Kedudukan Sastra Pesisir

Uniawati, S.Pd.

Home

Jika kita menyinggung perihal sastra pesisir, yang pertama akan terbayang dalam benak kita adalah suasana pesantren atau suasana islami. Keadaan ini dimungkinkan oleh pemahaman kita mengenai sejarah perkembangan Islam di tanah air. Pada awalnya, perkembangan islam yang paling besar terjadi di sekitar daerah-daerah pelabuhan. Dalam hal ini wilayah pesisir ikut menjadi sasaran terjadinya perkembangan Islam. Proses penyiaran islam yang dilakukan kala itu salah satunya dilakukan melalui karya-karya sastra. Banyak karya sastra yang sengaja diciptakan untuk penyiaran agama Islam. Melalui karya-karya sastra itu, maka penyebaran agama Islam dapat menjadi lebih efektif.

Kenyataan di atas ada benarnya juga jika kita mengorelasikannya dengan kondisi masyarakat yang bermukim di pesisir laut daerah Sulawesi Tenggara terutama di pulau-pulau yang terdapat di sekitarnya. Pada umumnya, masyarakat di daerah tersebut mengenal sastra-sastra lisan yang kandungannya berisi ajaran-ajaran keagamaan agar senantiasa memiliki pandangan hidup yang benar. Dengan adanya sastra-sastra lisan yang isinya berupa panduan untuk selalu berbuat kebajikan, maka hal itu dapat tercermin dari tingkah laku masyarakat pendukungnya. Salah satu contoh masyarakat yang dapat dicermati adalah komunitas masyarakat Bajo. Dalam keterbelakangan yang dimiliki oleh masyarakat Bajo tersebut dibandingkan dengan komunitas masyarakat lain, kesahajaan yang dimiliki oleh etnis Bajo dapat menjadi citra tentang kehidupan kelompok masyarakat tersebut yang bernuansa islami. Hal itu dapat dilihat melalui kehidupan sastra-sastra lisan yang terdapat di kalangan masyarakat Bajo.

Dalam kaitannya dengan sastra pesisir, mantra adalah salah satu jenis tradisi lisan yang keberadaannya masih sangat kental di lingkungan masyarakat Bajo. Meskipun mantra pada dasarnya merupakan warisan dari kehidupan masyarakat animisme, namun mantra yang dikenal dalam komunitas masyarakat Bajo telah mendapat pengaruh dari budaya Islam. Nafas keislaman dapat dilihat dari setiap pembacaan mantra yang selalu dimulai dengan kalimat basmalah. Dalam hal ini, mantra hanya salah satu jenis karya sastra yang sengaja diciptakan untuk maksud dan tujuan tertentu. Namun, terlepas dari tujuan dan kegunaannya, mantra adalah bukti dari suatu bentuk kreativitas manusia. Masih banyak bentuk karya-karya sastra lisan lain yang dikenal dan berkembang di tengah-tengah komunitas masyarakat pesisir. Misalnya, karya-karya sastra yang berupa dongeng, legenda, pantun, syair, dan lain sebagainya. Sebagai sastra pesisir, isi karya-karya sastra itu bernuansa pesisir islami. Artinya, baik dongeng, legenda, pantun, dan syair, isinya senantiasa menggambarkan tentang laut, kehidupan di laut, dan lingkungan sekitarnya yang berhubungan dengan alam laut dan agama Islam. Hal itu tidak terlepas dari pengaruh sosiologi masyarakatnya yang lebih banyak mengenal kehidupan di laut sehingga berimbas pula pada proses penciptaan karya sastra yang didominasi oleh penggambaran mengenai laut. Dongeng tentang Putri Sama, misalnya menceritakan tentang hilangnya seorang putri Sultan Johor karena ditelan oleh gelombang laut sehingga memaksa masyarakatnya berkelana di laut untuk mencarinya. Pencarian inilah yang kemudian menjadi sebab munculnya satu komunitas yang bermukim di laut, yaitu komunitas suku Bajo. Dongeng tersebut hingga kini masih lestari dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat penuturnya.

Sesungguhnya banyak jenis sastra pesisir yang masih mengendap di tengah masyarakat penuturnya yang dapat digali dan dilestarikan dalam rangka menambah khazanah kesusastraan daerah dan kesusastraan Indonesia. Namun, patut disayangkan sebab hal itu seakan terlupakan dan seolah-olah keberadaannya tidak begitu penting untuk menyita perhatian masyarakat. Hal itu lama-kelamaan dapat berdampak hilang dan punahnya karya-karya sastra pesisir yang sesungguhnya adalah aset yang dapat menjadi kebanggaan bangsa. Di samping itu, isi yang terkandung di dalamnya, kita dapat lebih mengenal dan menelusuri bagaimana kondisi sosial budaya suatu masyarakat tertentu berdasarkan gambaran yang disajikan lewat karya-karya sastra itu.

Seminar internasional di Kabupaten Wakatobi yang diselenggarakan oleh ATL (asosiasi tradisi lisan) yang bekerja sama dengan Pemkab Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan tema sastra maritim merupakan sasuatu yang menggembirakan masyarakat Sulawesi Tenggara. Dengan dilaksanakannya seminar itu, setidaknya dapat membuka pemikiran masyarakat setempat untuk lebih memberikan perhatian dan apresiasi terhadap keberadaan sastra pesisir yang sempat terpinggirkan. Bagaimanapun juga, sastra pesisir sebagaimana karya-karya sastra lain banyak memuat falsafah hidup yang bermanfaat bagi kebaikan hidup manusia. Hendaknya hal itu dapat disadari bersama sehingga tidak menjadi sesuatu yang tersia-siakan.

*) Staf Teknis Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *