MELIHAT KOTA, MEMBACA SASTRA

Imam Muhtarom *

Perkembangan kota sebagai sebuah ruang yang benar-benar berbeda dengan desa, telah mengubah bukan hanya di tingkat bagaimana penghuninya memenuhi kebutuhan ekonominya tetapi juga bagaimana kesadaran para penghuninya. Jika dalam masyarakat desa memiliki ketergantungan pada alam, maka masyarakat kota memiliki cara lain dalam memenuhi kebutuhannya. Sistem sebagai sarana pengelolaan segala kebutuhan masyarakat kota merupakan seperangkat cara agar segala kebutuhan dan kepentingan dapat terakumulasi dengan baik. Continue reading “MELIHAT KOTA, MEMBACA SASTRA”

Novel Grafis, Komik atau Sastra?

BE Satrio
kompas.com

“Saya duduk dan coba membuat sebuah buku yang akan tampak sebagaimana lazimnya sebuah buku, dan sekaligus ingin mengerjakan komik dengan tema yang sebelumnya tidak pernah dibuat,” ungkap komikus Will Eisner dua tahun silam dalam sebuah wawancara dengan Time. Wawancara itu dilakukan dalam rangkaian peringatan 25 tahun lahirnya novel grafis di Amerika Serikat.

Ketika akhirnya karya itu selesai dan coba ditawarkannya ke beberapa penerbit, Eisner yang khawatir hasil kerjanya itu akan ditolak sebagai sebuah komik, mengatakan bahwa apa yang ia kerjakan itu adalah sebuah “novel grafis”. Continue reading “Novel Grafis, Komik atau Sastra?”

Sastra Setelah “Pendidikan Ulang”

Yos Rizal S
ruangbaca.com

Karya-karya terjemahan dari penulis generasi “pendidikan ulang” Mao hingga penulis mutakhir Cina kini gampang ditemukan di toko buku. Siapa saja mereka?

Sepotong biola itu berubah menjadi sebuah ancaman. Seorang kepala desa di kaki gunung Burung Hong dari Langit di kota Yong Jing, Cina, membolakbalik biola seperti tengah mencari bubuk heroin yang mungkin disembunyikan di alat musik itu. Ia juga mencurigai biola yang dibawa dua orang anak muda di depannya sebagai senjata. Continue reading “Sastra Setelah “Pendidikan Ulang””

Sastra & Lokalitas, ‘So What Gitu Loh’…!

Ari Pahala Hutabarat *
lampungpost.com

DI Lampung perbincangan mengenai lokalitas sering menjebak kita untuk membawa kembali tradisi dari masa lalu ke masa sekarang. Kita takut sekali dianggap sebagai anak tiri atau anak haram dari tradisi.

Pertanyaannya, apakah kita mempunyai ayah dan ibu kandung tradisi ini? Apakah pernah ada orisinalitas itu, sesuatu yang murni, dari tradisi Lampung? Jawabnya, tidak ada. Continue reading “Sastra & Lokalitas, ‘So What Gitu Loh’…!”

Membuka Kembali Nyai Dasima

Hardiman
http://cetak.kompas.com/

Sastra Melayu Tionghoa telah lama terpinggirkan oleh arus utama (teori) sastra Indonesia. Di hadapan teori postkolonialisme, Nyai Dasima, misalnya, begitu penting sebagai obyek kajian. Nyai Dasima bukan sekadar teks yang dibangun oleh bahasa capcay, tetapi yang terpenting adalah representasi tentang kolonialisasi.

Berterima kasihlah kita kepada Bill Ashcroft, teorisi pertama yang memperkenalkan wacana postkolonial di dunia sastra. Continue reading “Membuka Kembali Nyai Dasima”

Bahasa ยป