In Memoriam: Chairil Anwar di Mata Evawani, Maman, dan Taufiq


Susianna
suarakarya-online.com

Ini kali tidak ada yang mencari cinta/ Di antara gedung, rumah tua, pada cerita/ Tiang serta temali, kapal, perahu tidak berlaut/ Menghembus diri dalam mempercaya maut berpaut//.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kepak elang/ Menyinggung muram, desir hari lari berenang/ Menemu bujuk pangkal akanan.Tidak bergerak / Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak//.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan/ Menyisir semenanjung, masih pengap harap/ Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan/ Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Puisi di atas berjudul Senja di Pelabuhan Kecil (buat Sri Ayati), salah satu dari 74 puisi yang ditulis Chairil Anwar.

“Sejak SMA saya sudah membaca semua puisi Chairil. Saya baca berulang kali. Dan yang paling disenangi adalah Senja di Pelabuhan Kecil,” aku penyair Taufiq Ismail salah seorang pembicara dalam acara Mengenang Kepergian Charil Anwar, 59 tahun di Gedung Habibie Center, Jakarta Sekatan, Selasa (15/4).

Diskusi bertajuk Membangkitkan Semangat Kebangsaan dengan Puisi-puisi Charil Anwar merupakan bagian dari agenda Seri Tokoh Sejarah Berbicara.

Selain Taufiq Ismail (sastrawan), tampil sebagai pembicara Maman S Mahayana (akademisi) dan Evawani Alissa, putri tunggal Charil Anwar, dari perkawinan dengan Hapsah Wiriaredja (asal Karawang, Jawa Barat).

Begitu senangnya dengan puisi di atas, Taufiq pernah meninjau pelabuhan Tanjung Priuk dan Pasar Ikan, namun tidak ditemukan suasana senja di pelabuhan seperti yang digambarkan dalam puisi Charil Anwar. Namun diakui penyair kondang itu, puisi cinta yang ditulis Chairil Anwar itu sebuah percintaan yang paling indah.

“Luar biasa energi yang dikeluarkan dari puisi-puisi Chairil Anwar dan bertahan terus sampai sekarang,” papar Taufiq.

Dipandu Andi Makmur Makka, pengamat sastra Maman S Mahayana menilai sikap hidup Chairil Anwar yang paling banyak disoroti para pengamat sastra adalah hasrat mencipta yang didasari oleh semangat kebebasan, tanpa sekat isme, konvensi dan segala bentuk pemasungan kreatif.

Gagasan Charil Anwar, baik yang diwujudkan dalam sejumlah puisi, maupun dalam esai-esainya yang menegaskan sikap hidup dan pandangannya tentang kesusasteraan dan kebudayaan Indonesia, ternyata begitu inspirating. Tidak hanya mempengaruhi teman-teman sesama sastrawan, tetapi juga sesama seniman. Chairil Anwar yang begitu reputasional tidak hanya menjadi salah satu ikon kesusasteraan Indonesia, melainkan telah menanamkan tonggak penting dalam sastra Indonesia .

Nostalgia Chairil

Chairil Anwar lahir 26 Juli 1922 di Medan dan meninggal 28 April 1949 di CBZ (RSCM) Jakarta. Ia mulai menulis sajak ketika menapak usia 21 tahun hingga akhir hayatnya menjelang usia 27 tahun.

Sajak-sajaknya antara lain “Aku”, dibukukan dalam antologi puisi Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, dan Tiga Menguak Takdir (antologi bersama Asrul Sani dan Rivai Apin).

Awal diskusi diputar video biografi singkat Chairil Anwar dan kutipan wawancara sekitar tahun 1970 dengan Hapsah di media cetak tahun 1970-an. Juga tampil slide foto Sri Ayati waktu muda yang cantik mengenakan kebaya Di samping itu rekaman wawancara dengan mantan kekasih Chairil – Sri Ayati (83 tahun) yang bermukim di Serang, Banten.

Menurut Evawani yang berprofesi sebagai notaris, Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan diskusi tentang Chairil sekitar tahun 1970-an. Waktu itu dihadirkan sejumlah wanita yang disebut-sebut dalam puisi Chairil seperti Nur Syamsu, Sri Ayati, dan Gadis Rasid. “Saya waktu itu hadir, tetapi ibu saya enggan hadir,” papar Eva.

Eva bercerita awalnya ia tidak tahu bahwa ayah kandungnya Chairil Anwar, tetapi. para tetangga sering mengatakan kepada si kecil Eva, nama kecilnya I-ip, wajahnya mirip Chairil. Ketika ia bertanya kepada ibunya, ia dibohongi bahwa Chairil itu tetangga yang sangat sayang pada I-ip.

Ketika usia 8 tahun (kelas 3 SD, dulu SRL Manggarai), Eva mengetahui Chairil itu ayahnya dari buku Charil Anwar Pelopor Angkatan 45, karangan HB Jassin dari gurunya. Dalam buku itu terpampang foto si kecil Eva dan Chairil Anwar dan tertulis bahwa dia anak Chairil Anwar. Eva kecil sempat protes, Chairil bukan ayahnya, tetapi Achmad Natakusuma sebagai ayahnya yang menikah dengan ibunya

Dari cerita pamannya, Eva baru mengetahui, ayahnya adalah Chairil Anwar yang meninggal dunia ketika ia berusia sekitar 2 tahun. “Saya bangga dan kagum kepada Charil Anwar sebagai ayah saya,” ujar Eva.

Melalui makalah Chairil Anwar Ayahku, Kebanggaanku si Binatang Jalang, Eva bercerita banyak mendengar tentang Chariil dari ibunya, HB Jassin, Asrul Sani, seniman Senen, teman-teman Chairil dan buku tentang Charil. Salah satu kebiasaan Chairil ia memanggil teman-temannya untuk mendengarkan pembacaan sajak yang baru ditulisnya untuk minta komentar. Juga kepada istrinya panggilan kesayangan Gajah, walaupun istrinya tidak paham tentang puisi.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *