Sastra, Olahraga, dan Penghargaan

Beni Setia *
jawapos.com, 10 Agus 2008

SEBAGAI orang yang pernah mendapatkan Anugerah Seniman Jawa Timur dan sekaligus bekerja di dua ranah kesusastraan, Indonesia dan (etnik) Sunda, rasanya saya cukup pantas untuk menanggapi tulisan terkarib, Bonari Nabonenar –lihat ”Menyoal Sastra Satu Kamar” (JP, 27/7/08). Sebuah tulisan yang menandaskan bahwa kesejahteraan para pekerja sastra di ranah (bahasa) Indonesia lebih tinggi dari pekerja sastra di ranah (bahasa) Jawa. Benarkah begitu? Continue reading “Sastra, Olahraga, dan Penghargaan”

Aku Berkarya Maka Aku Ada

Arief Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Eksistensi sastra Jawa hanya bergantung pada sastrawannya. Minimnya media berbahasa Jawa mereka harus berjibaku menerbitkan karyanya sendiri.

Media berbahasa Jawa boleh dikatakan sangat minim. Di Surabaya media yang ada hanya dua, Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Itupun terbit hanya untuk kalangan tertentu yang berminat dengan bahasa Jawa. Di dua media ini, bisa dikatakan budaya Jawa, secara libih luas mampu disiarkan. Selain itu bila dibandingkan dengan sastra daerah lain, sastra Jawa masih memiliki tempat yang cukup menguntungkan. Hal ini disebabkan penutur bahasa Jawa memang masih terbilang cukup banyak. Continue reading “Aku Berkarya Maka Aku Ada”

Poligami ala Emha

Judul Buku : Istriku Seribu
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress, Jogjakarta
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : iv + 64 Halaman
Peresensi: Em Syuhada’
http://arsip.pontianakpost.com/

KETIKA KH Abdullah Gymnastiar membeberkan pernikahan keduanya di media massa beberapa waktu lalu, wacana poligami kembali menjadi menu perbincangan hangat di negeri ini. Apa yang dilakukan Aa? Gym seperti memantik reaksi sejumlah kalangan untuk buka suara. Continue reading “Poligami ala Emha”

Bahasa Jawa Suriname dan Belanda

Endang Suryadinata*
http://www.radarsampit.com/

KISAH Ramadan dan Lebaran di Kampung Orang-Orang Jawa di Suriname, yang saya ikuti dari situs Jawa Pos (Grup Radar Sampit) pada 20-23 Oktober 2006 lalu sungguh menjadi sajian menarik, seperti ?kacang renyah? di waktu Lebaran. Bagi warga Surabaya yang tinggal di Belanda seperti saya, sajian itu seolah-olah membangkitkan nostalgia betapa unik, asyik sekaligus eksotik berlebaran di desa-desa di Magelang, Jogjakarta atau Kediri di dekade 70-an atau 80-an dulu. Continue reading “Bahasa Jawa Suriname dan Belanda”

Mengenang St. Iesmaniasita, Mutiara yang Terlupakan dari Mojokerto

Pengarang Perempuan Pertama dalam Kesusastraan Jawa Modern

Khoirul Inayah
jawapos.com

Bagi penikmat dan pengamat kesusatraan Jawa zaman kemerdekaan, St Iesmaniasita merupakan nama yang sudah tidak asing lagi. Banyak karyanya yang tersebar lewat majalah-majalah berbahasa Jawa, atau lewat kumpulan cerita pendek serta antologinya yang telah diterbitkan. Hasil karyanya berupa sajak (dalam sastra Jawa disebut geguritan atau guritan), cerita pendek (cerita cekak disingkat cekak). Continue reading “Mengenang St. Iesmaniasita, Mutiara yang Terlupakan dari Mojokerto”

Bahasa ยป