Menjalin Kemesraan Sastrawan Daerah

Maria Magdalena Bhoernomo *
kr.co.id

BEBERAPA waktu lalu di Kudus ada acara “sosialisasi” sebuah buku antologi puisi dengan cover dua sisi: satu sisi berjudul “Nyanyian Sepasang Daun Waru” karya Thomas Budi Santoso (Kudus), satu sisi lagi berjudul “Dunia Bogam Bola” karya Sosiawan Leak (Solo). Penerbitnya Indonesia Tera, Magelang 2007.

Jika kita secara sembarangan memegang buku tersebut untuk membacanya tidak akan terbalik karena buku tersebut memiliki dua sisi bolak-balik. Buku tersebut agaknya bisa menjadi “barang bukti” sastra Kudus dan Solo telah lama “terlibat affair”. Continue reading “Menjalin Kemesraan Sastrawan Daerah”

Menggairahkan Sastra di Kudus

Zakki Amali
ttp://cetak.kompas.com/

Waktu terus berlari, siapa pun yang tidak mampu mengimbangi laju waktu akan tertinggal. Tertinggal oleh waktu akan menjadikan manusia sebagai obyek, bukan subyek. Padahal, untuk dapat survive, manusia harus menjadi subyek atas waktu, mengelola dan mengolah waktu agar harapan tercapai. Paradigma inilah yang akan menggairahkan kembali kehidupan sastra di Kudus. Continue reading “Menggairahkan Sastra di Kudus”

Pantun dan Pencerahan Budaya Melayu

Leon Agusta *
Harian Republika

Inilah kami. Kami ada dan mengada di Negeri Pantun, Kota Gurindam. Di negeri kami telah lahir Raja Ali Haji, pendekar gurindam yang melegenda. Juga, Raja Mantara, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri. Suaranya serak nyaring menggelegar di panggung-panggung para penyair dunia dan nusantara.

Kami juga punya Raja Pantun, Tengku Nasyaruddin S Effendy, terkenal sebagai Tenas Effendy, yang telah menulis sekitar 65 buku tentang bahasa, seni dan budaya serta sejarah Melayu, 45 naskah ceramah dan diskusi. Ia Doktor Honorus Causa Universitas Kebangsaan Malaysia. Continue reading “Pantun dan Pencerahan Budaya Melayu”

Buku Driyarkara, Sebuah Tonggak Baru Proses Pencerahan

Erwin Edhi Prasetya
http://www2.kompas.com/

Homo homini socius, manusia adalah kawan bagi sesamanya. Kalimat itu dikenal luas sebagai ajaran pokok Driyarkara (1913-1967), seorang filsuf yang asli Indonesia.

Dalam setiap periode sejarah, manusia memang bisa menemukan dimensi kemanusiaan baru, tetapi sekaligus juga bisa kehilangan aspek-aspek tertentu dari kemanusiaannya. Manusia bisa kehilangan empati terhadap sesama lebih-lebih yang menderita, kehilangan sikap toleran ketika berhadapan dengan perbedaan, kehilangan kepekaan mengenai manusia dan lebih cenderung pada kekerasan. Continue reading “Buku Driyarkara, Sebuah Tonggak Baru Proses Pencerahan”

Bahasa ยป