Geliat “Kritis” Cerpenis Malaysia

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Aku saksikan wajahnya yang dipajang berbagai koran, biasanya di halaman sosial; atau aku melihat sekilas mobil suaminya yang diparkir di luar salah satu hotel -mobil dengan pelat bernomor satu digit (orang kaya jadah) yang mudah diingat. Namun, aku tak pernah bertemu Alissa?

Barisan kalimat di atas adalah bagian dari salah satu cerpen “Yang Terkasih”, dari antologi cerpen berjudul Pahlawan dan Cerita Lainnya karya Karim Raslan, sastrawan Malaysia yang melaunching bukunya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta (4/9). Continue reading “Geliat “Kritis” Cerpenis Malaysia”

Satu Akar, Dua Pohon

Hawe Setiawan*
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sama-sama berakar Melayu, sastra Indonesia dan sastra Malaysia berkembang secara terpisah. Buku ini membandingkan sistem sastra dan ideologi politik kedua negara pada tahun 1950-an.

AKAR MELAYU: SISTEM SASTRA & KONFLIK IDEOLOGI DI INDONESIA DAN MALAYSIA Pengarang : Maman S. Mahayana Penerbit : Indonesia Tera, Magelang Tebal : xiv + 302 halaman Cetakan pertama : April 2001 AKARNYA sama: bahasa dan tradisi sastra Melayu. Sama-sama bermoyangkan Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Namun, pohonnya berbeda, dan karena itu cabang, ranting, dan buah kreativitas kesusastraan Indonesia dan Malaysia tidaklah sama. Continue reading “Satu Akar, Dua Pohon”

Alam yang tak Mencemaskan

Ahda Imran
pr.qiandra.net.id

DALAM hampir semua novel Indonesia yang mencoba menempatkan alam tidak sekadar sebagai latar cerita, tetapi juga sebagai masalah yang diangkatnya. Alam bukankah ancaman yang mencemaskan dan menakutkan. Alam tidaklah diperlakukan sebagai problem yang serius. Bahkan, dalam banyak puisi penyair Indonesia, alam (laut, gubung, hutan, sawah) justru menjadi objek yang penuh pesona, inspirasi. Maka yang muncul adalah kekaguman mereka pada alam. Jejak alam dalam novel Indonesia adalah ekspresi kekaguman, keterpesonaan, dan hasrat melakukan persahabatan dan persaudaraan dengan alam. Continue reading “Alam yang tak Mencemaskan”

Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia

Agus Noor *
kompas.com

Dalam esai Mencari Tradisi Cerpen Indonesia yang ditulis tahun 1975, Jakob Sumardjo menyatakan, “Tradisi penulisan cerpen mencapai masa suburnya pada dekade 50-an yang merupakan zaman emas produksi cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia.”

Salah satu faktor yang mendukung “periode keemasan” itu antara lain munculnya majalah seperti Kisah, Tjerita, serta Prosa, yang menjadi ruang pertumbuhan cerpen pada saat itu. Continue reading “Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia”

Bahasa ยป