Membongkar Kontroversi Kopi dan Rokok

M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.*
http://www.jawapos.com/

Setelah rokok difatwakan haram, ketentuan hukum mengonsumsi rokok ternyata malah makin kontroversial dan simpang-siur. Tak hanya di masyarakat awam, di kalangan ulama yang tersebar di pelosok Tanah Air pun kian kentara tak adanya kebulatan sikap ihwal pengharaman rokok. Uniknya, dari balik bilik pesantren sendiri, ternyata rokok (dan kopi) justru akrab dikenal sebagai sajian khas yang, andai tanpa keduanya, suasana terasa hambar. Boleh jadi, kita memang tak lagi asing dengan fenomena kalangan pesantren yang ”kecanduan” pada rokok.

Nah, menyimak buku ini, kita dihadapkan pada fakta bahwa hukum kopi serta rokok rupanya telah menjadi perselisihan di kalangan ulama dari berbagai madzab. Paling tidak buku ini mencatat, sudah sejak awal abad ke-10. Hanya saja, perselisihan tentang masalah rokok lebih mengemuka dibandingkan dengan polemik tentang kopi. Hal inilah yang (kembali) terjadi di tengah-tengah kita ketika Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa haram untuk rokok, akhir Januari lalu. Wacana ini sontak memicu silang pendapat, yang tak berujung-pangkal.

Secara fisik, buku ini terbilang mungil. Dengan mencukupkan diri berisikan 110 halaman dalam ukuran 12 x 18 sentimeter, mungkin siapa pun yang baru pertama kali memegang hangat buku ini akan menganggapnya sebagai buku yang tak serius. Ditilik dari judulnya, Kitab Kopi dan Rokok, seketika kita bisa menduga bahwa buku ini bermaksud menggagahi satu tema yang aktual nan kontroversial. Sayang, usai mencermati tampilan fisiknya tadi, sekali lagi, kita barangkali segera meragukan ambisi tersebut.

Namun, semua itu menjadi prasangka yang keliru usai merampungkan keseluruhan isi buku ini. Apalagi, diterangkan bahwa buku ini merupakan terjemahan kitab klasik pesantren berjudul Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan karangan Syaikh Ihsan Jampes. Kitab itu sendiri merupakan adaptasi puitis atas kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-Dhuhan karya KH Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian disusun menjadi bait-bait syair bermatra rajaz oleh Syaikh Ihsan Jampes, dan inilah terjemahan Indonesianya. Konon, hingga kini, kitab Irsyad al-Ikhwan merupakan satu-satunya buku yang memuat seluk-beluk kopi dan rokok, mulai dari sejarah sampai hukum mengonsumsinya.

Mulanya, sebelum dialihbahasakan oleh Ali Murtadho dan Mahbub Dje, kitab Irsyad al-Ikhwan cukup dikaji para santri di surau-surau pesantren. Karena itu, dalam buku ini penting adanya biografi singkat Syaikh Ihsan Jampes, sang pengasuh Pesantren Jampes, Kediri.

Ciri utama sekaligus kelebihan karya-karya Syeikh Ihsan adalah model penulisannya yang berlanggam syarah (tanggapan), termasuk Kitab Kopi dan Rokok ini. Dan, di situlah kemahiran Syeikh Ihsan sebagai seorang ”kiai”, yang pada masa kini sangat jarang kita temukan padanannya. Alhasil, bagi pembaca, gaya semacam itu akan memberikan kesan tulisan yang ringan, meski secara substansi sebenarnya berbobot. Seperti terasa ketika melumat buku ini, ”Pembaca seakan melihat sekelompok ulama yang sedang duduk melingkar, melemparkan pendapat serta hujjah-hujjah-nya, menerima dan menolak pendapat yang lain, kemudian berusaha menarik kesimpulan tanpa memaksa pihak lain menerima kesimpulannya sendiri.”

Terlebih lagi, apabila dicermati dari fokus pembahasan buku ini, yakni seputar dilematik hukum kopi dan rokok, betapa gamblang Syeikh Ihsan menautkan antara satu pendapat dengan pendapat ulama yang lain. Dalam soal kopi, semisal, para ulama yang mengharamkan memandang bahwa di dalam kopi terdapat mudhorot (bahaya) ketika dikonsumsi. Sementara itu, di kubu yang berseberangan berpendirian, kopi justru bisa menyegarkan, meringankan pikiran, dan membangkitkan semangat tetap terjaga sampai waktu yang lama untuk beribadah. Tentu saja, masing-masing pendapat tersebut bersumber dari kitab karya para ulama tersohor.

Nah, selanjutnya, terhitung ada tiga bab yang kemudian membahas khusus terkait kontroversi rokok (mulai bab 2 hingga 4). Di titik inilah, pembaca akan merasakan ketakberimbangan dibandingkan sekelumit pembahasan sebelumnya soal kopi (terbatas dari halaman 18 sampai 30). Tetapi, memang seperti itulah dinamika yang muncul seputar kontroversi rokok yang amat panjang silang-sengkarutnya. Untuk itu, Syeikh Ihsan pun tak luput menyediakan satu bab pamungkas terkait penerapan hukum fikih rokok, setelah mendetailkan perihal haram-halalnya.

Beberapa tokoh seperti al-Qolyubi, al-Bujairomi, dan al-Syaranbila berpendapat bahwa rokok dapat merusak kesehatan, menyebabkan orang mabuk, tidak berkesadaran, baunya tidak disenangi orang lain, dan dipandang sebagai pemborosan. Karena itu, mereka tak sepihak dengan al-Ghani al-Nabilisi, al-Syabromalis, al-Sulthan, dan al-Barmawi yang memperbolehkan rokok (mubah). Bagi mereka, rokok tak menyebabkan hilangnya kesadaran dan secara zat pun tidak najis. Justru, rokok dapat memantik semangat ”baru” dalam menunaikan aktivitas ibadah.

Syeikh Ihsan sendiri lebih bersepakat kalau hukum menghisap rokok adalah makruh. Pendapat tokoh masyhur tersebut senada dengan pandangan al-Bajuri dan al-Syarqowi (hlm. 80). Di sini, ditegaskan Syeikh Ihsan, yang patut untuk disoroti khusus adalah sekalipun setiap tokoh mendasarkan rasionalisasi argumen dari pengalaman empiris dan pendirian para ulama yang terlebih dahulu bersikap, hukum menghisap rokok tetaplah relatif. Artinya, baik yang mengharamkan maupun menghalalkan, hal itu tetap bergantung pada illat (alasan) penjatuhan status hukumnya. Kalau illat tersebut tidak ada, sangat mungkin hukumnya bakal relatif semua.

Akhirnya, meskikun tak berpanjang-lebar menguraikan ketentuan hukum kopi dan rokok yang memang kontroversial, isi buku ini masih dapat dikatakan ”padat”. Itu karena Syeikh Ihsan memberikan ketegasan atas beberapa kasus fikih di balik problematika kopi dan rokok dalam bab penutup. Dan untungnya, di tengah-tengah kontroversi fatwa rokok MUI itu, penjelasan dalam buku ini menurut saya mampu mendinginkan suasana –setelah dalam banyak kasus, para ulama kini justru rajin membuat kontroversi dan kolot berpendapat. Apa mau dikata, lembaga fatwa (dan ulamanya) pun lamat-lamat kehilangan kepercayaan dari umat. (*)

*) Pemimpin Redaksi BPPM Balairung UGM Jogjakarta

Judul buku : Kitab Kopi dan Rokok
Penulis : Syaikh Ihsan Jampes
Penerbit : Pustaka Pesantren, Jogjakarta
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : xxv + 110 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *