http://www.riaupos.com/
Nelayan dan Malam
:kampungku
…………
ketika malam serupa muram di wajahmu
maaf, aku hanya bisa melukis pelangi sebagai tanda tanya
akankah doa menemukan warna-Nya?
………… Continue reading “Sajak-Sajak Susi Susanti”
http://www.riaupos.com/
Nelayan dan Malam
:kampungku
…………
ketika malam serupa muram di wajahmu
maaf, aku hanya bisa melukis pelangi sebagai tanda tanya
akankah doa menemukan warna-Nya?
………… Continue reading “Sajak-Sajak Susi Susanti”
http://www.lampungpost.com/
Tubuh Tanpa Rumah
Setelah ini
mungkin kita akan pulang ke tubuh masing masing
engkau menjadi hujan
dan mungkin aku akan kembali menjadi angin.
sementara
di senja yang lain
engkau masih sibuk menggambar sosok lain
mengunjungi makam yang belum kering Continue reading “Sajak-Sajak Dahta Gautama”
Majapahit danDemak Menjadi Bukti Nyata
Dody Wisnu Pribadi
http://cetak.kompas.com/
Kegagalan kebudayaan era Indonesia modern sesungguhnya punya jejak jelas. Hal itu karena kekuasaan yang tumbuh berbasiskan pedalaman telah meninggalkan basis kebudayaan pesisir. Padahal, sejarah Majapahit dan Sriwijaya serta era pertumbuhan Islam Demak di pesisir utara Pulau Jawa membuktikan kemajuan peradaban yang dicapai justru karena berbasiskan ekonomi dan politik budaya pesisir. Continue reading “Kebudayaan Pesisir sebagai “Liyan””
Uniawati, S.Pd.
kendaripos.co.id
Jika kita menyinggung perihal sastra pesisir, yang pertama akan terbayang dalam benak kita adalah suasana pesantren atau suasana islami. Keadaan ini dimungkinkan oleh pemahaman kita mengenai sejarah perkembangan Islam di tanah air. Pada awalnya, perkembangan islam yang paling besar terjadi di sekitar daerah-daerah pelabuhan. Dalam hal ini wilayah pesisir ikut menjadi sasaran terjadinya perkembangan Islam. Proses penyiaran islam yang dilakukan kala itu salah satunya dilakukan melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Melalui karya-karya sastra itu, maka penyebaran agama Islam dapat menjadi lebih efektif. Continue reading “Kedudukan Sastra Pesisir”
Amiruddin Al Rahab*
http://oase.kompas.com/
Proses peralihan kekuasaan di Papua dari Belanda ke Indonesia di mata elite-elite Papua tampak begitu panjang dan tersirat menekan perasaan. Ketika kekuasaan Indonesia hadir, sebagai Pamong Praja yang dididik Belanda secara modern untuk membangun politik dan pemerintahan dengan etos kerja keras, mereka ini seperti anak ayam kehilangan induk didadak oleh rajawali. Continue reading “Pionir Pamong Papua, Sebuah Kesaksian”