Realisme Sastra dalam Konteks Kemerdekaan Berpikir

Mulyo Sunyoto
http://www.hupelita.com/

Novelis Pramoedya Ananta Toer beberapa waktu lalu kembali menyuarakan kredonya mengenai dunia penciptaan fiksi.

Penulis yang diasosiasikan dengan kekuatan politik “kiri” itu tetap kukuh dengan pendapatnya bahwa realisme dalam sastra adalah sebuah keniscayaan.

“Realisme sastra memberikan kemerdekaan kepada publik untuk mengambil kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang ditulis oleh seorang sastrawan,” kata Pram. Continue reading “Realisme Sastra dalam Konteks Kemerdekaan Berpikir”

Seni Tradisional, Penguatan Sastra Sunda di Daerah

Eriyandi Budiman
http://www2.kompas.com/k

Tahun 2000-an, penyair Taufik Ismail bersama majalah sastra Horison pernah menggelar Sastrawan Bicara Siswa Bertanya atau SBSB di sejumlah sekolah dan kampus di Indonesia. Aktivitas itu pernah juga dilakukan para sastrawan Sunda tahun 1970-1980-an.

Pada periode yang juga sangat subur dengan kehidupan kreatif bersastra itu, sejumlah sastrawan Sunda menggelar apresiasi sastra untuk pelajar di berapa kota di Jawa Barat, termasuk Banten. Namun, kegiatan itu tidak berlangsung terus-menerus alias putus karena berbagai permasalahan. Continue reading “Seni Tradisional, Penguatan Sastra Sunda di Daerah”

Lomba Sastra di Daerah Lestarikan Bahasa

Stevani Elisabeth
http://www.sinarharapan.co.id/

Kegiatan lomba sastra dan bahasa harus digalakkan oleh pemerintah daerah sebagai upaya melestarikan sastra dan bahasa setempat, sekaligus melestarikan kebudayaan nasional, termasuk Bahasa Indonesia. Demikian diutarakan Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dendy Sugono pada acara puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2007, di Gedung Aula Pusat Bahasa Depdiknas, Jakarta, Kamis (8/11). Continue reading “Lomba Sastra di Daerah Lestarikan Bahasa”

Sastra dari Temu Sastrawan Indonesia

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

KARYA sastra dan fenomena sastra sebagai perbincangan niscaya menghendaki adanya sebuah desain dari dan ke arah mana perbincangan itu hendak difokuskan, untuk sekaligus juga mengandaikan bahwa perbincangan itu akan menawarkan berbagai pemikiran serta berbagai sudut pandang atas fenomena tersebut. Artinya, sastra sebagai peristiwa perbincangan mensyaratkan betapa peristiwa itu harus berhulu dari desain pembacaan atas fenomena yang tengah terjadi, sebelum kemudian penetapan sebuah fokus terhadap fenomena itu melahirkan semacam frame tematik. Continue reading “Sastra dari Temu Sastrawan Indonesia”

Ajip Rosidi, Mendunia Berkat Sastra Sunda

Ajip Rosidi
Pewawancara: Burhanuddin Bella, M Syakir
infoanda.com/Republika

Bahasa daerah membuatnya prihatin. Ketika merasa tidak ada lagi yang memerhatikan bahasa daerah, Ajip Rosidi menilai inilah saatnya bertindak. Lebih dari 30 tahun, pria kelahiran Jatiwangi pada 31 Januari 1938 ini memperjuangkan nasib bahasa daerah. Hingga akhirnya dia tiba di satu titik. ”Saya lebih baik melaksanakan apa yang bisa,” ujarnya. Ajip berpikir tentang sebuah hadiah sastra. Sayangnya, ide itu tidak bersambut. Continue reading “Ajip Rosidi, Mendunia Berkat Sastra Sunda”

Bahasa ยป