu peduli pada sesama. Kini orang baik itu telah pergi menghadap Allah. Semoga iman?Islamnya diterima. ?? Dan para pelayat pun melayangkan doa untuk ketenangan almarhum di sisi-Nya.
***

Saya mengenal Mang Ayat ketika ikut kuliah Kesusastraan Sunda. Hampir semua peserta kuliah itu ?yang biasanya diselenggarakan siang hari? tak bakal mengantuk. Serius, tapi juga penuh tawa. Kuliah jadi begitu menyenangkan. Selalu saja ada joke dan cerita lisannya yang mengundang tawa.

Selepas saya mengumpulkan tulisan-tulisannya dalam kolom Rekabahasa (1987?1991) yang dimuat tabloid Mutiara, saya mulai lebih dekat dengan sosok Mang Ayat. Beberapa kali ia melibatkan saya sebagai juri pemilihan buku terbaik Yayasan Buku Utama. Kadang kala saya punya keberanian bertengkar ketika menentukan buku terbaik. Dan Mang Ayat menempatkan pertengkaran itu sebagai sebuah dinamika penjurian.

Ketika saya hendak ujian S-2, secara berseloroh saya katakan: ?Sesama editor dilarang saling mengedit.? Saya yakin, tesis saya agak bersih dari kesalahan teknis: Ternyata, seloroh itu tidak berlaku bagi Mang Ayat. Ia membaca dengan mata elang: cermat, teliti, tajam, dan terpercaya, dan tahu saja di mana kelemahan dan kesalahan itu bersembunyi, baik salah ketik, kesalahan penulisan ejaan dan istilah, kekacauan kalimat, atau salah nalar dalam mengemukakan argumentasi. Maka, dalam kegiatan membimbing penulisan tesis atau disertasi (S-2 dan S-3), tak sedikit mahasiswa pascasarjana itu kerap dibuat kelimpungan.

Hal yang unik pada diri adik kandung sastrawan Ajip Rosidi ini menyangkut kepakarannya. Sebagai lulusan sarjana sastra Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia (sekarang Jurusan Arkeologi) tahun 1964 dengan predikat Ahli Purbakala, di kalangan arkeolog, Mang Ayat dikenal sebagai empu, bahkan sering pula dipanggil: ?Ayatullah Rohaedi?. Hampir semua prasasti yang tersebar di seluruh Nusantara, pernah menjadi bahan kajiannya. Mengenai prasasti berbahasa Sunda Kuno, terutama naskah Pangeran Wangsakerta, Mang Ayat sejak awal tahun 1970-an secara gencar telah memperkenalkannya ke khalayak ramai melalui berbagai tulisan. Muncul pula berbagai reaksi, bahkan juga tuduhan, bahwa yang menulis naskah itu adalah Mang Ayat sendiri.

Ketika ditanya, mengapa masyarakat belum bisa mengapresiasi prasasti berbahasa atau beraksara Sunda kuno atau Sunda buhun. Mang Ayat enteng saja berujar: ?Itulah masalahnya. Sebab, dari puluhan juta orang Sunda, hanya tinggal lima orang yang bisa membaca aksara Sunda kuno atau Sunda buhun itu. Mereka itu adalah: (1) Edi S. Ekadjati, (2) Tien Wartini, (3) Undang Ahmad Darsa (dosen Unpad), dan (4) Hasan Djafar (dosen UI).?

?Lho, katanya lima orang??
?Iya. Satunya yang lagi ngomong ini,? jawabnya sambil tertawa ringan.
Kini, tentu saja orang yang bisa membaca aksara Sunda kuno atau Sunda buhun itu, tinggal empat orang, lantaran Mang Ayat tidak lagi bersama kita.
***

Beberapa karya Mang Ayat di bidang arkeologi, selain artikel-artikel lepas yang dimuat di banyak suratkabar dan majalah, juga makalah-makalah dan hasil penelitiannya yang kemudian dibawakan di berbagai pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri. Sekitar 500-an artikel sudah dihasilkannya. Berbagai tulisan itu kemudian dihimpun dalam buku, antara lain, Lokal Genius: Kepribadian Budaya Bangsa (1986) dan Sundakala (2005). Pemberian gelar guru besar (Profesor) merupakan bukti dedikasi dan prestasinya.

Betul, di bidang arkeologi, tidak diragukan lagi kepakaran Ayatrohaedi ini. Tetapi, disertasi yang berjudul ?Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa? (1978) tidak termasuk bidang arkeologi. Disertasinya itulah yang mengantarkannya sebagai doktor linguistik dan perintis dialektologi ?salah satu bidang kajian dalam linguistik? di Indonesia. Maka dalam bidang dialektologi itu pula, Mang Ayat kini termasuk salah satu dari sebanyaknya sepuluh orang di Indonesia yang ahli di bidang itu. Menurut Prof. Dr. Amran Halim, promotornya, disertasi Ayatrohaedi merupakan disertasi pertama tentang dialektologi di Asia Tenggara. Di bidang bahasa, ia telah menghasilkan beberapa buku, antara lain, Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa (berasal dari disertasi, 1985), Dialektologi: Sebuah Pengantar (1979, 1981), Tatabahasa Sunda (terjemahan karya D.K. Ardiwinata, 1985), Tatabahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda (terjemahan karya J. Kats dan R. Suriadiraja, 1986), Cerdas Tangkas Berbahasa (dua jilid, 1996). Sebagai pakar bahasa, ia telah menulis sekitar 300 artikel.

Sebagai ilmuwan, kiprah Mang Ayat, selain di bidang arkeologi dan linguistik, juga di bidang sastra (Sunda dan Indonesia) dan kebudayaan secara umum. Ia telah menghasilkan sekitar 100-an tulisan mengenai sastra Sunda, sastra Indonesia, sejarah, dan kebudayaan. Tulisan-tulisannya sangat informatif, tetapi di balik itu, ia rajin mengritik ?tajam dan pedas?siapa atau lembaga apa saja yang dipandangnya tidak tepat dan menyalahi logika ilmiah. Jika tak hati-hati, kita bisa terjerat provokasinya yang memang sangat argumentatif dan logis. Dalam banyak tulisannya, ia gemar menyodorkan berbagai istilah dari kosakata bahasa Sansekerta atau bahasa Sunda. Sekadar menyebut beberapa, engang (sukukata), mot?kar (kreatif), cerlang budaya (local genius), moderan (modern), realisam (realism) adalah kosakata yang pernah diperkenalkannya.
***

Ayatrohaedi lahir di Jatiwangi, Majalengka, 5 Desember 1939. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat di Jatiwangi (1952), Sekolah Menengah Pertama di Majalengka (1955), ia hijrah ke Jakarta melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas dan selesai 1959. Setelah itu, ia masuk Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia Fakultas Sastra UI dan lulus akhir tahun 1964.

Selesai kuliah, Ayatrohaedi bekerja di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta. Belum setahun bekerja di sana, ia dipindahkan ke Mojokerto (1965?1966). Karena situasi politik yang kacau ketika itu, ia memutuskan untuk mengundurkan dari pekerjaannya itu. Tetapi, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung menariknya menjadi pengajar di sana (1966?1972).

Ketika ada kesempatan mengikuti Pelatihan Lanjutan Linguistik dan Filologi di Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte di Universitas Leiden, Ayatrohaedi ikut program itu selama hampir tiga tahun (1971?1973). Minatnya untuk mendalami dialektologi membawanya ke Prancis. Mula-mula bermukim di Bordeaux untuk meningkatkan kemahiran bahasa Prancis. Kemudian pindah ke Grenoble untuk mendalami teori dan metode penelitian dialektologi. Pulang dari Prancis, Ayatrohaedi mengajar di Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan terus bertahan hingga pensiun tahun 2004.

Beberapa jabatan yang pernah dipegangnya, antara lain, Ketua Jurusan Arkeologi (1983?1987), Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) (1989?1994), dan Pembantu Dekan Bidang Akademik FSUI (1999?2000).
***

Kiprahnya sebagai sastrawan dimulai samasa masih SMP (dalam bahasa Sunda) dan kelas satu SMA (dalam bahasa Indonesia). Cerpen pertamanya, ?Sejak Itu? dimuat majalah Tjerita, No. 2, Januari 1957. Beberapa cerpennya kemudian dimuat juga di majalah Tjerita, Siasat, dan Mimbar Indonesia, tiga majalah sastra yang waktu itu sangat berpengaruh. Masih ada sekitar 90-an puisinya dipublikasikan melalui majalah Basis, Djaja, Pustaka dan Budaya, Budaya Jaya, Trio, Berita Indonesia, dan Seloka. Semua dihasilkan antara tahun 1957 sampai 1978.

Pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an, Ayatrohaedi ?seperti kebanyakan sastrawan pada masa itu?aktif pula dalam berbagai kegiatan dan hiruk-pikuk sastra waktu itu. Ketika terjadi polemik antara kubu pendukung humanisme universal dan kubu realisme sosialis, ia memang belum terlalu jauh masuk dalam konflik itu. Dalam posisinya yang demikian, Ayatrohaedi, bersama sastrawan lainnya, antara lain, Ajip Rosidi, Ramadhan KH, dan Toto Sudarto Bachtiar, seperti terjepit di tengah dua arus besar pertentangan kubu humanisme universal ?para pendukung Manifes Kebudayaan?dan realisme sosialis ?para pendukung Lekra/PKI. Lekra menyebutnya sebagai kelompok yang tidak punya pendirian.

