Monolog Hutan Pinus

Wawan Setiawan
http://www.jawapos.com/

Desau angin hutan pinus menghibur hatiku yang ragu karena terbukanya aib demi aib dalam tubuhku. Aib-aib itu begitu banyak, seluruh organnya mulai jari kaki sampai ubun-ubun mengalaminya. Untunglah ada angin sejuk hutan pinus yang melonggarkan. Angin hutan pinus juga telah memberiku oksigen yang sekarang sudah semakin mahal. ”Dunia enggan disapa,” kata penyair idolaku di suatu tengah malam, menjelang akhir hidupnya.

”Tangan kananku, selama hidup kita ini, apa saja yang kau lakukan, baik kusuruh atau tidak?” tanyaku kepada tangan kananku yang bergerak-gerak gelisah.

”Mencuri uang negara. Memukul istri tanpa logika. Buang sampah di rumah tetangga. Tapi juga bertakbir membantu mengucap asma Tuhan. Masya Allah, untuk apa tanya macam-macam, ada apa?” Serangan tangan kananku yang berlumur dosa hanya sedikit kurespon. Tangan kiriku hanya diam menghayati marginalitasnya.

”Kedua mataku, coba ceritakan pengalaman pentingmu selama ini?”

”Kalau sudah tahu untuk apa ditanya lagi?”

”Untuk meyakinkan bahwa kau dan aku pernah sepakat melakukan sesuatu.”

”Mengintip orang mandi, maksudmu? Itu cerita klise. Aku kau suruh mengintip orang yang mandinya sangat lama. Aku kau suruh meladeni perempuan yang suka pamer kelaminnya. Dia suka pamer padamu karena dia jatuh cinta. Perempuan kalau sudah cinta, dipamerkan semua yang dia punya.”

”Itulah pengalaman yang sulit dilupa. Tapi masih banyak kan pengalaman yang kita punya. Dan saya kira semua orang punya pengalaman seperti yang kita alami: pamer tubuh pada lawan jenis, seperti burung merak.” Aku berkata dengan wajah lunak untuk menghibur mataku yang banyak keriputnya. Keriput itu tak bisa disembunyikannya.

Pagi tetap berlangsung menemani matahari yang kata orang semakin dekat ke bumi. Angin hutan pinus bergerak terus, menyentuh-nyentuh semua pohon tanpa kecuali, kadang disentuh bersamaan, kadang disentuh satu per satu. Semua batang pohon sampai jemari daunnya, tanpa pilih kasih, semua disentuh. Dan seluruh pohon pinus di hutan akhirnya serempak mengucap syukur kepada angin.

”Mengapa tak kau tanya padaku hal-hal penting yang pernah kita jalani?” kata kepala tiba-tiba mendongak, protes.

”Hal-hal penting? Semua penting!”

”Tidak. Pakailah metode klasifikasi dan atau diskriminasi, pasti ada yang penting dan kurang penting. Ada yang paling berguna dan kurang berguna. Ada yang bermanfaat dan kurang bermanfaat. Ada yang… apa ya?”

”Yang bermartabat dan kurang bermartabat, maksudmu?”

”Nah itu. Yang bermartabat dan kurang bermartabat! Dalam hidup kita yang makin pendek ini, kamu masih suka menggunjing? Tapi aku tahu sebabnya, kau suka menggunjing yang kurang bermartabat daripada yang bermartabat. Baik! Aku kau suruh menyuruk-nyuruk pada kelamin perempuan kan? Kamu raja tega dan terlalu. Kamu selalu minta cerita-cerita diriku menyuruk-nyuruk pada kelamin perempuan, apalagi yang berkulit bersih, alami dan rajin diet. Aku dulu pernah dibelai seorang Begawan, tapi itu jarang kau tanyakan.”

”Kalau misalnya tak ada pengalaman itu, hidup seperti sayur tanpa garam.”

”Tapi kalau terlalu banyak garamnya, tahu akibatnya kan? Kamu antipati pada dunia garam. Padahal garam …”

”Sudah. Sudah. Sekarang ceritakan pengalamanmu ketika kamu dibelai-belai Sang Begawan Suci itu.”

”Itulah yang tak bisa kulupa. Setelah ia menepuk-nepuk pundak, aku hanya dibelai tiga kali, tapi rasanya dibelai-belai seumur hidup. Aku segar dan vitalitas berpikirku bertambah. Menurutku, memang ia seorang Begawan Sejati. Kalau begawan palsu, pasti sudah kulupakan atau terlupakan. Dan di luar sana banyak begawan palsu, ilmuwan palsu, seniman palsu, pejabat palsu, dan manusia palsu.”

Setelah bercerita dengan penuh semangat, kadang lurus, kadang berliku, naik turun bukit, keluar masuk kampung, kulihat kepalaku termenung-menung. Mungkin ia menyadari tak lama lagi akan kutinggalkan, jauh entah ke mana. Kalau kunanti pergi, seluruh tubuhku, termasuk kepala, mungkin ditaruh dalam tanah dan dikasih taburan bunga atau dibakar dalam upacara sederhana, abunya dibagikan kepada sanak keluarga. Tapi kepalakulah yang paling banyak pengalamannya, tak bisa kupungkiri.

Hutan pinus itu menurun ke bawah mengikuti tanah yang ditinggalinya, di dasar lembah sana ada sungai mengalir gemercik deras. Airnya jernih berkilau. Air sungai itu lanjutan dari air terjun yang ada di bagian puncak bukit. Di sekitar air terjun ada beberapa kantin menjual suvenir, pisang, dan roti bakar, mie instan, kopi, dan susu hangat dari sapi-sapi setempat. Gerak kehidupan di sini rasanya berhenti, tunduk pada keheningan. Keindahannya permanen. Sejuknya jujur, tidak banyak janji-janji.

Kutengok dada dan perutku, yang kembang kempis seirama napas, seirama oksigen murni yang keluar masuk. Ia memendam sesuatu yang disebut ”sikap hati” atau ”suasana”. Pendaman itu ingin keluar.

”Dadaku, kenapa kau bersedih pagi ini? Mengapa? Rasakan pohonan pinus ini, dan kicau burung. Bagaimana menyikapinya?”

”Tak kumungkiri, indahnya semua ini, meskipun jarang kualami, karena hidupmu banyak di kota besar tempat pusaran ambisi makin menyedot. Tapi, jujur saja, aku capek hidup denganmu. Kamu tidak tegas dalam banyak hal. Yang kau ingin sungguh banyak, sehingga aku lebih tegang dan jauh dari normal. Degup jantung dan kembang kempis peparu tak normal mengikut kata hatimu yang jarang normal. Nanti kalau inkarnasi lagi, entah kapan dan di mana, usahakan bikin hati yang kuat, jantung yang hebat. Karena itu, mulai sekarang, kau harus rajin semedi, untuk menghapus dosa-dosamu. Tidak banyak yang diingin, kecuali dekat Tuhan. Semakin banyak yang kau ingin, apalagi yang duniawi, semakin capek kerjaku, semakin banyak dosamu.”

”Tapi kau sekarang merasa enak kan? Sebab pagi ini aku merasa bahwa inilah tanah kelahiranku, desah angin hutan pinus, udara segar, panorama kehijauan, gemercik kali yang airnya jernih berkilau. Dan mungkin di lembah sana, ada sejumlah peri sungai menari, he he …”

Mendadak jantung dan peparuku menangis lirih. Memang benar, mereka capek mendampingiku. Dan, mungkin juga mereka merasakan tak lama lagi kutinggalkan. Namun sering pula kurasa, meski capek kerja menopang ambisiku, mereka bangga karena selalu terikut ke mana pun kupergi, terutama ke tempat-tempat yang kebahagiaannya adi. Kalau nanti kutinggalkan, tak pelak lagi, mereka akan menjerit iba, beku, mengeriput, dan susut, lalu untuk seterusnya dipendam dalam tanah atau dibakar jadi abu.

Kutengok hidupku di masa lalu, ternyata ya begitu itu. Masih kurang layak untuk panutan. Ada ayah ibu yang melahirkan; nakal di masa kanak, suka bermain di sungai banjir, juga berenang jauh ke laut, disengat ubur-ubur, pulang membawa tangis. Ketika remaja banyak disenangi wanita, tak peduli umur mereka, dan konyolnya semua dituruti. Ketika saat nikah dengan wanita yang ketemu kebetulan, ya nikah saja. Semua sanak kerabat ”dipaksa” merayakan momen historis itu.

”Ini muka penuh luka, siapa punya?” Begitu kata penyair idolaku itu yang meninggal 1940-an, karena sakit komplikasi. Namun meski mati muda, ia tidak sia-sia, karena prestasinya sungguh bisa dicatat dan dapat tempat. Juga banyak pacarnya. Sedang aku? Sampai berputih rambut (sebenarnya, rambut putih sudah ada sejak SD, ibukulah yang mencabutinya), aku hanya itu-itu saja, tidak begini tidak begitu. Kesukaanku mengembara dari tempat satu ke tempat lain, dari orang satu ke orang lain; kadang dari buku satu ke buku lain. Tapi, untunglah, dalam kembaraku itu daya hidupku tetap kuat, bersih, lentur, meski hati ini kadang pilu.

”Pikir itu pelita hati,” kata almarhum ayahku, ketika mendiskusikan hubungan pikiran dan hati. Berdasarkan kalimat ayah itu, sudah kuhibur hati ini dengan pikiranku yang jernih, berwawasan, dalam, dan terpercaya. Tapi, hatiku tetap saja pilu. Banyak rintihannya yang hanya hutan pinus ini saja yang bisa mendengarkan dan menghayatinya. ***

Surabaya, 14 Februari 2009
Jogjakarta, 23 Februari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *