Pengarusutamaan Teks Mbeling

(2007 untuk Peta-2008 untuk Berkarya)

Endri Y
http://www.lampungpost.com/

MENCERMATI kegelisahan, proses mencari kekuatan karakter “kedirian” yang bebas, independen, dan terlepas dari kemelekatan-kemelekatan. Mengingatkan kita pada tuntutan dan “pengadilan puisi”-nya Slamet Kirnanto yang diselenggarakan di Bandung pada 8 September 1984. Hanya sebuah kenyelenehan dan kengawuran, tetapi sayangnya, tidak lucu! Continue reading “Pengarusutamaan Teks Mbeling”

Buku Fiksi: Ramai Pembaca Sepi Pembaptis?

Donny Anggoro *
sinarharapan.co.id

Pasar buku Indonesia dalam kurun waktu dua tiga tahun terakhir ini masih dibanjiri novel fiksi karya penulis perempuan dan sastra hiburan. Koran Tempo edisi 1 Agustus 2004 menurunkan catatan tak kurang dari 30.000 eksemplar novel karya mereka ludes di pasaran. Masih dari sumber yang sama, kebanyakan dari sastra hiburan tersebut dihasilkan oleh penulis perempuan usia di bawah 30 tahun. Seperti menguatkan data-data di atas, Rachmat H Cahyono (RHC) dalam tulisannya “Booming” Buku Fiksi (Kompas Minggu, 26 September 2004) berujar, sastra hiburan tampaknya tak akan kehilangan pembaca, sampai kapan pun. Continue reading “Buku Fiksi: Ramai Pembaca Sepi Pembaptis?”

Menulis Cerpen itu Keren

Muhamad Sulhanudin
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

Judul : Cara Keren Nulis Cerpen
Penulis : Budi Maryono
Tebal : 100 halaman, 11.5x10cm
Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri
Catakan : I, Desember 2008
Genre : Tips, Sastra

SEMARANG kota yang panas. Betapa menderitanya kalau tak punya tumpangan pribadi. Ke sekolah atau ke kantor naik angkot, bakal tersiksa. Kalau musim penghujan tiba, jangankan di daerah Kaligawe atau Tanah Mas, Simpang Lima yang pusat kota saja, bisa banjir. Continue reading “Menulis Cerpen itu Keren”

Derita Anak, Derita Ibu

Ahmad Zaini*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Temaram lampu dalam kamar menyorot wajah yang lembab air mata. Kilauan maniknya melintas pelan melewati relung pipi yang tampak merah lebam. Di atas ranjang yang beralas kasur, seorang gadis duduk termenung menatap bagian perut yang semakin lama semakin membesar. Selimut putih dengan variasi garis horizontal di gelar lantas digunakan untuk menutupi perutnya ketika pintu kamarnya terketuk pelan. Continue reading “Derita Anak, Derita Ibu”

Gapura Lain

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

KEMUDIAN aku menatap gapura itu semakin samar. Menjauh di antara kabut dan awan. Tapi aku tak punya sayap menujunya. Berpaling pun aku tak sempurna. Aku diam. Mematung diri dalam limbung nyata.

Di sini, di pulau ini aku menunggumu. Tempat yang tak bernama dan tak berupa. Laman yang menghantarkan kita menikmati setiap musim cinta. Menempuh segala liku tawa dan prahara. Ceruk cadas telah kita lalui, puncak perih pernah kita daki. Continue reading “Gapura Lain”

Bahasa ยป