Mereka yang tidak berpihak pada salah satu kubu itu, memang seperti serba salah. Itulah sebabnya, keikutsertaannya sebagai peserta dalam Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI), 1?7 Maret 1964 yang ?sebelum dan sesudah penyelenggaraan konferensi itu?begitu gencar ditentang kubu Lekra/PKI, mengatasnamakan kelompok sastrawan Bandung, tetapi sekaligus juga menunjukkan sikap tegas dan pemihakan Ayatrohaedi dalam konflik kedua kubu itu.

Sebagai reaksi atas penyelenggaraan KKPI, Lekra/PKI kemudian menyelenggarakan Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner, 28 Agustus?2 September 1964. Golongan Lekra/PKI kemudian memelesetkan singkatan KKPI menjadi KK-PSI yang mengesankan sebagai Konferensi Karyawan Partai Sosialis Indonesia. Secara tegas golongan Lekra/PKI menyatakan bahwa sastrawan yang mengikuti KKPI adalah golongan kontrarevolusi, reaksioner, penjilat, dan munafik. Belakangan, mereka yang terlibat dalam konferensi itu, banyak yang mengalami teror dan tekanan dari pihak Lekra/PKI.

Dalam situasi yang demikian, Ayatrohaedi tidak kehilangan kreativitasnya. Ia terus menulis esai, cerpen, dan puisi. Dua kumpulan cerpennya yang terbit pada masa itu adalah Yang Tersisih (1965) dan Warisan (1965). Sejumlah puisinya yang dimuat di berbagai majalah sejak tahun 1957 kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Pabila dan di Mana (1977). Di samping itu, Ayatrohaedi juga menulis cerita anak, yaitu Panji Segala Raja (1974), Ogin si Anak Sakti (1992), dan Panggung Keraton (1993). Adapun karya terjemahannya, antara lain, Puisi Negro (1976), Senandung Ombak (terjemahan novel Yukio Mishima, 1976), Kacamata Sang Singa (cerita anak, terjemahan karya G. Vildrac, 1980).

Ayatrohaedi, seperti juga beberapa sastrawan Indonesia yang begitu peduli pada kebudayaan dan bahasa daerahnya, seperti Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto, Suripan Sadi Hutomo, Yus Rusyana, dan beberapa sastrawan lainnya, bisa seenaknya bolak-balik menulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa daerah (Sunda) dan bahasa Indonesia. Maka, selain menulis dalam bahasa Indonesia, Ayatrohaedi juga menulis dalam bahasa Sunda. Karya kreatifnya dalam bahasa Sunda, di antaranya, Hujan Munggaran (kumpulan cerpen, 1960), Kabogoh Tere (Roman, 1967), Pamapag (antologi puisi, 1972), dan Di Kebon Binatang (1990).

Dalam konteks warna lokal, tentu saja Ayatrohaedi sudah mendahului apa yang dilakukan banyak pengarang Indonesia dalam memanfaatkan kosakata daerah dan kultur etnik. Dalam banyak cerpen Ayatrohaedi, seperti ?Yang Terjepit? (Tjerita, No. 4, Th. II, April 1958), ?Djarak Makin Djauh? (Tjerita, No. 8, Th. II, Agustus 1958), ?Seorang Wartawan? (Mimbar Indonesia, No. 32, Th. XII, 9 Agustus 1958), ?Kereta tak Djadi Lewat? (Mimbar Indonesia, No. 17, Th. XIIm 26 April 1958), dan beberapa cerpen lainnya, tampak benar kesadaran memanfaatkan kosakata bahasa Sunda, bukan sekadar hendak memaksakan masuknya kosakata daerah, melainkan untuk kepentingan yang lebih mewakili ekspresi kreatifnya.

Beberapa bukunya yang sedang dalam proses penerbitan, antara lain, Bahasa Indonesia: Api dalam Sekam (kumpulan makalah tentang bahasa Indonesia), Kepala Kerbau (kumpulan esai bahasa, sastra, sejarah, budaya), (Ge)litik Bahasa (kumpulan esai bahasa Indonesia dalam kolom harian Kompas), Gerombolan (kumpulan cerpen), Kata, Mata, Mata, Kata (kumpulan puisi), dan (Ke)kasih Abadi (novel).
***

Demikianlah, sosok Ayatrohaedi, Sang Guru Besar yang ?aneh? itu, dengan kesederhanaan dan keunikannya, tetap memancarkan kekaguman bagi mereka yang mengenal kiprah kepakarannya di bidang arkeologi, linguistik, sejarah, sastra (Sunda dan Indonesia), dan kebudayaan. Ternyata, penampilan yang sederhana itu tak mengurangi kekaguman dan rasa hormat orang kepadanya. Itulah sosok sastrawan, arkelog, pakar bahasa, dan orang baik: Prof. Dr. Ayatrohaedi. Selamat jalan, Mang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*