Tabuh Sunyi Sebelum Mati

Diani Savitri Yahyono
http://www.lampungpost.com/

Beberapa jam sebelum kematiannya.

Lelaki itu terseok menyusuri pelataran memanjang yang terpapar di sisi gedung tua itu. Pendar matahari mencakar, teriknya di sore hari selalu menggelisahkan. Udara menggantung, menguar panas yang diserap sesiangan. Udara tidak mampu dan tidak mau bergerak. Continue reading “Tabuh Sunyi Sebelum Mati”

Terlalu Banyak Garam yang Tumpah

Novel Sitok Srengenge puitis, nyaris ensiklopedik. Sayang, bahasanya dirusak suasana, susunan alur cerita, dan adegan yang tampak kacau.
Menggarami Burung Terbang
Pengarang: Sitok Srengenge
Penerbit: Metafor Publishing, Juni 2004
Tebal: 539 halaman
Peresensi: Faruk H.T.*
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ini novel pertama Sitok Srengenge, sosok yang lebih dikenal sebagai penyair daripada penulis prosa, baik cerpen maupun novel. Continue reading “Terlalu Banyak Garam yang Tumpah”

Publikasi Puisi Terasa Menyampah!

Anton Suparyanto*
http://www.kr.co.id/

BENARKAH (ke-)penyair(-an) mutakhir terjebak sampah kata, diskontinuitas antartradisi tiap generasi, ekspresi estetik yang mandeg, pun klise wawas rambah? Deret gejala ini menimbulkan sindiran terhadap banyak ?aku-lirik yang melakukan bunuh diri kreatif? dalam berpuisi.

Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa eksistensi puisi Indonesia mutakhir justru menjamur. Kuantitas ini menimbulkan sindiran pula bagi kepenyairan pada umumnya. Continue reading “Publikasi Puisi Terasa Menyampah!”

Bahasa ยป